
"Ela, apa maksudmu? Aku tidak mengerti!" teriak Liodra.
"Jadi kamu tidak tahu kalau sekarang ayah kandungmu sedang berada di rumah sakit bersama Devano? Dia sedang sekarat. Apa pun yang terjadi, kamu harus bilang sama dia bahwa jangan sampai melaporkan apa pun kepada polisi. Cabut laporannya sekarang juga!"
Marcela segera mematikan telepon, membuat Liodra bertanya-tanya.
"Sebetulnya ada apa?" batin Liodra.
"Liodra, siapa yang menelpon?Apakah ini ada hubungannya dengan Ryo?" tanya Lestari.
"Dia .... Tante, tapi Liodra masih bingung dengan semua ini. Bisa kita bicara sebentar?" tanya Liodra kepada Dewanti.
"Tentu, Sayang." Dewanti menganggukkan kepala kepada Lestari. Mereka berdua bergegas pergi ke teras.
"Barusan Marcela menelepon. Dia bilang kalau Pak Baskoro sekarang berada di rumah sakit dan aku harus mencabut laporan. Aku nggak ngerti maksudnya."
Jantung Dewanti berdegup sangat kencang mendengar nama seseorang yang sudah puluhan tahun mencoba ia lupakan.
"Mama, Marcela tadi juga menyebut nama Devano. Sepertinya ini ada hubungannya dengan Devano.
"Apa yang dikatakan perempuan brengsek itu?" tanya Dewanti emosi. Dia tidak menyangka kalau ternyata sahabat dari putrinya sendiri berani mengkhianati.
"Aku yakin yang menculik Ryo adalah Marcela."
"Apa dia berani melakukan itu?" Dewanti sangat terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka, ternyata Marcela mempunyai keberanian yang sangat besar untuk bermusuhan dengan keluarga Beni.
"Dia belum tahu sedang berurusan dengan siapa?" desis Dewanti.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Mah?"
"Segera hubungi Devano dan minta informasi apa yang sedang terjadi. Mama akan berdiskusi dengan Om Beni."
"Baiklah."
Tak menunggu lama, Liodra segera menelpon Devano.
***
Devano mau memejamkan mata sekejap. Semalaman dia menunggu Baskoro dan sampai sekarang laki-laki itu belum sadar.
Devano yang masih mengantuk di sofa menunggu Baskoro tersentak kaget melihat sebuah nama di layar ponselnya. Devano memang sudah meminta nomor baru Liodra kepada Sashi, tapi dia tidak punya keberanian untuk menghubunginya lebih dahulu.
__ADS_1
"Halo," jawab Devano dengan pelan. "Apa yang terjadi?"
"Barusan Marcela bilang kalau Pak Baskoro sedang berada di rumah sakit."
"Iya, aku sedang di rumah sakit bersama dengan Pak Baskoro sekarang. Kenapa Marcela menelpon kamu?"
"Sepertinya ini ada hubungannya dengan penculikan Ryo, calon suamiku." Liodra berkata lirih.
"Bagaimana mungkin?" Devano tak percaya.
"Intinya Marcela meminta supaya Pak Baskoro mencabut pengaduan di kantor polisi. Kalau tidak, Ryo akan dihabisi. Aku minta tolong sama kamu, Devano, tolong cabut laporan polisi itu," ucap Liodra.
"Tidak masuk akal! Benar-benar perempuan ular. Aku tidak menyangka ternyata Marcela dalang di balik semua ini."
"Pak Baskoro bagaimana keadaannya?" tanya Liodra lagi.
"Keadaannya sangat parah. Dia di racun oleh asistennya, Cecep."
"Jadi ini rupanya alasan Marcela dia minta kebebasan Cecep."
"Apakah itu Pak Asep, ayah Marcela bernama Asep. Aku menduga ini adalah orang yang sama. Marcela ingin supaya Pak Asep dibebaskan karena itu dia meminta kepada Baskoro untuk mencabut laporannya dan dia menyandra Ryo. Ya, Tuhan, Marcela sudah sangat jauh tersesat," keluh Liodra.
Sekarang giliran Liodra yang mendesah resah. Semua masalah ini berawal dari Baskoro. Tanpa menunggu lama Liodra segera pamit kepada Dewanti, "Ma, aku harus segera ke Bandung. Ada urusan yang harus aku selesaikan."
"Jangan pergi sendiri, Liodra! Biarkan Papa menemani kamu."
"Tidak usah, Ma, Liodra bisa sendiri."
"Tapi Mama tetap khawatir kalau kamu pergi sendiri. Apalagi Ryo juga belum ditemukan."
Setelah berpikir sebentar Liodra akhirnya mengatakan bahwa dia akan bertemu dengan Baskoro dan Devano. "Jadi Mama nggak usah khawatir, aku akan segera memberi kabar secepatnya. Dengan cara ini maka Ryo akan dibebaskan oleh Marcela."
"Siapa gadis itu?" tanya Beni yang tampak sangat marah.
"Dia sahabatku, Om, tapi ternyata tak lebih dari seorang pengkhianat. Sekarang dia sedang menyandera Ryo dan akan menukar dengan kebebasan ayahnya. Aku tidak tahu dendam kesumat apa yang membuat Marcela menjadi gelap mata. Tetapi ini pasti ada hubungannya dengan Pak Baskoro. Aku berangkat dulu, ya, Ma."
Dewanti mengangguk, "Hati-hati, Sayang." Mereka bertiga melepas kepergian Liodra.
Liodra datang ke Bandung naik travel sesuai dengan saran Dewanti. Dia langsung menuju rumah sakit tempat Baskoro dirawat.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Liodra saat melihat kondisi Baskoro sangat lemah terbaring di atas ranjang.
__ADS_1
"Seperti yang kamu tahu. Ini semua perbuatan Cecep. Apakah ini orangnya, ayah dari Marcela?" tanya Devano sembari memperlihatkan satu gambar di layar ponselnya.
"Betul, itu Pak Asep, ayahnya Marcela."
"Berarti sudah pasti bahwa semua ini memang kejahatan yang direncanakan Pak Asep. Dia ini adalah asisten dari Papa kita. Pak Asep punya niat jahat dengan cara meracun Pak Baskoro selama bertahun-tahun. Sepertinya Pak Asep ingin menguasai semua harta Pak Baskoro."
Lagi-lagi Liodra menarik napas panjang. "Kenapa dosa ini terus mengikuti kita?" tanyanya lemah.
"Ternyata Pak Baskoro selama ini hidup tertekan bersama dengan Pak Asep. Dia meminta bantuanku secara tidak sengaja. Aku akan menelepon Om Surya untuk meminta bantuan. Kamu tenanglah dulu, Liodra."
Tanpa sengaja Devano mengusap rambut Liodra. Pada saat bersamaan Zara masuk ke dalam ruangan.
"Apakah aku mengganggu?" tanya Zara cemburu.
"Zara, masuklah, kenalkan ini adikku, Liodra."
Mendengar nama itu, Zara langsung membelalakkan matanya. Dia sudah tahu semuanya. "Hai, aku Zara."
"Liodra. Senang bertemu denganmu," ucap Liodra kemudian.
"Di mana, Om Surya?" tanya Devano.
"Papa sedang berada di kantor polisi."
"Celaka, Om Surya harus menunda laporan itu karena Marcela sekarang sedang menahan seorang sandera."
Dengan singkat Devano bercerita apa yang terjadi kepada Zara.
"Kalau begitu segera telepon Papa," ucap Zara.
"Halo, Om Surya, kalau bisa jangan menghubungi polisi dulu, Om. Saya membutuhkan Om Surya di rumah sakit."
"Baiklah. Aku akan segera ke sana." Surya segera menemui Devano di rumah sakit.
Sementara itu orang-orang Marcela tetap menunggu di luar ruangan, tetapi mereka mendapatkan perintah dari Ranto hanya mengamati saja karena kemungkinan Baskoro akan segera meninggal dunia.
"Baiklah, kalau begitu kita hentikan dulu laporan polisinya. Menunggu sampai kondisi Baskoro stabil baru kita akan menentukan langkah selanjutnya," ucap Surya.
Surya segera menelpon temannya," Aku minta tolong untuk mencabut laporan yang kemarin sempat dilaporkan oleh Pak Baskoro karena sedang diadakan upaya mediasi," ucap Surya kepada kawannya.
Liodra menarik napas panjang lalu menoleh ke arah Baskoro. Melihat dengan saksama wajah pria yang selama ini sangat ingin ia temui.
__ADS_1