
Liodra masih termangu di dalam kamarnya. Gadis itu berusaha menuangkan isi kepalanya ke dalam gambar. Di mejanya kertas-kertas berserakan, bentuk pola pakaian dengan banyak motif. Liodra melarikan kesedihan dengan berkarya sebanyak-banyaknya.
Sashi menyemangatinya dengan satu acara parade busana di Paris, di mana Liodra bisa menampilkan karya-karyanya. Meksipun sekarang hatinya masih tersaput gundah karena berita menghilangnya Ryo, Liodra pantang menyerah.
“Sayang, kamu belum makan? Jangan sibuk kerja terus, ini sudah malam, istirahat dulu. Setidaknya isi perutmu, jangan sampai sakit.” Dewanti membawa semangkuk bubur ayam kesukaan Liodra.
“Belum ada kabar dari tante Lestari, ya, Ma?” Liodra meletakkan pensil gambarnya, wajahnya mendongak ke arah Dewanti.
“Belum, Liodra. Polisi sudah melacak ponselnya, tapi ternyata ponsel Ryo dibuang di sungai kayaknya. Siapapun penculiknya, keluarga Ryo sedang menunggu penculik menghubungi mereka untuk meminta tebusan.”
“Cukup aneh. Biasanya penculik akan meminta tebusan secepatnya. Ini sudah lebih dari tiga hari, kenapa tidak ada tanda-tanda mereka tebusan, ya?” Liodra menggumam.
“Do’akan polisi segera menemukannya. Oya, tim lawyer mama dibantu sama tim lawyer keluarga Pak Joni Adiwinata sedang meneliti semua berkas butik kamu. Semoga segera ada titik terang.”
Dewanti duduk di sofa panjang yang berada di sebelah meja kerja Liodra.
“Tentang butik aku udah pasrah, Ma. Aku hanya penasaran sama motif Marcela. Ingin banget ketemu dia trus bicara empat mata, kenapa dia setega itu menusukku dari belakang. Padahal selama ini aku mempercayainya seperti percaya pada diriku sendiri,” keluh Liodra.
“Hidup emang enggak selalu minta feedback, tapi setidaknya perlakukanlah orang-orang di sekitarmu seperti kamu ingin diperlakukan. Kamu ingat kata-kata mama itu?” tanya Dewanti. Liodra menganggukkan kepalanya.
“Pada akhirnya yang kita dapatkan adalah, mau nggak mau harus berdamai dengan keadaan, tanpa perlu lagi menyalahkan kenyataan, itu juga Liodra ingat banget. Makasih, ya, Ma. Udah selalu jadi support system terbaik buat aku. Kalau enggak ada kejadian kemarin saat gagal nikah, aku gak akan tahu ternyata semua omongan mama itu terbukti benar.” Liodra tersenyum dan mendekati Dewanti lalu memeluknya erat.
Dulu hubungannya dengan mamanya sempat memburuk gara-gara rencana pernikahannya dengan Devan. Namun kini semua sudah kembali, hubungan ibu dan anak itu sudah membaik.
“Apa kabar Devano sekarang? Dia saudaramu, jadi jangan sampai memutus hubungan. Kemarin mama tidak merestui hubungan kalian sebagai kekasih, tapi sebagai kakak-adik, tentu saja mama mendukung.”
“Aku belum sempat komunikasi lagi, Ma. Aku dengar dari Sashi katanya dia juga udah move on, sih. Aku ikut seneng aja dengernya. Cuma untuk menjalin komunikasi lagi, rasanya aku belum bisa.”
__ADS_1
“Sayang … lari dari apa yang menyakitimu tidak akan menyembuhkan luka. Hadapi, terlukalah sampai kamu sembuh lalu tumbuh dan nggak lagi rapuh. Mama tahu kamu sekuat itu. Anak mama ini super woman.” Dewanti kembali mengelus rambut Liodra.
Dengan sikapnya yang menerima Ryo sebagi calon suaminya, Liodra telah menunjukkan kalau dia mau belajar dari kesalahan, setidaknya mengutamakan restu orang tua untuk jalinan hubungan yang membawa ke jenjang pernikahan.
“Ya udah makan buburnya, jangan kemalaman tidur. Mama tahu kamu lelah, istirahat ya.” Liodra mengangguk, sekali lagi ia menjatuhkan diri dalam pelukan Dewanti.
Sementara itu Marcela terus memantau perkembangan transaksi jual beli rumah Baskoro dari Asep. Setelah mendapatkan kartu ATM Baskoro, Asep telah menguras isinya. Ada setoran uang muka penjualan rumah sebesar lima ratus juta dari Surya.
“Ibu lihat ini. Ayah sudah berhasil mendapatkan uang lima ratus juta dari Baskoro. Harta mereka sebentar lagi akan jatuh ke tangan kita, semuanya.”
Nerwani melihat bukti setoran tunai yang dikirimkan Asep kepada Marcela. Perempuan itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ibu jangan khawatir, karena setelah semua dendam keluarga kita terbayar, ayah akan menghabisi Baskoro.”
Lagi-lagi Nerwani menggeleng kuat-kuat. Ada satu rahasia yang belum ia beritahukan kepada semua orang. Dia tak ingin membawa rahasia itu sampai mati. Sekarang bagaimana caranya agar rahasia itu bisa diketahui Marcela? Jari-jarinya kaku tak bisa digerakkan, mulutnya seolah terkunci rapat. Mencoba berteriak pun hanya gumaman tak jelas yang keluar dari mulutnya.
“Mmmmhhh …” Nerwani meraung panjang. “Ibu mau bicara apa? Ela ngga ngerti. Sudah pokoknya ibu tenang. Ibu ingin Ela membalas perbuatan keluarga Baskoro, bukan?” Nerwani mengangguk, tapi sesaat kemudian perempuan itu menggeleng kuat-kuat.
“Tidak ada waktu untuk mundur. Semua sudah kami atur, sampai Liodra dan Devan keturunan Baskoro juga akan merasakan kesengsaraan dan penyesalan mempunyai seorang ayah pecundang,” gumam Marcela lirih.
Nerwani menggeleng-gelengkan kepalanya, matanya tak fokus menandakan kepanikan luar biasa.
***
Devano masih belum bisa memicingkan mata, padahal hari menjelang pagi. Pesan dari Baskoro terus ia pandangi dengan perasaan entah.
[Tolong Saya! Saya dalam tekanan Cecep, segera lapor polisi, dia sangat berbahaya.]
__ADS_1
Hanya dua baris kalimat tetapi mampu memporakporandakan pikirannya.
“Sial! Laki-laki itu kenapa harus hadir di dalam hidupku? Apakah semua ini benar? Aku tidak boleh gegabah kalau memang dia berada dalam tekanan Cecep, berarti lelaki itu bisa melakukan apa saja.”
Devano tak mau serta merta lapor ke polisi tanpa bukti, bisa-bisa nyawa Baskoro dalam bahaya.Kini pria muda itu benar-benar tak mengerti apa yang sedang terjadi dengan Baskoro. Pada saat seperti ini seharusnya ia bisa berdiskusi dengan Liodra sebagai saudara.
“Apa aku ngomong saja sama Om Surya? Iya, sih, sepertinya ini masalah genting.”
Devano segera melesat mengendarai mobilnya untuk bertemu dengan Surya. Tentu saja Zara kaget melihat kedatangannya karena ia merasa tak punya janji temu dengan kekasihnya itu.
“Ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan papamu.” Melihat wajah serius Devano, Zara langsung mempersilakan Devan naik ke lantai dua, di mana papanya sedang duduk di kursi santai.
“Om, maaf kalau mengganggu waktunya. Saya ingin bicara.” Devano lalu menceritakan tentang secarik kertas yang berisi pesan dari Baskoro yang sengaja diselipkan pria itu ketika mereka bersalaman.
“Sekarang terjawab sudah. Om juga merasa sikap Baskoro sedikit aneh. Sekarang semua sudah jelas, Om akan menelpon Baskoro.”
Cecep memberikan nomor HP Baskoro, tapi sesungguhnya dialah yang memegang ponsel itu. Ketika panggilan dari Surya masuk, Cecep langsung memberikan ponsel itu kepada Baskoro dengan sedikit ancama,” bersikaplah biasa saja, jangan membuat kecurigaan.”
“Halo Pak Baskoro, saya ingin menanyakan kapan kira-kira akta jual beli bisa kita tandatangani? Apakah notaris yang ditunjuk sudah siap? Kalau belum biar pakai notaris kawan saya saja, Pak.”
Cecep yang mendengarkan obrolan itu segera memberikan kode untuk Baskoro, dia menggelengkan kepalanya.
“Sebenarnya sudah diproses, mungkin masih menunggu satu dua hari, Pak Surya.” Baskoro menjawab dengan nada datar.
“Saya sudah mengirimkan uang muka sebesar lima ratus juta, apakah sudah diterima, Pak Baskoro?” Baskoro berpaling ke arah Cecep, dan mendapat anggukan kepala.
“Sudah, Pak Surya. Saya baru mau mengabari sudah masuk, terima kasih banyak. Nanti begitu akta jual beli siap, Cecep akan mengabari Pak Surya.”
__ADS_1
“Baiklah, kalau bisa secepatnya dikabari karena saya ada rencana mau ke Bangkok pekan depan, selamat malam Pak Baskoro, selamat beristirahat,” imbuh Surya yang segera dijawab oleh Baskoro, lalu pria itu mematikan sambungan. Cecep segera merebut ponselnya.
“Jadi kamu sudah mengambil dana lima ratus juta DP dari penjualan rumah itu? Cecep kamu benar-benar monster!” teriak Baskoro. Cecep hanya tertawa menyeringai lalu menendang kursi roda Baskoro hingga pria tua itu jatuh tersungkur.