
POV Aldi.
***
Kulirik jam. Sudah menunjukkan angka tujuh. Itu artinya masih dua jam lagi.
Hufh! Kenapa rasanya lama banget waktu bergerak?
Aku tatap diri dari pantulan cermin. Gagah, aku kurus tapi gak terlalu cungkring. Lumayan sedap dipandang. Yang jadi pertanyaan adalah apa dia bakalan tergoda? Apa mantan iparku itu bakal sadar kalau aku berusaha keren di mata dia karena ada rasa?
Ah, membayangkan dia aku jadi gak bisa berpikir jernih. Bawaannya mau senyum terus.
Aku tatap lagi diri setelah pakai jaket. Jaket bomber yang aku beli dari seorang teman. Masih baru dan tentunya produk ORI. Cocok di badan, nyaman.
Senyumku mengembang lagi. Rencananya aku akan berangkat ke kontrakan Nabila jam sembilan. Jadi gak sabar. Kalau berangkat jam segitu maka akan sampai jam sepuluh. Semoga dia yang belum tidur terpukau lihat penampilanku malam ini.
Entah kenapa saat bayangin wajah Nabila aku jadi berdebar. Semangat menggebu-gebu sampai rasanya ingin berangkat saat ini juga.
"Ehm, udah ganteng kok."
Aku yang kaget impulsif melihat belakang dan jadi canggung saat lihat ibu masuk. Dia mengedipkan mata.
"Anak bontot ibuk udah gede. Udah dewasa," ucapnya tiba-tiba lagi yang buatku kehilangan kata.
"Jaketnya baru, sengaja beli biar kelihatan ganteng, ya," lanjutnya.
"Ish, ibu apaan, sih?"
Aku pura-pura sibuk mainin hp setelah sebelumnya lepas jaket. Tau bakalan digoda begini gak mungkin pintu aku biarkan terbuka.
"Gak mau ngaca lagi?"
Ck, ibu lihai banget buat anak bujangnya ini malu.
"Siapa yang ngaca?" kilahku. Padahal tadinya memang lagi mantengin wajah di cermin, sambil berandai-andai Nabila akan terpesona. Tapi karena ibu, lamunan pun buyar.
"Mau berangkat sekarang?" lanjut Ibu lagi.
Kutatap Ibu, dia mengulas senyuman. Senyuman yang aku tau ada makna terselubung. Dia sedang mengejek. Terlebih sekarang dia menoel-noel lengaku.
Ah ibu, pandai banget buat aku mati kata mati gaya.
Tapi, iya, ingin aku bilang iya. Aku ingin bilang kalau aku memang gak sabar ingin pergi. Hanya saja ini terlalu awal. Takutnya nanti berselisih sama Bang Darwis di jalan dan dia ngikutin. Kan bisa berantakan. Rencananya aku sama ibu bakalan menginap di kontrakan Nabila.
Nabila?
Memikirkan Nabila mendadak aku ingat wajahnya. Semua seluk beluk dia. Dari postur badan, senyuman, sampai tatapan mata. Semua itu seperti menghipnotis. Sulit untuk sadar.
"Al, kamu senyum?"
__ADS_1
Aku tersentak spontan menggeleng. "Apaan, sih, Buk? Siapa yang senyum?"
"Iya, kamu senyum tadi. Roman-romannya ada yang lagi jatuh cinta, nih."
"Jatuh cinta apaan?"
"Ngaku aja. Kalau ngaku Ibuk aminin, kok. Ibuk aminin yang kenceng. Bila perlu Ibuk bantu doa. Ibuk memang dukung kamu gaet Nabila."
Kan kan kan, ibuku mulai lagi. Dia selalu aja bilang begitu. Demen banget jodohin anaknya ink sama mantan menantunya itu. Getol banget, padahal belum tentu juga Nabila mau sama aku setelah apa yang terjadi sama dia.
"Al, kamu beneran gak ada rasa sama Nabila?" tanya Ibu. Beliau yang sudah terbalut gamis menatap serius.
"Beneran gak ada rasa sama sekali? Gak mau jadikan dia istri?"
Ingin aku jawab ada. Bahkan rasa itulah yang buatku jadi begini. Senyum sendiri saat ingat dia dan kesal sendiri saat dia lama balas pesan. Aku kayak remaja lagi pubertas.
Ah, ini gara-gara mimpi. Aku jadi gak jelas begini gara-gara hal gila. Gak tau gimana awalnya dan alasan kenapa bisa begini.
Intinya Nabila beberapa kali masuk dalam mimpiku. Seingatku aku mulai mimpikan dia setelah sebulan dia pergi. Tiba-tiba rindu. Biasanya dia pasti datang belanja atau sekedar antar Adel. Intinya aku selalu lihat dia.
Tapi setelah kejadian itu, hari-hari jadi gak seru. Gak ada dia rasanya gak bahagia. Mungkin rasa kehilangan itu akhirnya membuatku memimpikan dia.
Di dalam mimpi itu rasanya kita sepasang suami istri yang lagi mesra-mesranya. Kadang, ada kalanya aku mimpi kami berhubungan. Kadang juga ada bagian kami jalan-jalan sore. Rasanya kami ini adalah keluarga bahagia.
Mungkin karena mimpi yang datang lagi datang lagi aku jadi tertimpa perasaan sendiri. Entah sejak kapan mulainya, tapi aku selalu berdebar setelah bangun. Dan gak aku tampik, karena nyatanya diam-diam aku berharap mimpi itu jadi nyata.
"Al, gaet Nabila. Jangan sampai dia pulang bawa Adel, Al. Ibuk sayang sama Adel," ucap Ibu. Kini suaranya terdengar lirih.
Aku diam menimbang. Sekali, ucapan ibu ini macam hal gila. Tapi jika aku pikirkan memang ini gila. Gimana bisa aku nikahi Nabila yang merupakan mantan iparku. Terlebih dia dan Bang Darwis baru cerai agama doang. Di negara mereka masih tercatat.
Hanya saja saat ini hal gila itu tiba-tiba aja masuk akal di kepalaku. Ibu suka dia, dan aku pun kayaknya mulai terpesona sama dia. Mulai berandai-andai. Karena itulah aku selalu memberi alasan saat dia minta surat nikah yang aku pegang.
Ya, surat nikahnya ada di aku. Bukan Bang Darwis. Tapi aku. Aku selalu takut. Jika dia sukses cerai, maka dia bakalan pulang. Kalau sudah pulang aku akan sulit bertemu dia dan ibuk bakalan sedih karena gak bisa ketemu Adel lagi.
Mulanya surat nikahnya gak sengaja tertinggal. Berkunjung kedua kalinya juga tertinggal. Saat dia bertanya surat nikah ini, aku pun entah kenapa berbohong. Aku bilang kalau surat nikah semua ada sama Bang Darwis.
Entah apa yang mendasari aku sampai nekat berbuat begitu. Entahlah. Rasanya gak rela aja dia pergi.
Mulanya kupikir karena gak tega lihat ibu sedih. Tapi setelah aku pikirkan lagi, sepertinya yang bermasalah itu hatiku sendiri. Ada rasa gak rela saat dia dan Adel pergi. Aku mulai tumbuh rasa.
"Gaet dia Al. Gaet, jangan sampai kamu nyesal."
Kutatap ibu dan mulai menimbang. Haruskan bilang jujur kalau aku memang mulai suka sama Nabila. Seumur hidupku gak pernah aku begini, berlebihan begini sama perempuan. Baru dia.
Pantas saja Bang Darwis bilang aku naksir Nabila. Sepertinya aku memang ada rasa sama iparku itu sejak lama. Aku selalu khawatirkan dia. Selalu resah. Peduliku bukan karena dia ipar. Melainkan karena aku sayang. Buktinya saat Maya datang minta tolong, gak pernah sekalipun aku bahagia saya membantunya. Bahkan saat dia datang ngutang, selalu aku catat dan aku tagih di hari berikutnya.
Kalau sama Nabila, gak pernah. Aku malah berhasrat kasih dia apa aja yang dia mau. Senyumnya berarti, berharga.
Ya, aku memang menyukai iparku itu, cuma terlambat menyadari.
__ADS_1
"Buk?"
"Ya, kenapa, Al."
"Sebenarnya …." Lisanku terheda karena ada pesan dari Nabila. Gegas aku membukanya.
[Al, gimana? Apa buku nikahnya udah ada sama kamu?]
Hatiku rasa sakit baca ini. Dari pesan ini tersirat kalau Nabila ingin cepat bercerai. Ingin cepat kembali.
[Apa sudah dapat izin libur?] balasku.
Balasan darinya kembali masuk. [Belum ada. Tapi aku berencana berhenti.]
[Berhenti? Kenapa?]
[Ya karena aku kerjakan agar bisa ngumpulin uang buat urus perceraian. Nah kalau buat ngurus aja sulit kenapa bertahan. Uang sekarang udah ada. Aku hanya butuh waktu aja. Nanti aku akan bilang ke Bu Maura kalau akan berhenti.]
Aku makin bimbang. Dia serius ingin pergi. Kalau dia pergi aku bakalan nyesal seumur hidup. Apa aku coba aja dekati dia dan yakinkan dia kalau aku bukan Bang Darwis. Aku bisa bahagiakan mereka dan gak akan sia-siakan mereka.
"Al."
Aku menoleh.
"Dia serius mau pergi, jadi gimana?"
Aku diam menimbang.
"Luluhkan dia, Al. Buktikan kalau kamu bukan Darwis. Buktikan kalau kamu bisa bahagiakan dia. Ibuk gak rela kalau Nabila pergi."
Jujur aja aku heran sama ibu. Dia ini udah punya ganti Nabila, menantunya saat ini Maya. Cucunya juga ada. Si Fahri.
Harusnya dia bisa menyayangi Fahri. Mencurahkan kasih sayang sama kayak sayangnya ke Adel. Nyatanya ibuku itu gak terlalu. Kalau ada ya dilihat ada. Gak pernah yang sampai nyusul ke sana ajak main.
Lain cerita kalau Adel. Setiap pagi diambil. Sore diajak jalan. Apa mungkin karena mukanya. Aku akui Adel cantik. Kulitnya bersih putih, nurun dari ibunya.
"Buk, kalau aku lakuin itu apa dia bakalan terima?"
"Itu artinya kamu emang ada rasa?" Ibu terlihat antusias.
Aku mengiyakan dengan anggukan. Selepasnya tamparan mendarat di punggung. Panas, tapi yang aku dapati saat ini adalah tawa renyah Ibu. Rasanya udah lama beliau tidak ketawa lepas begini.
"Harusnya kamu ngomong sejak awal."
"Aku cuma gak berani, Bu. Bang Darwis …."
"Itu bukan hal besar. Darwis sama dia udah pisah. Lagian itu kan salah Darwis."
Terkadang aku itu heran, apa Bang Darwis ini anak angkat. Kenapa Ibu macam pilih kasih. Tapi setelah dilihat aku dan bang Darwis itu banyak kemiripan, jadi gak mungkin dia anak angkat sedang aku anak kandung. Kamk sekandung.
__ADS_1
"Kamu tenang aja. Ibuk bakalan bantu. Abang kamu itu udah salah, jadi dia gak berhak recokin hidup Nabila apalagi hidup kamu. Dia sendiri kok yang gali kuburannya."
Aku diam dan kaget saat ibu pasangkan jaket ke punggungku. "Ayok, kita berangkat sekarang. Lebih cepat lebih baik. Utarakan niatmu, nanti ibu yang atur. yang terpenting kamu tulus, bukan modus."