
Bertahun-tahun Ela memeluk lukanya sendiri. Luka yang selalu membuat langkahnya terhenti. Luka yang tak pernah mengering meski setiap hari dia berusaha membalutnya. Ternyata memang ada luka yang tak bisa sembuh sendiri. Ela mencari obat untuk lukanya, sampai dia berhasil menemukan cara untuk menyembuhkan diri.
Caranya hanya dengan membuat sang penabur luka merasakan kesengsaraan seperti yang pernah dia rasakan. Satu persatu rencana pembalasan sakit hati nyaris terbalaskan.
Namun, kabar bahwa Liodra sudah menemukan alamat Baskoro membuatnya panik. Jika mereka harus bertemu, waktunya bukan sekarang. Terlalu cepat. Ela belum usai menuntaskan dendam.
"Hai Princess, tumben telepon malam-malam." Ela menggeser tulisan 'Answer' warna hijau menerima panggilan.
"Iya Ela, gue cuma mau ngabarin belum bisa ke butik dalam waktu dekat. Masih ada urusan yang belum kelar."
"Iya, no problem. Semua lancar, kok. Elu mau pergi? Ya itu bagus, sih. Menurut gue emang elu perlu liburan. Gue kalau jadi elu juga pasti bakal ngelakuin hal yang sama. Tunggu semua reda dulu, baru masuk kerja dengan suasana hati baru."
"Oke, gue emang lagi mencoba berdamai sama hati."
"Emm Princess, boleh gue kasih saran?"
"Boleh, dong. Apaan?"
"Menurut gue sebaiknya elu non aktif dulu dari sosmed. Semua sosmed elu tutup sementara. Dan elu juga jangan gatal buat scrolling berita-berita yang enggak penting."
"Separah itu?" Suara Liodra melemah.
Berita terakhir yang dia baca adalah tentang pernikahannya yang gagal. Berita sampah yang membuatnya harus memusnahkan ponselnya.
"Gue cuma enggak mau perjuangan elu sia-sia. Selama ini elu udah berusaha move on, trus lihat berita enggak jelas, ntar elu jadi down lagi."
"Oke, thanks sarannya, El. Gue emang belum lihat Instagram sejak kejadian itu. Elu benar, tar gue nonaktifkan sementara semua akun sosmed. Elu kalau ada apa-apa langsung telepon aja, ya. Oya, ntar gue ada kejutan buat elu juga Sashi kalau gue udah siap."
"Wow, kejutan apa itu? Jangan bilang elu udah punya gebetan baru."
"Hihi .... Udah entar aja itu. Gue kasih bocoran. Ini tentang koleksi terbaru kita yang akan ikut dalam pameran busana tahunan. Gue udah punya banyak rancangan baru."
Ela memutar bola matanya, sambil bernapas lega. Syukurlah, hanya tentang pekerjaan. Baiklah, rupanya Liodra belum ingin menceritakan tentang pernikahannya, seperti yang dikatakan Devano. Menanyakan itu sekarang sepertinya kurang tepat.
__ADS_1
"Wow, jadi selama ini elu ngegambar?"
"Iya, gitu, deh. Meski enggak banyak, tapi gue puas. Entahlah, seperti ada bagian diri gue yang perlu diledakkan. Dan gue memilih ledakan itu karya. Eh ... udahan, ya. Gue buru-buru. Bye Ela."
"Oke, take care Princess. Bye."
Ela segera menutup telepon dan bergegas menemui Devano. Dari suara Liodra barusan terdengar gadis itu sangat bersemangat. Eva duduk di hadapan Devano yang masih asyik melihat ponselnya.
"Gimana Dev? Kapan kalian akan pergi ke rumah bokapnya Riva. Eh ... maksudku bokapmu juga."
Ela mengambil orange jus di hadapannya dan menyeruputnya seperti orang kehausan. Bagian paling capek dari seorang perencana kejahatan adalah dia tidak bisa berhenti sebelum ada yang tumbang.
"Besok. Riva tak mau menunda lagi."
"Kamu enggak papa ketemu dia lagi?"
Sebenarnya dalam hati Devano masih ingin menghindar dari Liodra. Di luar tragedi gagalnya pernikahan ini, bagian terbaiknya adalah mereka tidak harus berpisah karena ada ikatan darah.
"Masing-masing bukan berarti asing. Tidak bersama bukan berarti membenci. Hanya saja, ada ketidaksetujuan semesta."
***
Mobil Ela memasuki pagar rumahnya yang tidak terlalu besar. Setelah menutup pintu pagar dia segera masuk dan mendapati neneknya sedang merajut di ruang tengah.
"Kenapa nenek belum tidur? Ini sudah terlalu malam. Tidurlah, Nek." Ela mengambil tangan neneknya lalu menciumnya takzim. Sudarsih, neneknya, mengelus rambutnya.
"Ibumu tadi meminta sesuatu tapi nenek tidak tahu apa yang dimintanya." Sudarsih membuka kaca matanya.
"Ibu memang aneh belakangan ini. Sejak Ela bilang satu persatu tentang kejadian pada Liodra. Mungkin ibu terlalu senang."
"Yang terlihat tidak begitu. Menurut nenek, Ibumu seperti ingin menyampaikan sesuatu. Tadi kami menonton televisi bersama. Ada adegan menantu yang ketahuan mencuri kalung mertuanya, lalu diusir. Tiba-tiba ibumu menangis tersedu-sedu. Nenek bertahun-tahun menemaninya sejak terkena stroke, baru kali ini dia bereaksi seperti itu."
Sudarsih menghempaskan napas panjang. Ingatannya berputar pada kejadian puluhan tahun silam. Waktu seperti menggulungnya meniti satu demi satu kejadian dalam hidup putrinya.
__ADS_1
Sejak anak gadis semata wayangnya pamit kerja ke Jakarta, Sudarsih selalu dihinggapi resah. Nerwani masih terlalu muda saat itu. Putri kesayangannya itu baru berusia delapan belas tahun. Dia merantau ke Jakarta dari Kebumen karena diajak salah satu kerabat mereka.
Dua bulan setelah Nerwani merantau, Sudarsih mendapat kabar jika putrinya di terima bekerja di sebuah hotel menjadi pelayan. Tentu saja Sudarsih senang. Nerwani mengabari jika pekerjaannya tidak terlalu sulit. Setiap bulan Nerwani mengirimkan uang ke kampung. Sudarsih mengumpulkan uang itu untuk memperbaiki rumah mereka.
Semakin lama uang yang dikirimkan bertambah jumlahnya. Hanya saja, Sudarsih harus menebusnya dengan kerinduan yang teramat dalam.
Pada tahun pertama Nerwani masih bisa pulang saat lebaran. Tahun berikutnya, Nerwani bilang harus piket saat lebaran. Tahun-tahun berikutnya, Nerwani tidak pernah pulang hingga bapaknya sakit keras.
"Nerwani, hati ibu tak luas, juga tidak punya hiasan indah. Namun, Nak, di sana teduh, di sana semegah-megahnya rumah ibadah. Jangan tinggalkan Ibumu di sendiri saat bapak pergi."
Satu pesan terakhir dari bapaknya selalu terngiang di telinga Nerwani. Usai tujuh hari kematian bapaknya Nerwani mengajak ibunya untuk tinggal di Jakarta.
"Ibu ikut aku saja ke Jakarta. Biar aku lebih semangat kerja. Aku sekarang sudah naik jabatan, lho, Buk. Aku menjadi resepsionis di hotel. Pemilik hotel itu orangnya baik banget. Nanti aku mau beli rumah sendiri. Ibu bisa berjualan dari rumah."
Berat bagi Sudarsih untuk meninggalkan kampung halamannya. Namun, lebih berat jauh dari anak gadisnya tanpa tahu kabarnya. Akhirnya Sudarsih memutuskan ikut ke Jakarta. Kehidupan mereka di Ibukota bermula dari sana. Semua berjalan lancar, hingga terjadi tragedi itu.
"Nek, kok malah melamun. Ela mau ke kamar ibu dulu, nenek segera masuk kamar, istirahat supaya tidak kecapekan. Nenek, kan, masih harus minum obat."
Suara Ela membuyarkan lamunan Sudarsih.
Ela melihat pintu kamar ibunya yang tertutup rapat. Dia bangkit lalu membuka pintu itu dan mendapati ibunya seperti sedang menanti kedatangannya.
"Ibu belum tidur?"
Ibunya menggeleng lemah. Matanya tiba-tiba meneteskan air mata sambil menggumam sesuatu.
"Ibu tenang saja, semua sudah Ela urus. Liodra memang bisa menemukan alamat Baskoro, tetapi dia tak akan bisa menemuinya."
Air mata Nerwani mengucur deras.
Ela segera memeluk ibunya.
"Sebentar lagi kita akan melihat mereka hancur. Semua perlakuan Baskoro kepada ibu akan terbalas. Semua kesakitan yang ibu rasakan akan lunas. Ibu bersabar dulu sebentar. Ela akan mengambil yang seharusnya menjadi milik kita."
__ADS_1
Punggung Nerwani berguncang sangat keras. Dia menangis di dada Ela yang mendekapnya erat. Kedua tangannya kaku tak bisa ditekuk. Ada satu rahasia besar yang hendak dikatakannya kepada Ela, tetapi sampai sekarang belum tersampaikan. Wajahnya basah oleh air mata. Air liur mengalir dari mulutnya, meluncur melewati bibir yang bentuknya tak simetris lagi, miring ke kiri Nerwani memandang lurus ke depan. Apakah dirinya akan membawa rahasia ini sampai mati?