
Raka tersenyum saat kami saling pandang, lalu mengangkat tangan yang memegang kresek hitam. Seakan bilang kalau dia datang ke sini khusus untuk ngasih itu. Kalau udah begini gak mungkin diabaikan.
Meski agak terpaksa aku buka juga pintu dan agak gak percaya saat dia nyerahin kresek yang entah apa isinya.
"Ganggu nggak?" tanyanya.
Impulsif aku menggeleng. "Gak kok. Den Raka kenapa ke sini? Dan ini …."
"Ah, ini … ini dari Bunda. Bunda minta aku serahin ini," katanya.
Bu Maura kasih ini? Tapi kenapa? Biasanya juga gak pernah. Maksudnya gak pernah sampai nganterin ke sini sedang waktu udah malem begini.
"Ini isinya martabak," sambungnya.
Nah, apalagi martabak. Biasanya selalu dia sisihkan dan taruh kulkas agar aku dan Adel bisa memakannya besok pagi. Tapi sekarang ….
Apa mungkin karena ada Raka makanya dia begini? Sebelumnya kan gak ada yang mengantar.
Ya, kayaknya iya.
Sudahlah, aku gak akan berpikir negatif. Niat baik orang lain gak baik ditolak.
"Mbak?"
Aku tersentak.
"Lain kali jangan panggil Den. Panggil nama aja. Raka."
"Panggil nama? Duh, gimana ya."
"Iya, nama aja. Kita beda cuma tiga tahun."
Mau gak mau aku mengangguk juga dan agak kaget saat dia maju dan menyerahkan kresek.
"Gak mau?" lanjutnya.
Aku menggeleng pelan lalu sedikit ukir senyum. Bukan bermaksud menggoda, ya, bukan. Ini hanya upaya berterimakasih.
"Makasih," balasku.
Walau gak nyaman aku ambil juga kresek yang dia kasih dan agak gak nyaman saat dia natap di bagian dada. Entah perasaanku aja atau gimana, aku ngerasa Raka ini gak bener. Senyumnya kelihatan … dibuat-buat. Jadi takut.
"Den?"
__ADS_1
"Ah, iya?"
Dia kayaknya sempat melamun. Aneh.
"Kenapa, Mbak?"
Kenapa tanyanya? Harusnya aku yang nanya kenapa dia gak balik-balik. Ini udah malam dan aku memang gak berniat cari bahan ghibah ibu-ibu kontrakan lain. Bukan apa, aku cuma gak mau ada yang bilang aku bawa masuk laki-laki. Gak mau dicap sebagai janda gatal.
"Maaf gak bisa nawarin masuk. Udah malem. Adel juga udah tidur," kataku sedikit sungkan. Mudahan dia gak tersinggung.
"Ah, iya." Dia garuk-garuk kepala, lalu kembali senyum. "Ya udah aku pulang, ya, Mbak. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Selepas dia pergi aku pun masuk, lalu kunci pintu rapat-rapat dan masuk kamar. Kamar pun aku kunci.
***
"Maaf, ya, Nabila. Kayaknya saya juga gak bisa pulang cepet," balas Bu Maura saat aku izin kerja setengah hari. Niatnya tadi hendak memasukkan berkas perceraian, jadi minta dimaklumi, begitu. Dikasih waktu libur walau setengah hari. Tapi, Bu Maura kayaknya gak bisa.
"Nabila, kamu kenapa? Kamu marah ya sama saya?"
Aku yang diam impulsif menggeleng, menampik dugaannya walau sebenarnya hati sedih, tapi mau gimana, aku juga gak bisa apa-apa. Bu Maura kerjanya sampai sore. Full. Cuma Sabtu Minggu aja yang libur. Sedang kantor pengadilan juga libur di hari itu.
"Gak, kok, Bu. Saya gak marah. Saya ngerti," jawabku.
Sudah begini apa yang bisa aku lakukan selain mengangguk patuh.
"Ya sudah, saya titip Laura, ya," lanjutnya lalu cium pipi Laura, kemudian pergi bareng suaminya. Kini tinggal aku, Adel, dan Laura.
Ah ralat, Raka. Ada Raka di sini. Dia sedang main HP di pendopo taman depan. Tadi kami sempat berpapasan.
Walau gak nyaman sama dia, aku tetap lakukan tugas. Untungnya kami gak terlalu banyak berinteraksi. Dia hanya nanya alakadarnya, berpapasan pun beberapa kali saja. Dan aku bersyukur karena ini.
Seperti biasanya Bu Maura akan pulang dan disambut Laura dengan ocehan senang. Bu Maura juga demikian. Dia peluk Laura erat dan menciumnya berkali-kali. Adel yang melihat itu pun mulai memeluk pinggangku. Tanda dia juga ingin di peluk dan cium.
"Bau masam, pulang, yuk!" pintaku setelah menciuminya. Dia mengangguk lalu tersenyum, setalahnya pegang tanganku erat-erat.
"Kita pamit, ya, Bu?" Kataku. Bu Maura pun mengiyakan.
"Buk. Ibuk punya duit dak? Dedek mau es krim," oceh Adel. Kubalas dengan anggukan dan senyuman.
"Beli di minimarket depan aja, mau?" tanyaku balik.
__ADS_1
Adel tersenyum semringah, lalu mempererat pegangan. Kami berdua menuju minimarket depan.
Sekarang aku punya duit, sekedar es krim tentu bisa aku beli. Gak ada drama irit. Aku kerja untuk anak, untuk makan anak, beberapa bagian akan ditabung.
Selama yang diminta anak bisa aku kasih, maka akan aku kasih. Tanpa terkecuali. Akan aku balas kesalahan waktu dulu, karena mikirin Bang Darwis aku sampai tega maksa anak sekecil ini untuk nahan hasrat jajan es krim.
Namun, baru juga setengah jalan tiba-tiba ada yang memanggil. Tentu aku menoleh dan agak kaget lihat Raka mendekat. Dia berlari. Sedang aku diam mematung. Bingung mau ngapain. Soalnya masih kebayang tatapannya semalam.
"Kenapa, Den?" tanyaku.
"Loh, kok Aden lagi?"
Aku cuma bisa menelan ludah, lalu bilang maaf padanya.
"Malam ini ada janji gak?" tanyanya sambil mengiringi langkah.
"Kamu ada janji sama orang gak?" ulangnya.
Janji?
Sebenarnya gak ada. Cuma ibu mertua dan Aldi bakalan datang. Kata Aldi sampainya mungkin agak malam. Itu karena mengecoh Bang Darwis. Aldi bilang Bang Darwis terus nyariin aku sama Adel.
Jadi, daripada ketahuan, Aldi pun berencana datang agak larut. Biar gak direcokin Bang Darwis.
"Mbak?"
Aku terperanjat kaget. " K-kenapa?
"Ada rencana gak? Aku mau ajak mbak sama Adel jalan. Kita makan malam di luar," jelasnya lagi.
Sumpah, bingung aku. Bingung cari alasan buat nolak dia.
"Mbak ngelamun lagi?"
Aku menampik dengan gelengan. " Gak kok. Cuma … kayaknya saya gak bisa. Adel biasanya rewel kalau malam. Susah diajak keluar. Jam tidurnya selalu sama, jam delapan malam udah tidur," jelasku.
Dia diam dan menatap Adel.
"Kalau gitu saya pamit, ya. Mau mandiin Adel," kataku.
Aku pun bergerak tanpa dia sempat menjawab. Buru-buru pergi, takut ditahan lagi. Aku beneran gak nyaman sama dia.
"Buk."
__ADS_1
Aku menunduk. "Kenapa, Dek?"
"Om Raka bilang dia suka Ibuk."