Bantu Aku Bercerai

Bantu Aku Bercerai
Ditembak.


__ADS_3

POV Nabila.


"Ya Allah, Nabila!"


Teriakan terdengar disusul suara hantaman yang keras. Buat Raka yang tadinya berusaha menarik CD punyaku jadi terpental. Punggungnya membentur dinding terkena tendangan.


Gegas aku beringsut ke pojokan dan melihat Aldi menghantam Raka. Bertubi-tubi sampai Raka gak berkutik. Cuma terdengar erangan kesakitan dari bibirnya yang penuh darah.


Ya Allah, ngeri aku liatnya. Sampai-sampai mau melerai aja gak berani. Aldi begitu brutal mukulin Raka.


"Nabila, sini sama ibuk," ucap mertuaku lalu memeluk. Sedang aku masih melihat Aldi yang terus gebukin Raka.


Satu sisi aku lega Raka gak jadi ngelakuin hal hina, tapi … agak ngeri setelah lihat Aldi mukulinnya separah itu. Raka seperti sekarat.


"Bang sat! Apa kamu gila? Kamu mau memperkosa Nabila?" teriak Aldi. Dia angkat kepalan tangan. Bersiap menghantam Raka, tatapannya berapi-api.


Takut terjadi hal yang gak diinginkan cepat aku sadarkan diri dari rasa shock dan buru-buru berdiri, lalu menahan pergelangan tangan Aldi.


"Sudah cukup, Al."


Kulihat Aldi, matanya merah. Kalau lagi marah begini dia benar-benar mirip Bang Darwis. Nyeremin. Kayak orang lupa diri.


"Tapi dia pantas dapatkan lebih dari ini," balas Aldi. Masih besar kemarahan di matanya itu.


"Tapi kalau kamu masih mukulin dia, dia bisa mati dan kamu bisa dipenjara," lanjutku sambil menariknya.


Kulihat Raka. Mukanya sudah babak belur. Bahkan ada darah terciprat ke lantai dan dinding kamar.


"Kamu tenang," lanjutku ke Aldi.


Aldi berdengkus, lalu menendang angin, setelahnya keluar kamar dan duduk bersandar ke dinding tepat di samping kamar. Tatapannya masih nyalang menatap Raka yang terkapar di lantai.


"Buk!"


Adel?


Gegas aku ke kamar dan lihat Adel menangis. Dia pasti ketakutan setelah bunyian keras dan umpatan Aldi. Cepat-cepat aku memeluk dan menenangkannya.


Ibu mertua juga masuk. Dia mengusap kepalaku dan memeluk Adel. Kami sama-sama menangis.


"Cepat lapor polisi, ibuk takut jika makin lama dibiarkan Aldi bakalan kalap mata. Ibuk gak mau dia masuk penjara," lirih ibu mertua.


***


Jam sudah menunjuk pukul sepuluh lewat dan yang aku lakukan bukanlah tidur, tapi duduk melingkar di ruang tamu. Aku, ibu mertua, Aldi Bu Maura. Kami duduk melingkar di atas tikar ruang tamu. Ya sebab rumah ini memang gak ada sofa.


Kulihat Bu Maura, dia sesenggukan pegang tanganku. Sedang Raka, dia merintih di pojok ruangan dengan posisi menunduk


"Tolong maafin Raka, Bila. Saya mohon jangan lapor polisi. Kalau ayahnya tau, Raka pasti mati. Saya gak mau itu," lirih Bu Maura, sudah lebih dari dua kali dia bilang begini.


"Jangan mau," sambar Aldi. Menggebu-gebu.


"Al, kamu tenang." Ibu mertua memegang tangan Aldi. Aldi pun sepertinya berusaha agar tidak terlalu emosi demi ibunya.


Kutatap Bu Maura. Dia memelas.


"Bu Maura, jangan begini. Saya jadi gak enak," ucapku lalu menarik tangan. Tapi, ditarik lagi. Digenggam makin erat malahan.

__ADS_1


Tadi saat hendak lapor polisi tiba-tiba aja Bu Maura menerabas masuk dan memeluk Raka. Awalnya dia gak percaya saat aku dan Aldi bilang yang sebenarnya, untungnya Raka mengaku salah. Dia bilang khilaf dan gak bisa tahan has rat.


Saat Raka mengaku hampir aja Aldi serang dia lagi. Untungnya ada ibu mertua.


Kutatap Bu Maura. Air matanya berlinang banyak. Ada ketakutan di manik matanya itu.


Aku tau itu, perasaan takut karena sayang anak dan aku gak bisa menyalahkan beliau yang rela menyembah agar aku tidak memperpanjang masalah ini. Aku juga seorang ibu.


"Nabila, tolong, ya. Raka gak lama lagi jadi sarjana. Sarjana arsitek. Tolong maafkan dia. Kalau kamu maafkan, saya janji akan kasih kamu apa aja. Saya janji." Bu Maura usap pipinya.


"Sungguh, kamu jangan salah paham. Saya gak bermaksud sogok kamu, enggak, saya juga gak bermaksud kasih kamu uang tutup mulut. Saya hanya bisa melakukan ini demi Raka karena dia memang salah. Tolong mengerti," lanjutnya.


Aku yang melihat ini tentu gak enak hati. Bu Maura sangat baik. Baik banget malahan. Sama dengan suaminya. Gak nyangka aja punya anak sebrutal Raka.


Tapi, aku juga gak bisa menyalahkan. Bukankah orang tua juga gak bisa mengatur anaknya dua puluh empat jam dalam setahun? Apalagi Raka kuliah dan pisah rumah. Kemungkinan terkontaminasi dengan hal buruk di luaran itu sangat besar.


Tanganku digenggam lagi, makin erat.


"Nabila, saya janji sama kamu kalau kejadian ini gak akan Raka lakukan lagi. Saya janji. Tapi tolong maafkan dia …." Bu Maura makin terisak.


Setelah perdebatan panjang akhirnya aku memaafkan. Aku menutup mulut dan membiarkan Raka dibawa Bu Maura ke rumah sakit.


Awalnya ditentang Aldi. Dia bilang Raka itu tidak pantas dimaafkan. Dia bilang takut Raka melakukan hal seperti itu ke perempuan lain.


Tapi, entah kenapa aku percaya Bu Maura. Dia orang tua yang baik. Hanya apes karena anaknya. Aku yakin dia bisa buat Raka kapok entah gimana caranya.


Jam sudah menunjukkan pukul satu malam, tapi mataku tidak kadung terpejam. Rasanya rasa ngatuk udah lewat.


Kuberanikan diri keluar kamar dengan pelan dan kaget saat lihat Aldi di dapur sendirian sambil merokok.


"Gak bisa tidur," balasnya setengah berdengkus. Mungkinkah masih marah karena aku melepaskan Raka. Dia juga mematikan api rokoknya.


"Al, kamu akan tau kalau kamu punya anak," jelasku sambil menatap gelas air putih. "Seorang ibu, seorang ayah, akan sanggup lakukan apa aja demi anak mereka."


Aldi menghela napas panjang. "Aku beneran gak habis pikir, sebenarnya kamu ini baik atau bodoh," ketusnya.


Entah kenapa tidak ada rasa sakit hati. Justru, yang ingin aku lakukan adalah tertawa. Kupikir Aldi benar, aku memang bodoh. Saking bodohnya mau bertahan sama Bang Darwis sekian tahun. Sudah ketahuan belangnya pun masih ada rasa tidak tega jebloskan dia ke penjara.


"Sekarang aku malah takut ninggalin kamu sama Adel di sini," lanjutnya.


Aku tentu bingung. Aku tau dia peduli sama Adel. Adel keponakannya, tapi rasanya ini agak berlebihan.


"Aku bisa jaga Adel. Gak usah khawatir," sahutku.


"Apa kamu harap aku percaya setelah lihat kejadian tadi!"


Aku tentu shock, pasalnya dia bicara dengan nada sedikit naik.


"Maaf, aku hanya kesal, gak maksud bentak," lanjutnya.


Dan, aku akan memaklumi. Aldi memang orangnya begitu. Dia baik dan peka. Dia begitu pasti lantaran khawatir sama aku dan Adel. Sangat disayangkan dia belum ketemu jodoh. Aku yakin saat jadi suami, dia pasti akan jadi sosok pengayom. Istrinya bakalan bersyukur punya dia.


"Makasih banyak karena kamu peduli. Tapi kamu gak usah terlalu khawatir. Setelah dapat akta cerai, aku bakalan pergi."


Dia natap tidak kedip. Aku jadi kikuk sendiri. Apa dia marah?


"Kenapa, Al?"

__ADS_1


Dia diam tidak jawab. Rahangnya kelihatan mengeras. Marahkah?


Ah, apalah aku ini. Jelas dia marah karena aku bakalan bawa Adel jauh. Tapi, bertahan di sini juga tidak mungkin. Mending pulang kampung. Untuk apa bertahan di sini sqat suami aja gak peduli. Berkorban banyak tapi ujung-ujungnya disia-siakan.


Yakinlah, di sana aku pasti bakalan dinyinyir saudara karena salah pilih suami. Tapi, itu lebih baik ketimbang di sini tanpa sanak saudara. Di sini tidak ada tempat untuk mengadu. Aldi dan ibu mertua memang baik, tapi mereka sudah jadi orang asing sekarang.


"Makasih karena kamu udah bantu aku sampai sekarang," jelasku lalu menenggak air putih.


Gimana ya jelasinnya. Rasanya aku bahagia bakalan pergi dari sini, tapi ada rasa mengganjal saat aku memikirkan Adel. Kakek, nenek dan omnya ini pasti bakalan kesepian karena Adel pergi.


"Bukan itu," balasnya.


Bukan? Lalu apa?


"Al?" Aku kikuk sendiri karena Aldi natap gak kedip. Lebih serius dari tadi.


Aneh, alih-alih menjawab dia justru mengusap muka. Diraupnya kasar muka sendiri.


"Al? Kamu marah? Aku janji bakalan sering kasih kabar soal Adel. Walau aku bukan lagi kakak ipar kamu, tapi kamu tetep omnya Adel. Aku gak akan putus hubungan itu," jelasku lagi. Berharap dia mengerti dan paham.


Tapi, lagi-lagi dia menghela napas panjang.


"Al, kamu Bisa pegang janji aku ini."


Tiba-tiba dia menggeleng. "Bukan itu."


Bukan? Lalu apa?


"Sudah lama aku mikirin ini tapi gak berani buat ungkapin. Tapi, aku pikir sekarang itu lebih baik ketimbang menyesal," ucapnya yang buatku beneran bingung.


Tiba-tiba aja atmosfer beda. Mana Aldi natap gak kedip. Serius banget. Aku jadi takut.


"Apa gak bisa kamu tetap di sini? Demi Adel."


Apa itu maksudnya?


"Jangan pulang ke Kalimantan."


"Al?"


Bingung sumpah. Bukannya dia janji bakalan antar aku? Lalu, apa sekarang dia mau ingkar?


"Aku janji bakalan bantu kamu dapatkan akta cerai. Aku juga janji Bang Darwis gak akan macam-macam lagi. Aku bakalan lindungi kamu. Tapi tolong jangan pergi."


"Al?"


Aldi menopang kepalanya dengan kedua belah tangan. Dia menunduk.


"Aku juga gak tau bisa segila ini. Kamu tau, saat lihat kamu mau diperkosa, aku rasanya mau gila. Aku gak bisa."


Apa itu maksudnya.


"Maaf, mungkin ini kurang ajar. Tapi, apa gak bisa kamu tetap di sini." Aldi lalu mengangkat kepala. Dia terlihat mengiba.


"Aldi, apa maksudnya?" Aku gugup dan entah kenapa jadi canggung begini.


"Lihat aku, apa aku gak ada harapan? Apa aku gak layak berjuang? Aku sayang Adel, dan juga … sayang kamu."

__ADS_1


__ADS_2