BARA MASA LALU

BARA MASA LALU
Harga Diri Terbanting


__ADS_3

[Wahai hati bersabarlah. Tak ada perkara yang tidak dapat kau tanggung jika memang sudah digariskan untuk kau lalui. Jika temu masih semu, aku rela mengulang rindu]


Liodra menulis status di Instagram miliknya. Hatinya kosong. Kehilangan kontak dengan Ryo yang awalnya dimaksudkan untuk saling menyiapkan diri justru menjadi petaka menjelang hari pentingnya.


Begitu sulitkah mewujudkan pernikahan yang bahkan dia sendiri tak berharap muluk-muluk? Pernikahan yang dia niatkan untuk benar-benar memulai hidup baru tanpa 'tapi' kini terancam gagal lagi. 


"Jeng Tari, bagaimana? Sudah ada kabar tentang Ryo? Ini sudah dua puluh empat jam sejak Ryo menghilang."


Dewanti begitu cemas dengan hilangnya sang calon menantu. Apa jadinya jika pernikahan ini gagal lagi? Apa yang harus dijelaskan kepada para tamu?


Dia mondar-mandir tak keruan menahan cemas di ruang tengah sembari menanyakan kabar Ryo lewat telepon kepada calon besannya.  


"Mobilnya sudah ditemukan di tempat dia sering hang out dengan kawan-kawannya, Jeng Dewanti. Ada yang melihat Ryo pergi bersama seorang perempuan. Saya sangat yakin Ryo diculik. Suami saya sedang mengurus semuanya. Nanti saya kabari lagi jika ada perkembangan."


Lestari mama Rio tak kalah panik. Suaminya orang penting. Bisa jadi ada lawan bisnis yang sengaja ingin mempermalukan keluarga mereka. 


Dewanti menghela napas panjang. Kutukan apa lagi ini? Apakah ini karena dosa-dosanya di masa lalu? Setelah mendapatkan kabar Ryo menghilang, Dewanti tidak bisa tidur. Dia khusyuk berdo'a di sepertiga malam. Satu hal yang tidak pernah dilakukannya selama ini.


Demi kebahagiaan putrinya, Dewanti bertekad melakukan apa saja. Pada akhirnya Dewanti mulai menyadari tak sepatutnya harapan diletakkan pada selain Tuhan. 


"Ya Allah, jika ini adalah azab untuk dosa-dosaku di masa lalu, aku ikhlas menanggungnya. Jangan anakku yang harus menderita. Dia tidak bersalah. Liodra sudah cukup bersedih atas hal yang harus ditanggungnya dari dosaku di masa dulu. Aku yang bodoh. Selamatkan Ryo calon menantuku. Selamatkan kami semua dari fitnah dunia yang keji ini, Ya Allah." 


Dewanti meratap, menangis dan memohon supaya pernikahan Liodra tidak gagal lagi. 


***


Devano membaca status Instagram Liodra. Meskipun telah diblokir oleh Liodra, mudah baginya membuat akun baru. Semalam Sashi mengabarkan berita penting. Calon suami Liodra tiba-tiba menghilang. Ini bukan hal yang sepele.


Berkali-kali Devano menghantamkan tangannya ke dinding. Hari ini dia ada janji bertemu kekasihnya. Rasanya dia ingin menunda pertemuan itu, tetapi ada hal yang lebih mendesak untuk dikatakan. 


Devano menemui Zara di restoran tempat mereka sering bertemu. Sebuah restoran steak yang luas dan dingin. Di sana dia bebas menceritakan semuanya.

__ADS_1


Tentang kegagalan pernikahannya dengan Liodra, juga tentang Baskoro Setyadi. Mendung menggelayut di langit mengiringi perjalanan Devano menuju resto yang letaknya agak tersembunyi.


Zara terlihat cantik dengan setelan kemeja panjang kuning dan celana hitam serta sepatu high heels hitam mengkilap. Sebuah scarft kuning gading bermotif menghias lehernya yang putih.  Dia menyambut Devano dengan senyuman hangat. 


"Jadi Pak Baskoro ayah kandungmu? Kalian belum pernah bertemu selama ini?" tanya Zara setelah Devano usai menceritakan kisah hidupnya. 


"Dia mungkin tidak tahu aku ada, terlahir ke dunia." Devano menarik napas panjang. 


"Dev, aku ikut prihatin. Sekarang apa rencanamu? Aku pasti akan mendukungmu." 


Zara tahu Devano sedang menghadapi masa sulit. Dukungan darinya pasti menguatkan pemuda yang kini mengisi hatinya.


"Aku akan ikut papamu untuk bertemu Baskoro. Aku ingin melihat wajahnya, melihat manusia yang menjadi penyebab semua kekisruhan ini. Zara, tentu saja aku bersyukur bertemu denganmu. Jika aku jadi menikah dengan Liodra, mungkin aku tidak di sini denganmu. Zara, aku ingin kita menikah secepatnya." 


Devano menggenggam tangan Zara. Gadis itu hanya terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dirinya juga sudah merasa Devano bisa menjadi suami yang baik, tetapi tidak secepat ini. 


"Aku sudah berniat menikahimu sebelum kamu bercerita tentang rumah itu. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Zara." Devano mencoba menjelaskan.


"Dev, aku tahu buatmu ini tidak mudah. Jika ini adalah lamaran, kamu sungguh tidak sopan dan tak ada romantisnya sama sekali. Meskipun begitu aku tetap akan bilang iya. Iya Devano, aku mau menikah denganmu."


Zara tersenyum lebar. Kedua tangannya menggenggam erat tangan kekasihnya. Zara tak kuasa lagi menyembunyikan senyum terindah miliknya. Devano melihat senyuman itu. Baginya hidup yang dijalaninya sekarang hanya berpindah dari nyaman ke nyaman yang lain. Sekarang Zara adalah tujuan akhir. 


Devano menatap Zara dalam-dalam sebelum berpaling mengalihkan pandangannya ke samping, menyembunyikan kaca-kaca yang mulai menutup pandangan. Kabut tipis di matanya berubah menjadi gerimis. Di luar, sebentar lagi hujan datang. 


***


Waktu tak pernah mengenal kata mundur. Meski terkadang Nerwani ingin sekali mengulang saat dirinya muda dulu. Cintanya kepada anak pemilik hotel tidak bertepuk sebelah tangan.


Pemuda yang baru lulus kuliah itu mengerjakan proyek untuk renovasi hotel tempat Nerwani bekerja. Gadis manis yang berdiri di front office siap menyuguhkan senyum kepada siapa saja tamu yang datang. 


"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya ramah kepada pemuda tampan berpakaian santai.

__ADS_1


Celana jeans dan t'shirt yang tidak dimasukkan. Sepatu kulit mungkin satu-satunya barang yang terlihat mahal menempel di tubuhnya. Tatanan rambut  Baskoro dibiarkan agak gondrong semaunya, jauh dari kesan rapi. Di belakangnya dua pria berpakaian resmi berkemeja panjang dan celana kain  mengikuti. 


"Saya mau melihat-lihat kondisi hotel ini. Sepertinya ada banyak kerusakan yang harus diperbaiki."


"Maaf apakah bapak sudah ada janji dengan manager kami? Mohon maaf dengan bapak siapa? Biar saya hubungi manager kami. Silakan menunggu sebentar."


"Hallo Mas Baskoro! Wah ... Kok enggak ngabari kalau sudah sampai."


Nerwani terkejut melihat manager hotelnya menyambut kedatangan tamu itu. Selanjutnya dia tahu ternyata pemuda itu adalah anak sang pemilik hotel yang baru selesai menuntaskan program S2 Arsitektur di Jerman setelah berkasak-kusuk dengan teman satu meja. 


Nerwani yang polos, Baskoro yang haus kehangatan wanita polos. Keduanya menjalin hubungan diam-diam. Meskipun akhirnya keluarga Baskoro tahu. Ibu Baskoro sangat murka. Perempuan ningrat itu mendatangi hotel dan melabrak Nerwani.


"Kamu cuma perempuan murahan yang menjadi pelepas dahaga sesaat bagi Baskoro. Sampai kapan pun saya tidak akan membiarkan kamu menjadi duri. Mulai sekarang kamu bukan karyawan hotel ini lagi. Kemasi barang-barangmu dan menjauhlah dari Baskoro. Dia sudah kami siapkan menjadi  penerus bisnis keluarga besar Hardjono  Setyadi. Jadi kalau ada yang menghalangi kami pasti akan menyingkirkannya." 


Hinaan di depan kawan-kawannya itu membuat harga diri Nerwani terbanting.  Dia segera berlari membereskan barang-barangnya dan meninggalkan hotel dengan air mata tertahan.


Cahaya matahari sedang terik-teriknya, tetapi Nerwani tak menghiraukan. Panasnya jalanan ibu kota masih lebih panas api yang sedang membakar dadanya. Di sepanjang jalan Nerwani mengutuki Baskoro dan keluarganya. 


Setelah dipecat dari hotel tempatnya bekerja, Nerwani menjadi pengangguran. Baskoro yang diharapkan membantu pada situasi sulit ternyata tak pernah menemuinya lagi. 


Baskoro pergi seperti senja, menyisakan kegelapan tiada tara. Menjatuhkan jiwa Nerwani tanpa daya. Meninggalkan kenangan yang membekas raga. Nerwani berharap kembali pun rasanya percuma, takdir enggan mereka bersama. 


Perempuan yang sedang lelah menanggung hidup beban cicilan rumah dan biaya hidup berdua dengan ibunya itu tak punya pilihan lain selain menerima pekerjaan yang mudah.


Hanya dengan jalan pintas menerima job dari hotel ke hotel Nerwani bisa bertahan hidup. Perlahan-lahan Nerwani mengumpulkan uang dari pekerjaan menjajakan tubuhnya. Sampai akhirnya dirinya bertemu dengan papa Marcela. Ingatan yang berputar pelan di kepala memantik reaksi otaknya. Nerwani menggeleng berulang-ulang. 


Sudarsih datang membawa makanan untuk makan siang Nerwani. Saat itu dia melihat Nerwani menghentakkan tubuhnya di atas kursi roda sambil menggelengkan kepalanya.


"Ela! Kemarilah! Lihat, ibumu sudah bisa menggerakkan tubuhnya!" 


 

__ADS_1


__ADS_2