BARA MASA LALU

BARA MASA LALU
Rencana Tanpa Rencana


__ADS_3

Ada nyeri yang masih enggan pergi saat Liodra menyaksikan Eva dan Ridwan keluar dari rumahnya. Dirinya tahu lebih baik seperti ini. Dia tak perlu mengucapkan kata-kata perpisahan, karena dua hati sudah sama-sama tahu diri.


Daun gugur tak akan kembali kepada tangkainya. Liodra bisa menebak mamanya pasti sudah bercerita tentang kedatangan Ryo kepada calon mertuanya yang tak pernah bisa menjadi mertuanya.


"Menurut saya kita segera tentukan saja tanggal pernikahannya, Pak Joni." Dewanti sudah tak sabar menunggu lagi. Dia ingin status Liodra jelas. Ketenangan orang tua adalah saat anak gadisnya sudah ada yang melindungi. 


"Saya setuju saja, para mama pastikan calon pengantinnya siap. Saya rasa pernikahan lebih baik disegerakan. Lihat itu, mereka sebentar lagi pasti sudah akrab."


Joni Adiwinata melirik ke teras samping yang pintunya terbuka. Ryo dan Liodra sedang berbincang di pinggir kolam renang. 


"Kamu tidak mudah menyerah, ya." Liodra membuka obrolan. 


"Tak ada kata menyerah untuk memperjuangkan cinta."


Ryo memandang ke tengah kolam renang. Berpura-pura tidak gugup berada di dekat Liodra adalah perjuangan berat. Nyatanya degup di dadanya tak bisa dibohongi. Semakin lama semakin bertalu tak terkendali.


Sejak pertama kali melihat Liodra pada acara  family gathering dan outbound di perusahaan papanya, Ryo diam-diam sudah menaruh rasa. Saat itu Liodra masih SMA. 


"Jangan terlalu yakin. Terkadang kita hanya percaya kepada penglihatan, lalu tertipu perasaan."


Liodra sebenarnya tidak ingin terlihat sedih, tetapi dia merasa saat ini kondisinya sangat menyedihkan. Kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya adalah cerminan perasaan.


"Kamu siapkan dirimu untuk menandatangani buku nikah. Selebihnya bagianku," jawab Ryo dingin. 


****!


Liodra mencebik kesal. Bagaimana bisa dia menerima perjodohan yang lebih mirip sebuah misi?


"Apakah mamaku berutang kepada papamu?" tanyanya setelah berpikir beberapa saat. 


"Aku tidak tahu. Aku tidak mencampuri urusan papa." 


"Sebaiknya kamu cari tahu, lalu kabari aku. Jika mama punya utang, aku akan melunasinya. Jadi kamu tidak perlu repot-repot menikah denganku." 


"Ha-ha-ha, jadi kau berpikir ini tentang utang piutang? Bukan! Pernikahan ini ada karena aku menginginkannya, dan kupikir ... kamu juga," jawab Ryo enteng. 


Kurang ajar!


Separuh hati Liodra ingin menolak, separuhnya lagi memang benar dia menginginkannya. Menikah bukan perkara sulit. Dirinya sudah melampaui itu. Ternyata Ryo tak seperti kelihatannya.


Liodra membayangkan malam ini Ryo hanya akan banyak diam dan mengiakan semua ucapan papanya. Dalam benaknya, acara yang digagas mamanya adalah acara formal dan membosankan. Ternyata dugaannya salah. Di dalam rumah terdengar suara mamanya dan Tante Tari, mama Ryo tertawa bersama. Papa Hernowo dan Pak Joni Adiwinata juga terlihat sangat akrab. 'Apa-apaan ini?' Batinnya menduga-duga, tetapi semua tampak alami. Apakah hanya dia yang merasakan justru ini terlihat aneh?

__ADS_1


Dirinya sekarang berbicara dengan orang yang baru kali ini mereka bertemu dalam jarak sedekat ini dan hanya berdua tanpa kendala, tanpa canggung.


Dulu saat SMA dia pernah bertemu Ryo di acara gathering kantor mamanya. Saat itu dia hanya melihat anak bos dari kejauhan. Setelahnya, banyak anak teman mamanya yang membicarakan Ryo. Sedangkan dirinya? Ryo bukan pria idamannya. Mendengar kata-kata Ryo yang seolah meremehkan perasaannya, tiba-tiba muncul ide gila di kepalanya.


"Oke, kita tunangan secepatnya. Kalau cocok, kupikir tak ada salahnya menikah denganmu. Satu hal yang perlu aku pertegas, sampai detik kita berbicara ini, aku tidak punya rasa cinta sedikitpun padamu. Jadi jangan terlalu banyak berharap." 


"Aku anggap itu tantangan. Oke, aku terima. Kapan pun kamu siap menikah, kuanggap saat itu kau sudah bisa menerimaku. Sisanya biar aku yang urus." 


Liodra melihat dua mata yang juga tengah menatapnya. Dia mencoba mencari tahu, pria macam apa yang datang untuk memanfaatkan situasi hatinya yang sedang rapuh. Pria sejati tak akan memancing di air keruh. 


"Tiga bulan," cetus Liodra mantap. Matanya terus menatap lekat lelaki sombong di depannya. Lelaki sok tahu yang sepede itu mengatakan dia juga menginginkan pernikahan. 


"Maksudmu?" Ryo mengernyitkan dahi. 


"Kita menikah secepatnya, tidak perlu tunangan. Menikah secara agama. Aku jamin kau tidak akan kuat bertahan lebih dari tiga bulan."


"Jika aku bisa bertahan lebih dari tiga bulan?"


"Kita menikah resmi." Liodra nyaris tersedak omongannya sendiri. Dia merasa jadi orang gila. Ryo senyum-senyum sambil mengusap bulu lebat di dagunya. Sedetik kemudian Liodra tersadar akan ucapannya.


"Oke, aku terima. Ternyata benar dugaanku, kamu sudah ngebet pengen nikah denganku." Liodra mendelik. Bukan begitu maksudnya. Lelaki itu memang harus diberi pelajaran. 


"Deal," jawab Ryo menautkan jari kelingkingnya. Ini memang terdengar bodoh. Tak mengapa jika dirinya harus menjadi bodoh karena mencintai wanita pujaannya. 


***


Liodra Moda terlihat ramai. Beberapa tukang  sedang mengecat ulang bangunan. Warna keemasan yang selama ini dominan mewarnai dinding, diganti dengan warna merah menyala.


Desain interior di dalam butik juga diubah. Ada banyak barang stok lama yang dimasukkan ke dalam kotak sale. Ela bekerja keras untuk  membuat butik terlihat lebih menonjol, merah adalah dirinya. Merah adalah semangatnya, merah juga lukanya. 


Setumpuk berkas berada di meja kerjanya. Ela sibuk menghubungi beberapa orang dari vendor pernikahan Liodra. 


"Jadi semua sudah saya bayar, ya." Tangannya mematikan panggilan, lalu dia menghubungi orang lain. 


"MUA clear ya, saya minta kuitansi diemail secepatnya." 


"Sewa hotel beres, tolong segera email kuitansi pembayaran. Saya tunggu sekarang." 


Ela mengakhiri panggilan. Kini dia duduk bersandar di kursi kerjanya yang nyaman. Kedua tangannya ditarik ke belakang tengkuk. Matanya terpejam sementara kaki panjangnya dibiarkan saling bertumpu. Sesekali dia memutar kursinya perlahan.


Saat sedang asyik menikmati waktu dan semua ide di kepala, ponselnya berdering. Panggilan dari nomor Liodra. Buru-buru dia menekan tombol hijau. 

__ADS_1


"Hai ... Princess apa kabar?"


"Hai Ela, gue baik. Gimana butik? Aman?"


"Butik aman, dong. I miss you Princess. Kapan elu mulai kerja?" 


"Secepatnya, setelah urusanku beres. Elu sama Sashi masih bisa kerja tanpa gue, kan? Oya Sashi mana? Aku mau ngomong sama dia."


"Ehm dia lagi ada urusan, nanti gue kasih tahu supaya telepon elu." 


"Wah tumben dia jam segini enggak ada di butik. Oke, nanti gue telepon dia."


"Kayaknya dia matiin HP. Gue juga beberapa kali menghubungi tidak bisa tersambung. Princess, elu udah baikan?" 


"Better. Gue emang butuh waktu untuk sendiri dulu. Elu tahu ini enggak mudah buat gue." 


"Elu kudu cepat move on, Princess . Tempo hari gue lihat Devano di cafe. Dia sepertinya sudah juga sudah move on. Gue ngeliat dia bareng cewek kain. Kami sempat ngobrol sebentar."


"Apa dia nanyain gue?" Liodra ingin tahu. 


"Dia meminta foto ayah kalian. Pak Baskoro maksudku. Sayangnya foto itu udah gue hapus dari ponsel. Gue enggak bakalan ngasih ke dia tanpa seizin elu. " 


"Kasih saja Ela." Suara Liodra melemah. 


Rasanya dirinya dan Devano semakin terasa asing. Untuk apa dia masih terbaring di tepi jelaga yang menampung kesedihan. Sesak masih bersemayam di rongga dada. Janji mereka memang hanya tinggal rencana tanpa kepala. 


"Oke,  Princess. Elu jangan sungkan kalau butuh gue. Kapan aja gue bisa datang ke rumah elu." 


"Thanks Ela, gue tutup dulu. See you."


"Bye Princess." 


Ela menutup sambungan telepon. Dengan wajah panik dia menghubungi nomor lain.


"Iya, hallo Pak Fahrul, bagaimana apakah masih lama perubahan akta perusahaan saya sudah beres?" 


Ela tersenyum mendengar kabar dari seberang telepon. 


Tak ada lagi yang perlu dirisaukan. Semua berjalan seperti yang dia inginkan. Gadis berkulit cokelat itu mengambil berkas dari dalam lacinya. Dibacanya satu persatu berkas berisi nama karyawan Liodra Moda. Mulai esok, Liodra Moda hanya tinggal cerita. 


 

__ADS_1


__ADS_2