
Marcela berlari menghampiri ibunya yang seperti orang kejang di atas kursi roda. Ini respon gerakan pertama setelah bertahun-tahun ibunya hanya bisa terbaring di kasur dan duduk di kursi roda.
"Ibu! Ibu kenapa?" tanya Ela sembari berjongkok di depan ibunya.
Tangannya memegang roda pada sisi kiri dan kanan kursi roda. Nerwani ingin mengatakan sesuatu. Mulutnya menggumam tidak jelas. Badannya berusaha meronta-ronta tetapi tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan.
"Tenang, Bu. Ibu aman, tidak ada lagi yang akan mengganggu kita." Ela memeluk ibunya, meraih kepala wanita yang dicintainya lalu menciumnya perlahan. Nerwani mulai tenang.
"Ibu sudah bersama Ela dan nenek. Tidak ada yang perlu dikuatirkan lagi. Ela dan ayah sudah mengatur semuanya. Sebentar lagi keluarga Baskoro Setyadi akan bangkrut. Bukankah itu yang ibu inginkan?" bisik Ela lembut.
Nerwani tidak bereaksi. Pandangannya kosong. Tangan kanannya menekuk bersandar pada dada Ela, sedangkan tangan kirinya menekuk separo menghimpit dadanya. Kedua tangan itu susah digerakkan. Tangan kanan tidak separah tangan kiri yang hanya bisa tertekuk tidak bisa diluruskan.
Harapan terbesarnya membalaskan sakit hati atas hinaan Dewi Murtiningsih ibunda Baskoro. Wanita berdarah biru itu tega meluluhlantakkan jiwanya demi menegakkan harga diri putranya.
Setelah dirinya menikah dengan Asep Suratman, Nerwani berpikir hidupnya akan segera membaik. Ternyata jauh api dari panggang. Asep justru membukakan pintu baru untuknya memasuki dunia prostitusi terselubung yang menawarkan kehangatan satu malam.
Nerwani lupa satu hal, pada masa lalu, seindah apa pun itu akan menjadi hal buruk jika kembali berulang dan menetap di dalamnya. Sekarang dia seperti terjebak di dalam ingatan yang timbul tenggelam.
"Minggu ini ada pertemuan dengan calon pembeli rumah Baskoro, Bu. Dengan harga jual di bawah pasaran, Ela yakin pembeli ini akan setuju." Ela kembali berbicara lembut kepada ibunya.
"Ela, nenek nasih belum mengerti kenapa kita harus pindah dari rumah lama? Rumah itu dibeli ibumu dari hasil kerja kerasnya," tanya Sudarsih.
Perempuan berambut putih itu tidak pernah tahu apa pekerjaan Nerwani. Kepada ibunya Nerwani hanya bercerita membuka usaha toko bahan kue. Toko itu memang ada karena Nerwani membelinya dengan harga murah dari seseorang yang sedang butuh uang. Toko itu hanya kedok untuk menyembunyikan profesi Nerwani yang sebenarnya.
"Kita tinggal di sini hanya sementara, Nek. Anggap saja ibu butuh ganti suasana. Kita akan segera menempati rumah yang lebih besar."
Sudarsih terdiam mendengar perkataan cucunya. Sejak Ela beranjak dewasa, sikapnya lebih mirip Nerwani. Dia tumbuh menjadi gadis yang tak bisa dicegah keinginannya.
Setelah menikah dengan Asep Suratman, Nerwani menjadi semakin jarang pulang. Putrinya bilang sudah membuka cabang toko kue di beberapa lokasi. Asep pun setali tiga uang. Bagi Sudarsih yang sudah banyak makan asam garam kehidupan, rumah tangga Nerwani terlihat aneh.
__ADS_1
Putrinya hanya terlihat bahagia di luar tetapi rapuh di dalam. Setiap ditanya kenapa Asep jarang pulang, jawaban Nerwani selalu sama. Asep sedang mengurus toko bahan kue yang semakin lama semakin besar dan membuka banyak cabang.
"Nenek khawatir kamu akan terlibat banyak masalah jika tak segera menyingkirkan dendam kepada keluarga Baskoro. Sejak awal ibumu mengenal Baskoro, hidupnya penuh masalah. Nenek mau kita hidup tenang. Sudahlah, Nak, lupakan keluarga Baskoro. Lihat kondisi ibumu sekarang. Terlalu membabi-buta keinginannya untuk membalas sakit hati. Akhirnya ibumu jadi begini," ujar Sudarsih menasehati cucu satu-satunya.
"Jika tidak terjadi kecelakaan itu, ibu tidak akan begini. Nenek sihir itu membuat ibu celaka, Nek. Keluarga Baskoro Setyadi harus menerima balasan perbuatannya kepada ibu," tandas Ela. Sudarsih hanya bisa menarik napas panjang. Melihat Ela sekarang rasanya sama seperti melihat putrinya dua puluh tahun lalu.
***
Devano, Zara dan Surya Winardi bersama sopir mereka menuju Bogor. Sebuah tempat disepakati sebagai lokasi pertemuan untuk membicarakan transaksi jual beli rumah putih.
Sepanjang perjalanan Devano gelisah. Pikirannya bercabang. Hingga saat ini belum diketahui keberadaan Ryo calon suami Liodra. Tak mungkin Devano mengabarkan kepada Liodra bahwa dia akan segera bertemu dengan Baskoro. Beban Liodra terlalu berat. Sayangnya, Devano tak bisa berbuat apa-apa. Dia teringat percakapannya dengan Sashi pagi tadi di WhatsApp.
[Jangan lupa beritahu aku kabar sekecil apa pun yang kamu tahu, Sashi. Aku akan bertemu Baskoro hari ini]
[Pasti Dev. Aku juga mencemaskan keadaan Liodra. Semalam kami ngobrol dan dia terlihat tegar. Liodra sekarang jauh lebih kuat dari yang kita bayangkan.]
Devano lega mendengar kabar dari Sashi. Liodra baik-baik saja. Sekarang dia mulai membiasakan diri menerima Liodra dan memperlakukannya seperti seorang adik, meskipun Liodra sendiri belum bisa menerima.
Zara memahami kegelisahan kekasihnya. Dia memegang tangan Devano mencoba memberi kekuatan. Dalam situasi seperti ini Devano pasti kebingungan.
Zara sendiri sibuk menebak-nebak bagaimana reaksi Baskoro jika mengetahui punya anak laki-laki yang sudah sebesar ini. Jalanan berbelok-belok membuat beberapa kali tubuh mereka bersentuhan menimbulkan denyar halus di dada keduanya.
"Kita sudah sampai di lokasi. Devano kamu sudah siap?" tanya Surya seraya melihat Devano dari kaca spion di sebelah kanan kepalanya. Devano mengangguk. Sejujurnya perasaannya berkecamuk tak keruan.
"Papa akan memperkenalkan kamu sebagai karyawan, satu kantor dengan Zara. Ingat kamu kesini hanya untuk melihat ayahmu, bukan untuk mencari masalah."
"Baik, Pa." Devano turun dari mobil dan merapikan bajunya. Mereka bertiga menaiki tangga batu. Rumah yang dituju terletak di atas dataran yang sedikit meninggi. Banyak pepohonan besar tumbuh di halaman rumah.
"Selamat siang Pak Surya. Mari silakan. Pak Baskoro sudah menunggu kedatangan bapak."
__ADS_1
Seorang pria yang usianya sebaya dengan Surya menyambutnya dengan ramah. Pria berkumis tebal memakai kemeja lengan pendek yang dimasukkan ke dalam celana kain. Penampilannya rapi, rambut hitam klimis menunjukkan pria ini bukan orang biasa.
"Pak Cecep, dia orang kepercayaan Pak Baskoro," bisik Zara seolah bisa membaca pikirannya.
"Mari silakan langsung masuk saja," ajak Cecep setelah mereka melewati bangunan semacam paviliun. "Itu Bapak sudah menunggu."
Devano spontan memandang ke arah yang ditunjuk Cecep. Seorang pria berambut putih sebagian duduk di kursi kayu. Pria itu meraih tongkat di samping kursi lalu mencoba berdiri menyambut tamunya. Pria itu memakai sweater abu-abu dan syal hitam menggantung di lehernya.
Degub jantung Devano berdetak lebih cepat. Pria itu Baskoro Setyadi. Devano menatapnya lekat. Baskoro seperti tersihir beberapa detik melihat anak muda yang mirip dirinya. Sejenak dia memegang dada kiri yang tiba-tiba terasa nyeri.
"Bapak duduk saja." Cecep bergerak cepat memegang bahu Baskoro dan mendudukkannya perlahan ke kursi.
"Saya Surya, ini putri saya Zara dan rekan kerjanya Devano. Saya yang akan membeli rumah Pak Baskoro jika kita bersepakat hari ini."
Baskoro memandangi Zara dan Devano bergantian. Ada perih mengiris dadanya.
"Devano dan Zara ini mirip dengan anak saya yang sekarang tinggal di Jerman, Pak Surya."
Tangan kanan Devano mengepal di bawah meja. Zara yang melihat itu segera menggenggam tangan Devano.
"Wah kebetulan sekali, anak Pak Baskoro laki-laki dan perempuan?" tanya Surya ingin tahu.
"Mereka sudah punya kehidupan sendiri bersama maminya. Sudah lama mereka tidak pulang kesini. Melihat Devano saya seperti melihat Raja. Anak saya yang laki-laki namanya Raja, yang perempuan Ratu." Sekali lagi Baskoro memandangi Devano yang segera menundukkan wajahnya.
Entah apa yang ada di pikiran Devano. Sekarang dia hanya melihat seorang laki-laki tua kesepian.
Pandangan Baskoro bukan pandangan seekor singa jantan seperti yang selama ini ia bayangkan. Tatapan mata itu juga bukan seperti Don Juan yang sanggup meniduri puluhan wanita dalam satu malam. Di hadapannya kini hanya seekor singa lemah tanpa kekuatan.
Cecep menyuguhkan minuman di meja. Sebelum pergi diam-diam dia membidikkan kamera ponselnya ke ruang tengah. Sebuah foto dia kirimkan kepada seseorang. Sesaat kemudian pesannya dibalas.
__ADS_1
[Kurang ajar! Kenapa bisa ada Devano di sana? Ayah, jangan sampai Baskoro tahu Devano anak kandungnya! Rencana kita bisa berantakan!]