
Marcela menahan geram menerima foto kiriman dari Asep, ayahnya. Di ruang tamu dia melihat Devano, Zara juga Surya. Satu hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya bahwa Devano bisa kembali ke rumah itu.
“Pasti dia ingin bertemu dengan Baskoro. Kenapa aku bisa kecolongan, ternyata calon pembeli rumah itu adalah papanya Zara.” Marcela mondar-mandir dengan wajah kebingungan.
“Tinggal selangkah lagi, ini tidak boleh gagal,” cetusnya sambil memutar otak. Di tengah kekalutannya, ponselnya bordering nyaring.
“Ya, halo, ada apa?”
“Maaf, sandera sudah sadar dan mengamuk. Dia tanya mau tebusan berapa supaya dibebaskan.” Suara di ujung telepon membuat Marcela lagi-lagi harus berpikir keras.
“Jangan buat apa-apa sama dia. Abaikan saja, tunggu perintahku. Tetap kasih makan dan minum.” Marcela menutup telpon.
“Tentu saja Ryo adalah kartu As berikutnya untukmu, Liodra.” Marcela menggumam. Dia segera mengirimkan pesan kepada Asep.
[Ayah, berapapun pembeli menawar harga rumah, suruh Tua Bangka itu menyetujuinya. Kita harus segera menyelesaikan transaksi ini]
Pesan terkirim.
Asep yang memperkenalkan diri sebagai Cecep membawa pesan dari anaknya, kemudian tersenyum miring.
“Jadi kami akan melepas rumah ini dengan harga tujuh milyar, luasnya hampir tiga ribu meter persegi sampai ke halaman belakang. Harga yang pantas karena tanah di sini sudah sangat mahal, Pak Surya.” Baskoro memulai pembicaraan.
“Wah, harganya sangat fantastis. Bagaimana kalau empat milyar? Jika Pak Baskoro setuju, kita akan melakukan transaksi secepatnya, saya ada notaris yang akan mengurus semua surat-suratnya.” Surya Winardi yang sudah berpengalaman bertransaksi mulai melakukan negosiasi.
“Masih jauh, Pak Surya. Biar kita segera bisa tandatangan, saya tetapkan saja harga pasnya enam milyar.” Baskoro berkata dengan harapan Surya keberatan, karena sesungguhnya dia tidak berniat menjual asetnya itu.
__ADS_1
Paksaan dari Cecep, orang kepercayaannya, yang ia terima sudah melampaui batas, hingga sekarang kondisinya tanpa daya harus menuruti perintah Cecep. Saat ini Baskoro berada di bawah ancaman. Harapan satu-satunya adalah siapapun yang dia temui supaya bisa membantunya melepaskan diri dari cengkeraman pria kejam yang sekarang mengawasinya selama dua puluh empat jam.
Baskoro dikurung di dalam kamarnya, dan diberikan suntikan tertentu yang bisa mematikan syaraf-syarafnya jika ia menolak keinginan Cecep. Ide menjual rumah ini adalah karena Cecep ingin mendapatkan uang hasil penjualan rumah. Baskoro juga belum tahu bagaimana nasibnya jika benar rumah itu terjual.
“Silakan diminum dulu, Pak Surya,” ujar Cecep sambil mempersilakan tamu-tamunya minum teh di meja. “Mohon maaf, saya mohon izin dulu membawa Tuan Baskoro masuk, karena sekarang waktunya minum obat.”
Baskoro seperti kebingungan, tapi dia hanya menurut saja saat Cecep membawa kursi roda ke samping kursi kayunya. Perlahan-lahan Cecep membantunya pindah ke kursi roda, lalu mendorong kursi roda itu menjauh.
“Sepakati harga empat milyar hari ini juga dan minta dipercepat transaksinya. Jangan berani macam-macam, atau Anda akan merasakan kesakitan luar biasa malam ini,” ancam Cecep dengan nada tegas.
“Harga itu terlalu murah, Cep. Sayang kalau rumah itu harus dijual murah.”
“Saya tidak akan bicara dua kali, Anda pilih rumah dijual murah, atau nyawa Anda melayang tanpa ada harganya. Jangan pernah melawan saya.”
Baskoro memejamkan matanya. Kesalahan terbesarnya adalah mempercayakan semua pengelolaan asetnya kepada Cecep yang diam-diam ternyata menginginkan semua hartanya.
Usai mendapat suntikan itu, Baskoro akan merasakan tubuhnya panas, lalu syaraf-syarafnya melemah seolah menyedot tenaganya. Bertahun-tahun Baskoro diperlakukan sebagai tawanan di rumahnya sendiri, tanpa ada seorang pun yang tahu.
Semua alat komunikasi diputus, pertemuan dengan orang-orang juga dibatasi, termasuk dengan notaris. Cecep bahkan memaksa Baskoro membuat surat untuk notaris yang menunjuk Cecep sebagai ahli waris. Notaris tidak percaya begitu saja lalu mendatangi ke rumahnya. Dan Baskoro mengatakan bahwa surat itu benar adanya. Semua karena Cecep menekannya.
Cecep menjadikan anak-anaknya sandera. Jika Baskoro tidak menuruti kemauannya, maka nasib Raja dan Ratu bisa terancam. Cecep memberikan foto-foto Raja dan Ratu di Jerman, pertanda ada orang terpercaya Cecep yang bisa kapanpun menghabisi kedua anaknya.
“Maaf menunggu agak lama, Tuan Baskoro sudah siap bertransaksi lagi.”
Cecep membawa kembali Baskoro ke ruang tamu. Devano melihat wajah Baskoro sedikit muram. Pria itu sama sekali tak membayangkan jika nanti Liodra juga bertemu dengan Baskoro. Sungguh sangat jauh dari ekspektasinya selama ini.
__ADS_1
“Jadi bagaimana Pak Baskoro? Saya hanya berani menawar segitu karena terus terang untuk bangunan nanti kita akan renovasi dengan biaya yang tidak sedikit.” Surya kembali melanjutkan proses jual beli.
“Baiklah, setelah saya pikirkan, rasanya memang saya harus melepasnya dengan harga segitu. Kita sepakat melakukan jual beli. Nanti Cecep yang akan mengurus ke notaris, untuk tandatangan secepatnya.”
“Kami bisa menunggu, seperti yang sudah saya bilang tadi, saya juga ada kenalan notaris yang siap membantu. Baiklah, saya minta no rekening untuk membayar uang muka, sisanya saat kita tanda tangan di notaris.” Surya menyelesaikan perbincangan dengan kesepakatan waktu pelunasan.
Mereka berpamitan. Surya menyalami Baskoro, lalu bergantian Baskoro juga menyalami Devano dan Zara.
Jantung Devano berdegub sangat kencang saat Baskoro menyelipkan sesuatu di tangannya ketika mereka bersalaman. Dan tatapan mata itu, tatapan mata yang langsung menghunjam ke jantung Devano. Baskoro seakan memberi isyarat agar jangan sampai ada orang tahu tentang kertas yang diselipkan ke tangannya.
“Saya tunggu kabar secepatnya, Pak Cecep,” pamit Surya sebelum masuk ke dalam mobil.
“Baik Tuan Surya, saya akan segera menghubungi notaris, secepatnya akan saya kabari untuk penandatanganan akta jual beli.”
“Pak Cecep sendirian merawat Pak Baskoro?” tanya Devano sebelum ia naik ke dalam mobil.
“Ada satu orang pelayan perempuan yang membantu. Ya, mau bagaimana lagi? Saya kasihan karena Tuan Baskoro berpisah dengan keluarganya. Mereka lebih memilih tinggal di Jerman. Tuan Baskoro dan Nyonya Arumi sudah bercerai lama. Jadi mereka hidup terpisah.”
Devano mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi dia menatap ke arah teras di mana wajah sayu Baskoro juga sedang menatap ke arahnya.
Mereka berlalu dari rumah itu. Cecep langsung membawa Baskoro masuk ke dalam kamarnya, lalu mengikat kakinya dengan rantai besi.
“Serahkan ATM Anda dan berikan nomor pinnya.”
Baskoro memejamkan matanya. Semua rekeningnya sudah dikuasai Cecep, hanya ada satu rekening beserta kartu ATM yang masih disimpannya. Satu-satunya harapan supaya dirinya bisa melakukan sesuatu dengan uang itu, ternyata kini juga telah diketahui Cecep.
__ADS_1
“Jangan melawan, atau Anda mau begadang malam ini?” desak Cecep membuat Baskoro lagi-lagi harus mengabulkan permintaannya.
Pria berambut putih itu tak mau detak jantungnya terhenti karena suntikan yang diberikan Cecep selalu membuat jantungnya berdebar-debar, syarafnya melemah hingga rasa sakit yang teramat sangat tanpa bisa memejamkan mata.