
[Kita, dua hati yang saling sepakat untuk terikat.]
Devano tersenyum membaca pesan WA dari calon istrinya. Jemarinya segera menekan keypad ponsel, lalu menulis sesuatu di sana.
[Aku di hidupmu bukan sekadar singgah, tapi menetap dan sebentar lagi seatap.]
Balasan yang membuat Liodra memejamkan mata, melayang sambil memeluk ponsel miliknya. Hanya sebentar dia bisa tertidur, karena dirinya harus segera menyiapkan diri.
Akad nikah digelar jam delapan pagi. Tamu yang diundang hadir dalam akad nikah hanya keluarga inti. Tiga jam lebih Liodra usai dirias, dengan sentuhan make up sesuai keinginannya. Make up soft flawless yang membuat penampilannya semakin memukau.
Dia bersiap mengenakan kebaya brokat putih bersih, siger dan kain batik. Penampilannya makin anggun dengan kebaya berpotongan kerah V dan permainan detil pearl beads, ditambah aksen ekor panjang menjuntai.
Sashi sang perancang busana berkali-kali memastikan pemasangan siger Sunda di kepalanya sempurna. Untuk akad nikah dia dan Devano sepakat memakai adat Sunda. Untuk acara resepsi, mereka memenuhi keinginan Dewanti menggunakan adat Jawa.
Resepsi akan digelar dua kali. Siang hari untuk tamu Dewanti dan Hernowo, busana adat jawa lengkap dodot basahan sudah dipesan khusus dengan perias asli Solo, kawan SMA Dewanti.
Sedangkan sore hari untuk tamu undangan teman-teman Liodra, MUA Dayana didapuk untuk mendandani dengan make up yang dipadukan dengan gaun rancangan Sashi seperti impiannya. Semua susunan acara sudah dipersiapkan oleh Wedding Organizer.
Tepat jam 07.15 rombongan keluarga Devano hadir di kediaman Liodra. Mengenakan baju beskap putih, Devano terihat sangat tampan. Aksen baju berkelap kelip di bagian pundak dan ikat pinggang hitam membuat penampilannya sangat gagah. Blangkon khas Sunda senada dengan kain yang dipakainya dan kalung rangkaian melati melengkapi penampilan pemuda pekerja keras itu. Penampilannya bak raja sehari.
Kini kedua keluarga sudah berkumpul menunggu kedatangan penghulu. Ela yang melihat ibu Devano sedikit pucat mendekatinya.
"Ibu, mari duduk di sini, perkenalkan saya Ela sahabat Liodra, tadi Liodra berpesan supaya saya menjaga ibu."
Ela menggandeng lengan Eva lalu mendudukkannya di sofa ruang tengah, menjauh dari keramaian. Gadis berkulit sawo matang yang mengenakan kebaya seragam pengiring pengantin itu menyodorkan satu gelas teh hangat kepada Eva.
"Terima kasih Nak Ela. Liodra memang sangat perhatian. Saya tidak sabar menunggu dia jadi menantu."
Eva meminum teh hangat yang disodorkan Ela. Satu teguk, dua teguk teh hangat membuatnya sedikit rileks. Saat ini mungkin dia sama tegangnya dengan Devano.
Ah ... betapa cepatnya waktu berlalu. Sekilas Eva melihat bayangan Baskoro pada senyum Devano. Jika mereka dulu sempat menikah, mungkin seperti ini gagahnya Baskoro. Eva segera menggeleng menepis pikirannya sendiri.
__ADS_1
Penghulu yang ditunggu sudah datang. Semua orang bersiap. Sesaat kemudian penghulu mengajari Devano untuk latihan mengucapkan ijab kabul. Pada saat latihan, Hernowo membisikkan sesuatu kepada penghulu.
Mereka terlibat perbincangan serius. Penghulu seperti sedang menjelaskan sesuatu kepada Hernowo. Pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Penghulu mengeluarkan tulisan disebuah kertas lalu mencoret sesuatu dan menggantinya. Setelah dirasa semua siap, acara segera dimulai. Devano tampak tegang. Berkali-kali Ridwan harus menepuk punggungnya
"Jangan tegang, kalau bisa dalam satu tarikan napas, itu lebih afdol. Kalau tidak bisa jangan dipaksakan.Yang penting jangan sampai salah dan mengulang. Baca saja tulisan yang sudah disiapkan penghulu untuk membantu," ujar Ridwan menenangkan. Devano mengangguk. Penghulu segera mengawali prosesi akad nikah dengan membaca do'a.
"Saya terima nikah dan kawinnya Liodra Audrey Suroso binti Baskoro Setyadi dengan mas kawin uang tunai dua juta dua ratus dua puluh ribu rupiah dan emas seberat dua puluh gram dibayar tunai." Akhirnya Devano berhasil melakukannya dalam satu tarikan napas.
"Bagaimana saksi? Sah?" tanya penghulu kepada dua orang saksi.
Saksi menjawab "sah." Semua tamu yang hadir menghembuskan napas panjang. Wajah-wajah berseri pertanda turut berbahagia menjadi saksi dimulainya perjalanan dua hati.
Satu prosesi telah diselesaikan, dua jiwa menyatu dalam ikatan sakral. Kini tak ada lagi yang ganjil, karena dua jiwa telah menggenap. Tak ada lagi muskil karena palung rindu sudah beratap. Liodra mencium tangan suaminya untuk pertama kali setelah Devano usai membacakan sighat taklik dalam buku nikah.
Prosesi ijab qabul ditutup dengan do'a setelah akad nikah. Semua yang hadir mengaminkan do'a tersebut. Selanjutnya prosesi sungkeman.
Devano mencari-cari ibunya. Ela yang melihat Devano kebingungan, segera membangunkan Eva yang tertidur di atas sofa. Eva terbangun dan merasakan kepalanya berputar-putar.
"Ibu, sekarang waktunya sungkeman. Devano mencari ibu, mari saya antar ke depan."
"Ijab kabulnya baru saja selesai. Mari, ikut saya ke depan." Ela membantu Eva bangkit dari kursi.
"Duh ... kok bisa Ibu tertidur di saat penting begini. Ah, ini pasti karena Ibu semalam tidak bisa tidur," sesal Eva seraya memegang pelipisnya.
Ela menuntun Eva ke ruang tengah, di mana sudah tersedia kursi untuknya. Ridwan memandang kakaknya dengan tatapan aneh. Sepertinya dia baru tersadar saat ijab kabul tadi kakaknya tidak terlihat.
Kedua mempelai segera melakukan sungkeman. Devano berjongkok di depan ibunya, sambil membisikkan sesuatu," mohon jangan lelah berdo'a untuk Dev. Maafkan semua kesalahan Dev, Bu." Eva mengelus kepalanya putranya.
Suasana haru menyelimuti ruangan saat kedua pengantin bergantian meminta maaf dan memohon do'a terbaik dari orang tua mereka.
Seusai sungkeman acara jeda sebentar karena pengantin harus berganti baju dan bersiap ke hotel untuk resepsi.
__ADS_1
"Bu Eva sepertinya Ibu sangat lelah, mari saya antarkan ke kamar. Liodra sudah menyediakan kamar khusus untuk beristirahat, sambil menunggu giliran berganti baju."
Lagi-lagi Ela menggandeng tangan Eva. Entah kenapa Eva merasakan kepalanya sangat pusing dan pandangannya berkunang-kunang. Sepertinya dia memang harus berbaring sebentar. Mungkin ini efek dirinya tidak bisa tidur tadi malam. Matanya terasa berat dan susah dibuka. Eva merasakan kantuk luar biasa.
"Silakan beristirahat sebentar. Ibu mau saya ambilkan makanan?"
"Tidak usah Nak Ela, terima kasih banyak. Kamu baik sekali, Liodra beruntung mempunyai sahabat sepertimu." Ela tersenyum lalu duduk di ranjang, bersebelahan dengan Eva.
"Saya hanya ingin membalas kebaikan Liodra terhadap kami, saya dan mama. Sebenarnya ada satu hal besar yang ingin saya lakukan untuk dia, hanya saja sampai sekarang saya masih belum berhasil. Do'akan saya bisa memberi kejutan untuk Liodra, ya, Bu."
"Kejutan apa? Eh ... maaf ibu jadi lancang bertanya."
"Tidak apa-apa, saya sangat ingin sekali membantu menemukan ayah kandung Liodra sebelum pernikahan ini, tetapi ternyata gagal. Sampai sekarang saya belum menemukan pria ini, Bu."
Ela memperlihatkan foto Baskoro di dalam galeri ponselnya. Eva yang melihat foto Baskoro spontan menutup mulutnya, matanya terbelalak, wajahnya mendadak pucat pasi.
"Dia ... Apakah pria ini ... ayah kandung Liodra? Ya Tuhan, Allahu Akbar!"
Ela segera berlari keluar dari kamar setelah beristighfar berkali-kali. Dia mencari-cari Devano yang tidak terlihat lagi di ruang tamu. Seperti orang gila, Ela berteriak memanggil nama anaknya.
"Devano! Devano, di mana kamu, Nak? Devano!" Semua orang yang hadir terkejut mendengar teriakan Eva.
Ridwan yang sedang makan sambil berbincang dengan Hernowo segera meletakkan sendoknya. Eva bagai orang kesetanan. Dia berlari ke arah tangga, mencari kamar Liodra. Pasti anaknya sedang berada di kamar pengantin.
Sekuat tenaga Eva berlari menaiki tangga. Ini tidak boleh terjadi. Sesampainya di lantai dua, Eva melihat satu pintu kamar yang dihiasi banyak bunga segar. Eva segera berlari dan menggedor pintu itu.
"Devano, buka pintunya, Nak. Buka pintunya, ini tidak boleh terjadi ...." Eva jatuh tergugu di depan pintu kamar yang segera terbuka. Dari dalam kamar muncul Devano bersama Liodra dengan wajah keheranan, sementara dari arah tangga Ridwan mendekat diikuti Hernowo dan Dewanti.
"Devano, kalian tidak boleh menikah, Liodra ... Dia adalah ... adik ... kandungmu...." Dewanti lunglai dan jatuh pingsan. Semua yang mendengar perkataan Eva menganga. Mereka segera menyadari hal serius terjadi.
Ela muncul dari arah tangga dan melihat pemandangan yang ia tunggu sejak bertahun-tahun silam.
__ADS_1
"Mama ... genderang perang sudah dibunyikan. Mama pasti senang melihat ini," ucapnya lirih seraya tersenyum kegirangan. Bertahun-tahun Ela menunggu moment ini. Dendamnya baru saja dimulai.
Pada akhirnya hidup ini adalah tentang seberapa kuat kita menanggung hantaman-hantaman tak terduga.