
Paginya, selesai salat subuh kulihat uang belanja di meja. Lima puluh ribu tergeletak di sana. Sedang suamiku pergi entah ke mana. Saat aku salat tadi cuma terdengar dia lagi mandi. Setelah salat itu orang udah gak ada. Hanya ninggalin uang buat belanja di meja.
Di dekat meja air mata menitik lagi. Aku genggam uangnya erat-erat. Jika belum tau belangnya, mungkin aku akan tersenyum bahagia dikasih uang segini. Dengan uang segini aku bisa masak lauk enak, lalu belikan Adel jajan. Sisanya bisa disimpan barang lima ribu buat kebutuhan dadakan.
Tapi, setelah ingat kalau uang belanja dibagi dengan wanita yang bernama May, hatiku perih. Gak terkira. Macam disayat-sayat. Perih banget, sumpah.
Persetan orang mau bilang aku apa, egois atau lemah. Terserah. Nyatanya aku memang egois. Jangankan cinta, uang belanja dibagi saja aku kagak rido. Hasilnya aku cuma bisa nangis semalaman suntuk.
"Buk …."
Suara Adel mengalun memanggil. Gegas aku usap pipi dan melihatnya mendekat. Anakku itu melesakkan kepala ke dalam perutku yang masih terbalut mukena.
"Dedek lapar," ocehnya yang buatku meringis. Gegas aku hapus lagi air mata.
"Kita makan nasi goreng pake telur dulu, ya. Nanti baru ke pasar beli sayur sama ayam," kataku lembut.
Adel mengangguk lalu ikut aku ke dapur. Dia duduk melihatku bikin sarapan. Sedang aku, tak hentinya menyeka air mata. Masih terngiang-ngiang perlakuan kasar Bang Darwis kemarin dan ucapannya pada May itu.
Dan sekarang, dia sudah gak ada. Dia pergi tanpa mau menjelaskan. Tega banget dia. Dua tahun dekat dan lima tahun membina rumah tangga tak buatnya mau menjelaskan.
Ya Allah, aku beneran gak sanggup. Gak sanggup!
Selesai masak aku dan Adel pun sarapan bersama, tanpa Bang Darwis tentunya. Biasanya dia ikut duduk minum kopi sambil menemani Adel makan..ya walaupun hp gak pernah lepas dari genggaman dia.
"Buk, Ayah mana?" tanya Adel. Bocahku celingukan. Mungkin baru sadar kalau gak ada ayahnya di sini.
"Ayah udah turun kerja," balasku sambil menyendok nasi goreng dan menyuapkan ke dia. Dia manggut-manggut lalu kembali mengunyah.
__ADS_1
Adel tiba-tiba berhenti dan melihatku lekat banget. Setelahnya berdiri dan duduk di pangkuan. Dia mengusap pipiku.
"Ibuk nangis?" tanyanya.
Tes! Air mata menetes tanpa bisa aku larang dan Adel menyekanya.
"Jangan nangis, Bu. Adel gak nakal," lanjutnya.
Aku sapu pipi lalu memeluk Adel. Aku peluk erat. Gak mampu berkata-kata. Setelah rada tenang barulah melepas pelukan dan menyuap dia lagi.
-
-
Setelah sarapan aku ajak Adel ke pasar. Antara pasar dan rumah gak terlalu jauh. Cuma butuh sepuluh menitan pakai jalan kaki. Aku jalan kaki karena motor hanya ada satu. Itu pun dipakai Bang Darwis untuk bekerja.
Ah, ingat orang itu hatiku sakit lagi. Gara-gara dia aku harus menutup wajah dengan masker.
Seperti biasa, setelah beberes rumah dan masak, aku ajak Adel istirahat, rebahan. Mungkin karena gak tidur semalaman, tidur siangku bablas sampai jam setengah empat. Kulihat Adel sedang asyik main boneka di sebelahku.
"Adel udah lama bangunnya?" tanyaku.
Bocah itu menganggukkan kepala.
"Laper gak?"
Dia menggeleng lalu kembali main.
__ADS_1
"Ibuk tinggal solat ya?"
"Iya."
Namun, baru juga turun dari kasur tiba-tiba ponselku yang ada di atas meja bergetar. Ternyata masuk pesan dari Aldi.
Berdegup kencang jantungku. Entah kenapa firasat gak enak. Apa dia sudah dapat bukti perselingkuhan Bang Darwis?
Kalau iya, apa yang harus aku lakukan?
Kulihat Adel. Dia masih asyik main. Saat melihatnya mendadak aku jadi bimbang, kepikiran, apakah anak ini bakalan sedih jika terpisah dari ayahnya.
Tapi, keraguan itu aku tepis, aku buang jauh-jauh. Tekat sudah bulat. Pokoknya aku mau minta cerai jika dia benar-benar berselingkuh.
Aku keluar meninggalkan Adel di kamar, lalu duduk di ruang tamu. Di ruang tamu aku menatap lamat hp sembari menata hati. Bahkan napas beberapa kali kubuang dengan kasar. Berharap lega. Taunya masih saja berat.
Bismillah! Layar aku geser dan terpampanglah foto Bang Darwis. Foto yang buatku meringis sakit. Aku terduduk menundukkan sambil lihat foto yang Aldi kirim.
Sakit, perih, marah semua bergumpal jadi satu sampai-sampai gak tau mau mengeluarkan apa dulu. Aku kecewa sama dia.
Di foto itu tampak Bang Darwis sedang memangku bocah kecil sambil menyuapinya. Bocah yang aku duga baru setahunan. Di foto itu tampak Bang Darwis tersenyum bahagia. Di sebelah ada wanita sedang menyuap makanan. Dari foto ini mereka sepertinya sedang sarapan di salah satu warung. Mereka seperti satu keluarga bahagia.
Masuk pesan dari Aldi, pesan yang aku tebak adalah alamat perempuan itu.
[Ini alamatnya. Kamu bisa datangi perempuan itu. Lakukan apa yang kamu mau. Lalu foto ini, terserah mau kamu apakan. Dengan bukti ini kamu bisa dapat dukungan ibu.]
Aku tutup mulut agar tangis ini tidak pecah. Ya Allah, sesakit ini. Aku menderita. Pengorbanan dan semua yang udah aku kasih sama sekali gak dihargai. dia berselingkuh bahkan punya anak.
__ADS_1
Terdengar suara mesin motor di luar. Motor yang familier. ya, itu Suara motor suamiku.
Sekarang apa yang harus aku lakukan? Apa bertanya ke dia atau langsung mengadu ke ibunya?