
Rona fajar agak merah dengan suguhan dedaunan basah. Sepasang manusia sedang bergelut dengan perasaannya masing-masing. Liodra merasa sedikit canggung berada dalam satu mobil dengan Devano.
Aneh memang.
Kemarin saat dirinya begitu yakin Devano adalah jodohnya, dia merasa aman berduaan. Sekarang seharusnya dia merasa aman karena Devano adalah kakaknya, yang berarti punya ikatan mahrom, perasaannya justru tak keruan. Begitu kuatnya rasa itu menancap, hingga mengubahnya butuh waktu tak cepat.
Mereka tiba di alamat yang diberikan oleh Pak Dirga. Gerimis turun meneruskan mendung yang menggelayut di kota hujan. Sebuah rumah bercat putih dan berpagar keliling. Rumah megah dua lantai dengan halaman sangat luas yang berada di daerah dingin kawasan Bogor atas. Liodra turun dari mobil dan membunyikan bel di balik pagar. Seorang wanita muncul dari pintu rumah.
"Maaf apakah ini rumah Pak Baskoro Setyadi?" tanya Liodra setengah berteriak. Kedua tangannya menutupi kepala agar terhindar dari gerimis yang mulai lebat.
Wanita paruh baya itu terlihat gugup sesaat sebelum menjawab " maaf, Neng salah alamat." Dia hampir bergegas masuk ketika Liodra melanjutkan ucapannya," saya anaknya. Kami belum pernah bertemu sebelumnya, bolehkah saya menemui Pak Baskoro?"
"Maaf Neng, saya tidak kenal Pak Baskoro. Permisi."
"Bu ... tunggu!" Liodra berteriak lagi.
Devano yang sedari tadi hanya melihat dari jauh akhirnya mendekati Liodra.
"Gimana?" Liodra tidak menjawab, dia sibuk menekan sebuah nama dari ponselnya.
"Hallo, Pak Dirga, bapak yakin alamatnya benar? Saya sudah di lokasi tapi ibu itu bilang bukan rumah Pak Baskoro."
"Minggu kemarin saya ke sana langsung dan bertemu dengan wanita yang bekerja di rumah itu. Dia bilang Pak Baskoro sedang sakit jadi tidak bisa ditemui."
"Bapak yakin?" tanya Liodra memastikan.
"Sangat yakin."
"Baik, Pak. Terima kasih informasinya."
Liodra menutup sambungan. Sepertinya ada yang tidak beres. Liodra berpikir mungkin Baskoro sudah mempunyai keluarga baru yang sekarang merawatnya karena kondisinya sedang sakit.
"Gimana? Ada info terbaru?" Devano sedikit mendengarkan Liodra berbincang di telepon.
"Kita cari rumah Pak RT atau siapa pun untuk mencari informasi." Mereka berdua memasuki mobil yang melaju perlahan menembus gerimis yang mulai berubah menjadi hujan deras.
__ADS_1
Sementara itu di butik El Moda, Ela sedang mempersiapkan surat-surat penting dan akta perusahaan.
Setelah semua berkas terkumpul, dia memasukkannya dalam satu stopmap lalu membawanya keluar kantor. Gadis itu ada janji dengan seseorang.
Mobilnya memasuki sebuah restoran ternama. Tiga orang telah menunggunya di ruangan private. Dua pria berpakaian rapi dan seorang wanita yang dari penampilannya terlihat berkelas.
"Pak Richard dan Ibu Mely, selamat siang, senang bertemu dengan Anda berdua." Ela menjabat tangan sepasang suami istri yang tersenyum ramah.
"Perkenalkan ini Pak Fandi, lawyer kami. Apakah surat-suratnya sudah dibawa?" tanya Richard sambil mempersilakan Ela duduk.
"Semua surat yang bapak butuhkan sudah ada di sini. Silakan dicek semuanya. Jika tidak ada masalah, saya lebih senang kita selesaikan transaksi secepatnya." Ela tersenyum penuh kemenangan.
***
Senja memayungi Ibukota. Dewanti usai memasak dibantu Bi Darsi. Wanita berusia lima puluh tahun yang masih terlihat cantik itu mempersiapkan makan malam. Beberapa kali dia menengok ke halaman, berharap mobil Liodra datang.
"Ponsel Liodra tidak aktif sejak siang. Mama tidak bisa menghubungi dia, Pa. Mama khawatir ada apa-apa dengan Liodra."
"Dia hanya pamit ke Bogor? Tidak memberitahu kemana? Urusan apa?" Hernowo mengernyitkan dahi.
"Ya sudah kita tunggu saja. Semoga dia pulang malam ini." Hernowo menenangkan istrinya yang mulai gelisah di ruang makan.
"Jeng Tari kemarin bilang kalau pernikahan mungkin akan dimajukan. Hanya saja kata Jeng Tari, Ryo dan Riva sepakat akan menikah siri dulu." Dewanti menghela napas panjang.
"Kenapa harus nikah siri? Bukannya menikah resmi itu lebih baik?" Hernowo agak heran mendengar penuturan istrinya.
"Mama juga enggak tahu. Tadi pagi mama mau tanya ke Liodra, tapi dia keburu pergi. Kalau buat mama tidak masalah, yang penting mereka sudah menikah. Jadi sudah ada kejelasan," tandas Dewanti.
"Kejelasan apa maksudnya? Justru karena menikah siri, papa malah kuatir. Apa maksud Ryo menikahi Liodra kalau hanya sah secara agama? Posisi Liodra di mata hukum tidak akan kuat, Ma."
Dewanti terdiam mendengar penuturan suaminya. Benar juga, jika menikah siri status Liodra di mata hukum tidak diakui sebagai istri. Tetapi menikah siri tetap lebih baik daripada berpacaran.
"Ah sudahlah, Pa. Itu bisa diproses nanti perlahan-lahan. Yang penting Liodra sudah setuju menikah, mama sudah senang." Dewanti menepis pikiran buruk yang sempat melintas di kepalanya. Tidak mungkin Ryo ingin mempermainkan putrinya.
Mobil sedan hitam yang dikemudikan Devano memasuki Jakarta. Liodra terlelap karena kelelahan. Sesekali Devano melihat gadis cantik di sampingnya. Melihatnya tertidur lelap, Devano merasa hatinya diliputi ketenangan yang tiga minggu ini hilang.
__ADS_1
"Kamu adalah rasa nyaman yang diciptakan oleh waktu. Sedangkan aku adalah memori yang singgah di ingatanmu lalu dihapuskan waktu. Dan kita adalah akhir dari sesuatu yang tak berawal hingga puas ditertawakan waktu."
Devano tertawa kecil setelah mendengar suaranya sendiri. Dia hanya berdialog dengan hatinya, tetapi berharap Liodra mendengar. Hanya dengan cara seperti ini dia bisa membebaskan diri dari rasa itu. Rasa yang dipaksakan untuk tak lagi sama.
Saat mereka bertemu tadi pagi, Liodra belum bisa menghilangkan rasa canggungnya. Tidak mudah menafikan kenangan yang pernah terpahat di antara mereka berdua. Perjalanan seharian ini semacam terapi bagi keduanya untuk sama-sama menerima alur takdir yang pahit dan menyakitkan.
Keinginan terbesar Liodra saat ini adalah menemukan Baskoro. Informasi dari pihak RT sangat berguna. Baskoro memang tinggal di rumah putih itu.
Keluarga itu sangat tertutup. Baskoro sudah menikah dan mempunyai dua anak, laki-laki dan perempuan. Istrinya sudah meninggal. Kedua anaknya juga tinggal di luar kota. Baskoro tua tinggal sendirian dan kesepian. Hanya ada beberapa pelayan, tukang kebun serta orang yang dipercaya. Semua akses tentang Baskoro seperti tertutup rapat.
Liodra terbangun saat mobil sedikit terguncang karena Devano menghindari lubang jalan. Dia mengucek matanya sambil menegakkan duduknya.
"Kita sudah hampir sampai?" tanya Liodra memastikan.
"Masih sejam lagi kalau tidak macet. Kamu tidurnya enak banget." Devano tersenyum sambil terus memperhatikan jalan.
"Aku sudah lama tidak bisa tidur nyenyak. Entahlah rasanya hanya memberikan hak badan untuk beristirahat."
"Apa benar kamu akan menikah?" Devano menatap jalanan lurus di depannya. Pertanyaan yang langsung tepat sasaran.
"Pasti mama sudah memberi tahu ibumu," tebak Liodra.
"Liodra, jika aku tidak bisa menjagamu sebagai suami, aku akan menjagamu sebagai kakak. Kalau kamu bahagia, aku ikut senang. Aku tak punya banyak cara untuk merangkai aksara. Hanya satu hal sederhana yang tidak pernah berubah. Caraku mencintaimu sekarang adalah mendekapmu dalam bait-bait do'a."
Mata Liodra memanas. Hatinya kembali pecah, terhempas berantakan. Bulir bening mengalir deras di pipinya. Sebelumnya dia merasa sudah cukup kuat menahan perasaannya sendiri. Berminggu-minggu menguatkan hati, ternyata masih ada nyeri di dalam sana.
"Maaf aku tidak bermaksud untuk ...." Devano merasa tidak enak karena kembali mengungkit luka. Jika ada hal yang bisa dia lakukan untuk menebus kesalahannya barusan, pasti dia lakukan. Apakah dia cemburu? Rasanya tidak pantas jika benar ini cemburu.
"Aku memilihnya untuk membantuku keluar dari kemelut rasa. Jangan mengkhawatirkan aku. Satu lagi, aku pikir ini terakhir kita bertemu. Aku bisa gila jika begini terus!"
"Aaaa!"
Liodra menjerit keras sambil menutup telinganya. Semakin keras dia memadamkan hati, semakin sakit rasanya terbakar perasaannya sendiri.
Liodra paham tak akan sama rasanya. Jika ada pepatah mengatakan hilang satu tumbuh seribu, nyatanya dalam cinta, meskipun seribu yang tumbuh, tak pernah sama dengan satu yang hilang. Satu-satunya cara adalah melupakan Devano selamanya. Pernikahan dengan Ryo harus dipercepat. Persetan dengan cinta!
__ADS_1