
Akhirnya aku dapat alamat Nabila. Tentu aja dapatnya dari Bapak. Bapak bilang Nabila dan Adel ngontrak di daerah lumayan jauh dari rumah. Sekitar satu jam perjalanan. Dari Bapak aku juba tau ternyata Ibuk berniat jodohkan Aldi sama Nabila. Biar Adel gak pergi jauh.
Ck, gak semudah itu. Nabila istriku. Adel anakku. Walau aku dan Aldi saudara kandung, tetap aja aku lelaki pertama Nabila. Nabila gak akan mau sama Aldi. Yakinlah itu.
Baiklah, aku hanya harus minta maaf, memelas minta kasihan agar dia mau memaafkan dan balik lagi. Jika Nabila menyebutkan syarat, maka akan aku kasih apa pun itu. Tanpa terkecuali.
Dia minta uang belanja lebih, pasti aku kasih. Jika dia minta skincare atau lainnya. Pasti aku kasih. Berinvestasi pada Nabila lebih menguntungkan daripada nenek lampir yang ada di rumah.
Apaan, taunya cuma dandan. Gak tau apa-apa selain itu. Mending Nabila, walau sekarang agak gak terurus paling gak dia bisa memenuhi kebutuhanku. Dia tahu itu. Perbandingan antara Nabila dan Irmaya itu macam berlian dan batu kerikil. Aku nyesal mungut itu perempuan sialan.
Dan beruntungnya alamat sudah aku kantongi. Jadi tinggal susul. Sekarang aku sedang dalam perjalanan. Soal pekerjaan, masa bodoh. Izin sehari gak mungkin kena pecat.
Setelah menempuh satu jam Perjalanan akhirnya aku sampai di daerah yang Bapak maksud. Sambil bermotor, terus aku awasi sekitar mencari alamat Nabila. Pokoknya hari ini aku harus bisa bawa dia pulang. Kalau gak mau, maka akan aku pakai Adel. Dia kan gak bisa jauh dari Adel.
"Buk, tau alamat ini?" tanyaku pada mbak-mbak penjual jamu gendong.
"Oh, ini. Mas-nya lurus aja nanti ada rumah bercat hijau tua, nah rumah ini ada di depan rumah itu. Ini rumah kontrakan tiga pintu."
"Wah, makasih, Mbak."
"Sama-sama. Kalau boleh tau Mas-nya mau cari siapa?"
"Nabila."
"Oh, Nabila. Kontrakannya yang ada di tengah."
Sekali lagi aku ucapkan terima kasih, lalu pergi ke alamat yang diberikan. Hatiku bukan main bahagia. Gak sabar ketemu Nabila dan Adel.
Aku parkiran motor di depan kontrakan dan berjalan ke pintu yang ada di tengah. Aku ketuk dua kali.
"Assalamualaikum."
Gorden tersingkap dan ternyata yang menyingkap adalah Adel. Matanya membulat saat lihat aku.
__ADS_1
"Bapak!" serunya dari dalam.
Entah kenapa melihat Adel rasa rinduku terobati. Aku kangen bocah ini. Kangen banget.
Pintu terbuka dan Adel langsung memeluk. Aku pun demikian. Kangen banget sama anakku yang cantik ini.
"Bapak kenapa lama? Ibuk bilang Bapak kerja jauh. Sekarang Bapak udah kerja dekat? Kalau gitu Dedek bisa bobok di rumah?"
Ya Allah, kenapa aku sampai tega sama anak semanis ini.
"Maafin bapak ya. Sekarang Adel boleh kok tinggal di rumah. Kita ajak ibuk." Aku peluk Adel, lalu ciumi kepala dan pipinya. Aku merindukan anakku ini. Terlebih lagi ibunya.
"Adel!"
Aku yang sedang peluk Adel mencari arah suara dan melihat Ibu keluar bawa penggorengan. Dia tarik Adel.
"Mau ngapain, Wis?" tanyanya. Matanya jangan ditanya, melotot gede banget.
"Kamu kok ada di sini. Siapa yang kasih tau?" lanjutnya lagi.
"Tapi kamu sama Nabila sudah cerai, Wis."
"Tapi Adel masih anakku, Buk. Sampai kapanpun Adel tetap anakku!"
Ibu diam. Tapi aku tau dia sedang kesal. Tapi bukankah yang harus kesal di sini adalah aku. Aku dihalangi ketemu Adel. Ck, aku Bapaknya. Tanpa aku Adel gak mungkin lahir.
Kulihat Adel, lalu melambai ke dia. "Sini, Nak!"
Adel mendekat. Inilah yang aku suka. Anakku yang ini penurut. Gak neko-neko. Aku yang terlalu gila sampai rela buang dia dan ibunya demi perempuan gila yang ada di rumah.
Tapi sekarang gak lagi. Aku bakalan bawa mereka kembali apa pun caranya.
"Ibuk mana?" tanyaku sambil usap rambutnya.
__ADS_1
"Ibuk pergi sama Om."
Aldi Aldi. Kamu mau ambil Nabila? Gak akan bisa. Aku punya kunci hati Nabila.
Kutatap lagi Adel lalu mencubit hidungnya. Dia terkikik geli. Dari dulu anakku ini paling suka diajak bermain begini.
"Del, Adel mau ikut Bapak?" tanyaku.
"Wis!" teriak ibu yang aku abaikan. Meski ibu orang yang melahirkan aku, tapi ibu gak berhak memisahkan aku sama Adel.
"Mau, Pak."
"Kalau begitu kita pergi, yuk!" Kupegang tangannya.
"Tapi Ibuk?"
"Ibuk bisa nyusul nanti. Dia nyusul sama Om."
Dan, anakku mengangguk. Segera aku gedong sebelum dia berubah pikiran. Sebelum Aldi dan Nabila sampai.
"Wis, lepaskan Adel!"
Aku lepas tangan Ibu yang mencengkeram lenganku.
"Tapi Adel mau ikut aku, Buk."
"Wis, kamu gila? Gimana degan Nabila. Tega kamu pisahin Adel sama Nabila?"
"Ya kalau mau sama Adel ya gampang. Tinggal balik lagi. Rumah masih muat, kok."
"Wis!"
"Pilihan ibuk cuma satu. Ikut aku sekarang atau aku bawa Adel sendirian."
__ADS_1
"Kamu gila? Pakai motor bawa anak itu gak bisa. Bahaya."
"Makanya ibuk pilih. Mau di sini apa ikut aku sama Adel. Kalau gak mau juga gak apa-apa. Aku bisa kok bawa Adel sendirian."