BARA MASA LALU

BARA MASA LALU
Satu Kebenaran Harus Disampaikan


__ADS_3

Pada saat bersamaan, tempat yang paling ingin dikunjungi menjadi tempat yang paling menyakitkan. Eva tak pernah menyangka jika pada malam lamaran putra semata wayangnya, dia dihina sang calon besan begitu rupa.


Demi Devano, wanita bertubuh ramping itu terpaksa menahan diri. Hanya Ridwan yang paham situasi ini. Pasti kakaknya terluka akibat sesuatu. Ingatannya menerobos kejadian dua puluh enam tahun silam. 


Ridwan bukan tidak tahu beratnya beban sang kakak. Sedari kecil Ridwan sudah dibiasakan untuk menjaga kakak perempuan satu-satunya. Ridwan menjadi orang yang pertama kali tahu saat Eva hamil dengan lelaki tak bertanggung jawab tetangga mereka. Ridwan juga sempat mencari pemuda pengecut itu ke Jakarta, tetapi pemuda itu seperti menghilang dari muka bumi. 


"Wan, pokoknya kamu mah harus menolong Teteh, antar Teteh rumah Bi Sumi, secepatnya" ujar Eva ketika sadar perutnya mulai membesar. Saat itu kedua orang tuanya belum tahu dia sedang hamil.


"Jangan atuh, Teh. Bi Sumi tukang urut di kampung sebelah, kan? Teteh tidak punya hak menghalangi manusia yang akan lahir ke dunia. Apa pun yang akan terjadi, Iwan akan selalu menjaga Teteh dan anak yang bakal lahir nanti. Sok, Teteh sing tenang pikirannya."


Ridwan mencoba menenangkan Eva. Memang berhasil untuk sementara waktu. Namun, ketika ayah mereka tahu, Eva tak luput dari tamparan ayahnya, Ridwan pasang badan. 


"Jika keluarga sendiri memusuhi, bagaimana Teteh bisa bertahan, Pak? Bapak mau membunuh Teteh?" Dua lelaki beda usia itu beradu pandangan. Perlahan tangan ayahnya turun. Ridwan memeluk kakaknya, mengatakan semua akan baik-baik saja. Saat itu Ridwan baru lulus SMA. 


Setelahnya, Ridwan sering melihat Eva berusaha kabur dari rumah, tetapi dengan sigap Ridwan selalu berhasil membawa kakaknya pulang. Hingga pada suatu siang, ayahnya memperkenalkan Dedi Supriatna sebagai calon suami Eva. Pernikahan terpaksa digelar dengan sangat sederhana.


Meski bukan suami sempurna, Dedi memperlakukan Eva dengan baik. Ridwan sering memergoki Eva menangis di dekat sumur saat kakaknya menimba air, Ridwan tahu tangisan itu tangis penyesalan karena telah melakukan kekhilafan, bukan karena Eva mendapat perlakuan buruk dari suaminya.


Eva selalu berusaha menyembunyikan tangisnya, meskipun berkali-kali Ridwan menyediakan bahunya. Sampai malam ini mereka saling diam dan hanya bertutur lewat tangisan dan pelukan seorang adik kepada kakaknya. 


Keesokan paginya, Ridwan dan Eva sepakat untuk memberitahu kenyataan yang selama ini mereka sembunyikan dari Devano. Mereka bertiga duduk melingkar di kursi ruang makan. Devano sudah bersiap mengira akan mendengar petuah tentang pernikahan. Dahinya mengernyit ketika mendengar Ridwan mulai menyampaikan sesuatu. 


"Maksud Paman bicara tentang ayah kandung? Ayah Dedi?" tanyanya ingin tahu.


"Bukan Dev, ayah kandung kamu bukan ayah Dedi. Selama ini kami menyimpan satu nama yang akan kami beritahukan ketika kamu hendak menikah," ujar Ridwan perlahan seolah takut menyakiti perasaan keponakannya. Devano tidak bisa menutupi rasa kagetnya. Matanya membulat tak percaya. 


"Ayah kandung kamu bernama Baskoro. Baskoro Setyadi. Dedi Supriatna bukan ayah kandung kamu, tetapi menyayangimu seperti anak kandungnya."

__ADS_1


Ridwan sibuk mencari cara agar Devano tidak shock mendengar berita ini. Sebagaimana Devano berhak tahu ayah kandungnya, ia juga berhak marah karena baru diberitahu sekarang. 


"Apakah ayah ... Baskoro masih hidup?" tanyanya terbata-bata setelah hening mengurung mereka beberapa saat. Devano memandang wajah ibunya yang terpekur sembari tangannya memutar tasbih. Ucapan Istighfar berkali-kali keluar dari mulutnya, sesekali Eva mengucapkan Hamdalah. Reaksi kemarahan Devano yang dia takutkan tidak terjadi. 


"Paman tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah meninggal. Keluarga besarnya sudah pindah dari kampung puluhan tahun silam. Kabarnya mereka semua pindah ke Jakarta," jawab Ridwan sembari meminum teh tawar yang terhidang di depannya untuk mengatasi rasa gugup.


Entah kenapa, menyampaikan berita ini seperti menyuruh orang lain minut obat, tetapi dirinya ikut merasakan pahit. 


"Apakah ibu menyimpan fotonya? Dev ingin melihat wajah ayah," pinta Devano seraya menggenggam tangan ibunya. Butiran bening menetes di pipi Eva. Satu bebannya terangkat, tetapi sudut hatinya terasa tersundut. Perih. 


Perlahan Eva mengambil satu buku tebal yang berada di dalam laci lemari tempat menyimpan barang pecah belah di ruang tengah. Dia kembali duduk dan menyerahkan satu foto hitam putih kepada Devano. 


Foto seorang pemuda dengan wajah serupa dirinya dalam versi lama. Alis yang tebal, hidung mancung, dan dagu terbelah benar-benar mirip dengannya. Pantas saja ketika melihat foto ayah Dedi, Devano merasa tidak ada mirip-miripnya. Satu lagi kemiripan mereka adalah gurat sudut bibir yang terangkat tipis saat tersenyum. 


"Apakah saya harus mencarinya, Paman?" 


"Saya harap Paman dan Ibu mengerti, mungkin ini pertanda bahwa ayah Baskoro harus hadir di pernikahan saya. Tolong Paman, tolong berikan info sebanyak-banyaknya supaya saya tahu kemana harus mencari ayah." 


Ridwan dan Eva berpandangan sesaat. 


"Begini saja, Paman akan membantu mencari ayahmu. Kamu fokus pada pernikahan saja. Urusan ini biar Paman yang menangani. Bagaimana?" 


Devano terlihat ragu. Dia sangat ingin mencari dan menemukan ayahnya yang ternyata masih hidup. Pikirannya terusik akan sesuatu.


"Ibu, bisakah ibu menceritakan semuanya tanpa ada yg disembunyikan lagi? Dev berhak tahu, Bu." Devano melihat ibunya yang sedang menunduk.


"Ibu pasti tidak akan membiarkan Dev mencari ayah Baskoro tanpa bekal informasi yang lengkap." Devano mengatakan itu dengan penuh tekanan. Eva mengangkat wajahnya, sepasang mata sayu itu kembali dibanjiri air mata. 

__ADS_1


***


Suasana di butik Liodra Moda terlihat ramai. Beberapa pengunjung sedang sibuk memilih gaun. Area accesories juga banyak dikunjungi pelanggan. Lokasi butik berdekatan dengan kampus, sehingga Liodra memanfaatkan peluang ini untuk menyewakan kebaya, lengkap dengan tenaga make up.


Liodra bekerjasama dengan tenaga MUA profesional yang dia datangkan saat ada pelanggan yang membutuhkan. Siang ini MUA Dayana yang datang ke butik untuk test make up bagi beberapa customer dan pemilik butik yang mau menikah tentu saja. 


"Gue mau yang flawless, lu bikin make up no make up, untuk mata gue mau soft smokey eyes, jadi yang lu musti serius kerjain adalah bagian mata. Kalau selebihnya gue percaya sama lu, Dayana."  


"Siap Kak Liodra, kakak udah cantik, mau dimake up model apa aja pasti hasilnya cantik sekali. Maaf ya, tolong merem sebentar." Dayana mulai memulas bagian kelopak mata Liodra. 


Dayana sangat detil dan ahli untuk urusan riasan mata menjadi sangat menonjol dan menarik.


Liodra memandang dirinya di depan cermin. Sesekali tangannya merapikan bulu mata. Dia sudah membayangkan penampilannya di hari paling sakral.


Gaun putih panjang yang dia inginkan sedang diselesaikan oleh tim Sashi. Hotel dan dekorasi sudah dipesan. Demi menghemat budget, Liodra tidak memakai jasa Wedding Organizer.


Seperti janjinya, dia tidak ingin membebani orang tuanya dengan biaya yang mahal. Namun, ternyata mamanya lebih dulu bertindak. Semua persiapan sudah diserahkan kepada pihak WO ternama.


"Princess maaf mengganggu sebentar, ada beberapa berkas yang harus ditandatangani sama WO. Boleh minta tanda tangan sebentar?" Marcela datang menyerahkan berkas yang segera ditandatangani Liodra. 


"Satu lagi ini untuk pengurusan perizinan butik, ada beberapa yang harus diperbarui karena sebentar lagi expired," kata Ela sambil melihat ke arah Liodra. Lagi-lagi Liodra menandatangani berkas yang disodorkan kepadanya.


"Wow, Dayana kamu keren sekali. Baru make up bagian mata saja, Princess sudah tampak stunning banget! Jago kamu emang!" Ela memuji hasil make up Dayana sambil merapikan berkas di depan Liodra yang telah ditandatangani. Dengan cepat Ela menarik berkas itu. 


"Hai calon pengantin lihat ini, surprise gaun pengantin sudah ready! Tinggal fitting terakhir, nanti setelah make up!" 


Sashi memasuki ruang make up sambil membawa gaun putih menjuntai yang ditunggu Liodra. Kesempatan itu digunakan Ela untuk keluar dari ruang make up sambil tersenyum penuh kemenangan. 

__ADS_1


 


__ADS_2