
Dunia yang terlalu sempit, atau memang ada manusia tak tahu diri yang sengaja mencari celah untuk mempermudah aksi.
Di Cafe tempat Devano biasa menyendiri, dia bertemu Ela. Ibunya menceritakan bagaimana Ela memperlakukannya saat acara ijab kabul. Ela sangat memerhatikan ibunya. Ela juga yang memperlihatkan foto Baskoro kepada ibunya.
"Hai, Dev, enggak nyangka bisa ketemu kamu di sini." Pemilik tubuh kurus itu menyapa Devano dengan senyum lebar.
"Hai, Ela, kamu juga ada di sini?"
"Aku sengaja mencari tempat yang ada kamunya," jawab Ela sambil tersenyum yang membuat Devano tergelak. Zara melirik sekilas, lalu kembali asyik menyedot milkshake di depannya.
"Kenalin ini temanku sekaligus customer aku, Zara. Zara ini Ela, dia ... emm dia ...." Devano menggaruk rambutnya yang tak gatal.
"Aku temanmu juga, kan? Please deh!"
"Iya, dia temanku, juga teman adikku." Devano memandang Ela dengan tatapan entah. Masih aneh rasanya menyebut Liodra sebagai adik.
"Hai Zara, senang melihatmu bersama Devano. Dia kawan yang baik, kakak terbaik, kamu pasti enggak akan kecewa sama pelayanannya. Ups, maksudku, Devano bilang kamu salah satu customernya. Pasti berhubungan dengan mobil. Layanan after salesnya jago dia!"
Zara hanya tersenyum tipis sambil menyambut uluran tangan Ela. Mereka bertiga terdiam sesaat. Sejenak suasana menjadi canggung.
"Oke, aku duluan Dev, Zara. Kebetulan aku memang sudah mau pergi." Ela segera mengakhiri pembicaraan melihat gelagat Zara yang dingin.
"Tunggu, Ela, ada yang mau aku tanyakan sama kamu sebentar. Zara, kamu enggak papa aku tinggal sebentar?" Zara mengendikkan bahu, pertanda dia mempersilakan Devano pergi.
Ela mengikuti Devano yang mengajaknya berjalan menuju sudut kebun. Mereka kini berdiri berhadapan. Ela memandang Devano yang tiba-tiba gugup. Seperti ada yang ingin dia sampaikan tetapi ragu.
"Ela, boleh aku minta foto yang kau tunjukkan kepada ibu?" Akhirnya keluar juga permintaan itu. Seolah tak percaya, Ela memiringkan kepalanya ke kiri sambil berpikir.
"Foto Baskoro."
Devano gelisah saat mengucapkan nama itu. Ela tersenyum, bibir tipisnya terangkat. Rupanya itu hal penting yang membuat Devano penasaran.
Ela mempunyai postur tubuh yang tinggi. Saat berdiri berhadapan seperti itu, tinggi Ela hampir menyamai Devano. Berbicara dari dekat, Ela bisa melihat Devano memang sangat tampan. Sorot matanya menawan. Sadar jarak mereka terlalu dekat, Devano mundur selangkah.
"Maaf sekali, Dev. Foto itu sepertinya sudah aku hapus. Kamu tahu, setelah kejadian kalian .... setelah kejadian itu aku selalu dihantui mimpi buruk. Aku seperti menjadi penyebab batalnya pernikahan kalian."
"Kamu tahu itu tidak benar, Ela. Justru aku dan Ibu sangat berterima kasih karena kamu memperlihatkan foto itu pada saat yang tepat. Ela, please, bisa aku minta foto itu?"
"Aku lihat dulu, semoga masih bisa aku recovery. Kemana harus kukirim foto itu jika kutemukan?" tanya Ela sambil menatap Devano.
"Sebentar aku ambil kartu namaku."
"Dev, kamu catat nomormu di ponselku. Aku takut hilang jika menyimpan kartu namamu," sahut Ela seraya menyerahkan ponselnya.
__ADS_1
Devano menerimanya lalu memasukkan nomornya di ponsel Ela. Gadis itu sibuk mengagumi pahatan sempurna di wajah Devano. Kulit putih bersih, hidung mancung, dan bibir yang di atasnya ditumbuhi kumis tipis. Devano bahkan lebih ganteng dari oppa Korea.
"Ini sudah aku simpan. Tolong Ela, kirimkan foto itu jika kamu sudah ketemu. Aku sangat membutuhkannya."
"Oke, Dev. Dont worry, aku pasti akan membantumu." Devano hendak berlalu ketika Ela kembali memanggilnya. "Dev, Zara sangat cantik, ya."
Devano hanya tersenyum sambil meneruskan langkahnya.
Ela mencebik kesal. Seharusnya tidak ada lagi penghalang di antara dirinya dan Devano. Dia memandang Zara dari kejauhan. Gadis itu terlihat biasa saja. Wajahnya tanpa polesan make up, berbeda dengan Liodra yang modis, Zara seperti gadis yang kurang punya gairah hidup.
"Baiklah, menyingkirkan Zara pasti tak sesulit menyingkirkan Liodra. Devano, kita akan menjadi pasangan yang sempurna dan kaya raya," desisnya pelan sambil meninggalkan cafe yang sedang disinggahi angin sore sepoi-sepoi.
***
Liodra sedang menyelesaikan sketsa gambarnya ketika pintunya diketuk dari luar.
"Liodra, kamu sudah bersiap? Sebentar lagi keluarga Ryo datang untuk makan malam."
Liodra terhenyak. Saking asyiknya dia sampai lupa bahwa mamanya sudah merencanakan pertemuan dengan keluarga Ryo. Selama ini pusat dunianya hanya terpaku pada Devano. Liodra gadis yang selalu berfokus pada tujuan, ia mengabaikan hal-hal yang berpotensi menjauhkannya dari mimpi.
Terkadang memang rindu semanja itu. Sudah berencana tapi terkendala, yang tidak disengaja justru muncul di depan pintu. Sepertinya yang kedua ini akan segera terjadi di hidupnya.
Ryo dalam ingatannya seperti om-om yang sibuk mengejar ayam kampus. Penampilan Ryo lebih formal, dengan kumis dan jambang tebal, Ryo lebih cocok menjadi mafia dalam film gangster, ketimbang pengusaha muda.
Satu luka masih menganga di jurang hatinya, mana mungkin dia merajut kisah baru? Tetapi hidupnya juga terlalu sayang jika dihabiskan untuk meratapi nasib, jadi mengapa tidak bersenang-senang? Satu pikiran nakal muncul di benaknya.
"Iya, nanti aku keluar! Aku mau mandi dulu!" teriaknya dari dalam kamar. Dewanti yang mendengar teriakan itu menjadi lega. Liodra mau keluar kamar, ini kabar menggembirakan.
Hernowo hanya melirik istrinya yang semringah setelah turun dari kamar Liodra. Dia melihat istrinya begitu bersemangat mengatur menu untuk menjamu tamu keluarga Joni Adiwinata.
Sebenarnya Hernowo kurang setuju karena menurutnya ini terlalu terburu-buru. Liodra butuh waktu untuk sendiri dulu membalut luka hatinya. Namun, bukan Dewanti namanya kalau tidak keras kepala. Percakapannya dengan Dewanti tiga hari lalu masih terekam di otaknya.
"Tidak ada nanti-nanti. Kemarin aku salah karena bersikap lunak dan terlalu menuruti keinginannya. Sekarang Liodra harus belajar mendengarkan orang tua. Dia harus bisa menahan egonya."
"Mama ini aneh, cinta kok dibilang ego. Cinta itu membuat orang rela melakukan apa saja, termasuk menentang orang tua."
Dewanti melotot ke arah suaminya. Sejak kapan Hernowo berani terang-terangan menyindirnya? Sadar telah salah bicara, Hernowo hanya tersenyum sambil meninggalkan istrinya sebelum ada tragedi piring terbang. Mengingat kejadian itu, Hernowo tersenyum lagi.
"Papa ngapain senyum-senyum enggak jelas gitu? Bukannya ganti baju yang rapi, sebentar lagi keluarga Pak Joni datang. Pah, mama itu sampai berkali-kali minta maaf sama Pak Joni. Kita masih beruntung karena Pak Joni mau datang kesini setelah peristiwa tempo hari."
"Pak Joni mau datang itu pasti karena Ryo yang minta, bukan karena mama sudah minta maaf. Lagian ngapain minta maaf, mama enggak salah. Liodra berhak memutuskan dengan siapa dia akan menikah. Kalau ternyata gagal, sudah takdirnya begitu. Jangan sampai setelah Liodra mau keluar kamar, mau menata hidupnya lagi, Mama memaksanya lagi. Sudah, biarkan dulu dia."
"Ih, papa ini memang susah dikasih tahu. Sudahlah, mending papa ganti baju!"
__ADS_1
"Papa sudah keren begini kok masih disuruh ganti baju." Hernowo merapikan baju batik lengan pendek dengan motif kawung. menurutnya ini busana yang tidak terlalu resmi karena mereka hanya makan malam di rumah saja.
Dewanti hampir mendamprat suaminya saat melihat Bi Darsi masuk ke ruang tengah.
"Maaf Nyonya, ada tamu."
"Tuh, Pah, mereka sudah datang. Ayo cepetan!" Dewanti menarik tangan Hernowo yang tampak malas-malasan. Baru saja Bi Darsi mau mengatakan sesuatu, tubuh Dewanti sudah menghilang di balik pintu.
"Maaf kami datang tanpa memberitahu dulu." Eva membungkukkan badannya, setelah melihat Dewanti berdiri bagai singa betina ketika melihatnya.
Satu hal baik yang disyukurinya atas kegagalan pernikahan putranya adalah Devano tidak harus mempunyai mertua seperti Dewanti.
Perempuan itu di depan seperti terlihat baik, tetapi menyimpan amarah di belakang.
"Oh, Dik Ridwan, mari masuk, silakan duduk." Hernowo mempersilakan tamunya duduk.
Ridwan dan Eva segera duduk di kursi tamu. Dewanti memandang keduanya dengan tatapan tidak suka.
"Ada urusan apa lagi? Semua sudah usai. Entah kenapa saya sejak awal merasa bahwa kita memang tidak cocok menjadi besan. Sekarang terbukti, kan?" ujar Dewanti ketus seraya melipat tangannya di depan dada.
"Maaf, kedatangan kami kemari hanya ingin menghaturkan beribu maaf, karena kejadian yang tidak pernah kami duga sebelumnya." Ridwan memulai pembicaraan.
"TIdak perlu meminta maaf. Memang begini yang seharusnya terjadi. Tadinya saya berpikir air tidak mungkin bercampur dengan minyak. Ternyata saya salah. Minyak juga jika berbeda jenis tidak boleh dicampur. Minyak zaitun tidak bisa bercampur dengan minyak kayu putih. Takdir mereka memang kudu berpisah, karena tidak mungkin ada pernikahan sedarah."
"Jeng Dewanti, bagaimana keadaan Liodra?" Devano sangat mengkhawatirkan Liodra."
Eva memajukan tubuhnya. Dia tidak peduli lagi dengan mulut pedas Dewanti.
"Liodra sangat baik kabarnya, Bu Eva. Sebentar lagi calon suami beserta keluarganya akan datang." Dewanti menyuguhkan senyum termanis sepanjang hidupnya. Eva tidak bisa menyembunykan keterkejutannya.
"Tidak usah kaget. Saya lebih tahu laki-laki yang layak mendampingi anak saya."
"Ma ..." Hernowo nyaris menghentikan kalimat istrinya yang dirasa sudah keterlaluan, tetapi Dewanti memotong ucapannya, " baiklah, saya rasa sudah cukup. Kami sedang menanti calon besan. Nah ... itu mereka sudah datang. Itu calon besan kami, Bu Eva." Dewanti bangkit dari kursi sembari tersenyum lebar melihat calon besannya datang.
Joni Adiiwinata turun dari mobil mewah mengkilap. Eva dan Ridwan tahu diri, mereka segera beranjak pergi.
Saat hendak keluar mereka berpapasan dengan Joni Adiwinata beserta istrinya. Di belakangnya, Ryo Gibran mengikuti kedua orang tuanya. Ryo tampak gagah dengan setelan jas hitam. Mereka bertiga berjalan maju tanpa menghiraukan Eva dan Ridwan.
Liodra yang turun dari lantai dua menyaksikan pemandangan yang membuat hatinya kembali disundut perih. Semua antara dirinya dan Devano memang sudah berakhir. Rasa sayang itu sudah berguguran, tetapi seharusnya bukan dengan cara seperti ini.
Pada akhirnya Liodra paham, bahwa harapan tak selalu berbanding lurus dengan kenyataan. Satu-satunya cara untuk sembuh dari lara dan kecewa adalah meluaskan ruang penerimaan.
__ADS_1