Bantu Aku Bercerai

Bantu Aku Bercerai
pilihan.


__ADS_3

Badan ibu mertua terkulai di lantai. Tergeletak gitu aja. Aku yang panik tentu mendekat tapi terhalang badan Bang Darwis. Dia berusaha membangunkan ibunya.


"Buk, Ibuk!" panggilnya panik. "Al, Aldi!"


Aldi pun masuk. Matanya membesar saat melihat ibu mertua tergelak. Aku yang paham segera menarik Adel dari gendongannya.


"Buk, Ibuk!" seru Aldi.


Tapi ibu mertua gak nyahut. Masih terpejam gak respon padahal sudah ditepuk Aldi pipinya.


"Ini semua gara-gara kamu, Bang!"


Bang Darwis menarik kerah kemeja Aldi. "ini gara-gara kamu. Andai kamu gak ngadu, mungkin ibuk gak akan begini."


Keduanya saling tuduh. Aku yang kesal langsung menarik badan Bang Darwis sampai dia kejengkang ke belakang. Tatapannya jangan ditanya. Bengis dan tajam.


Tapi aku gak peduli. Sekarang jangankan cinta, hormat aja udah gak ada. Dia gak pantes dapatkan itu semua.


"Bawa Ibuk, Al! Ibuk harus di bawa ke rumah sakit!" kataku.


Aldi langsung menggendong ibu mertua ke pundak, lalu berlari menuju rumah sebab di sana ada mobil. Mobil bak terbuka punya Aldi.


Aku mengikuti, tentu sambil gendong Adel. Sedang dua manusia itu gak kelihatan batang hidungnya.


Heran aku, apa Bang Darwis gak punya perasaan. Ini ibunya lagi pingsan, tapi dia malah sibuk dengan Irmaya.


Dia jahat, aku benar-benar gila karena udah percaya penuh sama dia.


"Kak Nabila, tolong ambil kunci mobil di atas bufet," pinta Aldi.


Aku pun menurunkan Adel di halaman dekat mobil Aldi terparkir, lalu bergegas pergi masuk ke dalam dan agak kaget saat lihat bapak mertua lagi nonton TV.


"Kenapa, Bila?" tanyanya.


"Ibuk pingsan, Pak. Ini mau di bawa ke rumah sakit!" Aku lantas ambil kunci mobil Aldi, lalu berlari ke luar.


Namun, langkah terhenti saat lihat ibu mertua telah berjalan dipapah Aldi. Dia telah siuman.


"Buk!" Bapak mendekat, tapi ditolak ibuk sampai bapak kejengkang ke pasir.


"Buk!" teriak Bapak. Agaknya gak terima. Kumisnya bahkan terlihat bergerak-gerak.


"Ini semua gara-gara, Bapak! Bapak biangnya!" teriak ibu mertua lalu melewatiku. Beliau masuk rumah masih dipapah oleh Aldi.


Aku gandeng lengan Adel lalu masuk rumah. Bapak mengikuti di belakang. Kami berkumpul di ruang tamu.


"Ada apa ini, kenapa ibuk tiba-tiba pingsan? Lalu kenapa Bapak yang disalahkan?" cecar bapak mertua. Dia duduk sambil pasang wajah kesal.


"Ini semua karena Bapak. Bapak yang kasih contoh gak baik. Selingkuh sama perempuan itu. Lalu, sekarang Darwis ikuti jejak itu. Hati siapa yang gak sakit. Ibuk sakit, Pak! Dan sekarang Nabila juga!" teriak Ibu.


"D-darwis selingkuh, Bila?" tanya Bapak padaku. Mukanya rada gak percaya.


Namun, inilah kenyataan. Bang Darwis memang selingkuh. Bahkan selingkuhannya sedang hamil anak kedua.


"Nabila, jawab!"


Aku usap pipi lalu mengangguk. "Bang Darwis bahkan sudah nikah siri sama perempuan itu," jelasku.


Hening, hanya ada suara Isak tangis Ibu mertua. Aku pun, aku cuma bisa menahan tangis dalam diam.

__ADS_1


Aku tatap ibu mertua yang kelihatan terpukul. Aku lihat beliau yang bersandar lemah di sofa dan Aldi tengah memijit betis dan tangannya.


"Aku mau bercerai, Buk," kataku lirih.


"Bila?" Ibu mertua pegang tanganku lalu menggeleng cepat. "Jangan cerai."


"Tapi aku gak kuat. Dia berkhianat!"


Ibu kembali menggeleng, lalu peluk Adel. "Ibuk gak bisa jauh dari Adel."


"Tapi bang Darwis jahat."


"Bertahan."


Aku tatap lama muka ibu mertua. Gak percaya dengan apa yang dia bilang barusan. Bukankah dia tahu betapa sakitnya diselingkuhi, lalu kenapa sekarang minta aku bertahan?


"Buk, kasihan Kak Nabila," ucap Aldi. "Itu gak adil buat dia."


"Ibuk tau. Itu pasti sakit. Tapi bertahanlah, Bila. Darwis hanya gila sesaat. Dia lagi gak waras. Nanti juga bakalan sadar kalau kamu itu lebih berharga."


Tapi aku tetap mau bercerai.


Pelan aku tarik tangan yang ibu mertua genggam. "Maaf, Buk. Aku gak bisa. Aku gak kuat. Aku mau cerai."


"Gak akan ada yang bercerai!" sambar seseorang dari depan. Siapa lagi kalau bukan Suamiku. Dia datang bawa muka masam. Di belakangnya ada Irmaya.


"Kita gak bakalan bercerai, Nabila," lanjutnya. Kulihat muka Irmaya. Kelihatan kentara berubahnya. Jadi masam kecut.


"Jangan egois!" geramku. Saking kesalnya sampai berdiri. Adel sampai menjerit ketakutan dan berlari memeluk kaki banget Darwis.


Aku makin terisak, menyesal gak bisa kontrol emosi ini. Tapi, hati ini beneran sakit.


"Kalau kamu gak mau ceraikan aku, aku bakalan lapor polisi, kamu selingkuh dan kamu KDRT."


"KDRT? Kamu dipukul Darwis?" tanya ibu mertua. Aku mengangguk Sebagai jawaban. Sekarang aku lelah. Udah gak kuat lagi nutupin kebejatan dia. Biarlah semua terbongkar di sini.


"Darwis! Kamu mukulin Nabila!" teriak Bapak mertua yang ikut geram.


"Gak, Pak. Nabila bohong! Justru tadi dia mukulin diri sendiri, iya kan Maya?"


"Iya. Mbak Nabila mukulin diri sendiri macam orang gila," sahut perempuan itu yang buat darahku berdesir.


"Beneran Pak. Aku lihat sendiri kemarin Bang Darwis mukulin Kak Nabila!" sambar Aldi. Dia rupanya masih membelaku.


Bang Darwis tiba-tiba menarik kerah baju Aldi. "Heh, jangan bohong. Aku gak pernah mukul Nabila."


"Aku buktinya. Kamu mukulin dia kemarin."


"Kamu mengada-ada, Aldi!"


"Mau bukti?" geramku. "Kamu mau bukti, Bang?"


Muka Bang Darwis tiba-tiba pias. Cengkeramnya aku lepaskan. Kasian Aldi. Dia gak ada hubungannya tapi disalahkan terus.


"Mau bukti, 'kan?"


Tanpa pikir panjang aku singkap rok yang aku pakai sampai lutut yang memar terekspos. Lalu, sikut yang ikutan memar karena aku dibanting. Aku juga menunjukkan semua tanpa mengindahkan rasa malu. Luka baru yang masih kelihatan jelas memarnya.


"Darwis!" teriak ibu mertuaku lalu menampar Bang Darwis. Aku sampai kaget.

__ADS_1


"Ibuk gak nyangka kamu sejahat ini. Kurang apa Nabila, kurang apa?"


Bang Darwis bungkam. Cuma matanya saja yang terlihat nyalang.


"Ceraikan aku sekarang juga," pintaku.


"Ya, ceraikan Nabila, Darwis. Kesalahanmu fatal," timpal Ibuk yang buatku gak percaya sekaligus bahagia. Dia membelaku. Dia ada dipihakku meski aku hanyalah menantu.


"Buk!" Bapak mendekat, menahan ibu mertua. Tapi ibu mertua mendekatiku sambil memeluk.


"Kasihan kamu Nabila."


Air mataku meluruh makin banyak. Aku balas pelukan ibu mertua, lalu sesenggukan di pundaknya. Aku beneran gak kuat.


"Nabila." Bang Darwis memanggil, lalu bersimpuh di depanku. "Maaf, tolong jangan begini. Aku janji gak bakalan lagi. Aku bersumpah!"


Gak, aku gak akan bisa bertahan. Terlebih sekarang ada wanita lain. Ada orang lain yang sudah gantikan aku di hatinya maupun rumah itu.


Aku malu mengakui, tapi aku memang sudah tersisih. Bahkan sejak lama. Sejak dia mengaku duda dan bermain api. Sejak itu juga aku udah gak berharga baik itu di hati maupun mata dia.


"Ceraikan aku, Bang."


"Nabila!"


"Aku gak bisa berbagi."


"Tolonglah, dia juga butuh aku."


"Justru dia butuh kamu makanya aku menyerah."


Dia berdiri, lalu pegang tanganku. Diciuminya berkali-kali. "Jangan begini, kalau kamu pergi bagaimana dengan Adel."


"Adel akan aku bawa."


Matanya melotot besar.


"Gak bisa! Kamu gak boleh bawa Adel."


"Kalau aku bawa kasus ini ke polisi, selain kamu gak bisa bertemu Adel, kamu juga gak akan bisa ketemu anak kamu dari Irmaya."


"Nabila, jangan kejam!"


"Pilihan ada di kamu."


"Nabila!"


"Ceraikan aku malam ini juga."


Dia kelihatan ragu.


Baiklah, gak ada cara lain. Aku dekati Aldi. "Al, tolong antar aku ke kantor polisi."


Muka Aldi jangan ditanya. Dia cengo luar biasa. Aku yakin dia berat dan gak tega jebloskan abangnya sendiri ke penjara.


"Kalau kamu gak mau antar, aku bisa pergi sendiri."


Aldi natap ibunya. Aku pun. Sedang ibu gak mau natap aku. Beliau menunduk.


"Antar aku atau aku pergi sendiri."

__ADS_1


__ADS_2