Bantu Aku Bercerai

Bantu Aku Bercerai
Dia membawa pelakor.


__ADS_3

Aku berdiri dan melihat pintu mengayun membuka. Kulihat lekat wajah suamiku itu. Suami yang sejak kemarin gak mau bertemu tapi tampak bahagia menyuapi bocah makan sambil tersenyum. Perlakuan yang jujur sudah lama gak pernah diterima Adel. Selama dua tahun ini ini semua urusan Adel aku yang lakukan. Dia sama sekali gak pernah ambil peduli. Bahkan sekadar memandikan saja gak mau. Ada aja alasan.


Di ambang pintu dia mematung. Mematung sambil melihatku. Mungkin dia sedang berpikir. Berpikir apa? Aku juga penasaran. Apa dia bakalan memukulku lagi seperti kemarin? Atau berpikir mencari alasan.


Geram, aku pun maju lalu menarik kerah jaket yang dia pakai. "Bang, teganya ka—"


Lisanku berhenti karena ternyata dia datang gak sendiri, melainkan bawa perempuan dan anak kecil dalam gendongan. Perempuan dan anak kecil yang difoto barusan ada di belakang dia.


Astaghfirullah ….


Cengkeraman tanganku mengendur bersamaan dengan air mata yang meluruh. Aku terjatuh ke lantai karena rasanya tenaga menguap. Sekadar menopang kaki saja gak sanggup. Gak mampu.


Bang Darwis berjongkok hendak membantu berdiri, tapi aku tepis kasar tangannya. "Jangan sentuh aku!" teriakku geram.


Bang Darwis berdiri lagi, sedang wanita di sebelahnya bersembunyi. Dari binar matanya sudah menyiratkan kegugupan, ketakutan.


Aku berdiri perlahan. Saking gak kuatnya sampai memegang handle pintu untuk menopang berat badan. Aku akan berusaha kuat. Ya.


"Apa dia perempuan yang ada di hp kamu?" tanyaku geram.


Bang Darwis menunduk.


"Apa dia perempuan yang kasih nama kamu dengan nama sialan itu?" teriakku lagi.


Masih tidak ada jawaban dan itu buat jantungku berdenyut nyeri.


"Apa dia yang namanya May. Orang yang kamu telepon semalam!" teriakku makin jadi.


Bang Darwis membeku. Matanya membesar bersamaan dengan jakunnya naik turun.


Kalian tau, kata orang diam artinya iya. Dan saat ini dia diam. Sumpah demi Allah, aku ingin dia menampik. Menampik semua isi kepalaku. Aku ingin dia minta maaf dan bersimpuh. Berjanji melupakan perempuan itu.


Tapi setelah aku pikir itu gak mungkin. Pasti ada niat lain kenapa dia membawa perempuan itu ke rumah.


Saat lihat Bang Darwis tidak kunjung menjelaskan membuatku makin paham, kalau aku gak berharga, kalau lima tahun bersamaku ternyata gak membuatnya puas sampai dia berani main gila di luar.


Ya Allah ….


Geram, aku tepis badan Bang Darwis lalu menampar muka perempuan itu. Namun, yang menjerit malah anaknya.

__ADS_1


Ya Allah, maafkan aku karena melakukan kekerasan di depan anak kecil.


Tapi aku bisa apa? Aku gak bisa menahan. Hatiku udah kadung geram, geregetan.


"Nabila!" Bang Darwis menengahi, lalu menggendong dan menenangkan bayi itu.


Kalian tau, aku pikir sepertinya setan sudah menguasai hati. Karena melihat bang Darwis berusaha menenangkan bayi itu, amarahku makin menjadi. Segera aku tampar lagi wanita itu. Dia terjatuh dan merintih.


"Nabila!" teriak Bang Darwis lalu mendorong. Aku terhuyung. Punggung membentur dinding.


Hancur. Hanya itu kata yang bisa aku katakan sekarang. Hatiku hancur luluh lantak. Suami yang aku cintai malah punya perempuan lain, lalu di depan mata sendiri dia melindungi wanita itu tanpa peduli kalau hatiku juga sakit. Badanku sakit!


Aku terhuyung dan duduk di sofa, menunduk menafakuri kaki. Air mata berlinang banyak. Sakit, nyesek.


"Kita bisa bicarakan ini baik-baik, Nabila," ucap Bang Darwis.


Apa dia bilang? Bicarakan? Apa yang bisa dibicarakan? Dan juga, kalau ingin bicara harusnya dari kemarin-kemarin. Tapi yang dia lakukan adalah menyakiti fisik dan hatiku. Lalu, sekarang dengan gampangnya dia bilang bisa dibicarakan.


Hah!


Sumpah, aku muak melihatnya. Aku mau men-cekiknya kalau bisa. Laki-laki jahat!


Ucapannya membuatku spontan menutup mata makin erat. Sakit. Sampai gak bisa bernapas normal. Engap.


"Dia namanya Irmaya, dan ini anak kami. Fahri namanya. Aku sama Irmaya menikah siri dua tahun lalu."


Teganya, teganya dia memperkenalkan nama perempuan laknat itu di depanku. Dia memperkenalkan seakan wanita itu adalah kolega. Teganya ….


Dua tahun? Teganya. Ternyata dua tahun itu dia sudah membagi hati dan materi. Selama dua tahun itu aku berbagi segalanya sama perempuan itu. Dan selama dua tahun ini pasti mereka berpikir aku lelucon yang bisa dibohongi. Yang manut gak akan melawan jika suatu saat rahasia mereka terbongkar.


Ya Allah, aku sampai gak bisa berkata-kata. Apa sebodoh itu aku di mata mereka?


Aku diam. Cuma mampu menunduk membiarkan air mata menetes. Aku menutup mulut kuat-kuat. Berusaha menahan tangis dan raungan. Aku gak mau Adel melihat ibunya menangis lagi.


"Aku tatap Bang Darwis, lalu wanita di sebelahnya. Jika dilihat wanita itu lumayan cantik. Kulitnya bersih dan putih. Sedang aku … aku kucel, kering dan kusam.


Astaga, makin sesak hatiku. Apa karena fisik makanya suamiku itu tega berselingkuh?


Kulihat lagi benda-benda yang ada di badan wanita itu. Pakaiannya bagus, warnanya indah. Pun dengan perhiasan. Semuanya mengilap. Ada gelang dan dua cincin di kiri dan kanan. Antingnya juga menggantung.

__ADS_1


Apakah semua itu uang Bang Darwis? Dia membelikan perempuan itu?


Teganya dia begitu. Sedang aku, cincin satu aja gak ada. Gak ada! Baju semua yang aku pakai adalah baju waktu aku masih gadis. Baju kusam karena dipakai terus menerus. Gak pernah beli baju baru lantaran takut uang belanja gak cukup.


Ya Allah, Bang Darwis beneran gak adil. Dia jahat.


"Aku bawa di ke sini karena gak sanggup menghidupi dua rumah. Jadi aku pikir … aku pikir kalau kita bisa satu rumah," jela Bang Darwis.


Geram, aku tampar diriku sendiri. Aku tampar berkali-kali sampai pipi panas dan pandangan berkunang-kunang. Aku melakukannya kuat kuat.


"Nabila, hentikan!" cegah Bang Darwis.


Tapi aku gak berniat berhenti. Aku terus menampar diri sendiri. Terlalu sakit. Kenyataan ini terlalu sakit. Entah aku gila atau apa. Aku ingin tertawa. Hatiku saat ini amat sakit, pun dengan fisik. Tapi aku sungguh ingin tertawa. Aku ingin tertawa, mentertawakan diri sendiri. Bagaimana bisa aku memilih laki-laki ini? Bagaimana biasa aku memilih dia. Dia baj-ingan!


Aku tampar lagi diri. Sambil tertawa. Aku anggap ini adalah hukumna yang pantas aku terima karena sudah melawan orang tua. Aku membangkang.


Mak, Pak, Bila mau pulang!


Aku tampar diriku. Bolak-balik sambil menatap wajah perempuan itu. Anaknya nagis kejer tapi aku gak berniat berhenti. Aku terlalu sakit


Bang Darwis menahan tanganku tatapan kami tentu bertemu.


"Maafkan aku, Nabila. Tapi aku gak bisa begini terus. Apa gak bisa kita tinggal serumah?" tanyanya.


Aku tarik tanganku. Untung terlepas dari genggaman dia. Lalu, aku tatap wanita yang sedang menggendong anak kecil yang tengah menangis itu.


"Nabila, tolong jangan minta cerai," ucap Bang Darwis yang buatku melihat matanya. dia tampak mengiba.


"Aku gak bisa pilih salah satu dari kalian. aku janji bakalan adil, Nabila," jelasnya.


Apa katanya? Adil?


Aku tertawa. Tertawa nyaring saking gak tahan dengan perkataan dia. Itu hanya omong kosong.


"Nanti aku akan bicara sama Ibu. Aku akan bicara baik-baik biar dia mau menerima Maya juga. Dan aku harap kamu bekerja sama. bilang sama Ibu kalau kamu gak apa-apa di madu."


Gak tahan, aku tampar dia hingga kepalanya berpaling. Matanya memerah kala menatapku. Tapi aku gak akan takut.


"Pilihanmu cuma dua, ceraikan aku atau bu-nuh aku."

__ADS_1


__ADS_2