Bantu Aku Bercerai

Bantu Aku Bercerai
Aldi.


__ADS_3

Karena ucapan Aldi aku sampai gak bisa tidur. Semalam suntuk, satu menit pun gak bisa pejam ini mata. Aku juga heran. Bolak-balik atur posisi tetap aja gak bisa.


Hufh! Ini semua karena pengakuan cintanya yang tiba-tiba. Beneran, gak nyangka aku kalau dia punya rasa.


Kenapa bisa gitu loh? Aku jadi bingung. Situasi mendadak canggung padahal sebelumnya gak gini.


Selepas pertengkaran waktu itu hubungan kami sempat merenggang, tapi makin ke sini makin baik, kok, lalu kenapa jadi begini lagi?


Pusing aku, gak enak hati dan bingung harus gimana ngadepin dia setelah ini.


"Gak bisa pertimbangkan aku?" tanyanya tadi. Serius saat bilang sampai aku gak tau harus jawab apa.


"Aldi, kamu bercanda?"


"Aku gak pernah bercanda soal perasaan. Perasaan bukan bahan bercandaan."


"Tapi kenapa aku?"


"Aku juga gak tau kenapa bisa kamu. Aku tau ini gak pantas. Tapi tapi … argh! Aku beneran mau gila rasanya. Aku juga gak mau sebenarnya begini. Tapi … tapi perasaanku ini nyata, Nabila. Aku suka, aku sayang, aku ingin kamu."


Saat dia bilang gitu aku beneran kaku. Semua anggota badan gak fungsi. Baik lisan maupun tubuh, semua kayak gak konek. Aku macam orang oon untuk beberapa saat.


Aldi menunduk. Kesempatan itu kupakai buat menarik napas panjang. Aku harus tenang.


"Al, diluar sana ada banyak perempuan," kataku.


Aku tau Aldi baik. Dia calon suami idaman. Karena itulah aku gak pantes sama dia.


Kalau aku nekat, sudah dipastikan keluarga mereka pasti bakalan hancur dan aku gak mau jadi alasan mereka retak. Biar bagaimanapun Bang Darwis dan Aldi adalah saudara. Aku hanya orang asing. Rasanya gak pantas menjadi alasan untuk mereka berkelahi.


"Gak usah jawab sekarang. Aku tau kamu bingung saat ini. Aku masih mampu kok nunggu. Aku tunggu sampai kamu beres sidang," katanya dan itu jadi akhir obrolan kami tadi.


Kuakui Aldi baik. Baik banget malahan. Aku yakin perempuan yang nikah sama dia bakalan bahagia.


Tapi, ya bukan aku juga. Aku mantan kakak iparnya. Selain itu pasti bakalan ribet nantinya. Bang Darwis pasti gak akan terima. Dia bakalan ngamuk. Aku tau itu, harga dirinya tinggi. Dia gak suka kalah saing walau sama adik sendiri.


Kutatap lama ibu mertua yang tidur sambil peluk Adel. Dalam kepala terbesit satu pertanyaan yang besar, apa dia tau kalau Aldi punya rasa ke aku? Kalau tau dia pasti bakalan marah besar. Aku akan dianggap perempuan penggoda. Gak bener. Penghancur rumah tangga dan hubungan antara saudara.


Baiklah, ini gak bisa dibiarkan berlarut. Aku harus akhiri perasaan Aldi. Dia bisa dapatkan perempuan yang lebih baik dari aku.


-


-


Walau canggung aku tetap harus berhadapan sama Aldi. Kami tetap harus sama-sama seperti rencana sebelumnya. Rencananya aku akan ke kantor agama serahkan berkas dan dia yang mengantar.

__ADS_1


Sedang Adel, aku minta ibu mertua yang jaga. Hari ini aku berhenti kerja. Semalam sudah kujelaskan pada Bu Maura. Jadi kesempatan ini kupakai untuk selesaikan sesuatu yang sempat tertunda. Untungnya ibu mertua mau jaga Adel.


Ah iya, ini salah. Sudah saatnya aku membiasakan diri untuk berhenti manggil dia dengan sebutan ibu mertua. Aku bukan menantunya lagi.


"Kenapa?" tanya Aldi. Saat ini kami sudah berada di depan kantor.


Aku yang kesulitan lepas pengait helm mau tak mau melihatnya. "Sulit Al."


"Oh, ini memang susah." Aldi mendekat dan membantuku melepas pengait. Tapi setelah usaha dia kayaknya juga kesulitan, sampai-sampai mukanya deket banget. Aku bahkan bisa menghirup aroma napas serta parfumnya. Impulsif aku menahan napas. Takut, degdegan dan malu buatku grogi.


"Sudah," jelasnya sambil lepas helm. Saat itu juga aku baru bisa bernapas normal.


"Kamu tunggu di sini aja," kataku.


"Tapi …."


"Aku bisa sendiri."


Dia diam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk setuju. Sudah begitu aku pun pergi mengurus hal penting. Tekatku sudah bulat, aku akan pergi bawa Adel.


Hampir satu jam aku di dalam. Isi data, jawab pertanyaan, ajukan berkas dan lain-lain. Alhamdulillah gak sesulit itu. Petugas paham apalagi saat aku jelaskan semua. Bahkan bukti kdrt yang aku abadikan dalam foto kuperlihatkan ke beberapa petugas perempuan. Bukan berniat memenjarakan Bang Darwis, enggak. Diri ini hanya ingin bukti itu dijadikan pertimbangan. Soal tuntutan, aku hanya pakai nafkah yang tidak layak dan pengkhianatan.


Rata-rata dari mereka mau membantu. Aku bersyukur atas kebaikan mereka. Ternyata masih banyak orang baik di dunia. Dikecewakan orang terdekat bukan berarti orang lain lebih bejat. Nggak! Banyak kok orang baik. Diantaranya Aldi. Aku salut sama mantan iparku itu.


Tiba-tiba dia menoleh dan memanggil. Aku tentu tersentak dan gegas mendekati.


"Lama ya nunggunya?" tanyaku. Dia menggeleng.


"Aku gak masalah menunggu, yang penting kamu datang."


Entah kenapa aku kembali kehabisan kata.


"Sudah?" tanyanya.


Giliran aku yang mengangguk.


"Lalu, apa kata mereka?"


"Aku disuruh menunggu. Kemungkinan seminggu lagi baru ada kabar tentang tanggal sidang."


"Alhamdulillah, semoga cepat selesai."


Lagi, aku gak bisa jawab. Entah kenapa dari nada bicaranya aku menangkap arti lain. Dia berharap dari sidang ini.


"Al …."

__ADS_1


"Ah iya, aku beli sesuatu buat Adel. Coba kamu lihat, cocok apa enggak." Dia kasih aku kantong dan isinya adalah gamis dan boneka.


"Gak lama lagi lebaran. Aku mau lihat dia pakai gamis ini. Dia pasti kelihatan lucu," lanjutnya.


Aku lagi-lagi gak bisa nyahut. Soalnya lebaran itu sekitar lima bulan lagi. Prediksiku sidang kelar pas puasa. Itu artinya dia berharap aku dan Adel lebaran di sini.


Al, kenapa kamu harus ngelakuin ini?


Ah ingin aku nanya begitu. Tapi takut dengar jawabannya.


"Ini buat kamu," katanya yang buatku gak bisa menutupi keterkejutan.


"Ini hadiah buat kamu," lanjutnya sambil serahkan kotak kecil berbahan beludru.


"Al?"


Sumpah, aku gak enak. Dari bentukannya ini jelas perhiasan.


"Ambil aja. Aku gak ada niat lain kok. Udah lama mau kasih hadiah tapi gak kesampaian. Gak berani. Tapi sekarang aku bakalan berani. Ditolak setelah usaha lebih baik ketimbang gak melakukan apa pun. Aku gak mau menyesal."


Tanganku ditarik dan benda itu pun dia letakkan. Mau tak mau aku sentuh juga benda itu.


"Bukalah," sambungnya.


Aku diam, menimbang.


"Bukalah," ulangnya.


Kulihat matanya. Ada kesungguhan, ada ketulusan yang sudah lama ingin aku dapatkan dari bang Darwis. Tapi, sekarang justru adiknya yang melakukan ini.


Kubuka kotaknya dan ada gelang emas yang entah berapa gram. Tapi yang jelas dia membelinya ini dengan uang yang lumayan. Dan aku gak pantas dapatkan ini.


"Al?"


"Pakailah."


"Tapi gimana bisa aku pakai ini?" balasku sambil mengembalikan.


"Kalau gak mau, paling gak simpan dulu. Selesai sidang kalau memang gak bisa. Gak mau. Atau apa pun, kamu berhak kembalikan."


"Al, kenapa kamu begini."


Ah, mataku mulai panas.


"Karena aku mau. Aku mau berjuang. Tolong beri aku jalan, ya. Kita lihat kedepannya apa kita berjodoh atau enggak."

__ADS_1


__ADS_2