
Marcela marah-marah karena berkali-kali menghubungi Asep, tetapi nomor ponsel ayahnya itu tidak aktif.
"Ayah ke mana saja, sih, dalam keadaan genting seperti ini malah ponselnya tidak bisa dihubungi. Aku harus segera mengambil tindakan kalau Baskoro sadar dan mengatakan yang sebenarnya, maka posisi Ayah berada dalam bahaya," gumamnya.
Marcela segera mengetikkan sebuah pesan.
[Ayah, tolong segera hubungi aku. Ini penting!] pesan terkirim.
"Semoga Ayah segera online," batinnya.
Marcela keluar kamar dan mendapati Nerwani sedang memandang ke arah kebun yang berada di depan rumah mereka.
"Ibu sudah makan?" tanya Marcela.
Nerwani hanya menggelengkan kepalanya.
"Ibu, kenapa sedih?"
"Sejak kemarin ibumu tidak mau makan," ucap Sudarsih sedih.
"Ibu, kenapa tidak mau makan?" tanya Marcela sekali lagi.
Nerwani hanya menggelengkan kepalanya, lalu punggungnya terguncang-guncang. Nerwani menangis. Ada satu rahasia yang ingin ia ungkapkan, tapi sampai sekarang lidahnya masih terasa kelu.
"Ibu, sebentar lagi semua permasalahan ini akan selesai. Tunggu Ayah dan Marcela berjuang dulu, ya, nanti kita akan pindah dari kota ini dan hidup berbahagia bersama-sama," janji Marcela kepada Nerwani.
Lagi-lagi Nerwani menggelengkan kepalanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Ela?" tanya Sudarsih.
"Nenek juga tidak perlu tahu apa yang terjadi dengan Baskoro. Kecelakaan yang menimpa Ibu harus dibayarnya. Keluarga Baskoro harus menderita," ucap Marcela membuat Sudarsih bergidik.
"Kamu persis seperti ibumu," desah Sudarsih resah.
Bayangan masa lalu terus berkelebat di benak Nerwani tentang hinaan Dewi Murtiningsih, ibunya Baskoro, pria yang ia cintai.
Pada suatu siang kembali Dewi Murtiningsih mendatanginya.
"Tinggalkan Baskoro sekarang juga! Berapa kali harus aku ingatkan kepadamu, Wanita Gila!" Tunjuk Dewi Murtiningsih tepat di depan muka Nerwani.
"Sebaiknya kamu mengaca dulu sebelum mendekati anakku. Tidak akan pernah aku biarkan Baskoro salah langkah berhubungan dengan perempuan. Kamu tahu hanya dijadikan pelampiasan nafsunya saja. Perempuan rendahan seperti kamu tidak pantas mendekati putraku," hina Dewi Murtiningsih.
__ADS_1
"Berhenti menghina saya, Nyonya," sahut Nerwani. Dia sudah bosan ditekan.
"Apa yang akan kamu lakukan? Jangan pernah berani macam-macam dengan keluargaku, kalau tidak mau nyawamu aku hilangkan," hardik Dewi Murtiningsih.
"Saya mencintai Baskoro."
"Cinta seperti apa yang kamu tawarkan kepadanya? " tanya Dewi Murtiningsih dengan sinis. "Aku menyekolahkan Baskoro ke luar negeri untuk menjadi orang. Bertemu dengan jodoh yang tepat. Bukan dengan perempuan rendahan sepertimu. Kamu pikir aku tidak tahu profesimu sekarang. Kamu menjual tubuhmu."
Nerwani tidak berani lagi menatap wajah Dewi Murtiningsih. Saat Dewi Murtiningsih hendak keluar dari rumahnya, Nerwani merasa kalah. Ia mengambil guci di pojok ruangan lalu menghantamkan guci itu ke belakang kepala Dewi Murtiningsih.
Perempuan itu tergeletak tak berdaya, tetapi Nerwani lupa, Dewi Murtiningsih datang bersama para bodyguard-nya. Dia diseret lalu disiksa dan dibuang jauh ke luar kota.
Saat itulah dendam terus menggunung di dada Nerwani. Kakinya pincang, tulang belikatnya patah. Nerwani harus duduk di kursi roda. Saat ditanya oleh Sudarsih dia hanya bilang menjadi korban tabrak lari.
Air mata terus membanjiri pipinya. Nerwani memang menyimpan dendam yang sudah menembus tulang. Namun, setengah hatinya tidak rela jika Marcela harus menebusnya. Apalagi dalang dari semua rencana ini adalah Asep, suaminya yang tidak pernah memberinya nafkah sepanjang pernikahan mereka.
***
Sementara itu, Liodra terus mencari tahu tentang kabar Ryo kepada Dewanti.
"Keluarga Pak Beni tidak akan membiarkan masalah ini berlarut-larut. Jadi kamu tenang saja, Liodra. Sebentar lagi pasti Ryo akan ditemukan," ujar Dewanti menenangkan.
"Itu ide yang bagus. Baiklah, kamu bisa segera bersiap dan kita datang ke rumah Tante Lestari." Dewanti senang karena Liodra bersikap dewasa. Dia sekarang menyadari Liodra banyak berubah. Gadis itu banyak belajar dari peristiwa kegagalan kemarin.
"Bagaimana, Jeng Lestari? Apakah sudah ada kabar terbaru tentang Ryo?" tanya Dewanti, setelah mereka sampai di rumah Lestari.
"Polisi masih terus menyelidiki keberadaan Ryo, Jeng Dewanti. Doakan semoga Ryo selamat."
"Mungkin ada teman bisnisnya yang merasa sakit hati. Sudah menghubungi kawan-kawannya, Tante?" tanya Liodra.
"Sudah, Sayang. Kabar terakhir mereka melihat Ryo ada di sebuah klub malam dan keluar bersama seorang wanita. Tante minta maaf untuk itu."
"Sudahlah, Tante Lestari tidak perlu meminta maaf sama Liodra. Sebelum menikah Ryo bebas melakukan apa saja."
Lagi-lagi Dewanti tercenung mendengar kalimat yang keluar dari mulut putrinya. Leodra jauh lebih dewasa.
***
Di rumah sakit, dokter sedang memanggil Devano karena dia adalah satu-satunya keluarga Baskoro.
"Hari ini Pak Baskoro akan dipindahkan ke ruangan. Sepertinya memang ada suatu zat berbahaya yang mungkin secara tidak langsung dikonsumsi oleh Pak Baskoro. Kesimpulannya zat berbahaya ini masuk ke dalam tubuhnya dengan cara disuntikkan."
__ADS_1
Devano terperanjat mendengar keterangan dokter. "Apakah ini sudah bisa dijadikan barang bukti ke polisi, Dokter? Saya butuh surat resmi dari rumah sakit."
"Surat keterangan dokter bisa saja," jawab dokter itu.
Devano segera menghubungi Surya. "Om, bagaimana? Apakah Om Surya jadi berkonsultasi dengan teman Om yang polisi itu?"
"Ya, dia bilang kalau mau menambah barang bukti bisa saja harus resmi dari rumah sakit."
"Aku sudah mendapatkan diagnosanya. Pak Baskoro memang sengaja diracun secara perlahan."
Surya terdiam seketika. "Kalau begitu Om tidak akan menunda lagi. Cecep pasti menjadi satu-satunya tersangka. Baiklah, kamu urus Pak Baskoro. Om akan mengurus Cecep ke kantor polisi."
Surya segera menghubungi kawannya dan membuat janji temu di kantor polisi.
***
Sementara itu Asep alias Cecep sedang berusaha mengamankan berkas-berkas sertifikat tanah, rumah, juga perkebunan yang selama ini ia simpan.
"Keparat, ternyata polisi sudah berjaga di depan rumah Baskoro. Aku tidak boleh terlihat," gumam Asep.
Saat Asep akan mengabarkan posisinya kepada Marcela, pria itu mengaktifkan ponselnya dan menerima banyak panggilan tak terjawab dari Marcela.
Segera ia menghubungi anaknya.
"Ayah sekarang sedang berada di sebuah tempat yang tidak bisa Ayah katakan demi keamanan. Bagaimana kabar Baskoro? Ayah belum mendengar kabar terbarunya."
"Ayah, sepertinya dia tidak akan selamat. Sampai sekarang masih berada di UGD."
"Kamu segera jalankan rencana berikutnya, minta Baskoro untuk bungkam dan menutup mulutnya atau Ryo akan mati."
Marcela tersenyum, "Baiklah, sekarang aku akan segera memberi kejutan terbaik untuk Liodra."
Marcela menutup teleponnya, lalu menelepon dengan nomor baru Liodra.
Liodra yang masih mengobrol bersama Lestari, segera mengangkat nomor tak dikenal itu.
"Kalau kamu mau Ryo selamat, bungkam mulut Baskoro, jangan sampai mengatakan apa pun kepada polisi!" Liodra sangat terkejut mendengar suara yang sangat ia kenal.
"Ela, apa yang kamu inginkan sekarang?" tanya Liodra.
"Aku akan menukar kebebasan ayahku dengan kebebasan Ryo.
__ADS_1