
Bisakah dunia kiamat berkali-kali? Dunia Liodra bisa. Kiamat pertamanya terjadi saat dia mengetahui bahwa calon suaminya ternyata saudara satu ayah.
Kiamat kedua adalah saat Liodra Moda yang dibangunnya dari nol tiba-tiba beralih kepemilikan dan dijual orang lain tanpa seizin dirinya. Kiamat ketiganya, sang perebut tempat bisnisnya itu ternyata adalah sahabatnya sendiri. Sahabat rasa saudara.
Hantaman demi hantaman membuat raga Liodra lemah.
Sashi sudah meminta maaf atas kepergiannya ke Paris yang terkesan diam-diam dan menusuknya dari belakang. Sashi baru sadar bahwa kebaikan Ela adalah topeng belaka. Dia mengaku menyesal telah menjual sahamnya kepada Ela. Kabar menyakitkan lainnya yang harus ditelan Liodra.
Liodra sudah menyewa pengacara untuk membantu permasalahan yang dihadapinya. Ronan Associates sedang menginvestigasi pemindahan hak Liodra Moda menjadi El Moda. Setelah diteliti, semua tanda tangan Liodra yang tertera di dalam dokumen adalah asli. Ela begitu rapi menyiapkan semuanya.
"Ibu Liodra harap bersabar, jika kami menemukan bukti kecurangan yang dilakukan saudari Ela, kami akan langsung melaporkannya ke polisi. Kasus ini cukup pelik, karena tidak ada tanda tangan Anda yang dipalsukan."
"Saya tidak sadar kalau itu jebakan. Menjelang pernikahan saya cukup stress. Saya memang menandatangani banyak berkas yang tidak saya baca sebelumnya. Ela begitu licik mengambil kesempatan."
"Di dalam beberapa video yang diberikan oleh notaris yang membuat akta perusahaan baru, ada bukti video yang menunjukkan Bu Liodra menandatangani beberapa berkas dengan sukarela. Video itu sudah dipotong, tidak ada yang utuh. Jadi secara hukum memang tidak ada kesalahan tentang masalah administrasi."
"Bagaimana dengan masalah saham? Saya tidak pernah melepas saham yang saya miliki. Saya tidak segila itu!"
"Sayangnya bukti berkata lain. Hasil penjualan saham itu sebagian sudah dibayarkan kepada beberapa pihak. Salah satunya vendor pernikahan Ibu Liodra. Semua kuitansi asli sudah kami periksa. Ketika kami konfirmasi kepada yang bersangkutan, mereka memang mengakui telah menerima pembayaran atas jasa mereka, meskipun pernikahan batal dilakukan. Semua ada di dalam kontrak kerjasama yang Ibu tanda tangani."
Liodra ingat dirinya memang menandatangani kontrak kerjasama itu. Itu perjanjian umum di mana kedua belah pihak bersedia menyelesaikan kewajiban masing-masing. Dalam kejadian batalnya pernikahan disebabkan oleh kondisi yang tidak terduga, pihaknya tetap harus melakukan kewajiban pembayaran.
"Satu lagi, ada sisa nominal yang ditransfer ke rekening Ibu, sebagai bukti sisa pembayaran."
"Maksudnya bagaimana, Pak Ronan?"
"Ibu silakan cek saldo rekening. Di dalam amplop ini ada bukti transfer sebesar tiga ratus juta. Nominal itu sebagai bukti kembalian atas penjualan saham dan aset Liodra Moda."
Liodra segera membuka ponselnya dan masuk ke aplikasi M-banking. Benar saja, ada nominal sesuai angka yang disebutkan Ronan. Seluruh persendian Liodra terasa lepas dari tempatnya.
Sekarang dia semakin yakin Ela sudah merencanakan semuanya dengan rapi.
Dia kehilangan Liodra Moda yang nilainya hampir lima milyar dan hanya menerima bagian tiga ratus juta. Hebat sekali Ela yang selama ini dianggapnya teman. Teman rasa sampah itu nyata adanya!
Dia sudah lupa berapa kali menandatangani berkas. Tentu saja tandatangan berlangsung di dalam ruangannya. Bulan kemarin adalah bulan di mana perizinan Liodra Moda sudah harus diperbarui. Ada banyak berkas yang dia tandatangani bersamaan dengan surat perjanjian kerjasama vendor pernikahan, juga sponsorship untuk beberapa acara peragaan busana.
Ela sangat paham celah kelemahannya. Untuk hal seperti itu Liodra memang tidak pernah mengecek secara detil. Sebuah pelajaran sangat mahal dari satu kata 'keteledoran'.
Liodra duduk memeluk lutut di kasur kamarnya. Sekarang dia sudah kehilangan semuanya. Cinta, harta, teman, semuanya telah dilucuti dalam satu waktu. Gadis yang terlihat makin kurus itu mengusap air matanya. Tak ada takdir yang sepedih ini, menghajarnya bertubi-tubi dari segala sisi.
Benaknya dipenuhi banyak pertanyaan, mengapa dia yang harus menanggung semua ini? "God ... why me?" isaknya sambil menengadahkan wajahnya ke langit-langit kamar.
Pertanyaan selanjutnya seperti menari di kepalanya. Untuk apa Ela melakukan semua ini? Liodra ingat saat Ela menyarankan untuk menutup sosmed. Setidaknya tidak membukanya untuk sementara waktu. Rupanya ini jawabannya. Saat kembali berselancar di akun miliknya, seluruh sosmed milik Ela hilang tanpa jejak.
Dewanti yang mendengar cerita Liodra sangat geram. Dia sudah berniat melaporkan Ela ke polisi, tetapi Liodra menahannya.
__ADS_1
"Tunggu investigasi dari tim Pak Ronan dulu, Ma. Aku juga salah.karena terlalu percaya padanya. Jangan sampai berita ini terblow-up media."
"Justru itu bagus untuk karier kamu, Liodra. Kawan-kawan dan pelangganmu ada banyak artis. Ini akan menjadi media promo paling efektif. Posisimu sekarang sangat menguntungkan untuk speak up." Dewanti meyakinnya.
"Jika aku bertemu media, apakah mama yakin mereka hanya akan bertanya tentang butik? Mama yakin mereka tidak akan mencari tahu lebih jauh tentang pernikahan yang batal?" sergah Liodra dengan nada tinggi.
"Tapi sayang ....."
"Kenapa dalam kondisi begini yang ada di pikiran mama justru bisnis? Mama benar-benar kelewatan!" Liodra berteriak.
"Liodra, bukan begitu. Dengerin mama dulu!" Dewanti berteriak memanggil nama anaknya.
Liodra tidak peduli dengan teriakan mamanya. Dia menyambar kunci mobil di meja lalu bergegas pergi meninggalkan rumah. Hatinya benar-benar hancur.
Tidak ada orang yang mengerti dirinya. Dulu ada Devano yang menjadi penampung semua keluh kesah juga duka, dan kabar bahagia. Separuh jiwanya telah pergi.
Angin sore yang embusannya tak terlalu kencang memainkan rambutnya. Pinggir pantai Ancol selalu menjadi tempat favoritnya di kala jiwanya lelah. Bunyi ombak yang menerjang batu karang, kemudian pecah airnya hinga ke tepian adalah suara alam yang terdengar bak kidung menenangkan. Berada di salah satu cottage dengan pemandangan sunset jingga di cakrawala, sedikit menguatkan batinnya.
Liodra memilih menginap di cottage yang belakangnya terhubung dengan laut. Hidup sudah tak berpihak padanya. Entah kesalahan apa yang dia lakukan sampai musibah beruntun mendatanginya. Pikirannya terus terbolak-balik. Apa gunanya bergelut dengan masa, menyalahkan kuasa?
Pintunya diketuk perlahan.
"Masuk" jawabnya.
"Iya betul, saya kelaparan. Makasih banyak, Mbak. Eh ... Ini untuk tip," ujar Liodra sambil menyerahkan selembar uang berwarna biru.
"Maaf, kami dilarang menerima tip dari tamu." Gadis berkuncir itu tersenyum manis setelah meletakkan baki di meja.
"Mbak, maaf kalau boleh tanya, kaki mbak kenapa?"
"Oh ini, sebulan lalu saya mendapat musibah. Kesrempet orang pas naik motor. Saya terjatuh. Kaki saya kejatuhan motor." Gadis itu kembali tersenyum.
"Belum sembuh kenapa Mbak sudah kerja?" selidiknya ingin tahu.
"Ini sudah sembuh, hanya sedikit pincang. Kalau tidak dilatih untuk gerak nanti otot-ototnya kaku, begitu kata Dokter."
"Trus yang nabrak gimana? Kabur atau bertanggung jawab?" tanya Liodra lagi.
"Kabur, Kak. Ya sudah enggak masalah. Dia pasti tidak sengaja. Mungkin ini peringatan dari Allah biar saya lebih berhati-hati. Mungkin juga teguran karena saya banyak dosa."
"Maksudnya dosa apa?" Liodra memandangi gadis yang mungkin usianya sama dengan dirinya.
"Lha wong kita hidup ini pasti banyak dosa. Mungkin karena saya ndak nurut sama Ibu. Dari dulu Ibu melarang saya pacaran. Eh saya bandel juga."
'Emangnya kenapa enggak boleh pacaran? Bukannya sebelum menikah kita harus saling mengenal dulu?"
__ADS_1
"Kata ibu banyak mudhorotnya, Kak. Maksudnya enggak ada manfaatnya, dapat dosa iya. Pacarannya setelah menikah saja, lebih asyik kata ibu. Saya pas keserempet itu sedang diboncengin pacar saya. Hihi ... ya enggak ngepasin juga, tapi setelah saya pikir-pikir ibu ada benarnya." Gadis itu menutup mulutnya dengan tangan kiri, menyembunyikan senyumnya yang malu-malu.
"Trus sekarang Mbak udah mau menikah?"
Liodra tidak tahu bisa sekepo ini dengan seseorang yang baru dikenalnya. Dia hanya butuh teman bicara.
"Nah ini saya enggak ngerti, lha wong setelah kejadian kecelakaan itu dia malah enggak pernah menghubungi saya lagi. Nomornya juga udah ganti. Kena ghosting saya ini, Kak."
Lagi-lagi gadis itu tertawa lebar seakan tak ada beban.
"Duh maaf Mbak Ranti, saya minta maaf sudah banyak tanya. Mbak Ranti korban ghosting tapi malah terlihat happy?" Dia bisa tahu nama gadis itu dari nametag hotel yang tersemat di dada kiri Ranti.
"Lha iya, saya justru bersyukur karena tahu lebih awal bahwa dia memang tidak seserius itu. Kami sama-sama sibuk, Kak. Saya sibuk menjahit menyatukan. Dia sibuk menggunting memisahkan. Kami memang ditakdirkan segampang itu untuk patah. Eaaa."
Liodra tak sanggup menahan ketawanya, Ranti juga tertawa keras, sambil memegang baki di depan dada. Mereka tenggelam dalam candaan receh yang hangat.
"Eh Mbak Ranti, ini bukan tip dari tamu. Ini pemberian seorang teman karena Mbak Ranti sudah menemani saya ngobrol. Tolong diterima, ya."
Liodra mengambil beberapa lembaran merah dari dalam dompetnya dan menggenggam tangan Ranti, memastikan gadis itu menerima pemberiannya.
"Aduh jangan, Kak."
"Enggak papa, santai saja."
"Jangan bilang-bilang maksudnya. Terima kasih sekali lagi, Kak ...."
"Liodra, nama saya."
"Kak Liodra makasih atas pemberiannya. Semoga Kak Liodra sehat terus dan dimudahkan semua urusan. Saya permisi. Jika ada keperluan tentang urusan makanan bisa telepon dari nomor tadi, dijamin Kak Liodra tidak akan kelaparan lagi."
"Oke, siap Mbak Ranti. Selamat bertugas lagi, semoga kakinya lekas sembuh, dan segera dapat pacar baru."
"Eh ... do'anya salah Kak Liodra. Semoga lekas dapat suami gitu. Biar ibu saya senang. Kalau buat saya yang penting ibu senang, saya juga ikut senang. Maksudnya saya siap bersenang-senang, he he ... ops maaf, Kak, becanda," ralat Ranti. Liodra tidak menyangka jika gadis manis di hadapannya ini ternyata kocak juga.
"Oke, diralat do'anya. Semoga lekas dapat jodoh yang bikin semua senang dan kamu bisa segera bersenang-senang." Tawa mereka pecah lagi.
"Ha-ha-ha, Kak Liodra ini senang bercanda rupanya. Selamat menikmati nasi goreng seafood, jika keasinan itu bukan kesalahan koki, tetapi kesalahan saya yang ngebet pengen kawin, silakan nanti keburu dingin."
Liodra tersenyum lebar sambil mengantar Ranti ke pintu. Berbincang sejenak dengan Ranti membuat moodnya membaik.
Tiba-tiba dia teringat Ryo yang sampai sekarang masih menanti jawabannya. Diambilnya ponsel di meja lalu dia mengetik sesuatu.
[Saya siap dilamar, Tuan. Saya ingin kita menikah secepatnya.]
Dari obrolan dengan Ranti, Liodra menyadari ada yang sedang berjuang menunggu jodoh datang. Sedangkan dirinya lebih beruntung karena jodoh sudah terhidang. Dari semua kejadian tak mengenakkan yang dia alami, ada satu orang yang dikirim Tuhan. Ryo dihadirkan dalam hidupnya pasti bukan tanpa alasan.
__ADS_1