
POV Darwis.
***
"Wis, ini gimana sih? Kok bisa salah? Kamu teliti gak sih?" omel bos. Dia misuh-misuh dari tadi lantaran aku salah input data. Salah jumlah dan salah varian. Teh varian stroberi aku input jadi teh rasa blueberry. Alhasil, orang toko mengomel dan minta retur.
Apes. Bertahun-tahun kerja baru ini aku melakukan kesalahan begini.
"Wis, kamu denger saya gak?" Bos lagi-lagi teriak.
"Iya, Bos. Maaf."
"Sudahlah, pulang sana! Kamu harus istirahat total biar gak salah lagi."
"Maaf, Bos."
"Setelah saya perhatikan kamu ini aneh selama lima bulan ini. Kalau punya masalah harusnya diselesaikan, jangan dibawa tempat kerja," omelnya lagi. "Sering telat, banyak nelfon, gak fokus. Nah ini malah bikin kesalahan. Professional, dong!"
Kesal aku. Tapi, mau melawan juga gak mungkin. Aku hanya karyawan. Terlebih lagi saat ini kandungan Maya udah gede. sebulan lagi lahiran. Aku butuh uang tambahan untuk lahiran Maya. Hufh!
Aku pamit setelah korbanin kuping dengerin ceramah bos. Lalu, kendarai motor menuju rumah. Rumah yang entah kenapa serasa asing selama lima bulan ini. Bahkan rumah orang tuaku juga sama asingnya. Ibuk seringkali bersikap abai. Gak ada tempat ternyaman buat pulang, tapi aku tetap gak punya tempat lain buat pulang
"Bapak!"
Aku yang baru buka pintu langsung dihampiri jagoan kecilku. Wajahnya sedikit cemong dan bau masam.
"Adek udah mandi belom?" tanyaku.
"Belom," balasnya sambil menggeleng.
Ya, bajunya memang gak ganti dari pagi. Tapi kenapa belum mandi? Ini udah hampir isya.
Aku tutup lagi pintu dan mencari ibunya Fahri.
"Maya!"
"Ya."
Dari suaranya dia ada di kamar. Gegas aku menghampiri dan melihatnya sedang selonjoran pegang hp. Cengar-cengir.
"Lagi ngapain?" tanyaku dengan nada sedikit ditahan. Kok bisa dia di sini sedang rebahan sedang Fahri belum mandi. Apa jangan-jangan anakku ini juga gak dikasih makan.
"Lagi nonton, Bang."
Apa, Nonton? Dia nonton dan sengaja biarkan Fahri gak mandi.
Mulai naik darahku. Panas bawaannya.
__ADS_1
"May, kamu ini gimana, sih. Gak liat kalau anak kamu ini belum mandi. Bisa-bisanya cekikikan nontonin hp," omelku.
Dia yang tadinya senyum langsung berubah. Kulit mukanya merah. Dia kayaknya mau marah, tapi aku juga lebih marah. Aku capek kerja. Bukannya disambut dengan baik, aku malah lihat rumah berantakan. Anak gak dimandikan. Apa kerjanya seharian ini?
"Jangan nyalahin, Bang. Fahrinya gak mau dimandikan," sahutnya. Matanya melotot.
Ah, inilah sikap Maya yang paling buatku kesal. Dia pembangkang, pelawan.
"Ya kalau dia gak mau ya bujuk. Kasih apa kek. Dirayu biar mau mandi. Kamu kan ibunya," lanjutku gak mau kalah.
"Bang Darwis gak lihat perutku udah Segede apa. Berat, Bang, capek. Gak kuat buat gendong Fahri apalagi maksanya mandi. Abang aja yang mandiin."
Sumpah, darahku menggelegak sampai ubun-ubun. Andai gak ingat dia lagi hamil, udah aku tampar congornya yang kurang aja itu.
Dulu, saat masih beristrikan Nabila, gak pernah sekalipun rumah berantakan. Adel selalu wangi saat aku pulang. Dan di meja makan sudah tertata makanan. Saat aku marah, Nabila gak pernah membalas.
Tapi lihatlah Maya. Yang dilakukannya cuma rebahan. Bersantai. Kalau ditegur mulai merajuk dan marah.
Sial, aku terjebak sama perempuan ular ini. Aku buang Nabila demi Maya yang gak tau apa-apa. Bahkan pasang gas aja gak bisa.
"Sudahlah, aku yang mandikan. Siapkan saja makan malam. Aku lapar," kataku lalu buka jaket dan menggendong Fahri membawanya ke kamar mandi.
Sebenarnya memandikan Fahri gak sulit. Anak ini anteng kok. Malah ketawa-ketawa saat disiram air dingin. Rasanya gak mungkin gak mau mandi. Aku yakin itu akal-akalan dia. Dia gak mau repot.
Setelah membereskan Fahri, giliran aku yang mandi. Namun, saat di dapur kulihat bungkusan yang gak asing ada di keranjang sampah. Bungkusan paket
"Paket lagi?" tanyaku.
"Paket apa lagi?" tanyaku. Hari-hari selalu ada paket.
"Paket skincare."
"Skincare?"
Aku abai, lalu mandi. Setelah segar aku pun berniat makan. Seharian gak makan karena order barang yang gak kelar-kelar. Sekarang perut keroncongan.
Namun, saat tudung saji dibuka hal yang gak masuk akal aku lihat. Bagaimana tidak, menunya hanya ada telur dadar dan tumis kangkung.
"Maya!" teriakku.
"Apaan, sih, Bang! Demen banget teriak-teriak." Dia datang sambil misuh-misuh.
Kesal, aku tunjuk apa yang dia masak. "Apa ini Maya?*
"Ya menu makan malam."
"Kenapa cuma ini? Bukannya uang belanja aku beri seratus tadi pagi?"
__ADS_1
"Ya kan aku bayar buat paket, Bang."
Prang!
Kubanting tudung saji. Keterlaluan dia. Dia mementingkan skincare ketimbang lauk buat makan. Beneran gak waras perempuan ini.
"Bang Darwis!"
"Maya, kamu becus gak sih jadi istri? Aku kerja banting tulang seharian hanya kamu kasih lauk begini. Punya otak gak?" hardiku, kesal asli. Kok bisa dia begini.
Dia balas berkacak pinggang. Menantang.
"Bang, jangan sembarangan. Justru aku punya otak makanya aku bagi uang belanja. Kalau cuma nurutin perut, aku bakalan berakhir jelek. Aku gak mau jadi Nabila yang jelek hingga berakhir diselingkuhin."
"Maya!" sentakku. Untuk kali ini dia keterlaluan.
"Aku bener. Kamu kan demen cewek glowing. Wajar kalau aku berusaha tampil cantik. Lagian kamu juga udah tau dari dulu aku gak bisa kalau gak pakai skincare."
Astaga ….
Leher tiba-tiba aja jadi tegang.
"Makan yang ada aja lah, besok baru aku masakin ikan," ocehnya lalu pergi.
"Lagian harusnya bersyukur. Ini malah marah," lanjutnya.
Kesal, aku tendang kaki kursi, lalu keluar rumah. Bisa gila aku kalau terus dalam rumah.
Aku langkahkan kaki ke rumah Ibu, berharap di sana ada makanan yang layak. Aku lapar, tapi Maya malah buat aku gak bisa makan.
"Assalamualaikum," ucapku lalu nyelonong masuk. Ibu, Bapak yang ada di ruang tamu melirik sekilas. Sejak insiden perceraian itu, Ibuk jadi dingin. Gak pernah negur maupun senyum kalau lihat aku.
Tapi masa bodoh. Aku tetap anak mereka. Aku lapar dan butuh makan.
Di meja ada lauk yang lumayan enak. Ayam goreng, sambal, dan ada sayur lodeh. Menu ini lebih mendingan ketimbang cuma telur dadar.
Ah, Nabila. Ke mana dia sebenarnya? Kenapa sulit sekali nyari dia? Aku rindu Nabila, masakannya bahkan semua yang ada di dia aku rindukan. Terlebih aku rindu Adel. Gimana kabarnya.
"Binimu gak masak, Wis?
Aku yang sedang mengunyah makanan melihat ibu, dia duduk di depanku.
Namun, aku gak mau jawab. Yang ada malah bertengkar. Aku terus menyuap karena memang lapar.
"Wis Wis … kasian kamu. Buang berlian malah dapat batu kerikil."
Kesal, aku tatap ibu. Dia cuma geleng-geleng kepala sambil berdecak meremehkan.
__ADS_1
"Sudahlah, makan ... makan. Makan yang kenyang." Ibu lalu pergi.
Namun, selera makanku lenyap. Sialan!