
Demi Allah, aku gak pernah membayangkan ini terjadi. Bermimpi saja enggak. Ini adalah kejadian pertama yang mungkin akan selalu membekas di hati karena dilingkupi rasa bersalah. Seumur-umur baru ini aku merasakannya dan rasanya benar-benar bikin sesak. Mataku sampai sembab dan bengkak. Tidak hanya itu, persendian juga linu saat hal itu terlintas. Darah, jeritan dan wajah panik membayang terus. Gak bisa dibuang.
Aku tatap pintu yang tertutup dan tanpa aku tahan air mata menitik makin banyak. Menitik lagi dan lagi hingga akhirnya aku sesenggukan tak tahan.
"Buk … ibuk kenaoa nangis?" tanya Adel.
Kupandangi Adel. Saat ini ada plester luka di dahinya, juga di siku. Lalu, kupeluk dia erat.
Sumpah, aku sangat takut kehilangan Adel. Gak kebayang apa yang akan terjadi kalau mobil tadi menghantam tubuh mungil anakku ini.
"Buk, jangan nangis. Adel janji dak nakal lagi," katanya yang buatku makin erat memeluk.
Sakit, sesak, sampai buat bernapas saja sulit. Adel adalah buah hati pelipur lara yang Allah ciptakan untukku. Hanya Adel yang buat diri ini kuat melalui semua ini.
Kuhapus air mata, lalu pandangi Adel. "Ibuk sayang Adel," kataku.
"Adel juga sayang Ibuk, sayang Bapak. Bapak mana ya, Buk? Adel jatuh kok Bapak dak datang."
Sebuah cuitan yang buatku makin nelangsa. Bagaimana aku bisa pergi dari sini jika Adel saja masih begini?
Aku peluk erat Adel, lalu melihat pintu ruang ICU tempat di mana Aldi dirawat. Dari situ keluar Ibu. Matanya sembab.
"Buk, gimana Aldi? Apa dia sudah siuman?" tanyaku pada Ibu.
__ADS_1
"Belum, kita berharap saja dia baik-baik saja. Doakan Aldi, ya."
Air mataku menganak lebih banyak.
Soal doa, tentu aku akan doakan Aldi. Aldi begini karena berusaha melindungi anakku. Jangankan doa, organ dalam kalau dibutuhkan tentu akan aku kasih.
Aldi terlalu baik, dia terlalu baik dan rasanya gak tega lihat orang baik macam dia terkapar gak sadar begini. Penuh luka dan buat orang terkasihnya sedih.
"Maafin Bila, Buk," kataku sambi menafakuri kaki.
Rasanya gak kuat pandangi wajah orang yang pernah jadi mertuaku ini. Mertua yang kupikir galak awalnya, tapi makin ke sini makin kelihatan kalau beliau ini bijak dan adil. Terbukti saat dia membelaku alih-alih Bang Darwis yang notabene adalah anak kandungnya.
Ibu menggenggam tanganku, lalu menggeleng. "Bukan salah kamu, Aldi begini juga demi lindungi Adel. Kalau ada ibu di sana, ibu juga pasti bakalan lakuin hal yang sama."
Sudah begini aku makin menyalahkan diri sendiri. Andai Aku tidak teledor pasti Adel tidak akan menyeberang dan Aldi tidak akan menumbalkan badan di tabrak motor.
Aku memang bodoh! Aku memang teledor!
"Bapak!"
Aku yang sedang peluk Adel pun melihat ke mana arah mata Adel. Anakku ini semringah sambil hadap lorong. Ternyata yang dilihatnya adalah Bang Darwis sama Maya.
"Bapak!" teriak Adel lagi. Dia meronta dan terpaksa aku lepas. Adel memeluk Bang Darwis. Lalu, Bang Darwis menggendongnya. Menatap buah hati kami begitu lekat
__ADS_1
"Bapak, Dedek jatoh. Sakit, nah," oceh Adel sampil memperlihatkan sikunya yang luka.
Kulihat muka Bang Darwis, matanya merah, lalu dikecupnya Adel berkali-kali. Kelihatan kalau dia juga panik, terluka, dan sedih.
Saat kami berserobok pandang, dia tidak bilang apa-apa. Kami hanya saling diam.
"Apa kata dokter, Buk?" tanya Bang Darwis. Dia duduk di sebelah ibu.
"Dokter bilang ada kerusakan kecil di bagian otaknya, Wis. Sekarang adik kamu belum sadar. Kita disuruh nunggu," ucap ibuk, terdengar lirih karena bercampur dengan isak tangis.
Sudah begini makin bersalah aku.
Kudengar helaan napas Bang Darwis. Terdengar berat. Mungkin dia ingin menyalahkan, tapi tidak bisa lantaran adiknya melakukan itu demi lindungi Adel.
Kulihat pintu kamar Aldi. Berharap duplikat Bang Darwis beda ukuran badan itu keluar dari sana. Berharap dia tersenyum menyapa seperti biasa. Berharap dia menghampiri dan ajak main Adel.
Nyatanya, itu hanya harapan yang entah kapan bisa aku lihat lagi.
Aku seka air mata dengan tisu, laku lihat Adel yang memeluk pinggang Bang Darwis.
"Bapak mana?" tanya Bang Darwis.
"Bapak lagi urus administrasi," sahut Ibu.
__ADS_1
Aku kembali berserobok pandang sama Bang Darwis, lalu kulihat Maya. Dia natap kami dengan sorot mata yang … entah, aku juga tidak bisa menjelaskan.