Bantu Aku Bercerai

Bantu Aku Bercerai
Pemuda aneh.


__ADS_3

"Li-lima bulan," sahutku terbata. Agak gugup dan canggung juga. Mana dia natapnya begitu.


Bukan suuzon, aku hanya gak nyaman. Bukan juga sok kecakepan, aku cuma risih ditatap begitu. Ya walaupun sebenarnya penampilan aku sekarang lebih ada kemajuan ketimbang dulu. Sekarang aku punya waktu untuk mengurus badan. Gak banyak pikiran, gak banyak makan hati. Semenjak pisah aku bisa merawat diri sendiri dan Adel.


"Cerai mati apa cerai hidup?" tanyanya lagi.


Sumpah, aku beneran gak nyaman sama ini orang. Walau pembantu bukankah aku ini lebih tua. Kalau kata Bu Maura usia Raka ini baru dua satu. Kuliah semester akhir.


"Cerai hidup, Den."


Dia cuma manggut-manggut. Entah apa isi kepalanya sampai kepo maksimal begitu.


Sudahlah, ambil aman mending aku kabur aja. Takut ditanyai lagi. Kalau ditanya jelas aja aku gak nyaman. Tapi diabaikan makin gak enak.


"Kalau begitu saya tinggal, ya, Den," sambungku setelah mencuci piring Adel.


"Menghindar?"


Aku tentu menoleh lagi. Bingung. Kok dia bisa bilang aku menghindar? Ya walaupun sebenarnya aku memang mau menghindar. Tapi, apa keliatan jelas?


Duh, jadi makin gak enak. Dia pasti mikir yang gak enggak.


"Bukannya kamu mau makan?" lanjutnya lagi.


Iya, aku memang mau makan. Cuma rasanya makan sekarang gak mungkin. Ada dia, aku gak nyaman.


"Makan sini gak apa-apa. Aku juga gak bakalan gigit, Mbak."


Bukan masalah gigit menggigit. Aku cuma gak bisa. Dia anak Bu Maura yang otomatis merupakan majikanku juga. Kan gak sopan makan satu meja.


"Ayo makan sini. Nanti Laura keburu bangun," lanjutnya.


Aku menimbang sebentar, lalu mengangguk patuh. Kudekati meja dan mengambil lauk alakadarnya. Kami duduk saling hadap.


Anehnya saat makan kami beneran makan. Hmm, maksudku gak ada hal lain. Dia gak nanya lagi dan aku pun bersyukur untuk itu.


Setelah makan siang aku kembali menengok Laura. Anak itu masih anteng tidur dalam ayunan. Sedang Adel, dia tidur siang di depan TV. Soal Raka, gak tau ke mana. Mungkin ke kamarnya.


Sudahlah, aku pun gak berniat cari tahu. Dia majikan dan aku hanya pekerja.


Aku lanjutkan pekerjaan. Angkat jemuran yang sudah kering, lalu menyetrika. Aku mengerjakannya dekat ayunan Laura.


Gak terasa waktu pun berputar cepat. Bu Maura pulang seperti biasa. Tepat pukul lima. Sedang suaminya gak ada. Sepertinya pulang terlambat.

__ADS_1


"Uluh uluh anak Bunda sudah cantik …." Bu Maura segera ambil Laura dari gendonganku dan menciumnya berkali-kali. Gemas agaknya. Dan aku paham perasaan ini. Aku punya anak dan rasa rindu itu selalu ada. Jangankan seharian, satu jam saja rasanya rindu berat. Salut untuk ibu-ibu pekerja yang diharuskan jauh dari anak tapi mereka bertahan.


"Saya pamit, ya, Bu. Dan Laura tadi sudah makan cemilan," kataku.


"Iya. Eh, Adel mana?"


Aku spontan melihat belakang dan kaget banget saat gak lihat Adel. Ke mana dia? Mungkinkah di dalam?


"Di dalam mungkin," ucap Bu Maura.


Aku mengikutinya ke dalam dan kaget saat lihat Adel main sama Raka. Keduanya tampak bercanda. Adel ketawa di dekatnya.


Aku tercenung beberapa saat. Bingung gak tau mau gimana. Rasa-rasanya Adel ini gak terlalu suka sama orang asing. Tapi lihatlah, dia begitu nyaman dekat Raka. Raka pun buat aku gak percaya, dia terlihat luwes main sama adel. Mungkinkah karena dia juga punya adik cewek?


Hmm … entah.


Kudekati Adel, lalu melambaikan tangan. "Pulang, yuk!" ajakku.


Adel berdiri dan menggamit tanganku. Aku pamit pada Bu Maura dan sedikit mengukir senyum ke Raka.


"Buk, Om Raka bilang mau jadi ayah dedek."


Aku tertegun spontan berhenti, lalu melihat muka polos Adel. Saat ini kami baru keluar dari rumah Bu Maura.


"Iya."


Aku terdiam gak tau harus bilang apa. Namun karena mata Adel masih natap, aku pun berjongkok rapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Om Raka cuma bercanda," jelasku lalu melihat belakang dan beneran shock saat lihat Raka berdiri bersedekap natap kami.


Sumpah, aneh. Gimana ya jelasinnya. Tatapan Raka itu aneh. Aku jadi takut.


***


Kutatap muka Adel. Saat ini dia sedang terlelap di samping. Damai, cantik. Aku senang melihatnya yang begini. Hanya saja saat melihatnya aku jadi ingat Bang Darwis. Orang yang begitu tega nyakitin gak kira-kira. Tak dipungkiri aku sakit. Sesak. Engap.


Hufh!


Aku telentang lihat plafon kontrakan. Pikiran jadi melayang-layang ke masa lalu.


Semrawut. Saat bersamaan aku juga berpikir tentang masa depan. Memusingkan langkah apa yang harus aku ambil untuk kedepannya. Gak mungkin juga terus-menerus begini. Aku hanya merepotkan Aldi. 


Dan juga, Adel butuh sekolah. Sekarang sudah lima tahun. Gak lama lagi dia harus masuk TK. Sedang aku, akte cerai saja belum punya.

__ADS_1


Ngomongin Aldi, aku beneran gak bisa berkata-kata. Di terlalu baik. Beda jauh sama Bang Darwis. Dia perhatian ke Adel dan kelihatan tulus. Sosok ayah perhatian justru Adel dapat dari omnya.


Kuraih hp yang ada di bawah bantal dan kaget karena di saat bersamaan ada pesan masuk. Pesan dari Aldi. Gegas aku membukanya.


[Lagi apa sekarang?] tanyanya.


Aku balas mengetik. [Istirahat]


[Bisa fotoin Adel. Ibuk mau lihat. Rindu katanya]


Kuikuti apa permintaannya. Kukirim foto Adel yang terpejam. Bisanya memang sudah begini. Hampir tiap malam Aldi minta foto Adel untuk ditunjukkan ke Ibu. Terkadang dia minta video saat Adel main.


[Ibuk kangen katanya.] balas Aldi.


Hatiku mencelos. Gak tega. Ibu itu dekat sama Adel dan gara-gara aku mereka jadi berpisah. Gak tega sebenarnya, tapi gimana, gak mungkin kami sama-sama. Mendekatkan mereka lagi, itu artinya aku akan ketemu Bang Darwis lagi.


Gak, aku gak mau. Rencananya kau bakal pulang Kalimantan saat akta cerai sudah aku pegang.


[Bilang ke ibuk aku minta maaf] balasku.


Masuk lagi pesan Aldi. [Bukan salah kamu. Ini sudah takdirnya]


Air mataku sukses turun. Pedih, perih. Walau sudah lama tetap saja lukanya masih terasa. Aku masih terluka dengan kelakuan Bang Darwis. Dia berkhianat.


Masuk lagi pesan dari Aldi.


[Ibuk bilang dia mau menginap di rumahmu besok, boleh gak]


[Tentu boleh. Datanglah, Adel pasti senang.]


Kulepas HP dan kembali lihat Adel. Dia terlelap.


"Assalamualaikum!"


Aku tersentak spontan duduk saat samar-samar terdengar orang ucap salam sambil ketuk pintu.


"Assalamualaikum!"


Gegas aku menjawab. Lalu, turun dari kasur dan keluar. Kiraku tadi yang ucap salam tamu rumah sebelah. Taunya tamuku. Siluetnya kelihatan dari jendela.


Tapi, siapa? Selama lima bulan ngontrak aku gak pernah kedatangan tamu selain Aldi.


Kusibak gorden jendela dan terbeku beberapa jenak. Pasalnya yang mengetuk dan ucap salam itu ternyata Raka. Tapi, untuk apa dia ke sini selarut ini? Ini udah jam sepuluh, loh.

__ADS_1


__ADS_2