Bantu Aku Bercerai

Bantu Aku Bercerai
Masuk Rumah Sakit.


__ADS_3

Aku beneran gak habis pikir, ternyata Bang Darwis meminta hal yang gak masuk akal pada Maya. Gimana bisa dia minta Maya nerima aku di rumah ini sedang aku dan dia sudah bercerai? Secara agama kami nggak ada hubungan apa-apa lagi, mana bisa serumah.


“Teganya kamu giniin aku!” teriak Maya.


“Jangan salahin aku kalau aku balik sama Nabila, kamunya aja gak tau apa-apa! ngurus Fahri aja harus aku. Padahal aku capek cari duit!” Bang Darwis balas berteriak.


"Darwis!"


Adel sampai menjerit ketakutan, begitu juga dengan Fahri. Dua bocah ini gak seharusnya mendengar perdebatan orang dewasa.


“Kamu bawa anak-anak ke luar, biar aku di sini," kata Aldi sambil menyerahkan Adel padaku.


Ya, kayaknya itu keputusan baik. Maya lagi hamil besar. Takutnya jika dibiarkan Bang Darwis akan kalap mata. Kasihan Maya dan calon bayinya.


“Iya, kamu hati-hati, Al.”


"Nabila, kamu mau ke mana?" tanya Bang Darwis sambil memegang lenganku.


Aldi pun maju. "Biarkan dia, Bang. Dia sama anak-anak gak seharusnya ada di pertengkaran kalian."


Bang Darwis lihat dua anaknya, lalu ke Maya yang sudah merah mukanya. Aku jadi ingat, apa begini juga mukaku waktu bertengkar dengan Bang Darwis.


Aku pun pergi bawa dua bocah ini. Fahri aku gendong sedang Adel aku pegang. Kami keluar dari rumah ditatap aneh tetangga.


Yakinlah mereka pasti berpikir yang gak enggak tentang aku. Aku pasti dicap sebagai perusak rumah tangga orang lain. Astaghfirullah.

__ADS_1


Kubawa Adel dan Fahri ke rumah Ibu, lalu kutenangkan mereka. Kuberi jajanan yang kubeli di minimarket tadi. Untungnya mereka mau diam.


Lalu, mata ini pun melihat motor. Motor bapak Bang Darwis. Beliau datang dengan tergopoh.


"Nabila?"


Aku berdiri lalu cium punggung tangannya. "Ibuk mana, Pak?" tanyaku sambil celingukan.


"Ibuk lagi dirawat di klinik. Dia pingsan tadi."


Ya Allah ….


"Kok bisa? Lalu sekarang?"


"Itu gara-gara dia lihat Darwis sama Maya bertengkar. Dia pingsan. Tapi sekarang sudah mendingan. Udah sadar."


"Tapi dia tetap harus istirahat di sana. Bapak yang minta. Takutnya kalau masih di rumah dia pingsan lagi."


Kutatap punggung Bapak. Beliau masuk rumah dengan tergesa. Sebenarnya rada kasihan juga sama Bapak ini, plus gak percaya. Dia ini dibilang menyebalkan, tapi ada baiknya. Tapi dibilang baik, ya rada jahat. Ya masa alamatku dikasih ke Bang Darwis. Padahal kan sudah sepakat bakalan di sembunyikan.


Bapak mertuaku keluar dan bersamaan dengan Aldi yang datang berlari.


"Kenapa, Al?" tanya Bapak.


"Maya pingsan, Pak, pendarahan," balas Aldi.

__ADS_1


Kok bisa?


"Dipukul Darwis?" tanya Bapak. Nadanya meninggi.


"Enggak,. Dia pingsan sendiri."


Ya Allah.


"Ya sudah, bapak ikut. Sekalian mau anter baju ibuk."


Aldi mengangguk lalu melihatku dan dua bocah ini. "Kamu tenang, jaga anak-anak sama rumah. Aku, Bapak, Bang Darwis mau antar Maya ke klinik."


Aku mengangguk sebagai jawaban. Lalu, melihat Aldi bawa mobil menuju rumah. Gak lama, mobil itu lewat dan aku bisa melihat Bang Darwis. Dia natap. Entah apa makna tatapannya itu.


***


Malam makin larut tapi Aldi dan orang tuanya belum balik juga. Entah kenapa aku khawatir. Khawatir sama Ibuk, khawatir sama Maya. Dia sedang hamil sekarang.


Kulihat hp dan kosong. Gak ada pesan dari Aldi. Aku takut terjadi apa-apa.


Kulihat Adel dan Fahri. Jika dilihat wajah mereka sama. Sama-sama punya belahan dagu, turunan dari Bang Darwis. Ah, ingat kenyataan aku bercerai karena perselingkuhan rasanya gak terima. Tapi ....


pusing, aku pun turun dari kasur berniat hendak minum, tapi saat mendengar bunyi mobil di depan aku pun putar haluan. Dari yang tadinya hendak ke dapur berputar jadi ke teras. Dan kulihat Aldii. Dia datang dengan wajah lelah sambil ucap salam. Tentu aku menjawabnya.


"Gimana kabar ibuk?" tanyaku.

__ADS_1


"Ibuk Alhamdulillah sehat."


"Lalu Maya?"


__ADS_2