Bantu Aku Bercerai

Bantu Aku Bercerai
niat pergi.


__ADS_3

Seminggu selepas sidang terakhir. Aku jemput Adel yang semingguan ini menginap di rumah ibu mertuaku. Dan seminggu itu juga aku uring-uringan karena gak ada Adel. Mana sulit diajak pulang. Dia terus mau dekat Bang Darwis. Dan saya di rumah ibu, dia bebas ke rumah Bang Darwis ya karena jaraknya dekat


"Apa gak bisa dipikirkan lagi, Bila?" tanya mantan ibu mertua.


Ah, lebih baiknya kupanggil Bu Ana aja. Dia buka mertuaku lagi.


Kulihat muka tuanya. Saat ini kami ada di teras. Dia memeluk Adel. Kelihatan kentara kesedihan di matanya itu.


Aku tau, aku salah. Aku terkesan kejam karena sudah pisahkan nenek sama cucunya. Tapi, di sini juga gak mungkin. Terlebih sekarang orang tuaku udah tau dan mereka desak aku buat pulang. Rencananya aku bakalan pesan tiket besok atau nanti malam.


"Buk, aku minta maaf dan tolong relakan semua yang aku makan selama di sini ya."


"Nabila, kamu ini ngomong apa. Soal makan kenapa di sebut. Ibuk gak pernah itung-itungan."


Ya aku tau itu, walau terluhat  judes, muka galak, tapi beliau gak pernah pelit. Bahkan sering bagi-bagi makanan untukku dan Adel. Semangkuk kolak pun pasti diantar ke rumah karena Adel suka itu.


"Makasih, ya, Buk."


Kudengar beliau menghela napas panjang.


"Buk?"


"Ibuk cuma belum siap ditinggal Adel."


"Tapi aku juga gak bisa bertahan disini, Buk."


Bu Ana menunduk mengusap pipi. Makin nelangsa aku Melihatnya 


"Buk, senyum, dong. Aku gak mau datang dengan senyum, dan pulang bawa murung. Maafin aku kalau ada salah, ya Buk."

__ADS_1


Pipi mendadak panas, begitu juga sama mata. Di mataku Bu Anna ini tegas, galak, tapi makin ke sini makin kelihatan kalau dia sayang aku, terlebih lagi Adel.


"Aldi, apa sama sekali gak bisa kamu pertimbangkan?" tanyanya sambil menatap.


Aku diam. Gak tau mau jawab apa. Aldi di mataku baik, tapi masih gak ada keberanian untukku melangkah ke jenjang pernikahan. Aku terlalu takut. Karena kegagalan ada banyak yang aku khawatirkan.


"Ibuk tau kelakuan dan sikap anak-anak ibuk lebih dari siapa pun, Bila. Aldi jauh lebih dewasa ketimbang Darwis. Darwis sejak kecil memang manja. Apa pun semua yang dia minta, hari itu juga harus ada. Dia keras kepala dan seenaknya sendiri. Mungkin ibuk yang salah didik."


Kutatap muka Ibu.


"Tapi Aldi baik. Dia selalu mengalah. Apa gak bisa kamu pertimbangkan?" lanjutnya.


Kupegang tangan Bu Anna. "Buk, aku sama Bang Darwis udah gak bisa. Kami sudah sama-sama saling menyakiti. Dan aku gak mau seret Aldi. Aku gak akan bisa lihat mereka musuhan, Buk."


"Tapi Bila …."


"Walau kita berjauhan, Adel tetap cucu ibuk. Kalau aku ada waktu aku bakalan main ke sini. Dan kalau ibuk sama Bang Darwis ke sana, kami bakalan sambut."


"Buk, jangan buat Nabila makin sulit pergi," ucap Aldi.


Aku benar-benar gak tau harus jawab apalagi. Karena bukan hanya hati ibunya yang aku patahkan, tapi hatinya juga. Aku berniat pergi dan akan kasih barang titipan yang pernah dia kasih.


"Ya sudah, pergilah, hati-hati. Maaf Ibuk gak bisa antar kamu," katanya


"Gak apa, Buk. Aku paham."


Aku cium punggung tangannya, lalu pergi sambil gendong Adel. Sebelum pergi, aku balik badan melihat ibu berdiri di teras. Semua aku spau, dari warung sembako yang besar, halaman, mobil bak terbuka punya Aldi dan ayunan di dahan mangga yang dibuat oleh kakek Adel. Semua itu aku amati untuk aku kenang.


Sepanjang jalan kami saling diam. Aldi fokus mengendarai motor dan aku sesekali ngajak Adel bicara. Dan semakin banyak bicara, aku yg semakin banyak bohongnya. Soalnya Adel terus nanyain kapan kembali ke sana. Hufh!

__ADS_1


Aku tepuk punggung Aldi. "Al, kita istirahat ke taman situ, yuk!"


Motor memelan dan kami benar-benar berhenti di depan sebuah taman. Kami parkir di dekat penjual es tebu.


"Kang, esnya tiga," kata Aldi. Sedang aku dan Adel duduk di bawah pohon. Duduk lesehan.


"Buk, pinjam hp," ucap bocahku dengan mata berbinar.


Kurogoh saku dan kasih apa yang dia mau. Cuma sebentar karena kami akan lanjut lagi. Lagian aku harus bicara sama Aldi.


Pesanan datang dan kami masih sama-sama diam. Hanya lagu baby shark dari hp yang menengahi kami.


"Al, aku mau ngomong."


"Aku sudah tau," katanya.


Aku terdiam. Dan ada senyar aneh saat mata kami berserobok pandang.  Kulihat sudut kekecewaan di matanya itu.


"Maaf," lanjutku sambil berusaha merogoh sesuatu dari dalam tas selempang yang aku pakai.


"Jangan dikembalikan," katanya.


"Tapi, Al."


"Tolonglah terima saja. Aku hanya butuh itu."


Aku diam lalu melihat Adel. Dia sudah berdiri tatapan matanya fokus ke jalan raya, tapi kenapa?


Saat kulihat ternyata ada anak kucing. Kupegang tangan Adel, tapi dilepas dan entah bagaimana dia lolos gitu aja ngejar kucing. Reflek aku berdiri tapi tiba-tiba badan gak imbang dan aku terlungkup. Sedetik kemudian Suara klakson memekakkan telinga diikuti suara benturan keras dan tangisan 

__ADS_1


"Adel!"


__ADS_2