
Sudarsih terus menangis tersedu-sedu di samping Nerwani yang berada di rumah sakit. Beruntung Sudarsih segera meminta bantuan warga sekitar, hingga mereka memanggil taksi online dan mengantarkan Sudarsih ke rumah sakit.
“Kenapa harus berakhir seperti ini, Nduk? Nerwani, kenapa kamu melakukan hal bodoh seperti ini?” Sudarsih terus memegang tangan Nerwani.
Nerwani sudah berputus asa dan ingin mengakhiri hidup, tetapi ternyata Tuhan masih memberikan kesempatan kepadanya untuk bernapas.
“Asep dan Marcela ditahan polisi, sekarang kamu juga ingin mengakhiri hidup, sebenarnya apa dosa yang harus ditanggung kelurga kita? Kenapa semua berakhir seperti ini?” Tangis Sudarsih tak juga reda.
Nerwani berusaha menggerakkan jari-jemarinya, meskipun dengan usaha yang sangat keras, jari jemari itu seolah memang terpaku tanpa bisa digerakkan lagi.
Sementara itu di rumah sakit berbeda, Baskoro juga kondisinya semakin kritis. Devano dan Liodra menunggui Baskoro. Keduanya hanya bisa bersitatap tanpa berbicara apa-apa.
Dewanti yang menanti Liodra pulang tak sabar lagi karena Liodra tak menjawab panggilan teleponnya. Perempuan itu menyusul ke rumah sakit bersama suaminya. Liodra tersentak kaget melihat kehadiran mamanya.
“Ma!” Liodra menghambur ke dalam pelukan Dewanti. Saat itu mata Baskoro terbuka. Dia melihat ke sekeliling. Alangkah terkejutnya dia saat melihat Dewanti yang berada di hadapannya.
“De-wan-ti,” bisik Baskoro lirih.
Dewanti menganggukkan kepalanya. “Aku tak pernah membayangkan bertemu denganmu dalam keadaan seperti ini, Baskoro.” Dewanti tak kuasa menahan rasa hatinya yang berkecamuk. Takdir memang tak berpihak kepada mereka.
“Dia putrimu,” ucap Dewanti lirih sambil menoleh ke arah Liodra. Baskoro tersentak kaget saat melihat gadis cantik yang matanya mirip dirinya.
“Liodra, namanya Liodra, anak kita.” Dewanti mengeraskan suaranya karena Baskoro masih tak percaya. Liodra mendekati Baskoro, dia menatap kedua mata sayu dan tak berdaya itu. Mata yang sebelumnya berpendar, lalu perlahan menjadi basah oleh air mata.
“Papa,” ucap Liodra lirih. Bagaimanapun dia merindukan saat-saat pertemuan seperti ini sepanjang hidup, bertemu dengan ayah kandungnya. Liodra memeluk erat tubuh Baskoro.
“Putriku, kamu putriku, maafkan papa, Nak,” isak tangis Baskoro tak terbendung lagi. Pria itu sungguh tak menyangka di ujung usia, ia bisa bertemu dengan putri kandungnya yang selama ini ia cari-cari dan tak kunjung ditemukan.
Liodra segera menyadari sepasang mata yang sedari memandangi mereka. Devano ingin beranjak pergi, tapi Liodra segera memanggilnya.
“Kak Devano, kesinilah, temui papa!”
Devano menghentikan langkahnya, Liodra memberi isyarat agar Devano mendekat.
__ADS_1
“Devano!”
Sebuah suara membuat Devano segera menoleh ke arah pintu.
“Ibu,” bisik Devano lirih.
Eva segera mendekati putranya. Sudah berhari-hari Eva meminta Ridwan untuk mencari tahu kabar Devano, karena perempuan itu tak bisa menghubungi anaknya. Devano memang tak sempat mengisi daya ponselnya. Tadi pagi saat ponselnya usai di-charge, ia menerima banyak pesan dari pamannya. Devano segera menceritakan semua yang terjadi kepada Ridwan.
Eva segera masuk dan menghampiri Baskoro yang wajahnya kian memucat melihat Eva.
“E-va,” sapa Baskoro dengan suara lirih. Eva menggeleng-gelengkan kepalanya menatap Baskoro. Perempuan itu tak bisa berkata apa-apa selain menangis menumpahkan kesedihannya.
“Maafkan … aku, Eva.” Suara lemah Baskoro masih terdengar di telinga Eva seolah mengingatkan kembali permohonan maaf itu dua puluh tujuh tahun lalu.
“Maafkan aku harus pergi ke kota untuk melanjutkan kuliahku, Eva.”
Ridwan menghampiri kakaknya, mengusap bahunya perlahan. “Kuatkan diri Teteh, katakan yang sebenarnya,” bisik Ridwan. Pria itu menarik tangan Devano agar mendekati Baskoro.
“Dia anakmu, Devano,” ujar Eva mencoba menguatkan hati. Baskoro semakin tak kuasa menahan isak tangisnya. Tangannya memegangi dada kirinya yang semakin sesak.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang padaku, Eva? Aku tidak tahu apa-apa, kamu pindah ke Bandung tanpa pamit. Ah, aku memang pengecut. Aku sudah lama tak bisa pulang karena Ibu melarangku.”
Baskoro mengenang kembali saat berkali-kali ia mengatakan ingin pulang, tapi ibunya tak pernah mengizinkan. Ibunya yang rela mendatanginya setiap bulan, bahkan pada akhirnya mereka pindah ke Jakarta.
“Papa senang … karena bisa melihat kalian berdua. Setidaknya … ini hadiah terindah sebelum papa pergi.” Baskoro mengatur napasnya. Perlahan-lahan pria itu mencoba bangun, Devano membantunya.
“Papa ingin bersandar sebentar di sini. Devano dan Liodra, papa sungguh minta maaf atas semua yang terjadi. Juga kepada Dewanti dan Eva, maafkan kesalahan saya yang mungkin tak pantas kalian maafkan ini.” Napas Baskoro terengah-engah.
Dewanti hanya menundukkan wajahnya, sementara Eva masih berupaya meredakan tangisnya. Mereka semua yang berkumpul di ruangan itu paham, kondisi Baskoro sudah semakin melemah.
Liodra terisak-isak, Devano juga menitikkan air mata. Pertemuan yang tak pernah ia sangka akan seperti ini jadinya. Luruh sudah semua amarah yang mengendap di dalam dadanya.
“Asep, entah apa dosa yang sudah aku lakukan padanya, hingga dia tega berbuat seperti ini padaku,” lanjut Baskoro saat mengingat perlakuan asisten yang sangat ia percaya ternyata berkhianat.
__ADS_1
“Jangan dipikirkan lagi, Pa. Asep sudah ditangkap dengan anaknya, Marcela. Kasihan sebenarnya, padahal Bu Nerwani sedang sakit parah.” Liodra menenangkan Baskoro.
“Nerwani?” Baskoro menatap Liodra. “Nerwani ….” Baskoro tak melanjutkan ucapannya.
“Sepertinya Asep menaruh dendam kepada papa, makanya dia dan Marcela berusaha menjatuhkan aku dan Devano dengan banyak cara.”
Kali ini Baskoro tak mampu berkata apa-apa lagi. Rasa penasarannya kini sudah terjawab. Asep, Nerwani dan Marcela. Nama itu seperti putaran ingatan yang kembali membawa Baskoro kepada dosa yang telah ia lakukan puluhan tahun lalu.
Hening di ruangan, tak ada yang berbicara karena masing-masing orang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Mereka tak menyadari napas Baskoro kian melemah, sampai akhirnya mata Baskoro menutup mata untuk selama-lamanya.
*
Tiga bulan setelahnya.
Liodra sedang bersiap untuk menghadiri pesta pernikahan. Wajah cantiknya berseri-seri. Ryo menatapnya tanpa berkedip.
“Jelek, ya, bajuku? Kenapa kamu ngeliatin seperti itu, sih?” Liodra salah tingkah karena tatapan Ryo yang membuat napasnya semakin terasa sesak.
“Kamu cantik sekali, istriku.” Ryo mencuri kecupan di kening istrinya. Mereka telah menikah sebulan lalu, dan malam ini akan menghadiri pesta pernikahan Devano dan Zara.
“Liodra, makasih karena kamu sudah memberikan kesempatan untuk kita sama-sama menjalani rumah tangga ini.” Ryo memeluk istrinya dengan hangat.
Dari hari ke hari, rasa cintanya kepada Liodra semakin tumbuh subur. Begitu juga sebaliknya. Liodra mengawali pernikahan dengan satu niat yang tersemat. Saling menerima kekurangan pasangan, dan bersama-sama berupaya saling melengkapi.
“Aku yang harus berterima kasih karena kamu udah kasih kesempatan untuk kembali menemukan diriku, setelah sekian lama terpuruk dalam kesedihan.”
Liodra tersenyum bahagia. Ternyata pilihannya tidak salah, meskipun dulu ia merasa terlalu cepat mengiakan. Ryo datang mengisi hatinya utuh, bukan hanya sekedar butuh.
*
Sudarsih sedang menemui Marcela di tahanan. Perempuan lanjut usia itu menyampaikan sebuah surat yang ditulis Nerwani. Sudarsih menemukan surat itu tak sengaja saat membereskan pakaian Nerwani, usai anaknya itu meninggal satu bulan lalu.
‘Marcela, maafkan ibu karena tak pernah punya nyali untuk mengatakan kebenaran ini. Saat ada kesempatan, pergilah … pergi sejauh-jauhnya dari Asep, dia hanya akan menjadi penyebab duka laramu, Nak. Kamu bukan anak kandungnya, karena ayah kandungmu adalah Baskoro.’
__ADS_1
Marcela mengulang-ulang membaca tulisan itu lalu meremas kertas menjadi serpihan kecil. Dengan senyuman miring, Marcela kembali ke dalam selnya meninggalkan Sudarsih dalam kebingungan. Tak berapa lama terdengar suara jeritan panjang dari sel Marcela.