BARA MASA LALU

BARA MASA LALU
Rahasia Kejahatan Nerwani


__ADS_3

Liodra hanya bisa memandangi wajah Baskoro yang tertutup masker oksigen. Pria itu tidak seperti yang Liodra bayangkan. Sama seperti Devano yang membayangkan pria yang telah merusak hidup mereka ternyata hanyalah pria lemah tanpa daya.


"Bagaimana kamu bisa menemukannya?" tanya Liodra kepada Devano.


"Tidak sengaja Zara yang memberitahu," jawab Devano.


"Jadi dia belum tahu?" tanya Liodra lagi.


Devano menggelengkan kepalanya. "Mungkin dia tidak pernah tahu kalau kita ada di dunia."


Liodra mengembuskan napas kasar. "Tidak mungkin karena dia dan mamaku saling mencintai dulu, bahkan mereka sempat kawin lari."


"Ya, setidaknya kamu lebih beruntung daripada aku karena ibuku bahkan tak pernah dinikahi oleh pria ini."


Zara hanya menatap kedua kakak beradik di hadapannya. Dia sudah tidak melihat lagi ada cinta di mata Devano untuk Liodra. Zara semakin memantapkan hati untuk menerima Devano sebagai suaminya.


"Jadi, bagaimana sekarang?" tanya Liodra.


"Kita harus menunggu kabar dari Marcela."


***


Beni tidak akan membiarkan anaknya berada di dalam cengkraman Marcela berlama-lama. Setelah mendapat informasi bahwa Ryo diculik oleh Marcela, Beni segera melacak nomor ponsel Marcela. Ternyata gadis itu cukup pintar karena segera memusnahkan nomor yang dia pakai untuk menelepon Liodra.


"Sial, ternyata nomornya sudah tidak aktif," umpat Beni. "Kita tidak boleh dikadalin anak ingusan," hardiknya.


"Jangan gegabah! Jangan sampai salah mengambil keputusan dan menempatkan Ryo dalam bahaya," imbuh Lestari kepada suaminya.


***


Kawan Surya yang bekerja di kepolisian bergerak cepat mencari informasi keberadaan Asep. Meskipun belum mendapatkan petunjuk, mereka sedang menyadap nomor telepon yang dipakai Asep, tapi lagi-lagi Asep sudah berganti nomor.


***


"Halo, Ela, bagaimana? Apakah kamu sudah memastikan kalau laporan Baskoro sudah dicabut?" tanya Asep.


"Sudah. Ranto sudah memastikannya," jawab Marcela.


"Kalau begitu segera merapat ke tempat yang sudah kita sepakati."


"Baik, Ayah, aku akan membawa Ibu dan Nenek ke sana," jawab Marcela.


Dia memang sudah menyiapkan sebuah rumah jauh di luar kota untuk melancarkan rencananya.


"Halo, Ranto, sekarang lepaskan Ryo! Pastikan dia tidak akan bicara apa-apa kepada polisi."

__ADS_1


"Siap," jawab Ranto.


Kembali Marcela menghubungi Liodra. "Ryo sudah aku lepaskan. Kalau sampai polisi masih mengejar ayahku maka saudaramu yang berada di Jerman akan kehilangan nyawanya," ancam Marcela.


Saat  Liodra hendak menjawabnya, Marcela segera mematikan sambungan telepon.


"Entah apa yang dibicarakan oleh Marcela. Si Gila ini dia bilang saudaraku ada di Jerman dan kalau polisi tahu saudaraku akan mati," ucap Liodra.


Devano memukul kepalanya. "Kita punya dua saudara yang tinggal di Jerman. Rupanya mereka yang selama ini dijadikan ancaman untuk Pak Baskoro."


"Kalau begitu, Zara bilang ke Om Surya untuk jangan melibatkan polisi dulu."


"Baiklah," jawab Zara, segera menelpon papanya.


***


Nerwani mengamuk karena mendengar Marcela hendak membawa mereka ke tempat yang jauh. Meskipun gerakannya terbatas, tetapi Nerwani menghentak-hentakkan kakinya dengan kekuatan yang ia punya.


"Sepertinya ibumu tidak mau meninggalkan tempat ini, Ela," ujar Sudarsih kepada cucunya.


"Tidak bisa, Nek! Posisi kita sekarang tidak aman. Sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini.


"Sebetulnya apa yang terjadi Marcela? Kamu membuat Nenek sangat ketakutan."


"Sudahlah, Nek, jangan banyak bicara. Kita akan segera membawa Ibu pergi dari sini!" bentak Marcela tidak sabar. Sementara Sudarsih hanya bisa mengelus dadanya.


***


Ryo yang sudah dilepaskan di pinggir jalan, sedikit memicingkan mata saat sinar matahari langsung menembus menyilaukan mata.


"Sialan! Di mana ini," ucapnya kebingungan. Dia berada jauh di luar kota Jakarta. "Aku harus segera memberitahu Papa," batinnya.


Ryo bergegas mencari pertolongan untuk bisa segera mengabarkan bahwa dirinya telah selamat. Beni yang menerima telepon dari Ryo mengucapkan syukur. "Jadi kamu selamat?"


"Iya, Pa, jangan khawatir Ryo tidak apa-apa. Sepertinya penculik itu hanya menggertak saja," ucap Ryo.


"Penculik itu berhubungan dengan Liodra," imbuh Beni.


"Bagaimana keadaan Liodra sekarang?" tanya Ryo.


"Dia tidak apa-apa. Sekarang sedang berada di Bandung menemui papa kandungnya."


"Pak Baskoro?" tanya Rio lagi.


"Ini semua masih berhubungan dengan papa Liodra yang bernama Baskoro itu."

__ADS_1


"Ya, Tuhan, siapa yang tega melakukan ini. Aku seperti mendengar suara perempuan yang memerintah di telepon." Ryo menambahi.


"Betul, namanya Marcela, sahabat Liodra."


"Papa segera perintahkan orang-orang Papa untuk menangkap Marcela karena para pengacara kita sudah tahu tentang kecurangan perbuatan Marcela."


"Ini yang Papa tunggu-tunggu. Terima kasih, Ryo. Segeralah pulang! Mamamu sudah tak sabar menunggumu."


Beni segera menghubungi pengacaranya untuk memastikan informasi yang ia dapatkan dari Ryo. Yang penting sekarang anaknya selamat. Bersama dengan pengacara, akhirnya mereka melaporkan Marcela ke polisi atas dugaan pemalsuan dokumen.


***


Asep, Marcela, Nerwani dan Sudarsih sudah berkumpul di sebuah rumah rahasia. Asep memeluk tubuh Nerwani yang terus saja menangis.


"Aku minta maaf karena tidak bisa membalaskan dendammu lagi, tapi aku bisa memastikan Baskoro akan segera mati seperti ibunya dulu."


Tangisan Nerwani semakin bertambah keras. Air mata deras membasahi pipinya. Masih segar dalam ingatannya saat dia memerintahkan Asep untuk memasukkan racun secara perlahan ke dalam minuman Dewi Murtiningsih yang mengakibatkan perempuan itu akhirnya meninggal dunia.


Itu adalah kejahatan yang ia sembunyikan sekian lama. Sedangkan ide untuk menguasai harta Baskoro datang dari Asep, suaminya.


"Apakah kita akan aman di sini?" tanya Marcela.


"Tentu saja. Apa yang kita takutkan?" ujar Asep.


"Tidak! Aku merasa tidak aman. Sebaiknya kita segera pergi ke luar negeri. Semua dokumen sudah aku siapkan, Ayah," ucap Marcela.


"Nenek dan ibumu tidak mau kemana-mana lagi," bentak Sudarsih.


"Nenek sudah bosan mengikuti ambisi kalian. Nenek akan menjaga Nerwani sendirian. Kalian kalau mau pergi, pergi saja!"Sudarsih membentak.


"Jangan membuat masalah baru, Nek," ujar Marcela.


"Kamu dari dulu sudah Nenek peringatan. Jangan memupuk dendam. Sekarang kamu melihat sendiri kondisi ibumu. Dari gerakannya Nenek tahu, ibumu tidak menyetujui kepergian kita."


"Angkat tangan! Jangan bergerak! Ini polisi yang akan menahan Pak Asep dan Nona Marcela dengan banyak kejahatan!"


Terdengar suara dari luar. Ternyata polisi. Teman Surya tidak mau menuruti kemauan Surya.


"Ini kejahatan yang tidak bisa dibiarkan," ucap teman Surya.


Malam itu, Asep dan Marcela diringkus oleh petugas kepolisian. Nerwani meraung-raung. Entah kenapa dia seperti mempunyai kekuatan baru, menjambak-jambak rambutnya sendiri.


Ada satu hal yang disesali Nerwani. Dia masih belum sempat mengatakan kepada Marcela bahwa sebenarnya Marcela adalah anak kandung dari Baskoro, buah cinta di masa lalu yang tidak pernah direstui oleh Dewi Murtiningsih, ibunya Baskoro.


Di rumah sakit, Baskoro belum juga sadar. Bahkan kondisinya semakin payah. Napasnya tinggal satu-satu.

__ADS_1


Nerwani membenturkan kepalanya ke tembok tanpa sepengetahuan Sudarsih. Perempuan tua itu menjerit saat menemukan tubuh Nerwani bersimbah darah.


__ADS_2