
Persiapan pernikahan Liodra dan Devano sudah hampir beres. Wedding Organizer profesional yang ditunjuk Dewanti, melakukan tugasnya dengan baik. Seminggu lagi acara sakral akan digelar. Undangan sudah disebarkan. Ada seribu undangan dari relasi bisnis Hernowo, kawan-kawan Dewanti, serta teman-teman Liodra.
Dewanti sedang sibuk memastikan semua persiapan sesuai yang dia inginkan. Dirinya tengah asyik chat WA dengan Aniza, pemilik WO yang juga sahabatnya, saat sebuah panggilan masuk dari nomor yang sangat dikenalnya. Nomor pemilik perusahaan tempatnya bekerja, Joni Adiwinata, ayah Ryo Gibran Adiwinata.
"Selamat siang, Pak Joni." Dewanti berusaha bersikap formal, meskipun degub jantungnya mulai meningkat.
"Bu Dewanti, saya sudah menerima undangan pernikahan Liodra. Saya pastikan bisa hadir. Saya ingin melihat pria mana yang lebih pantas menikahi putrimu selain anakku."
Dewanti terdiam sesaat, dia bingung harus menjawab apa.
"Maaf Pak Joni, sejujurnya tidak ada pria yang lebih pantas untuk Liodra selain Ryo. Hanya saja ... saya orang tua yang lemah. Ini kesalahan saya karena tidak bisa mendidik Liodra dengan baik. Saya mohon maaf, sekali lagi seandainya saya punya pilihan. Ternyata Liodra memilih pria yang sulit untuk saya terima. Saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Maafkan saya, Pak Joni."
Joni Adiwinata tersenyum kecut mendengar perkataan Dewanti. Harga dirinya terusik melihat undangan pernikahan yang terhampar di atas meja kerjanya.
Dia sudah meminta baik-baik kepada Dewanti agar mendukung dan mengarahkan Liodra untuk memilih Ryo Gibran. Sebelumnya, berkali-kali dirinya membujuk Ryo Gibran supaya mencari wanita lain, tetapi putra bungsunya itu terlanjur menambatkan hati pada Liodra.
Joni bahkan sudah menawarkan saham perusahaan jika Dewanti menjadi besannya. Sudah cukup lama ia menunggu jawaban dari Dewanti, tetapi yang datang sebuah undangan. Baginya ini penghinaan.
"Terserah Bu Dewanti, sebenarnya masih ada waktu jika mau berubah pikiran. Setelah ini tidak ada lagi kesempatan kedua. Selamat siang."
"Selamat si- ...." Belum sempat Dewanti meneruskan ucapannya, sambungan ponsel terputus. Dewanti hanya mampu menghela napas panjang. Dia tahu mungkin saja ini keputusan yang salah, tetapi dia juga paham dari mana Liodra mewarisi sikap keras kepala. Terkadang dia kesal pada dirinya sendiri.
Siang dan malam datang bergantian, benderang berubah menjadi gelap ketika mentari beristirahat digantikan rembulan. Satu minggu sebelum pernikahan, Liodra bertemu Devano di sebuah cafe tempat mereka biasa melepas penat. Setelah pertemuan ini, Liodra tidak boleh menemui Devano lagi, dia akan segera memasuki masa pingitan.
"Sayang kamu baik-baik, ya, hanya seminggu lagi aku akan pulang," kata Liodra sambil memandang mesra ke arah Devano. Sejak berpacaran, ini perpisahan terlama. Bahkan saat lebaran tiba, pada hari ketiga mereka telah bertemu dan saling mengunjungi.
"Pulang? Pulang kemana maksud kamu? Pulang ke rumah kita? Oh ralat, rumah kontrakan?" Mereka memang sepakat memulai dari awal, mengontrak rumah di perumahan yang terjangkau.
"Pulang ke tempat paling nyaman." Liodra terus mengembangkan senyumnya sambil mengangkat alisnya berkali-kali membuat Devano keki.
"Di manakah tempat ternyaman itu?" Devano menirukan lirik lagu seperti yang sering ia dengarkan di mobil. Lagu Rahasia Perempuan milik Ari Lasso yang ia ubah liriknya.
__ADS_1
"Di mana lagi tempat ternyaman setelah menikah selain di pelukanmu."
Devano tergelak bahagia mendengar perkataan Liodra. Satu hal di antara sekian banyak hal yang dia suka dari Liodra adalah pacarnya ini terkadang bisa sangat romantis.
"Aduh, Love ... dadaku sesak." Tiba-tiba Devano mengaduh sambil memegang dada kirinya.
"Kenapa, Sayang, dada kamu kenapa?" Liodra cemas melihat Devano meringis kesakitan.
"Sakit, dadaku sakit. Sepertinya aku sesak napas."
"Iya kenapa bisa sesak napas? Duh ... jangan bikin aku panik, deh." Liodra memegang dahi Devano yang sedang menunduk memegang dadanya. Sepertinya tadi dia baik-baik saja.
"Beneran ini sakit banget di sini, aku sesak napas dan kehabisan udara karena rinduku akan segera terpenjara."
Perlahan Devano mengangkat wajahnya, lalu menatap perempuan yang disayanginya. Perempuan kedua yang dengannya ia rela mengorbankan apa pun, setelah ibunya.
Mendengar ucapan Devano, wajah Liodra yang semula panik berangsur cemberut saat menyadari dirinya sedang digoda kekasihnya.
"Ih apaan, sih, gombal. Lihat kamu sekarang pintar ngegombal," protes Liodra kesal.
"Ya tetep garing."
"Katanya suka yang garing."
Pandangan mereka bertemu, lalu meledaklah tawa mereka.
"Dasar enggak jelas," cetus Liodra.
"Dasar enggak paham." Devano tak mau kalah. Mereka berdua tertawa lagi. Candaan receh seperti itu yang membuat keduanya semakin merasakan ikatan kuat tak terpisahkan.
"Sayang, aku masih kayak enggak percaya seminggu lagi kita akan menikah. Terkadang aku ragu dan nyaris putus asa, apakah kita bisa melewati badai ini bersama. Ternyata aku tidak salah memperjuangkan kamu. Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa kamu. Aku siap kalau kita harus memulai semuanya dari nol." Liodra mengurai rasa.
__ADS_1
Devano menggenggam tangan gadis yang selalu memberinya kekuatan untuk segera melabuhkan perasaan. Bersama Liodra, langkahnya lebih terarah. Gadis pemilik mata indah itu mampu menerbangkan angannya jauh ke tempat yang belum pernah ia kunjungi. Gadis manja itu juga memberinya banyak mimpi sekaligus menanamkan keyakinan mereka bisa mewujudkan mimpi itu.
"Love, padamu aku jatuh cinta sedalam palung, terbenam pada dasar tak berujung. Meskipun ditenggelamkan lautan, terombang-ambing layaknya buih air tanpa kepastian, aku sangat yakin ada dermaga tempat kita saling menautkan rasa. Itulah alasan aku bertahan dan berjuang bersamamu. Meskipun kemarin terasa mustahil, sekarang kita akan bersama, tak ada lagi yang bisa memisahkan kita."
Liodra tak mampu berkata-kata lagi. Dulu Devano bukan pria romantis, bicara seperlunya dan hampir tak berani menatapnya. Sekarang Devano bahkan lebih jago merangkai kata-kata yang membuatnya bukan hanya nyaman, tetapi juga seperti enggan pulang.
"Kamu yakin tidak akan meninggalkan aku dalam keadaan apa pun?" tanya Liodra. Dia tak bosan menanyakan itu meskipun ia sudah tahu jawabannya. Dia selalu ingin mendengarnya lagi dan lagi.
"Ucapku mungkin tidak terdengar nyata, tapi kau harus percaya, tanpamu aku tak akan menemukan jalan pulang. Apakah kamu mau aku tersesat selamanya?" Devano memandang Liodra yang mendadak tersipu malu.
"Kamu tahu tempat tersesat yang tidak akan pernah membawamu pulang? Di sini, di hatiku." Tangan kanan Liodra menunjuk dadanya. Keduanya berpandangan cukup lama.
"I love you." Liodra menatap lekat mata pria yang membuatnya merasa menjadi wanita sempurna, mencintai dan dicintai begitu hebatnya.
"I love you, more." Devano seperti sedang menikmati pemandangan indah pada dua telaga teduh. Belum pernah ia merasakan begitu khawatir terhadap rasa. Rasa kehilangan, takut ditinggalkan.
Alunan suara Armand Maulana terdengar syahdu di cafe. Suasana malam itu sangat membuat keduanya ingin berlama-lama bersama.
'Akulah penjagamu
Akulah pelindungmu
Akulah pendampingmu
Di setiap langkah-langkahmu'
Malam semakin larut, meski rasanya berat berpisah, Devano mengajak Liodra pulang.
"Aku tak mau kamu diomeli mamamu karena terlambat pulang. Ingat, rindu ini hanya sanggup menunggu sepekan. Tidak lebih."
"Ya udah ayo kita pulang, makin malam omonganmu makin ngaco aja." Kali ini Liodra segera menarik tangan calon suaminya.
__ADS_1
Devano menyetir mobil dengan kecepatan sedang. Tangan kiri mereka saling menggenggam, seolah takut terpisahkan. Pada sebuah jalan sepi seekor kucing tiba-tiba melintas berlari kencang menyeberang jalan. Devano menginjak rem mendadak. Liodra berteriak keras diikuti decit bunyi ban menggigit jalanan.