Bantu Aku Bercerai

Bantu Aku Bercerai
Darwis berulah.


__ADS_3

"Udah aku anter ke bandara," sahutku. Tentu itu kebohongan. Aku hanya kasihan jika Nabila kembali terlibat sama Bang Darwis yang manipulatif.


Kerah bajuku ditarik, lalu punggung ini didorong hingga membentur dinding. Rasanya gak terlalu sakit. Tapi akan beda jika yang dia perlakukan begini adalah Nabila.


"Jangan bohong kamu Al! Bilang di mana Nabila!" geramnya lagi. Matanya melotot besar. Kelihatan sekali kalau dia emosi.


"Untuk apa lagi, Wis?" potong Ibu sambil mendekat. Beliau tarik tangan Bang Darwis dari kerah bajuku dan melepaskannya.


"Buat apa kamu cari perempuan yang udah kamu sia-siakan?" lanjut Ibu lagi.


"Tapi … tapi ini gak adil, Buk!" seru Bang Darwis lalu duduk di sofa. Kelihatan frustrasi dia.


Tapi, bukankah ini hal yang memang seharusnya dia dapat karena sudah curang? Kasihan Nabila, kasihan Adel, dan kasihan wanita itu. Karena ketidaktahuan dia berakhir menjadi pelakor dan perusak rumah tangga orang lain.


"Gimana bisa kamu bilang itu gak adil?" Ibuk ikut merebah di sofa. Aku pun juga, penasaran omong kosong apa yang bakalan saudaraku itu katakan.


"Ini gak adil buat aku."


"Kalau kamu saja ngerasa gak adil, lalu gimana perasaan Nabila?" sambungku.


"Diam kau, Al! Kamu pasti sengaja ngelakuin ini," sergahnya menggebu-gebu.


"Jangan bentak adikmu, Wis. Yang salah itu kamu."


"Tapi ini gak adil, Buk. Aku hanya melakukan kesalahan sekali. Kenapa gak ada kesempatan kedua?"


"Karena kamu melakukan kesalahan fatal. Kamu ngelakuin hal yang bapak kamu lakuin."


"Tapi Bapak bisa ibuk maafkan."


"Kamu salah, Wis. Ibuk gak pernah maafin Bapak kamu. Ibuk hanya kasihan sama dia karena udah dibuang gundiknya."


Aku cengo, pun dengan Bang Darwis. Ternyata ini alasan kenapa Ibu mau kembali sama Bapak. Dia berniat balas dendam. Caranya cukup ekstrim. Pantas saja jika berdebat sedikit ibu bakalan mengungkit kesalahan Bapak. Bapak seakan gak ada harga dirinya.

__ADS_1


Hmmm, ibu menyeramkan.


"Kesalahan kamu fatal. Jangankan Nabila, ibuk aja gak suka kelakuanmu. Kamu tau gimana sulitnya ibuk hidup karena kelakuan bapak kamu. Sakit, Wis. Ibuk bahkan pernah berpikir buat mati. Andai gak ingat kalian mungkin ibuk udah lama mati."


"Buk …." Aku menginterupsi. Entah kenapa gak suka aja beliau bahas itu. Mati dilarang agama. Tapi untungnya Ibu masih bertahan sampai sekarang.


"maaf, Al. Memang rasanya begitu. Kesalahan laki-laki bisa dimaafkan kecuali selingkuh."


Ibu diam lalu menatap Bang Darwis yang menunduk menafakuri kaki. "Lalu kenapa bisa kamu ikuti kalian jelek bapak kamu itu, Wis? Kamu gak ingat betapa sulitnya kamu hidup tanpa Bapak? Sekarang Adel bakalan ngerasain hal yang sama."


"Justru itu aku ajak mereka hidup bersama."


"Jangan congkak, Wis. Kamu gak akan bisa adil." Ibu menyeka air matanya, lalu berdiri. "Lupakan Nabila, dia berhak ketemu laki-laki baik yang tulus gak modus. Yang sanggup cukupi kebutuhannya."


"Tapi selama ini aku cukupi kebutuhannya."


"Kamu mimpi, Wis. Apa kamu lupa kalau hutangmu sama Aldi itu ada berapa. Kamu kasih Nabila sedikit. Bahkan uang rokok kamu lebih besar dari uang belanja. Punya otak gak sih kamu."


"Adel, bahkan adel bajunya dekil karena Nabila gak kamu kasih uang buat beli baju. Kamu nyengsarain anak istri."


"Namanya juga baru berumah tangga, Bu. Harus memilih yang prioritas."


"Nah itu. Andai kamu prioritaskan Adel. Dengan hemat rokok tiga bungkus kamu sudah bisa belikan Adel baju."


Skakmat dia. Gak bisa ngomong kalau melawan ibu. Lagian dia juga keterlaluan, pelitnya gak kira-kira. Anak istri udah kayak tunawisma. Padalah Nabila ketika sampai sini cantik, manis, terawat, dan murah senyum. aku bahkan berpikir kalau Bang Darwis beruntung bisa dapatkan dia.


Namun, setelah nikah sama Bang Darwis lambat laun senyumnya berkurang, badannya gak keurus, mukaku juga kusam. yang lebih gak masuk akal, dia disia-siakan. Bang Darwis beneran gak tau diri.


"Lupakan Nabila dan urusi Maya. Dia lagi hamil," ucap ibu tegas.


"Buk?" Bang Darwis memelas. Dia berdiri natap ibu serius. Bahkan memegang tangannya. "Bantu aku bujuk Nabila, Buk."


"Ibuk gak mau. Ibuk terlalu kasihan sama dia."

__ADS_1


"Lalu gimana denganku, Buk. Aku bakalan sulit ketemu Adel."


"Harusnya kamu berpikir begitu seluk selingkuh."


"Bu ...."


"Sudahlah. Jangan buat kepala ibu pusing. Pulang sana!"


Ibu berlalu dan tinggallah aku sendiri sama Bang Darwis.


"Kasih tau ke mana Nabila," katanya ketus.


"Sudah aku antar ke Bandara." Aku berusaha tenang.


"Jangan bohong!"


"Kalau gak percaya hubungi keluarganya. Tanyakan. Bila perlu ceritakan semua yang kamu lakukan ke anak mereka "


"Aldi, jangan lancang!"


Aku tarik napas panjang. Jujur, aku kasihan liat dia begini. Tapi, lebih kasihan lagi sama Nabila.


"Sudahlah, Bang. Urusi keluarga barumu," kataku lalu pergi.


Tiba-tiba kerah bajuku dicengkeram lagi. "Kamu kurang ajar. Kamu pasti sengaja merencanakan ini biar bisa dapetin Nabila. Iya kan?"


Aku cengo gak habis pikir. Bisa-bisanya dia beranggapan aku naksir Nabila.


"Dengerin aku, Al. Walau dia sudah aku talak, aku janji bakalan bisa dapatkan dia. Kalaupun gak dapat, aku pastikan kamu gak bakalan dapat dia," sambungnya lalu pergi.


***


Jangan lupa jejak jempolnya. Gumawo ....

__ADS_1


__ADS_2