BARA MASA LALU

BARA MASA LALU
Perjalanan Mengumpulkan Keberanian


__ADS_3

Bagi Devano, hidup adalah perjalanan mengumpulkan keberanian. Berlari dari satu keputusan kepada keputusan lain. Keputusan mencoba lalu gagal, keputusan menawarkan lalu ditolak, keputusan terus berjuang meski lebih sering tak dihargai.


Terkadang Devano merasa takdir memang sebecanda itu. Kabar tentang Baskoro adalah ayah kandungnya, bukan ayah Dedi seperti anggapannya selama ini cukup membuatnya shock.


Satu hantaman tentang kebohongan itu bisa lekas ditepisnya. Dia masih menerima alasan mengapa ibunya menyimpan rahasia itu. Ibunya bilang semua untuk kebaikan dirinya.


Ya, alasan ibu adalah menjaga perasaannya, tetapi bagi Devano itu sama saja menjejalinya dengan rasa sakit yang disengaja. 


Setelah mendengar kisah lengkap perjalanan hidup Eva, Devano bertekad menemukan ayahnya. Apa pun yang terjadi laki-laki itu harus tahu bahwa akibat perbuatannya yang tidak bertanggung jawab, lahir seorang anak manusia yang tidak bisa memilih siapa bapak dan ibunya. Anak kecil yang dibesarkan dalam kebohongan tentang ayah kandungnya.


Sekarang Devano menemukan alasan lain. Dia ingin menghajar laki-laki itu dengan tangannya sendiri. Mencarinya ke ujung dunia bila perlu, lalu menyumpahinya, setelah itu memukul rahangnya kuat-kuat untuk membalaskan sakit hati ibunya, sekaligus kekecewaannya. 


Dia masih teringat seusai kejadian hari pernikahan itu, paman Ridwan dan ibunya bertengkar hebat.


"Mengapa tidak kau hentikan saat ijab kabul?" Ibunya berteriak sambil menangis. 


"Teteh, mana saya tahu. Semua terjadi sangat cepat. Fokus saya bagaimana Devano tidak salah mengucapkan akad. Dev, bukankah pada undangan tertulis Liodra binti Hernowo? Kenapa bisa berubah?" tanya Ridwan tak habis pikir.


Dia merasa kecolongan. Dia tahu Liodra bukan anak kandung Hernowo, dia sadar mendengar nama Baskoro Setyadi, tetapi tidak menyangka Baskoro itu adalah orang yang sama.


Brengsek memang! Lelaki itu bukan hanya memberi noda kepada kakaknya, tetapi juga mematahkan hati anaknya sendiri. 


"Om Hernowo yang bilang ke penghulu sebelum ijab kabul. Dev juga baru tahu. Pikiran Dev fokus supaya tidak harus mengulang ijab. Ibu jangan menyalahkan paman. Kita seharusnya berterima kasih pada Ela. Dari dia ibu tahu tentang Baskoro."


Devano tidak lagi menyebut 'ayah'. Kemarahan membakarnya hingga yang ada di otaknya hanyalah kebencian. Dia benci Baskoro, dia kecewa kepada ibunya. 


"Nama itu ada di dalam aliran darahmu, Devano. Ibu tidak akan menghilangkannya lagi. Seandainya ibu tidak tertidur saat ijab kabul, mungkin bisa ibu hentikan."


"Ibu, apa bedanya? Dihentikan dan dibatalkan sama saja! Semua sudah terjadi! Sekarang yang menjadi pikiran Dev adalah Liodra. Kami belum berkomunikasi lagi. Ibu tolong datanglah ke rumahnya sekali lagi. Pastikan keadaan Liodra baik-baik saja. Paman tolong minta maaf kepada keluarganya. Kita memang berat menerima semua ini, tetapi Liodra lebih sakit."


Devano memandang Ridwan dan ibunya bergantian. Terkadang Eva seperti melihat sebagian diri Baskoro melekat pada kepribadian Devano. Nama itu yang membuat Devano hadir ke dunia, sekaligus menghempaskannya ke jurang kekecewaan terdalam.  


Rem mobil mendadak berdecit keras ketika Zara menginjaknya kuat-kuat. Devano terlonjak kaget. Untung dia memakai seat belt, sehingga tubuhnya hanya terdorong ke depan, sejengkal lagi kepalanya terbentur dashboard mobil. 

__ADS_1


"Zara kenapa? Astaga, apakah kamu menabrak sesuatu?" Devano panik melihat Zara seperti melindas sesuatu. 


"Mana aku tahu? Bukannya tugasmu mengawasi aku? Dari tadi kamu melamun terus. Sudahlah kita pulang saja. Sudah cukup, aku tidak mau belajar menyetir lagi." 


Gadis berkulit putih itu menarik tuas persneling ke huruf R lalu menekan gasnya kuat-kuat. Lagi,  Devano nyaris terjungkal. Mobil mundur dengan kecepatan tinggi. 


"Zara pelan-pelan! Oke, oke aku salah. Aku minta maaf! Tenangkan dirimu, tenang dulu, stop berhenti dulu, oke ... injak remnya pelan-pelan."


Zara menginjak rem tapi tidak pelan-pelan seperti perintah Devano. Masih dalam posisi mundur dengan cepat dia menginjak rem. Alhasil, Devano nyaris terpelanting lagi. 


"Oke, Zara kita berpindah tempat, sekarang aku yang memegang kemudi. Kita bertukar posisi," perintah Devano sambil mengangkat tangannya ke samping.


Zara keluar dari mobil lalu membanting pintunya kuat-kuat. Devano tahu gadis itu kesal. Semua ini salahnya. Jika dia tetap fokus, pasti Zara tidak akan ngambek. Kalau Zara mengadu kepada papanya, bisa runyam urusan transaksi  mereka. 


"Kita cari tempat yang nyaman buat ngobrol." Devano memandang gadis di sampingnya. Zara harus ditenangkan. Baru beberapa hari ini Zara mau berbicara dengannya.


Sebelumnya gadis itu histeris dan mengira Devano adalah mantan tunangannya. Zara mengalami depresi berat karena batal menikah.


Tunangannya ketahuan mendua dengan gadis lain.


Sepulang dari rehabilitasi selama enam bulan, gadis berwajah sendu itu tetap menyimpan emosi dan sakit hati. Surya Winardi, papa Zara melakukan semua upaya untuk kesembuhan putrinya. 


Perbincangan Surya dan Devano bukan hanya soal transaksi jual beli mobil. Surya ingin Devano menemani Zara, mengajarinya mengemudi, meski sebelumnya Zara telah beberapa kali belajar menyetir. Surya punya penilaian lain terhadap Devano.


Dia mencari info tentang Devano dan mengetahui fakta Devano pemuda jujur serta pekerja keras. Pemilik showroom mobil tempat Devano bekerja adalah relasi Surya. Diam-diam Surya Winardi mempunyai rencana sendiri untuk Devano. 


Zara turun dari mobil menuju cafe tempat Devano menghentikan mobilnya. Cafe bernuansa kebun yang luas. Mereka menuju kebun belakang yang asri. Suasana kebun hijau terbuka membuat Zara rileks. 


"Dari mana kamu tahu tempat ini? Jarang sekali di Jakarta tempat seperti ini," cetusnya sambil melepaskan topi dan kacamata hitamnya. Kulitnya yang putih tampak kemerahan. 


"Tempat ini memang belum lama dibangun. Sebelumnya gudang kumuh. Karena ada jalur monorel baru, sekarang mulai ramai. Kamu mau minum apa?"


"Milkshake aja. Aku masih kenyang," jawabnya singkat.

__ADS_1


"Jadi apa kegiatanmu sekarang?" tanya Devano setelah pelayan mengambil nota pesanan mereka. 


"Ya gini aja, setelah lulus kuliah aku bingung mau ngapain. Bantu papa aja di kantor. Kebetulan papa lagi ada proyek di Bogor. Buka lahan untuk cluster baru. Aku bantu-bantu, karena aku basicnya managemen, jadi bisa masuk ke mana aja." Gadis itu mengeluarkan ponselnya lalu membidik beberapa sudut cafe dan kebun yang mencuri perhatiannya. 


"Enggak selfie? Atau mau aku fotoin?" Devano tahu biasanya para gadis suka selfie di tempat yang instagramable.


Dirinya beberapa kali menjadi fotografer dadakan Liodra. Tak jarang mereka berantem kecil karena foto hasil jepretannya tak seperti yang Liodra inginkan. Berkali-kali kejadian seperti itu mengharuskan dirinya lebih jeli mencari angle pemotretan. Kuncinya satu, jangan sampai Liodra terlihat gemuk atau pendek.


Ah, betapa hatinya merindu kepada kekasihnya yang sekarang menjadi adiknya. Ah, ****! Lagi-lagi Liodra belum bisa pergi dari pikirannya.


"Enggak penting, selfie. Mau apa? Pamer?" jawab Zara acuh. Entah mengapa Devano mulai menyukai Zara. Gadis ini dengan segala sikap dinginnya seperti menyimpan sesuatu yang membuat Devano ingin mengenalnya lebih jauh. 


"Biasanya para cewek suka selfie."


"Kecuali aku," tangkis Zara. "Aku bukan orang yang sibuk foto pakai filter, trus share dengan caption hebat. Pencitraan. Kita tidak perlu menjelaskan apa pun kepada orang lain."


Devano merasa tersindir dengan perkataan Zara. Dirinya bahkan berkali-kali membuat caption di Instagram setelah kegagalan pernikahannya. Sekedar menjelaskan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Bagaimana orang lain tahu tentang kita kalau tidak kita jelaskan?" tanya Devano. 


"Kamu marketing. Yang perlu kamu tampilkan adalah produk yang kamu jual, bukan dirimu." 


"Wow ... pantes sepertinya Papamu sangat berharap kamu balik ke kantor. Kamu beruntung karena ada yang membimbing, Zara. Kamu bisa jadi pebisnis jadi hebat seperti papamu." 


Pandangan mereka bertemu. Zara cepat-cepat menundukkan wajahnya. Devano juga mengalihkan pandangannya. Ada desir halus yang dirasakan saat bersama Zara.  Desir halus sekaligus pedih yang sedari tadi membuatnya gelisah.


Liodra masih menghuni hatinya walaupun perlahan-lahan dia berusaha  mengeluarkan. Devano tak bisa secepat itu mengusirnya, meski sekuat itu dia mencoba. Baru semalam Devano membuat caption di Instagram.


'Dan semenjak itu cinta kita mati, sebab di ruang pikiranmu tak ada aku yang berlari-lari. Sebab di tiap butir air matamu, bukan aku lagi yang kau tangisi. Ya, dan semenjak itu, aku mulai belajar menguatkan hati.' 


Dia masih mengharap Liodra memberikan emoticon love seperti biasanya. Itulah dirinya yang masih terus berusaha menahan beban kesedihan di tangan kiri, sementara tangan kanan sibuk meminta pertolongan. Sayangnya, tidak ada orang yang bisa menolongnya. 


Sekarang di hadapannya ada gadis tanpa make up, tidak suka selfie, tidak berusaha bermuka manis. Gadis yang sudah melewati saat sulit dalam hidupnya yang berusaha tampil apa adanya, menjadi dirinya sendiri.

__ADS_1


"Hai Devano, kamu apa kabar? Wah ... enggak nyangka kita bisa ketemu di sini." Sebuah suara menyapanya. Suara yang tak asing. Seorang gadis bertubuh tinggi langsing dengan rambut keriting, dan pipi tirus  tersenyum ke arahnya. 


 


__ADS_2