
Dunia Liodra runtuh seketika. Dunia kecil yang hendak dibangun dengan sebesar-besarnya pengharapan bersama kekasihnya. Dunia tangis dan tawa yang telah terlewati, kemudian berganti menjadi awal.
Dunia yang hanya ada dirinya dan Devano yang saling bertukar rasa. Tak peduli badai sekuat apa pun yang menghantam mereka tetap bergandengan tangan hingga datang satu kabar mematikan.
Mereka bersaudara!
Bahagia dan derita begitu tipis jaraknya. Dia dan Devano hanya terpisah oleh satu kata, takdir. Gadis itu sedang menekan kuat-kuat rasa sakit yang sekarang rajin mengunjungi hatinya dan enggan pulang. Perih yang menetap, nyeri tak berujung Pada pohon yang daunnya gugur sebelum berbunga, Liodra bertanya. Bagaimana menjadi tabah menerima nestapa tanpa merasa menderita?
Bagaimana bisa tetap kokoh bertahan saat keadaan tak lagi berpihak. Dan bagaimana tetap bisa menerima takdir yang membuatnya banyak kehilangan.
Liodra ingin menjelajah negeri yang jauh, yang tak menyediakan tempat untuk rapuh. Tempat di mana hanya ada satu hal. Bahagia.
Hari-harinya yang sekarang berteman dengan air mata dan kepedihan. Bagaimana menghilangkannya?
Tenda di depan rumah sudah dibongkar, kursi-kursi dikembalikan seperti semula. Rumah Dewanti yang megah kembali sepi seperti awalnya. Benarkah semua bisa kembali seperti semula, termasuk rasa yang kemarin singgah untuk menetap menyertai perjalanan dua hati?
Liodra tidak menyahut semua panggilan yang ditujukan padanya. Saat semua rahasia terbongkar dan dijelaskan satu persatu oleh Dewanti dan Eva, Liodra seakan kehilangan pendengaran.
Dia hanya melihat mulut-mulut bergerak tanpa suara, tapi menyakitinya.
Gadis itu hanya mendengar suara-suara di kepalanya yang bising. Untuk menghindar, dirinya harus mengunci diri di dalam kamar. Dia tak peduli lagi dengan dunia yang kini seakan menertawakannya.
Dewanti sudah memerintahkan pihak Wedding Organizer membereskan semuanya. Pembatalan pesta resepsi dan permohonan maaf kepada tamu undangan. Bagi tamu yang terlanjur datang diberikan penjelasan baik-baik. Tamu yang belum hadir segera ditelepon tanpa kecuali.
Pesan Dewanti hanya satu, jangan sampai berita ini tersebar di televisi atau portal berita online.
Selalu ada teman rasa bajingan. Teman yang di depan selalu bermuka manis, tetapi di belakang menertawakan. Berawal dari story instagram satu orang, akhirnya berita pernikahan designer cantik yang batal, menjadi viral.
Prang!
Dari kaca jendela kamar di lantai dua, Liodra membuang ponselnya ke halaman bawah. Benda perekam segala keromantisan dirinya bersama Devano itu pecah berkeping-keping. Bi Sarpi yang menemukannya saat menyapu halaman.
Dewanti menerima kepingan dan potongan benda yang sudah tak berbentuk. Layarnya pecah. Seperti itulah hati anak gadisnya sekarang. Dewanti membuka satu bagian yang masih bisa diselamatkan. Ada chip nomor dan memory card yang akan tetap disimpannya.
__ADS_1
Setiap hari Dewanti mengetuk pintu kamar Liodra, tetapi putrinya itu tetap tidak mau membukanya. Hanya Bi Sarpi yang bisa masuk mengantarkan makanan sebentar. Terkadang Bi Sarpi hanya meletakkan makanan di depan pintu kamar karena tak kunjung dibuka pintunya.
"Sayang kamu tidak bisa begini terus. Buka pintunya, kita bicara. Mama minta maaf kalau kamu anggap salah. Kalau kamu berpikir semua ini gara-gara mama, oke mama terima. Tolong keluar, Sayang. Mama khawatir sama kamu, Nak."
Tidak ada jawaban selain suara musik yang tiba-tiba dinyalakan dengan volume maksimal. Dewanti menjauh dengan menutup kedua telinganya.
"Nyonya, ini ada pesan dari Non Liodra." Bi Sarpi tergopoh-gopoh memberikan secarik kertas dengan tulisan tangan.
'Tolong biarkan aku sendiri, saat ini aku tidak ingin bicara dan bertemu siapa pun. Jika tidak bisa, lebih baik aku pergi atau mati.'
Dewanti meremas kertas itu hingga hancur. Sehancur itu pula hati anaknya. Sakit itu Dewanti bisa turut merasakan. Namun keputusan Liodra untuk tidak mau berbagi rasa dengan siapa pun membuat Dewanti sangat khawatir. Hati ibu mana yang bisa tenang melihat anak kesayangannya dihantam kenyataan pahit dari segala sisi.
Setelah kejadian itu, Liodra Moda seperti berjalan di tempat. Ela tetap mengerjakan semua tugas-tugasnya. Berkali-kali gadis berwajah tirus dengan rambut keriting itu tersenyum puas. Satu rencananya berhasil dengan mulus. Membuat Liodra dan keluarganya menanggung malu adalah awal.
Terdengar pintu ruangannya diketuk.
"Hai Ela, boleh gue masuk? Ada sesuatu yang mau gue kasih tahu. Ehm ... gimana ngomongnya, ya?" Sashi muncul dari balik pintu dengan wajah tegang. Bibirnya yang kerap dihiasi senyum manis, kini lebih banyak tertarik ke bawah. Sashi sedang gundah.
"Kenapa Sashi? Ada masalah apa?"
"Gue tebak ini pasti tentang sesuatu yang besar. Impian elu bukan?" tebak Ela.
"Yes! Arnette kasih tawaran ke gue buat ambil kesempatan magang di Paris sama desainer kelas dunia. Jadi ini tuh kayak gue bisa ngelanjutin kuliah sambil kerja gitu." Sashi tertawa seolah tak percaya.
"Wow, congratulation, Sashi. Akhirnya mimpi elu makin dekat. Jadi kapan elu berangkat?"
Sashi menggeleng lemah. Matanya yang tadi berbinar sekarang redup kembali.
"Elu tahu kondisi di sini lagi begini. Riva enggak bisa ditelepon, kita datang ke rumahnya juga dia enggak mau keluar kamar. Masa gue tega ninggalin dia dalam keadaan begini? Teman macam apa gue?"
"Hei, mau gue kasih saran?" Sashi mengangguk. Desainer muda ini menggigit-gigit kukunya sambil mendengarkan penjelasan Ela. Cukup lama mereka berbincang.
"Gue enggak punya bekal, Ela. Lu kan tahu gue masih bayarin sekolah adik-adik gue."
__ADS_1
"Itu bisa diatur. Elu kan ada saham di sini. Gue beli semua saham elu di Liodra Moda, oke?" Ela memainkan alisnya naik turun.
Sashi tidak menjawab. Dia masih belum yakin karena Liodra Moda sedang membutuhkannya. Satu lagi, apakah mungkin Ela bisa membeli sahamnya di Liodra Moda.
"Iya, gue emang miskin. Jadi lu pikir gue pasti enggak bakal mampu beli saham elu, gitu?" Seakan tahu pikirannya, Ela memandangnya dengan tatapan mengintimidasi.
"Bukan gitu, Umbrella. Gue ... cuma enggak mau ngerepotin Elu." Sashi menjawab sekenanya.
"Gini ya, selama ini gue nabung. Lu, kan, tahu gue jarang belanja, karena gue emang mau fokus di investasi. Gue beli saham elu, biar elu bisa segera berangkat ke Paris."
"Liodra gimana?"
"Liodra urusan gue. Entar gue yang ngomong sama dia tentang masalah ini."
"Dia bakal anggap gue temen yang jahat enggak, sih?" Sashi memang terlalu perasa hingga sering merasa tidak enak kepada teman.
"Elu mau ke Paris, anggap saja elu juga lagi investasi. Nanti kalau semua lancar, elu bisa ajak Liodra kesana. Kita jadikan ini rahasia kita berdua. Liodra terima beres kalau elu udah sukses, gimana?" Ela memanfaatkan kelemahan hati Sashi. Berteman sejak kuliah membuat Sashi paham sifat Ela juga Liodra.
"Wah ide elu keren. Gue suka. Eh tapi ini ntar bakal bisa diterima sama Riva, kan?" tanyanya masih berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
"Gue jamin elu bakal jadi orang pertama yang dia telepon setelah dia siap. Oke, besok kita proses semuanya. Gue bakal urus semua kebutuhan elu."
"Thanks ya, Ela. Gue enggak tahu harus bilang apa, tapi elu tu beneran nolongin gue pas lagi butuh. Gue enggak bakal ngelupain ini. Someday gue bakal undang elu ke Paris. Elu lihat gue bakal punya peragaan busana karya gue sendiri yang dilihat seluruh dunia."
"Gue dan Riva bakal duduk di kursi VVIP."
Ela memeluk sahabatnya. Sashi mengusap setetes bulir bening yang hampir jatuh. Cukup lama mereka berpelukan hingga Sashi melepaskan diri sambil berucap," gue baru ingat ada gaun yang musti finish hari ini, gue mau cek dulu. Bye, thanks again."
Ela menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Satu rintangan lagi tersingkirkan," desisnya lirih. Dia mengambil ponsel dan mencari satu nama di sana, lalu menyentuhnya. Sebuah nada sambung potongan lagu dari Lolo Zouaï – Beaucoup terdengar nyaring, lalu terputus dan terdengar suara perempuan.
"Hello, Ela."
__ADS_1
"Hai, Arnette, thank to me, yah. She is yours."