Bantu Aku Bercerai

Bantu Aku Bercerai
Ketuk palu.


__ADS_3

Setelah bilang gitu Bang Darwis pun pergi, dia melewati mertuanya gitu aja. Gak ada sopan-sopannya sama sekali. Aku beneran gak kenal dia. Apa isi kepalanya sampai ngelakuin ini? Kasihan Maya. Dia baru aja kehilangan anak dan hari ini suaminya malah begini.


"Sudah … sudah, jangan nangis lagi. Dia gak mungkin bisa ninggalin kamu, kalau dia lakuin itu maka bapak yang bakalan patahkan kakinya," ujar bapaknya Maya. Kilatan kebencian kelihatan jelas dan saat lihat aku, kilatan itu makin kentara. Apa dia menyalahkan aku juga?


"Om Aldi?"


Aku menoleh Adel, dia memeluk kaki Aldi dan Aldi menggendongnya, memeluknya.


"Adel mau apa? Mau es krim?" tanya Aldi.


Adel mengangguk, matanya yang tadi menangis kini kelihatan sedikit ceria.


"Kamu kalau mau mandi, mandilah. Aku yang jaga Adel," ucap Aldi yang aku balas dengan anggukan. Ya karena aku memang gerah. Dari kuburan harusnya aku langsung mandi.


Selepas mandi tidak ada lagi lagi Maya sama bapaknya. Hanya ada Aldi dan Adel di ruang tamu. Penasaran, aku pun mendekati Aldi.


"Maya sama bapaknya mana, Al?" tanyaku.


"Mereka kembali. Mungkin gak enak sama pelayat."


Aku manggut-manggut dan jadi bingung mau ngomong apa. Soalnya pemandangan depan mata buatku sedikit bimbang. Aldi begitu baik, main sama Adel pun kelihatan tulus.


"Nabila?"


"Hah, kenapa, Al."


"Kamu ngelamun?" tanyanya.


Aku tentu menggeleng. Aku gak melamun, cuma agak bingung dengan perasaan sendiri. Satu sisi aku mengagumi Aldi, tapi sisi lain menentang, seolah melarang aku punya rasa ke mantan iparku ini.


"Kamu tenang aja, Bang Darwis gak akan bisa ambil Adel," katanya lalu mengulas senyum. Tampan, ya dia tampan.


"Bang Darwis memang ayahnya, tapi dia gak akan bisa ngasuh Adel. Hanya kamu yang berhak jaga Adel. Adel butuh kamu."


Ya, semoga. Semoga kemenangan berpihak ke aku.


Kuamati muka Aldi. Ada memar di ujung pelipisnya. Aku jadi makin gak enak.

__ADS_1


"Al."


"Kenapa?" tanyanya.


"Setelah semua ini kamu masih nunggu aku?" tanyaku.


Dia diam.


"Cari wanita lain, Al. Aku gak pantas. Aku …."


"Tapi bagiku kamu pantas, dan aku juga pantas jadi ayahnya Adel."


"Bang Darwis gak akan biarkan itu."


"Dia hanya lagi dalam fase penyesalan. Penyesalan buatnya menggila. Tapi nanti dia pasti sadar kalau ada kenyataan yang harus dia hadapi."


Aku kehabisan kata. Aldi bijak, beda sama Bang Darwis yang selalu mengedepankan emosi dan kepalan tangan.


"Hubungan kalian akan buruk," lanjutku. Ya, ini pasti terjadi. Bang Darwis sejak awal memang cemburu pada Aldi dan sekarang Aldi malah melakukannya. Gak habis pikir aku.


"Mau seburuk apa pun kami, kami tetap saudara. Jangan khawatir."


"Kalau dia nekat?" tanyaku lagi.


Aldi natap gak kedip. "Senekat-nekatnya Bang Darwis, dia gak bakalan jadi kriminal."


Aku diam. Meragukan. Takutnya mereka baku hantam lagi dan ada korban. Aldi terlalu baik untuk jadi korban.


"Aku kenal Bang Darwis. Kami hidup gak setahun dua taun. Dia memang pemarah, tapi gak yang sampai berani mencelakai," lanjutnya.


***


Persidangan yang alot pun akhirnya gak bisa dielakkan. Bang darwis ngotot gak mau cerai. Kalaupun cerai dia ingin hak asuh Adel jatuh ke tangan dia.


Ya jelas gak bisa. Adel masih kecil dan dia butuh aku.


Alhamdulillah saat proses sidang aku dikelilingi orang-orang baik yang mau bantu. Dan orang-orang itu bukanlah orang lain bagi Bang Darwis, melainkan keluarganya sendiri.

__ADS_1


Selain itu petugas pengadilan pun membantu. Hakim dan jaksa juga memihakku. Sudah begitu Bang Darwis tidak punya kuasa lagi. Dan hak asuh Adel jatuh ke tanganku.


"Bang Darwis!" panggilku saat kami keluar dari ruang sidang.


Kulihat mukanya merah dan ada air di pelupuk, tergenang.


"Aku minta maaf untuk beberapa tahun ini," kataku.


Ini sudah lama aku pikirkan. Ada baiknya aku berdamai sama dia. Biar bagaimanapun dia tetap laki-laki yang pernah aku sayang walaupun berakhir pengkhianatan.


Bang Darwis melihat Ibu dan Aldi, lalu berdengkus.


"Kalian tega ngelakuin ini ke aku," katanya. Dadanya naik turun.


"Wis." Ibu mendekat dan memeluk Bang Darwis. Sedang Bang Darwis tidak merespon. Matanya saja yang tajam melihatku.


"Terima kenyataan. Kamu gak bisa nyakitin Maya. Kasian Maya, Wis."


Bang Darwis melepaskan pelukan. "Ibuk tau aku salah. Aku salah langkah. Harusnya ibu menuntunku lagi. Aku ingin bertahan sama Nabila, Bu!"


"Lalu gimana dengan Maya. Dia istri kamu, Wis. Lalu giman dengan Fahri, dia anak kamu."


Bang Darwis diam, tatapannya tajam menatap Aldi. "Aku tau ini yang kamu mau kan, Al."


"Jangan salahkan Aldi, Wis. Aldi adik kamu. Ibuk sama Aldi ingin yang terbaik buat kamu."


Bang Darwis tiba-tiba melepas pelukan ibunya. "Kalian keterlaluan!"


"Wis. Ini yang terbaik untuk keluarga. Ibu sedih kamu berakhir begini. Tapi kamu juga gak bisa nyiksa Nabila. Kalau Nabila gak mau balik, ya kamu nggak bisa maksa. Ingat, Wis. Di rumah ada Maya."


"Maya Maya Maya! Kenapa harus Maya, Bu! Aku maunya Nabila!"


"Kalau begitu kenapa kamu melangkah sampai sejauh itu, Wis? Kamu hamili dia. Kamu sakiti Nabila. Lalu kamu mau sakiti keduanya lagi?" cecar Ibu.


Bang Darwis diam.


Sesaat mata kami beradu dan kulihat ada setitik air yang turun dari ujung matanya sebelum membuang muka. Mungkinkah itu air mata kemarahan?

__ADS_1


"Baiklah, pergilah! Pergi! Jangan pernah nongol depan mataku lagi apalagi berniat masuk ke dalam keluargaku," ucapnya yang terdengar menggeram penuh ancaman. Setelahnya pergi begitu saja meninggalkan aku, ibu dan adiknya.


__ADS_2