
Masih POV Aldi.
***
"Ibuk jangan ngawur!"
Aku makin terperanjat saat Bapak menyambar. Beliau duduk setelah sebelumnya narik kursi dari dalam ruang tamu, lalu duduk di depan kami. Bapak kelihatan marah.
"Tapi Ibuk gak mau Adel pergi, Pak." Ibu tetap bersikukuh. Dan aku paham perasaannya. Dia begitu menyayangi Adel.
"Tapi bukan berarti numbalin Aldi, Buk. Aldi juga berhak menikah dengan perempuan yang disuka. Bukan perempuan bekas abangnya."
"Pak?" Aku sengaja menginterupsi. Entah kenapa gak senang aja dengar bapak bilang begitu. "Bukan salah Kak Nabila jika dia memilih jadi janda. Salah Bang Darwis yang berkhianat."
"Darwis itu orangnya gak bersyukur," sambung Ibu sambil lirik Bapak. Sedang Bapak, kayaknya mati kutu.
"Ini udah jadi keputusan mereka berdua. Bang Darwis berani berkhianat itu artinya sudah paham kau akhirnya bakalan begini," sambungku.
"Nah, justru itu. Dia itu udah janda lalu kenapa ibumu nyaranin janda bekas abang kamu ke kamu. Gak masuk akal," omel Bapak.
"Yang gak masuk akal itu adalah orang yang kasih contoh gak baik," sambung Ibuk.
"Tapi kan Bapak udah berubah, Buk, udah balik. Udah tobat. Kenapa diungkit-ungkit."
__ADS_1
"Tapi kelakuan Bapak masih diingat anak-anak sampai sekarang. Dan sekarang jejak itu diikuti Darwis. Itu semua salah Bapak."
Bapak diam.
"Dan Nabila gak macam Ibuk, Pak. Ibuk terlalu bodoh sampai mau nerima Bapak. Tau bakalan begini ibu gak bakalan mau rujuk sama Bapak." Ibu berdengkus lalu masuk rumah.
Aku cuma diam natap Bapak yang kembali merokok. Jujur, aku rada kesal sama Bapak karena pernah pergi milih pelakor itu ketimbang tetap bertahan sama ibuk dan kami.
Tapi, mau gimana pun dia ini tetap orang tua yang wajib dihormati. Lagian setelah aku perhatikan Bapak juga banyak berubah. Sesudah lebih baik dan gak bermain-main perempuan. Hanya saja sepertinya Ibuk masih punya dendam yang kadang hal itu selalu jadi bahan buat dia marah-marah ke Bapak.
"Sudah, jangan dipikirkan omongan ibuk kamu itu. Dia lagi gak bener otaknya," lanjut Bapak ke aku.
Aku Hela napas panjang, lalu usap muka. Pusing dihadapkan hal begini.
"Tapi Bapak benar. Usulnya gak masuk akal. Memangnya kamu mau sama Nabila?"
Nabila? Entah. Aku gak pernah berpikir begitu. Selama ini hanya menganggapnya saudari ipar. Menghormatinya.
"Bapak saranin jangan, Al. Walau Darwis bejat, dia tetap abang kamu. Walau Nabila korban dan gak salah, tapi dia tetap mantan ipar kamu. Jadi jangan nambahin masalah dengan cara dengerin permintaan ibu kamu itu. Makin runyam nanti," ocehnya lalu pergi.
Tinggalah aku sendiri di teras. Berpikir. Omongan Bapak gak salah, tapi keinginan ibuk juga gak salah. Ah, pusing!
Daripada tambah pusing aku putuskan buka warung.
__ADS_1
Namun, baru juga beranjak tiba-tiba sosok yang paling menyebalkan datang. Dia datang dengan tergesa dan langkah panjang.
"Adel!" teriaknya lalu melewatiku. Seakan aku ini gak ada. Gak keliatan.
"Adel, Nabila!" teriaknya lagi.
Kesal rasanya.
"Adel, Nabila!"
Sial, mau abai malah terpancing. Aku masuk rumah dan melihat dia membuka kamar satu persatu. Sedang Ibuk sama Bapak memperhatikan tingkahnya yang keterlaluan. Mana teriak-teriak pula.
"Mana Adel, Buk?" tanyanya.
Ibuk gak jawab. Pun dengan Bapak yang memilih pergi melewatiku. Dia tahu mungkin bakalan jadi sasaran Ibuk lagi kalau tetap di sini.
"Mana Adel sama Nabila, Buk?" lanjut Bang Darwis. Kelihatan menggila dia.
"Nabila sama Adel udah pergi. Merkel agak di sini," sahut Ibuk.
"Apa? Gak! Mereka gak boleh pergi! Mereka gak boleh pergi!"
Mata Bang Darwis beralih ke aku, lalu mendekat dan menarik kerah bajuku. "Ke mana kamu sembunyikan Nabila, Al? Ke mana?"
__ADS_1