
Jodoh, maut dan takdir memang rahasia Allah. Gak ada satu pun yang mampu mengubah itu. Semua sudah digariskan.
Saat ini, aku sedang di kuburan mengantar bayi Irmaya yang berusia tujuh bulan. Bayi itu meninggal.
Aku juga gak tau kronologi pastinya, tapi dari Aldi aku tau kalau malam itu janin yang baru berusia tujuh bulan harus dilahirkan prematur. Tapi sayang, bayi itu gak kuat. Dia meninggal tepat di hari kedua padahal dokter sudah mengupayakan yang terbaik.
Sekarang, disinilah kami. Mengantar bayi mungil itu di tempat peristirahatan terakhir. Ada rasa sedih juga. Aku memang kesal pada Maya yang sudah merebut Bang Darwis. Tapi, aku juga gak bisa abai melihat dia yang rapuh hancur begitu. Aku juga seorang ibu.
Kulihat Irmaya, dan tampak terpukul. Berjalan pun sampai dipapah Ibu. Sedang Bang Darwis, sejak malam itu dia gak pernah menggangguku lagi. Dia berjalan di belakang Maya
Eh tapi, pernah malam itu datang minta rujuk, tapi berakhir dihajar Aldi habis-habisan. Ya gimana gak meradang coba, istrinya sedang berjuang dia malah begitu. Dia beneran gak waras. Dia terus mendesak dengan alasan Adel.
Dan ya aku memang agak kewalahan. Sejak ketemu Bang Darwis Adel sama sejak ngak mau diajak pulang kontrakan. Dia maunya tidur sama Bang Darwis. Pernah aku paksa pulang kontrakan. Alhasil, Adel demam. Semalaman manggil Bang Darwis.
Lantaran itu akhirnya aku nyerah. Beberapa malam ini bahkan tidur di rumah orang tua bang Darwis karena memang gak bisa jauh dari Adel. Aku menginap karena mau pulang bolak balik pun rasanya sulit. Kasian Aldi yang antar jemput.
"Adel, pulang tempat nenek, yuk!" ajakku pada Adel yang sedari tadi main sama Fahri.
Saat kami ke kuburan anak-anak memang dititipkan ke adiknya Maya yang kebetulan hadir. Adiknya masih SD. Dan ya, yang datang ke sini gak hanya adiknya. Ada bapaknya Maya juga. Pokoknya rumah kecilku dan Bang Darwis dulu kini ramai oleh keluarga Maya serta tetangga yang datang melayat.
"Iya, Del. Pulang ya. Sekarang sudah siang. Adel harus istirahat," ucap Aldi.
__ADS_1
Anehnya Adel malah natap Bang Darwis. Seakan minta persetujuan dan itu buatku sedikit kesal dan suuzon. Kupikir Bang Darwis mencuci otak Adel. Soalnya Adel tiba-tiba berubah. Dari yang awalnya nurut aku, sekarang kayak gak bisa hidup kalau gak lihat Bang Darwis. Jujur, aku sedih cemburu. Aku juga khawatir bakalan sulit ambil dia nanti.
Adel beranjak saat Bang Darwis mengangguk, lalu memegang tanganku. "Nanti Dedek main sama Fahri lagi ya," ucapnya yang sungguh buatku ingin teriak.
Kenapa? Kenapa saya ibunya mau pergi anaknya malah dekat sama mereka?
Kubawa Adel ke rumah orang tua Bang Darwis. Rencananya aku bakalan ajak Adel kembali kontrakan. Gak enak menginap di sini. Aku disini sudah tiga malam. Apa kata orang nanti.
"Dek, kita pulang rumah sana, ya?" pintaku lagi. Saat ini kami berdua di kamar. Maya juga ada. Dia istirahat di sini karena di rumah sana terlalu ramai orang. Makanya aku ajak Adel bicara di kamar. Tadi aku lihat Maya sedang ditenangkan oleh orang tuanya di ruang tamu.
"Tapi Dedek mau main sama Bapak, Buk. Mau main sama Fahri."
"Gak mau," tolaknya sambil menggeleng. Mukanya mulai merah dan matanya mulai berair. Anakku mulai sesenggukan.
"Del, bantu Ibu ya. Kita gak bisa di sini terus," lanjutku lagi sambil memeluknya.
Tapi tiba-tiba dia berontak dan melepas pelukan.
"Kenapa gak bisa, Buk?"
"Ya karena … karena …."
__ADS_1
"Nabila!"
Aku yang natap Adel sampai terperanjat.
"Nabila!" teriak orang itu lagi. Orang yang aku hafal suaranya. Siapa lagi kalau bukan Bang Darwis.
Gegas aku keluar ngusulin Adel yang sudah lebih dulu pergi.
"Nabila!" teriak Bang Darwis lagi. Dia datang dengan bawa sesuatu di tangan.
"Apa ini?" lanjutnya sambil tetap memegang kertas beramplop cokelat.
"Kamu gugat aku di pengadilan?" teriaknya.
"Iya. Aku gugat. Lagian kita juga udah cerai. Aku hanya ingin minta keabsahan status hukum, itu aja."
"Nabila, aku itu mau rujuk sama kamu!" teriaknya.
"Lalu anak saya mau kamu apakan?" sahut ayahnya Maya. Usianya kurang lebih seperti ayah Bang Darwis. Cuma posturnya beda jauh. Bapak Maya ini berisi. Ada tato juga di lengannya.
"Lalu anak saya mau kamu apakan?" teriak bapaknya Maya lagi. Sedang Maya, kulihat dia hanya mampu menangis di sofa.
__ADS_1