BARA MASA LALU

BARA MASA LALU
Siapa yang Menjadi Wali Nikah


__ADS_3

Terkadang memang ada orang yang hanya dihadirkan dalam hidup kita, bukan ditakdirkan. Liodra sedang diselimuti kabut bahagia, akhirnya malam lamaran yang dia tunggu tiba juga. Tidak sia-sia calon pengantin cantik itu mengorbankan  tabungannya untuk membuat malam lamaran menjadi seperti yang dia impikan. 


"Princess, Devano dan keluarganya susah datang. Buruan turun!" Ela mengintip dari jendela kamar Liodra di lantai dua. Liodra bergegas turun diapit Ela dan Sashi. 


Liodra tersenyum melihat calon mertuanya tampak lebih muda dengan balutan kain dan kebaya bordir ungu muda. Devano lebih gagah mengenakan batik senada dengan dirinya. Om Ridwan, adik Eva juga mengenakan batik dengan motif gunungan kembar yang terlihat pas di badannya. 


Beberapa kerabat Devano juga turut hadir membawa hantaran yang sudah dipersiapkan Liodra. Semua orang sudah berada di ruang tengah. Secara resmi keluarga Devano diwakili om Ridwan meminta Liodra untuk menjadi istri Devano. 


"Kedatangan kami sekeluarga kemari ingin menyampaikan satu niatan meminta ananda Liodra Audrey untuk menjadi istri putra kami Devano Pramudya," kata Ridwan memulai perbincangan. 


Hernowo menjawab dengan santun," jika kedua putra-putri kita sudah punya niat baik, maka kami selaku orang tua hanya bisa merestui dan mendoakan supaya lancar hingga pernikahan." 


"Terima kasih banyak Pak Hernowo, kita bisa melanjutkan dengan tukar cincin. Anggap saja ini sebagai simbol bahwa Revano sudah mengikat Liodra, sampai hari pernikahan tiba. Ayo Devano, pasangkan cincinnya." Semua mata memandang ke arah Devano yang penampilannya sangat rapi.


Devano mengambil kotak cincin dari sakunya. Liodra mengulurkan tangan kirinya, Devano meraihnya lalu memasangkan cincin emas putih yang dihiasi berlian. Mereka saling menatap penuh arti. Ada kaca di mata Liodra. Keduanya tersenyum saling bertukar kebahagiaan. Tatapan itu seperti mengatakan "kita akhirnya sampai di titik ini." 


"Baiklah, mulai hari ini Devano dan Liodra sudah sepakat saling mengikatkan diri satu sama lain. Semoga semuanya berjalan lancar sampai gerbang pernikahan."


Ridwan mengakhiri sambutannya. Acara dilanjutkan makan malam dengan aneka hidangan menggugah selera. Ada soto Betawi di pojok ruangan, sate ayam dengan bumbu kacang berlimpah menggiurkan, juga nasi mandhi yang aromanya menggugah selera. Seusai makan Hernowo dan Ridwan keluar ke teras belakang, mencari udara segar sambil menyalakan rokok masing-masing.


"Jadi ayahnya Devano sudah meninggal sejak Devano berusia berapa Pak Ridwan?" Hernowo memulai obrolan mencoba mengakrabkan diri. Mereka duduk di teras belakang, di pinggir kolam renang. 


"Wah jangan panggil Pak, saya lebih muda dari Mas Her. Saya panggil Mas Her saja, ya. Devano sudah yatim sejak kelas lima SD. Ayahnya meninggal karena kecelakaan. Jadi mohon bimbingan jikalau nanti Devano mungkin sedikit mengecewakan. Seorang anak laki-laki yang tumbuh tanpa ayah ibarat ilalang yang tumbuh di padang rumput. Berakar kuat, sangat sulit dicabut, mungkin kebiasaannya." Ridwan menjawab sambil sesekali mengisap rokoknya.


"Begitu juga dengan Liodra. Saya berharap ketika mereka menikah, Liodra bisa menjadi embun yang menetesi ilalang. Tidak perlu dicabut, karena ilalang mempunyai banyak kegunaan, salah satunya untuk mengatasi panas dalam. Meskipun saya menyayangi Liodra seperti anak sendiri, terkadang seperti masih ada yang kurang, ada luka di hatinya. Ya mungkin seperti panas dalam," canda Hernowo sambil tertawa.

__ADS_1


"Ha ha, Mas Her bisa saja." Ridwan terbawa suasana. Mereka terus mengobrol sambil sesekali meneguk wedang jahe yang dibawa dari dalam rumah. Sejenak Ridwan diam meresapi omongan Hernowo. Jadi Hernowo bukan ayah kandung Liodra, lalu siapa yang akan menjadi wali nikah untuk Liodra? 


"Punten ini Mas Her, maaf kalau saya dianggap lancang. Berarti Mas Her ini bukan ayah kandung  Liodra?" tanyanya mencoba meyakinkan. 


"Betul Pak Ridwan, saya harus sampaikan ini sejak awal bahwa saya bukan ayah kandung Liodra, tetapi kasih sayang saya melebihi cinta ayah kandung. Liodra dan Sabrina tidak pernah saya bedakan sedari kecil. Mereka kami didik dengan cara yang sama." 


Nyaris saja Ridwan menanyakan tentang ayah kandung Liodra, saat terdengar suara Dewanti mendekat. 


"Wah, pada betah di luar,  mari masuk Mas Ridwan, di luar sepertinya akan gerimis, dingin sekali di sini." 


Suara Dewanti memecah kesunyian. Ridwan mengurungkan niatnya untuk menanyakan perihal wali nikah kepada Hernowo.  Ini pertemuan pertama,  rasanya kurang pantas dia menanyakan hal itu.  Masih ada waktu sebulan lagi untuk menyiapkan pernikahan sesuai kesepakatan dua keluarga. Mereka berdua beranjak memasuki ruang tengah,  melanjutkan obrolan ringan sambil menikmati puding susu.  


Dewanti kembali masuk ke dalam rumah. Perempuan yang masih cantik di usia hampir  lima puluh tahun menghampiri ibu Devano. 


"Mari Ibu Eva, silakan dicoba ini puding kesukaan Liodra," ucap Dewanti basa-basi. Eva mengangguk sambil tersenyum.


"Punten Bu Eva, Liodra anak sulung kami, jadi ini akan menjadi pesta pernikahan pertama di keluarga ini. Berhubung papanya mempunyai banyak relasi bisnis dan saya juga perempuan bekerja, maka kami sepakat melangsungkan resepsi pernikahan di hotel bintang lima. Semoga Bu Eva bisa maklum."


Dewanti tersenyum kepada Eva dan sengaja menekan nada pada kalimat 'perempuan bekerja' untuk menegaskan posisi.  Eva tidak cukup bodoh untuk mengetahui makna tersirat di balik kata-kata itu.  Dewanti perempuan bekerja, punya penghasilan. Liodra juga mempunyai butik sendiri. Hanya dia satu-satunya perempuan yang sekarang menopang hidup kepada Devano. Mengurus laundry hanyalah pekerjaan rumahan. 


Penyakit paru-paru yang dideritanya kerap membuat dadanya sesak, selain gejala stroke yang pernah menyerangnya. Beban yag menghimpit dada bertahun-tahun telah menggerogoti tubuhnya.  Eva sebenarnya masih cantik, jika saja ia sehat seperti perempuan lainnya. Jelas sekali calon besannya ini tengah menyindirnya. 


"Sa-saya ... tentu saja kami tidak keberatan jika memang dari keluarga Jeng Dewanti sudah merencanakan semuanya. Kami akan mengikuti saja," jawabnya terbata-bata.  


"Sebaiknya memang begitu Bu Eva. Saya tidak sedang meminta izin, tetapi memberitahu. Oh ya, semua biaya pernikahan kami yang  menanggung. Kami tidak ingin pernikahan ini menjadi beban untuk keluarga Devano. Saya dan suami sangat paham gaji seorang sales mobil. Biarlah ini cukup menjadi beban kami saja. Maaf saya harus ke belakang sebentar."

__ADS_1


Dewanti meninggalkan Eva yang terpaksa menelan semua perkataan pedas Dewanti.  Jika bukan untuk kebahagiaan Devano,  rasanya dia tak sanggup melanjutkan rencana pernikahan serupa rencana penghinaan untuk keluarganya.


Malam ini Eva tersadar,  Devano sedang menghadapi sesuatu yang besar dan berbahaya. Bersama Liodra, hidup Devano tak akan baik-baik saja jika Dewanti terus ikut campur. Merasa tidak nyaman, Eva ingin segera meninggalkan rumah Dewanti.


"Devano, ayo kita pulang. Badan Ibu mendadak terasa tidak enak." Eva menemukan puteranya sedang berbincang dengan Liodra di teras depan. Ada Sashi dan Ela yang tengah terlibat obrolan seru. Sesekali mereka tertawa riang. 


Liodra yang melihat wajah Eva pucat menjadi khawatir.


"Ibu kenapa pucat sekali? Devano,  sepertinya Ibu sakit, apakah kita perlu membawanya ke dokter?" tanya Liodra cemas.


"Tidak perlu, Sayang.  Ibu baik-baik saja. Mungkin sedikit masuk angin karena udara dingin. Lebih baik kami pulang sekarang," jawab Eva dengan suara bergetar.  


Devano yang melihat wajah ibunya sepucat kertas bergegas pamit dan membawa ibunya segera pulang ke hotel.  Setelah berpamitan,  mereka meninggalkan kediaman Hernowo.  Dewanti tersenyum penuh arti melepas kepergian Eva dan rombongannya. 


"Ibu mau langsung pulang ke Bandung. Ibu tidak mau menginap di hotel," perintah Eva seraya menahan amarahnya. 


"Ibu sedang sakit, kita beristirahat di hotel dulu, besok pagi Devano antar Ibu pulang," jawab Devano sambil menyetir. 


"Devano, Ibu hanya meminta sekali ini saja."


Devano melihat ibunya dari kaca spion yang tergantung di sebelah kiri kepalanya. Dari sikap ibunya ketika berada di rumah Liodra, Devano sudah tahu ada yang tidak beres. Apa yang sebenarnya terjadi?  Ibu terlihat sehat dan senang ketika mereka baru datang. Kenapa sekarang jadi berubah? Berbagai pertanyaan tiba-tiba memenuhi kepalanya.


Saat ini Devano hanya bisa menduga-duga. Percuma bertanya, ibunya tidak akan menjawab jika dalam keadaan seperti ini.  Tubuh Eva menggigil. Ridwan menyelimutinya dengan selendang yang berada di jok mobil. Ridwan juga tahu ada yang tidak beres dengan kakaknya.


Dengan sigap ia memeluk kakaknya yang tubuhnya sedang berusaha keras menahan guncangan akibat tangisan sendu. Guncangan di punggung ini yang bertahun-tahun disembunyikan Eva dari Devano. Hanya Ridwan yang mengerti arti tangisan diam-diam Eva. 

__ADS_1


 


__ADS_2