Bantu Aku Bercerai

Bantu Aku Bercerai
Darwis berulah.


__ADS_3

POV Nabila.


***


"Cuma belanja ini?" tanya Aldi.


Aku mengangguk. Belanjaan ini isinya hanya ciki yang disukai Adel.


"Gak mau nambah yang lain? Aku masih bisa nunggu, kok," lanjutnya.


"Gak usah, Al. Ini aja udah cukup."


"Ibuknya gak mau jajan juga?" Alisnya naik turun.


Aih, apaan itu. Dia menggodaku? Dikiranya aku bocah apa suka jajan ciki. Dasar!


"Aku udah ketuaan buat jajan yang beginian, Al," balasku sambil menyembunyikan senyum.


Ada-ada aja dia. Orang udah bangkotan begini malah ditawari ciki.


"Tapi masih cantik, kok."


Senyumku berhenti gitu aja. Malah Mbak kasir yang senyum-senyum sendiri di balik meja. Mungkin sedang mentertawakan kami.


"Al?" Aku injak sepatu Aldi dan kaget saat dia mengaduh, buatku tambah malu. Padahal nginjeknya gak kuat-kuat amat. Sengaja apa dia. Ish!


"Hitungin, Mbak," kataku sengaja mengalihkan perhatian. Mana pengunjung lain ikutan senyum-senyum lagi. Astaga ….


Tiba-tiba Aldi mengeluarkan dompet. Tentu aja aku kaget dan menahan tangannya yang hendak membayar.


"Gak usah. Aku ada, Al."


"Tapi aku mau."


"Al?"


"Biar aku aja. Aku laki-laki."

__ADS_1


Lah, yang bilang dia perempuan siapa?


Aldi melepas tanganku dan kembali membayar sejumlah uang ke kasir.


Kalau begini makin gak enak hati jadinya. Gimana ya, aku gak mau manfaatin hati Aldi sedang aku sendiri gak tau jelas apa suka dia atau enggak. Cuma, sampai detik ini aku memang nyaman sama dia. Gak ada rasa khawatir. Terlebih dia kayaknya tulus sama Adel.


Tapi kan aku gak mau terlalu cepat menyimpulkan. Takutnya salah dan aku melakukan kesalahan yang sama dua kali.


"Yuk!"


Aku berjingkat dan baru sadar kalau Aldi sudah selesai membayar. Bahkan di tangannya sudah penuh dua kantong belanjaan.


"Adel pasti bakalan heboh," ucap Aldi.


Ya, benar Aku yakin Adel bakalan senang. Sengaja belikan dia inim Itung-itung karena dia anteng mau ditinggal sama neneknya.


Hmm, ingat dia aku jadi kangen. Baru juga beberapa jam pisan udah kangen. Gak kebayang kalau sampai Bang Darwis rebut dia dari aku.


Aldi berjalan lebih dulu dan membukakan pintu minimarket untukku. Sesaat aku mematung dan melihatnya lamat-lamat karena otak sempat flashback ke beberapa tahun yang lalu.


Dulu, Bang Darwis juga begini. Peduli dan perhatian. Tapi makin ke sini makin kejam. Apa Aldi juga akan berakhir seperti dia. Mereka kan saudara. Kata orang darah lebih kental dari air. Takutnya darah panas ringan tangan ada juga di dia. Aku gak mau punya suami begitu.


"Hah?"


"Orang-orang udah pada nungguin di belakang, mereka mau keluar."


Impulsif aku menggeleng dan mendapati beberapa pelanggan kembali senyum-senyum. Gila, aku digodain, udah kayak apaan ini muka. Ya Allah.


Gegas aku ke parkiran. Malu.


"Al, kalau bisa jangan begitulah. Kita ini uda gak muda lagi," kataku. Saat ini kami ada di parkiran.


"Jangan bagaimana?" Alisnya naik turun lagi.


"Ya jangan …." Duh, gimana ya ngelanjutin katanya.


"Intinya …."

__ADS_1


"Gak usah perlihatkan kalau aku suka kamu."


Astaga, diperjelas gitu. Aku sampai gak bisa berkata-kata. Cuma mampu mengangguk.


"Tapi perasaanku ke kamu beneran gak bisa dibendung."


"Al?"


"Baiklah, ya sudah naik. Kita pulang."


Aku pun naik dibonceng di belakang. Sesekali melihatnya dari kaca spion. Jujur, dia ini ganteng. Cakep. Lalu, kenapa naksir janda anak satu? Terlebih aku ini janda abangnya. Gak habis pikir aku.


Karena bosan kucoba melihat jam dari Hp dan ada pesan dari ibu mertua. Pesannya sudah dari satu jam yang lalu.


Penasaran, kubuka pesannya dan beneran shock saat tau kalau Bang Darwis datang bawa Adel. Ibu mertua bilang begitu dan minta aku langsung ke rumah sana karena dia mau gak mau ikut Bang Darwis.


Gila. Ini diluar prediksi. Gimana bisa dia tau?


Ya Allah, lindungi anakku ….


"Al, kita pulang sekarang. Bang Darwis bawa Adel!"


***


Kami akhirnya sampai ke rumah mertua dan anehnya rumahnya sepi. Aku dan Aldi pun bergegas ke rumah bang Darwis dan terdengar keributan di sana. Tetangga pada berkerumun. Dari suara teriakan itu terdengar samar suara tangis.


"Al, Adel."


Aldi melompat dari motor dan bergegas masuk. Aku pun ikutan masuk dan beneran kaget saat lihat rumah Bang Darwis berantakan. Sudah macam kapal pecah. Belum lagi mereka saling meneriaki. Irmaya dan Bang Darwis agaknya lagi pernah besar.


"Ibuk …."


Ya Allah. Segera aku masuk ke dalam dan melihat Aldi memeluk Adel. Adel menangis dalam pelukan Aldi. Menangis hebat, begitu juga dengan bocah laki-laki anak Maya.


Aku menenangkan keduanya. Sedang Ibuk sama Bapak, gak kelihatan. Mudahan mereka baik-baik aja.


"Ada apa ini, Bang?" tanya Aldi.

__ADS_1


"Gak usah ikut campur kamu!" hardik Bang Darwis lalu melihat Maya dengan sengit.


"Dengerin aku Maya. Tawaranku cuma itu. Tetap di sini tapi berbagi sama Nabila atau pergi dari rumah ini."


__ADS_2