
Bagi sebagian orang, kehilangan selalu menyisakan kesedihan. Bagi beberapa orang kesedihan mematikan harapan. Namun, bagi sedikit orang, kehilangan sama dengan kesempatan mengetahui lebih cepat selalu ada cerita pengganti.
Liodra salah satu dari sedikit orang itu.
Pertemuannya dengan Ryo membuka sisi liar dalam dirinya. Menikah seolah bukan lagi hal yang sakral untuknya. Menikah justru bisa menjadi bencana, dan dirinya adalah contoh manusia yang menjadi korban pernikahan mamanya dan Baskoro.
Terkadang Liodra berandai-andai, seandainya mamanya tidak menikah dengan Baskoro, atau seandainya ibu Revano tidak jatuh cinta pada Baskoro mungkin cerita hidupnya akan berbeda.
Liodra memandangi foto laki-laki dengan tatapan mata khas dan garis senyum yang selalu terangkat.
Mengapa dirinya selama ini tidak menyadari ada kemiripan Devano dan Baskoro. Ataukah justru karena mereka mirip, sehingga alam bawah sadarnya menggiring hatinya kepada Devano?
Pandangannya beralih ke layar ponsel saat ada panggilan masuk dari seseorang yang ia kenal. Panggilan itu yang belakangan ini dia tunggu-tunggu.
"Halo, Pak Dirga, ada kabar apa untuk saya?"
"Saya sudah menemukan alamat Pak Baskoro."
Liodra terperanjat. Sejenak dia tidak mampu berkata-kata. Sebelum menikah, dia sudah menyewa seseorang untuk mencari tahu keberadaan Baskoro.
Liodra ingin memberikan hadiah kejutan untuk dirinya sendiri.
Menghadirkan ayah kandung sebagai wali nikah. Namun, saat itu Pak Dirga, mantan polisi yang pensiun dini belum juga berhasil melacak keberadaan Baskoro. Nyatanya justru dia mendapat kejutan yang menyakitkan hati.
"Baik Pak Dirga, alamatnya bisa dikirimkan ke WA saya? Jika alamat itu benar, saya akan membayar sisanya. Baik, Pak, terima kasih."
Liodra mematikan ponselnya. Semua urusan harus dibereskan sebelum dia kembali bekerja. Dia tidak bisa tenang sebelum bertemu dengan Baskoro. Bagaimana dengan Devano? Menurut cerita Ela kemarin, Devano juga mencari keberadaan ayahnya. Liodra menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Hatinya sedang menimbang-nimbang supaya tidak salah mengambil keputusan.
Hati yang patah akan tumbuh lebih kuat. Ada beberapa hal yang singgah tidak untuk diperjuangkan karena ditakdirkan hilang.
Malam bertebaran renjana di sela cakrawala. Liodra masih belum bisa memejamkan mata. Baru menjelang pagi, saat hatinya lelah berharap lagi, dia tertidur berselimut mimpi.
Keesokan paginya di butik, Ela sedang sibuk dengan karyawan baru. Tiga orang desainer baru sudah dipekerjakan. Lima karyawan lain memulai pekerjaan mereka di 'El Moda'. Brand baru yang mengusung namanya sudah berkibar. Seluruh tatanan butik dirombak dan didesain ulang. Desain butik El Moda terlihat lebih stylish dan segar.
__ADS_1
Semua karyawan sudah dipecat, lebih tepatnya diberi pekerjaan baru dengan gaji yang lebih besar.
"Kalian akan mendapatkan gaji dua kali lipat dari gaji di sini. Toko baru nanti juga menjual baju, tetapi lebih banyak online dan lebih ramai. Syaratnya hanya satu. Liodra sekarang sedang sakit parah. Jangan sampai ada yang mengganggunya. Jika ada yang melanggar, saya jamin kalian akan saya pecat. Sekarang hapus nomor Liodra dari ponsel kalian. Saya akan berikan nomor baru. Nomor lama kalian harus dibuang. Saya beri waktu satu jam untuk proses transfer data ke nomor baru."
Semua karyawan menunduk patuh. Gaji yang lebih besar adalah iming-iming untuk menutup mulut rakyat jelata. Mereka menuruti perkataan Ela, sang bos baru. Ela cukup membayar lebih kepada Aruni, karyawan senior, untuk mengawasi teman-temannya. Ela tersenyum manis, satu persatu rencananya berjalan mulus.
Tangannya mengambil ponsel lalu mencari nama Devano, lalu mengetikkan sesuatu.
[Hai Dev, aku sudah menemukan yang kamu mau. Apakah kita bisa bertemu di cafe Keboen jam tujuh malam ini?]
Pesan itu terkirim dan langsung centang biru.
[Tentu saja. Aku akan kesana tepat waktu.]
Jawaban dari Devano membuat hati Ela mekar.
Setelah membereskan pekerjaannya di butik, Ela bergegas keluar. Untuk Devano dia harus tampil cantik. Masih ada waktu untuk ke salon. Gadis jangkung itu menyetir mobilnya memecah kemacetan kota metropolitan menuju salon langganannya.
Jam tujuh malam Devano sudah berada di cafe Keboen. Dia tak sabar untuk segera melihat foto Baskoro. Foto pemberian ibunya adalah foto saat Baskoro masih duduk di bangku SMA. Beberapa bagian telah terkikis dan kurang jelas terlihat. Dengan foto ini Devano bertekad menemukan ayahnya.
"Iya, sepertinya dia sedang sibuk menyiapkan pernikahan. Mungkin, maksudku aku tidak tahu pasti. Hanya ibu dan pamanku yang ke rumahnya dan mamanya bilang Liodra akan segera menikah."
Ela terkejut mendengar penuturan Devano. Namun, dia berusaha bersikap normal.
"Wow, secepat itu?" tanyanya seraya membetulkan anting kanannya. Berita sepenting ini tetapi Liodra tidak memberitahunya.
"Masa kamu tidak tahu?" selidik Devano.
"Dev, Liodra sampai sekarang tidak bisa dihubungi. Aku beberapa kali ke rumahnya juga tidak ditemui. Aku pikir dia butuh waktu setelah kejadian kalian kemarin."
"Iya, aku pikir dia hanya tidak mau berkomunikasi sama aku. Rupanya dia memang sedang ingin memulai hidup baru. Baguslah, aku ikut senang mendengarnya."
"Kamu dan Zara?" Kali ini Ela tidak tahan untuk menanyakan hal yang membuatnya resah.
__ADS_1
"Aku tidak mau terburu-buru. Kami hanya berteman. Sebentar lagi dia akan berulang tahun. Aku ikut mengurusi acaranya."
"Kamu akan datang ke ulang tahun Zara? Boleh aku ikut bersamamu? Aku sangat bosan dengan pekerjaan ini. Tentu saja kalau kamu tidak keberatan."
"Nanti aku pikirkan dulu. Karena aku datang bukan sebagai tamu undangan, jadi kamu pasti akan lebih bosan di sana. Oya, fotonya sudah dikirim ke aku?" tanya Devano.
"Oh, sorry lupa. Oke sebentar .... nah sent. Kamu lihat coba." Devano mengambil ponselnya dan membukanya. Wajahnya berubah pucat setelah membuka WhatsApp.
"Dev, kenapa? Ada masalah?"
"Oh tidak, ini hanya ...." Devano mengusap wajahnya. Wajahnya tampak tegang.
"Dev, ada apa?"
"Liodra ... "
"Liodra kenapa?"
"Dia sudah menemukan alamat Baskoro dan mengajakku untuk datang kesana. Sebentar, aku harus menjawab Riva dulu."
"Oke, aku permisi mau ke toilet sebentar."
Ela bergegas ke toilet wanita. Sesampainya di toilet dia mengambil ponselnya lalu menelepon seseorang.
"Pindahkan si tua bangka itu dari rumahnya secepatnya. Kalau bisa sekarang juga. Pindahkan ke tempat yang tidak diketahui siapa pun. Kamu dengar? Ini sangat mendesak. Akan ada orang yang datang mencarinya. Suruh Mbok Tatik bilang rumah itu bukan rumah Baskoro. Pokoknya kamu atur semuanya. Jangan sampai ada jejak tentang keberadaan Baskoro."
Ela menutup sambungan. Dadanya turun naik, napasnya memburu.
"Darimana Liodra bisa tahu alamat Baskoro? Apakah selama ini dia mencarinya? Ternyata diam-diam Liodra bisa bertindak juga." Ela mondar mandir di depan pintu. Tidak boleh ada yang menggagalkan rencananya.
"Arghhh!"
Ela menjambaki rambut keritingnya. Bersamaan dengan itu sebuah panggilan masuk ke ponselnya.
__ADS_1
Liodra menelepon.