
"Tapi aku gak bisa lepasin Nabila, Pak!" sahut Bang Darwis lantang. Berani sekali dia.
"Aku gak bisa lepasin Nabila!" Lanjutnya
"Kurang ajar!" teriak bapaknya Maya sambil melayangkan tamparan. Suara keras tentu terdengar jelas. Dan aku lagi-lagi terlambat menutupi pandangan Adel hingga anakku menangis keras melihat kekerasan ini.
Segera aku membawanya masuk kamar, lalu menutup pintu. Menguncinya. Aku tenangkan Adel.
Ya Allah, selama di sini anakku terus melihat kekerasan. Inilah alasan kenapa aku ingin pergi dari sini. Bang Darwis lagi gak waras. Dia terobsesi. Harusnya bersyukur aku tidak menuntut ini itu. Aku hanya ingin lepas. Aku ingin pulang.
"Buk, Bapak kenapa dipukul?" tanya Adel. Matanya merah. Air matanya masih keluar. Kasihan anakku.
"Gak apa-apa. Adek bobok, ya."
Anakku mengangguk patuh walau matanya basah. Dia aku peluk lalu kututupi telinganya pakai boneka. Semoga keributan di luar gak terlalu dia dengar.
"Dasar gak tau diri! Apa ini yang kamu kasih ke Maya setelah apa yang dia kasih ke kamu, ha?" teriak bapaknya Maya.
"Tapi aku gak bisa lepaskan Nabila!" kata Bang Darwis. Masih bersikukuh
"Lalu anak saya mau kamu apakan? Mana janji kamu. Kamu berjanji bakalan nikahin dia secara negara setelah kalian resmi cerai."
"Aku berubah pikiran. Aku gak bisa kehilangan Nabila sama Adel!"
"Darwis!"
"Apa?" teriak Bang Darwis. Segera aku telepon Aldi. Kupanggil Dia dengan tangan yang gemetar. Takut aku, sumpah. Aku takut terjadi apa-apa di luar.
"Al, cepat ke rumah, Bang Darwis berantem sama mertuanya," kataku to the poin.
__ADS_1
Panggilan diputuskan dan aku sama sekali paham kenapa Aldi ngelakuin itu. Dia pasti panik dan otw ke sini.
"Heh Darwis. Jangan macam-macam kamu ya. Kamu sudah rusak anak saya, kamu buat dia dicap pelakor sama tetangga. Lalu, sekarang kamu mau ninggalin dia? Punya nyali kamu, ha!"
"Pak, maaf kata ya, Pak. Saya gak merusak Maya. Sejak sama saya aja dia udah gak perawan. Apaan, status perawan tapi gak perawan."
Ya Allah, bang Darwis. Teganya dia bilang begitu depan ayah Maya. Apa dia gak takut.
"Darwis!"
"Tapi aku benar! Aku memang berbohong. Aku ngaku duda sama dia. Tapi sebelum hubungan berlanjut aku ngaku sama dia kalau aku punya anak dan istri. Tapi dia masih mau. Lalu, kenapa kesalahan dilimpahkan ke aku semua?"
Sedetik kemudian ada yang terbanting. Bunyinya keras sekali. Lalu, terdengar bunyi erangan. Erangan siapa aku gak tau, tapi yang jelas erangan itu terdengar penuh kesakitan.
"Tenang tenang. Ada apa ini? Tolong berhenti!"
Ini … ini suara Aldi. Aku hafal suaranya.
"Tenang, Pak. Tenang. Kita lagi berduka. Kasian Maya," balas Aldi.
"Maka dari itu saya marah. Abang kamu ini teganya mau balikan sama istrinya gak peduli sama Maya. fisik sama mental Maya lagi gak baik-baik aja. Tapi dia …dia begitu tega mencampakkan Maya."
"Aku gak peduli!" sentak Bang Darwis. "Selama beberapa bulan menikah sama Maya aku baru sadar kalau dia itu gak bisa apa-apa. Aku nyesal buang Nabila demi dia."
"Bang Darwis!" sentak Aldi. " Kamu ini yang waras, dong. Kamu sudah pilih Maya dan buang Nabila, harusnya pertanggungjawabkan pilihanmu. Nabila bukan barang yang bisa diambil setelah dibuang."
"Jangan ikut campur, Al. Nabila itu cinta sama aku. Dia gak bakalan ajukan cerai kalau kamu gak komporin dia."
Terdengar bunyi gedebuk keras yang buatku terperanjat.
__ADS_1
"Buk?" kata Adel. Matanya memerah.
"Dek, nanti kita pulang ke kontrakan ya. Kita gak bisa di sini terus."
"Iya. Adek mau pulang. Asal sama Bapak."
Ya Allah, kenapa makin rumit.
"Dek, nanti kita bisa kok ketemu Bapak."
"Adel gak mau. Nanti Bapak lupa sama Adel."
Astaghfirullah … sebenarnya apa yang dikatakan Bang Darwis sampai Adel begini.
Tiba-tiba pintu digedor keras. Aku sama Adel sampai terperanjat.
"Nabila! Buka pintunya!" teriak orang dari luar. Siapa lagi kalau bukan Bang Darwis.
Takut-takut berani, kudekati pintu dan membukanya. Tampak Bang Darwis menatap berang.
"Kamu mau kita pisah, kan?" teriaknya dengan wajah yang sudah memar. Ada jejak merah di ujung bibirnya.
"Baik. Aku bakalan kabulkan. Tapi, hak asuh Adel sama aku."
Apa? Dia gak masuk akal.
"Biarlah pengadilan yang putuskan. Kita lihat nanti, apa peselingkuh dan laki-laki kasar macam kamu dapat hak asuh atas anak."
"Nabila!"
__ADS_1
"Jangan teriak-teriak! Ada Adel di sini! Kamu mau buat anak kita jadi tempramental macam kamu?"