
POV Aldi.
***
"Gimana, Kak, bagus gak rumahnya?" tanyaku. Kami berdua melihat-lihat sekitar.
"Bagus, Al. Makasih ya?" katanya lalu duduk dan kasih Adel camilan.
Aku pun ikut duduk di kursi kayu yang memang sudah ada di kontrakan ini. Ini aku sewa untuk mereka. Sudah aku bayar untuk tiga bulan ke depan. Rumahnya lumayan. Ada satu kamar lengkap dengan kasur lantai. Ada kamar mandi. Dapurnya juga ada. Air juga mudah. Insya allah tidak akan menyulitkan.
Dia cuma mengangguk, lalu mengukir senyum. Senyum yang jujur terlihat menyedihkan. Dia jelas tertekan tapi berusaha tersenyum.
Ah, lihatnya begini beneran buat hati gak tega. Ingin aku menghiburnya, tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat.
Ck, ingat Bang Darwis aku jadi kesal Teganya dia sakiti Nabila. Teganya dia selingkuh lalu memukulinya. Yang lebih gak masuk akal dia menuduhku menyukai Nabila. Padahal aku hanya berusaha sopan. Aku menghormati Nabila karena dia kakak ipar. Gak ada rasa yang menjurus ke situ.
Andai tau lebih awal, pasti sudah lama aku bantu mereka bercerai. Kami saudara, tapi kelakuannya macam binatang.
Sial, membayangkan dia darahku jadi menggelegak panas. Kalau gak mikirin saudara dan Ibuk, sudah habis dia aku pukuli.
"Makasih, ya, Al. Aku beneran gak tau harus bilang apa. Keluarga kalian baik banget," sahutnya setelah lama diam
"Kita keluarga, Kak."
Dia menunduk, lalu menghela napas panjang. "Kita sekarang bukan keluarga, Al. Jadi berhenti panggil aku kakak."
Aku tersedak liur sendiri. Gak percaya dia bilang begitu.
"Tapi …."
"Panggil nama saja," lanjutnya sambil mengukir senyum. Senyum yang terlihat banget kalau dipaksakan.
"Jujur, aku gak nyaman dipanggil kakak," sambungnya.
Aku pun, sebenarnya gak nyaman panggil dia kakak. Dia lebih muda. Tapi karena sudah jadi istri Bang Darwis, mau gak mau aku biasakan diri panggil dia begitu.
"Baiklah," sahutku lalu berdiri. Rasanya udah gak ada lagi yang harus aku lakukan di sini. Ruang ini sudah bersih dan nyaman. Keamanannya juga terjaga. Sebelumnya aku memang menyurvei kontrakan ini. Kebetulan yang punya adalah salah seorang teman baik.
__ADS_1
Jadi ada baiknya aku pergi. Nabila pasti butuh waktu untuk sendiri.
Aku dekati Adel, lalu menciuminya. "Om pulang, ya, Adel jangan nakal. Jangan cengeng."
Dia mengguk. "Tapi Om, Bapak mana?" tanyanya.
Aku kikuk spontan lihat Nabila. Dia membuang muka. Pasti sedih mendengar anaknya nyari Bang Darwis.
"Bapaknya Adel lagi ke luar kota," jelasku berbohong.
"Lama?"
Aku ukir senyum lalu cubit gemas pipinya. "Lumayan."
Muka Adel langsung murung. Jujur, aku aja sedih lihat ini anak apalagi Nabila. Hatinya pasti tercabik saat mendengar Adel nyebut Bang Darwis padahal nyatanya mereka gak bisa sama-sama lagi.
"Jangan khawatir, Bapak kerja juga buat Adel. Jadi Adel jangan cengeng. Jangan buat Ibu susah."
Adel melihat Nabila, lalu tersenyum. Dia memeluknya.
"Aku pamit, ya?" kataku.
Nabila mengangguk, lalu melepas pelukan Adel dan mengantar sampai depan.
"Al?"
Aku yang hendak pasang helm jadi urung. Lebih berniat pandangi dia.
"Tolong jangan kasih tau alamat ini ke Bang Darwis," lanjutnya.
"Baiklah."
"Terima kasih."
Aku pun pergi setelah ucapkan salam. Aku kendarai motor menuju rumah. Lumayan, dari rumah ke kontrakan ini butuh kurang lebih satu jam. Semoga, semoga dia bisa memenangkan diri. Semoga dia gak berpikir yang gak enggak.
Sampailah aku ke rumah dan melihat Ibuk. Beliau duduk di teras dan tampak murung. Kudekati dia dan ucap salam. Tak lupa menyalami tangannya. Tangan yang bertahun-tahun melindungi, menyayangi dan kasih nafkah karena sosok ayah yang gak bertanggung jawab.
__ADS_1
Ya, kami besar oleh Ibu, hampir sepuluh tahun ibuk berjuang sendiri membesarkan kami. Sedang Bapak. Dia pergi ke wanita lain dan pulang saat kami sudah remaja.
Namun, Ibu tetap menerima Bapak dengan lapang dada. Entah apa yang buat ibu mau balik lagi padahal sudah disakiti. Mungkinkah karena masih ada cinta? Tapi itu terlalu kejam.
Maka dari itu aku gak berani buat dia sedih. Aku berusaha menjadi anak yang berbakti. Kasian ibu kalau harus disakiti anak setelah hati dipatahkan dan dicabik habis-habisan oleh suami.
"Nabila baik-baik aja kan?" tanya Ibu.
Aku mengangguk. "Insya Allah, Buk."
"Ibuk beneran gak habis pikir sama Darwis," sambungnya disertai helaan napas berat.
"Jangan terlalu dipikirkan, Buk. Nanti sakit."
"Tapi Ibuk gak bisa berhenti mikirin Nabila. Kalau dia pergi ibuk gak akan bisa ketemu Adel."
Aku pun. Aku juga menyayangkan ini terjadi. Kami semua menyayangi Adel. Tapi apa yang bisa kami lakukan sekarang. Memaksa Nabila bertahan hanya akan buat dia tambah gila.
"Nabila itu perempuan yang baik, santun, kamu tau mau sekeras apa pun ibu negur dia, dia gak akan marah. Sebaliknya dia selalu senyum dan bantuin ibuk. Dia perempuan yang baik," jelas Ibuk.
Dalam diam aku mengiyakan. Nabila memang baik. Pernah beberapa kali aku mendengar ibuk memarahinya karena masalah kecil. Kalau gak salah Adel terluka dan ibuk yang kesal malah memarahinya di depan orang ramai.
Tapi, Nabila gak sakit hati. Justru sorenya dia datang dan bantu ibu buat siapin makan malam.
Setulus itu dia. Aku yakin Bang Darwis bakalan nyesel karena udah sakitin perempuan baik macam Nabila.
"Al?"
"Ya, Buk."
"Gimana kamu aja yang nikahi Nabila."
Spontan aku terperanjat. Apa? Apa aku gak salah dengar?
"Buk?"
"Nikahi Nabila, Al. Ambil hatinya biar dia gak ke mana-mana. Biar ibuk bisa ketemu Adel. Ibuk gak rela kalau Adel pergi."
__ADS_1