
Pada kegelapan di jalanan yang kanan kirinya banyak pepohonan, seekor kucing hitam tiba-tiba melintas, membuat Devano reflek menginjak rem mobil kuat-kuat. Mobil berhenti mendadak, membuat mobil lain di belakang mereka oleng dan kehilangan keseimbangan. Mobil abu-abu metalik itu berbelok dengan kecepatan tinggi lalu menabrak pohon mahoni di pinggir jalan.
Devano membuka pintu mobilnya dan segera berlari mendekati pengemudi yang ternyata sedang membuka pintu dan memandangnya dengan tatapan marah.
"Hei kampret kamu! Bisa nyetir tidak? Seenaknya main ngerem, gue hampir celaka, tau!" bentak pria berbadan besar itu.
"Maaf, Bang. Ada kucing lari mendadak, saya tadi berusaha menghindari. Sekali lagi saya mohon maaf. Abang tidak apa-apa?"
"Lihat ini! Mobil gue nabrak pohon, bumpernya ringsek. Lu tanggung jawab!" Lelaki itu membentak Devano yang segera memeriksa bagian depan mobil.
"Ini bagian depan memang agak ringsek sedikit. Saya akan bertanggung jawab. Saya minta nomor ponsel Abang, besok pagi saya bereskan semuanya."
"Sudah, tak perlu banyak bacot! Lu bayar aja ganti rugi, itu ringseknya parah! Bayar lima juta, kita tak ada urusan lagi!" gertak pria itu.
Devano mengepalkan tangan. Ini namanya pemerasan. Bumper depan mobil itu harganya tidak sampai sejuta, ditambah biaya bengkel pun tak akan sebanyak itu. Dia hapal harga sparepart mobil, tahu kisaran harganya.
"Abang kira-kira dong. Ini cuma lecet doang. Dibenerin dikit bisa, ganti bumper juga harganya paling sembilan ratus ribu. Saya kasih dua juta," tawar Devano.
"Lu udah bikin mobil gue penyok, sekarang mau ngatur gue, mau lu apa?" Lelaki itu mulai maju mendekati Devano yang sudah bersiaga.
Liodra yang melihat gelagat tidak baik segera menarik tangan Devano supaya mundur.
"Saya minta nomor rekening Abang sekarang. Biar saya yang transfer." Liodra segera berinisiatif menengahi perdebatan yang menjurus jadi keributan.
__ADS_1
"Nah, cewek lu lebih pintar!" Lelaki itu segera memberikan nomor rekeningnya. Liodra memencet ponselnya. Tidak sampai lima menit, pria itu mengecek sesuatu di ponselnya lalu tersenyum penuh arti ke arah Devano. Dia segera melajukan mobilnya, menghilang dalam kegelapan. Devano sempat memandang pria berjaket cokelat dengan tulisan 'King' di belakangnya.
"Kenapa kamu langsung kasih uangnya? Harusnya kamu ngomong dulu sama aku, Love," protes Devano. Liodra tak menyangka Devano bersikap seperti itu. Seharusnya dia berterima kasih karena dirinya bertindak di waktu yang tepat.
"Sayang, kamu enggak lihat orang itu mau menghajarmu? Sudahlah, ayo kita pulang. Benar kata Sashi, biasanya sebelum pernikahan banyak kejadian tak terduga terjadi. Yang penting kita selamat," cetus Liodra sambil memasuki mobil lalu membanting keras pintunya. Devano segera menyadari kesalahannya.
"Love, maaf ... maaf aku bukan bermaksud begitu, aku enggak marah. Aku cuma kesal sama orang tadi. Dia maksa, pemerasan itu namanya." Devano berteriak sambil memasuki mobil.
"Sayang, buatku keselamatan kamu itu lebih penting." Mereka berpandangan.
Ternyata Liodra mengkhawatirkannya sebesar dirinya yang sering dihinggapi perasaan takut kehilangan. Melihat reaksi Liodra yang tanpa berpikir panjang berupaya melindunginya, ia sadar telah menemukan seseorang yang pada senyumnya dia merasa hangat, dan pada bola matanya dia melihat cinta tanpa syarat.
Devano teringat ibunya juga sempat mengatakan hal yang sama seperti yang diucapkan Liodra barusan. Semakin mendekati hari pernikahan, semakin banyak cobaan yang datang Perlahan pria muda itu menjalankan mobilnya. Kejadian tadi cukup membuat mereka berdua membisu dan berkelana dengan pikiran masing-masing hingga Liodra sampai di rumahnya.
***
Mendekati hari pernikahan Liodra semakin sibuk. Dewanti memandang putrinya yang sudah mulai perawatan pra nikah. Sehari sebelum hari pernikahan, prosesi siraman akan dilaksanakan.
Rasanya baru kemarin Dewanti mengatakan kebenaran tentang siapa ayah kandungnya. Dewanti menepati janji kepada Hernowo, bahwa Liodra harus tahu tentang ayah kandungnya. Saat pertama kali diberitahu, Liodra sempat bersemangat menelusuri jejak Baskoro. Tetapi karena tak kunjung menemukan pria yang kata mamanya menghilang, Liodra menyerah. Sesekali dia sempat berpikir tentu akan lebih menyenangkan jika yang menjadi wali nikahnya adalah ayah kandungnya, bukan wali hakim seperti sekarang.
Acara siraman segera dimulai. Dewanti berasal dari Jawa, ibunya perempuan Solo asli. Acara siraman Liodra berlangsung sangat khidmat. Berkali-kali Dewanti menyeka air matanya karena tak kuasa menahan haru.
Urutan upacara siraman dimulai dengan sungkeman. Liodra keluar dari kamar rias, kemudian sungkem kepada kedua orang tuanya untuk memohon doa restu. Dari sini Dewanti mulai tak kuasa menahan tangisnya. Begitu juga Liodra. Hernowo sesekali mengusap matanya yang memerah.
__ADS_1
Setelah sungkeman Liodra diantar ke tempat siraman. Gadis cantik yang memakai roncean melati di dadanya itu duduk di atas bangku yang beralaskan tikar bangka atau tikar pandan. Kemudian dimulai upacara siraman pertama oleh neneknya, lalu Dewanti dan Hernowo yang perlahan menyirami tubuh Liodra bergantian.
Rangkaian acara diikuti Liodra dengan sepenuh hati. Hari ini adalah hari terakhirnya melajang. Besok pagi jam delapan jadwal akad nikahnya akan dilaksanakan. Berkali-kali gadis yang terlihat cantik dengan kebaya dodot itu berkomat-kamit melafadzkan do'a.
Seusai rangkaian acara Liodra kembali ke kamarnya. Sashi menjadi sahabat yang selalu mendampingi semua prosesi. Sedangkan Ela, dia baru saja datang ketika acara berakhir.
"Sorry Princess, gue ngurus mama dulu. Tadi pagi nenek jatuh di kamar mandi, jadi gue juga kudu nganterin ke klinik," kata Ela sembari cipika cipiki dengan Liodra.
"Mama dan nenek sakit, kenapa lo masih datang ke sini? Sorry, maksud gue gimana keadaan mereka? Ela, thanks lo udah hadir."
Liodra khawatir. Dia tahu kondisi mama Ela yang hanya bisa terbaring di atas ranjang. Mama Ela tidak bisa diajak berkomunikasi, juga tidak bisa bangun dari ranjang akibat stroke yang dideritanya.
"Kita udah janji enggak bakal ngelewatin satu pun rangkaian nikahan elu. Mereka udah ada yang menjaga. Bi Darsih tadi kupanggil ke rumah. Jadi aman untuk aku tinggal. Ini hari terakhir kita bertemu sebelum elu berstatus nyonya Devano. Gimana, semua lancar, kan?" tanya Ela. Kedatangannya ingin memastikan semua berjalan seperti seharusnya.
"So far lancar, hanya saja beberapa hari lalu Devano sempat ada masalah di jalan. Sashi, Ela, do'ain besok acaranya lancar. Gue deg-degan, sumpah. Hari ini aja rasanya udah kayak gini, perut gue kayak diaduk-aduk, gimana besok." Liodra berkali-kali menarik napas panjang. Ela mendekati sahabatnya, lalu memegang kedua tangannya.
"Princess, semua akan baik-baik saja. Oh ya, lo belum menemukan info tentang bokap?" tanya Ela ingin tahu.
"Gue udah suruh orang buat cari jejaknya, tapi belum ketemu." Liodra menjawab dengan nada putus asa.
"Princess, boleh gue pinjam foto bokap elu? Yah, siapa tahu ada yang kenal. Gue dengar kabar katanya bokap elu, Pak Baskoro terakhir tinggal di Menteng. Gue ada temen di sono. Boleh gue pinjam fotonya? Maksudnya fotonya mau gue foto dari ponsel," imbuh Ela gugup.
Liodra mengangguk lalu mengambil foto Baskoro dari tasnya. Ia menyodorkan foto itu kepada Ela. Beberapa kali Ela menjepret foto Baskoro muda dengan ponselnya. Foto ini akan menjadi kunci kemenangannya. Besok, semuanya akan berakhir.
__ADS_1