Bantu Aku Bercerai

Bantu Aku Bercerai
sadar.


__ADS_3

"Bila, nanti ajak Aldi ngobrol ya. Ibuk dengar katanya orang koma bisa dengar kita. Bujukin dia biar mau bangun," ucap Ibu. Walau mengulas senyum aku bisa melihat kegetiran di manik matanya. Sesuatu hal yang buatku ikut merasakan hal itu. Sesak, sedih, dan putus asa.


Tadi, sepulangnya Maya aku langsung bergegas ke rumah ibu.


"Iya, Buk. Nanti Bila lakukan," sahutku sambil mengamit tangan Adel. Tapi, tiba-tiba aja tanganku dilepas adel.


"Kenapa, Dek?" tanyaku.


Adel menggeleng. "Adek mau tinggal aja, Buk."


"Loh, kenapa?"


"Adel mau main sama Fahri aja," balasnya.


Lagi, aku merasa sedih, merasa tersingkir. Sekarang anakku lebih betah di sini ketimbang sama aku padahal dulunya dia gak gini.


"Iya, gak apa. Adel tinggal aja. Nanti ibuk yang jaga Adel. Lagian Fahri juga kayaknya senang main sama Adel. Mereka kadang sulit disuruh makan sama mandi," jelas Ibu.


"Nabila cuma gak enak sama Maya, Buk. Kesannya Nabila titip anak sama dia," keluhku.


"Enggak, lagian Adel sama Fahri pun lebih sering main di sini ketimbang rumah Darwis. Udah, kamu pergi aja. Anak-anak biar Ibuk yang jaga."


Sudah begini aku bisa apa selain ucap makasih ke ibu, lalu nasehati adel biar gak nakal.


Perjalanan dari rumah ke rumah sakit gak terlalu lama. Hanya memakan dua puluh menit perjalanan dan kali ini aku diantar ojek online. Sebulan ini sudah bolak balik. Sudah sering. Aku bahkan jadi kenal perawat dan dokter di sini.


Hanya saja hati tetap terasa berat saat melangkah. Merasa bersalah. Merasa ah … gak tau mendefinisikannya.


Kubuka pintu dan melihat Aldi masih terbaring dengan beberapa alat yang menancap di badan. Belum lagi bunyi alat pendeteksi jantung yang terus berdetak.


Melihatnya begini rasanya sungguh gak nyaman. Laki-laki ceria dan dewasa yang harusnya punya masa depan cerah sekarang malah terbaring.


Membayangkannya aku jadi sakit, air Mata menetes gak bisa ditahan. Rasanya di dada terlalu sesak, engap. Harusnya sekarang dia bisa melanjutkan aktivitas, menjalin hubungan dan membangun keluarga. Tapi sekarang dia malah begini dan itu karena aku.


Gegas aku buang pikiran itu, lalu bersiap bersihkan badan Aldi. Tentu badan luar, kalau yang privasi, aku terlalu malu untuk melakukannya. Palingan tubuh yang terekspos seperti muka, leher, punggung lengan dan lain-lain. Yang bukan aurat.


Aku melakukannya sambil menceritakan hal yang aku lalui kemarin. Tentang banyak hal. Aku cerita, mengoceh macam orang gila. Sendirian. Karena aku pikir dia pasti mendengar. Dia akan kesepian kalau aku hanya diam saja.


Setelah selesai aku istirahat duduk amati muka Aldi. Dia terlihat begitu damai, terlelap, seakan gak ada beban sama sekali. Sedang aku gak tau mau ngomong apa. Aku mau marah karena dia terus diam mengabaikan aku yang dari tadi mengoceh.


"Al, bangun," kataku, tapi dia tetap gak nyahut dan aku mulai gak sabar.


"Bangun, Al. Kasian Ibuk, kasian Bapak. Mereka kangen kamu," lanjutku lalu seka air mata. Suara mulai tersendat tapi kucoba bertahan. Ibuk bilang orang koma bisa dengar dan aku gak mau Aldi dengar aku menangis. Yang ada dia malah gak mau bangun.


"Al, Adel kangen kamu. Katanya dia mau diajak ke alun-alun," aduku lagi.

__ADS_1


Bukan aku mengada-ada. Adel memang pernah bilang ini. Dia bilang kangen Aldi dan rindu diajak jalan-jalan.


Tapi yang aku dapati cuma keheningan dan itu buat hati makin sakit. Sakit, sungguh. Andai ada cara buatnya bangun, sudah pasti aku lakukan.


"Al, beberapa hari lagi lebaran. Kamu gak mau kumpul keluarga?" lanjutku lagi. "Aku ada beliin kamu baju. Mudahan cocok. Warnanya cokelat tua, itu Adel yang pilih."


Hening. Ya Allah sakitnya ….


Aku gak bisa tahan lagi. Nahan tangis itu sakit. Kuputuskan menangis. Menangis dalam diam sambil tutup mulut menafakuri kaki. Semuanya kusut. Aku ingin Aldi bangun. Sangat ingin. Andai ada yang bisa aku lakukan, menukar dengan apa pun aku mau.


"Al, bangunlah. Adel kangen kamu. Kami semua kangen kamu. Jangan gini, Al. Bangunlah. Kalau kamu kecewa sama aku, marahlah. Jangan diam begini. Jangan buat aku begini aku gak kuat. Aku gak kuat …."


"Katakan apa yang harus aku lakukan biar kamu bangun. Apa pun itu pasti aku lakukan. Aku ingin lihat kamu bangun Al. Aku kangen. Tolong jangan siksa aku. Bangunlah, biarkan aku lihat kamu lagi. Biarkan aku lihat kamu layani pembeli. Izinkan aku lihat senyum kamu lagi. Aku kangen itu, Al. Aku ingin lihat kamu sehat lagi."


Aku seka air mata tanpa bisa angkat kepala. Rasanya terlalu berat pandangi dia yang terpejam.


"Al, bangunlah. Aku kangen kamu …."


Sesak, rasanya gak sanggup ngomong lagi. Gak sanggup apa-apa. Yang kulakukan hanya menangis hingga sentuhan pelan di kepala.


Spontan aku mendongak dan melihat Aldi. Matanya terbuka. Mulutnya yang tertutup alat bantu pernapasan membentuk senyumnya walau sedikit. Gak hanya itu, matanya juga mengeluarkan air.


"Aldi …."


"Maaf bikin kamu sedih dan terima kasih."


Ya Allah ....


"Biar aku aja," kataku sambil ambil yang dipegang Aldi. dia menoleh sedang di tangannya ada keranjang pakaian.


"Ini mudah, aku bisa," balasnya. Senyumannya gak pernah hilang. Dan ya ... aku lega bisa lihat senyumnya lagi.


"Justru mudah maka itu biarkan aku yang kerjakan. Kamu sudah bekerja keras cari uang,"


Aku ambil keranjang yang dia pegang, lalu lanjut ambil pakaian yang tergantung di jemuran. Namun, hal yang gak aku duga justru dia lakukan di detik selanjutnya. Pundakku ditekannya dengan dagu.


"Bang, lapas!" Aku sedikit berontak sambil celingak-celinguk lihat sekitar. Brabe kalau dilihat orang.


"Sebentar aja."


"Tapi ini diluar, gimana kalau ada yang liat."


"Ya gak apa. kan sudah halal."


Senyumku mengembang mendengar itu darinya. soalnya terasa mimpi. Baru dua bulan lalu dia sadar dari koma. Baru dua bulan lalu aku nangis kejer karena berpikir gak akan bisa lihat dia bangun lagi.

__ADS_1


Sekarang, dia malah berdiri tegap di belakang sambil peluk erat. hangat, aku rasakan cintanya.


Selepas koma kami putuskan menikah. Habis lebaran kami pun ijab kabul. Dia datangkan keluargaku yang ada di Kalimantan dan kami menikah. Aku sah jadi istrinya sudah sebulan ini dan berusaha panggil dia dengan sebutan Abang padahal usia kami seumuran. Tapi, walau seumuran aku tetap harus sopan kan? dia suamiku saat ini.


"Hem, lihat waktu, Bang" Aku berusaha menegur. "Nanti kalau ada yang lihat, kita bakal diledekin."


"Ya gak apa-apa. Aku terlalu gemas sama kamu. Kamu semakin cantik," katanya yang buatku merasakan hangat di sekujur wajah. dia terlalu pandai buat aku malu.


"Lihat sikon, Aldi! Mentang-mentang pengantin baru."


Aku dan Aldi langsung melepaskan diri dan kikuk sendiri saat lihat Ibuk di ambang pintu. Beliau sudah cantik dan rapi dengan kain brokat membalut badan. Agaknya mau pergi kondangan.


Ah iya, beliau memang berencana pergi dan kasih tau aku tentang Rencananya itu.


"Kalau mau mesra-mesraan dalam kamar, jangan di tempat terbuka. malu lihat orang," lanjut ibu lagi.


"Maaf, Buk," sahutnya sambil garuk-garuk kepala.


"Ya sudah, sekarang lanjut aja. Ibuk, Bapak sama Adel mau kondangan," balas Ibuk sambil kedip-kedip. "kalau bisa buat adek untuk Adel. ibuk pengen dengar suara bayi lagi."


"Asiap, Buk!"seru Aldi dengan semangatnya.


Ibuk geleng-geleng kepala, lalu pergi.


"Kamu dengar sendiri kan apa mau ibuk?" kata Aldi, alisnya naik turun.


Sementara aku, aku cengo gak bisa ngomong. Ada-ada sudah dipeluk lagi dari belakang dan ditarik masuk rumah.


"Tapi, ini jemuran belum diangkat," keluhku.


Dia berhenti, lalu balik lagi dan bantu angkatin semua jemuran. Aku cuma bisa geleng-geleng kepala. Aldi sungguh-sungguh membuatku gemas.


Dulu, karakter ini gak pernah aku lihat. setelah menikah barulah aku tau dia menggemaskan begini. Aku suka dia. dia bisa mengimbangi dan menghibur. Di dia aku temukan sisi dewasa yang aku butuhkan, dan ada sisi kekanakan yang buatku terhibur. Ah, dia buatku jatuh cinta lagi


"Sudah, Bila, sekarang ayo kita masuk. mumpung rumah gak ada orang," ajaknya lagi. semangat empat lima.


Dasar!


Tapi, aku bahagia. akhirnya kami menikah. Happy ending untuk semua. Harusnya aku terima dia sejak awal. Harusnyangak ada drama karena nyatanya aku memang sayang sama dia.


Mataku terbuka saat dia koma. Aku merasa kosong saat gak bisa lihat dia, merasa ada yang hilang. Kejadian itu menyadarkan aku bahwa Aldi memang laki-laki terbaik yang aku butuhkan dalam hidup ini.


Soal Bang Darwis, ternyata tidak terlalu sulit meyakinkannya. Dia menerima kehadiranku menjadi ipar. Katanya dia gak rela aku dimiliki Aldi, tapi lebih gak rela lagi kalau gak bisa ketemu Adel.


Jadilah, aku ipar yang gak akan pisahkan mereka. Adel tetap bisa bertemu Bang Darwis kapanpun dia mau.

__ADS_1


Tamat.


__ADS_2