
Asep kesal karena ucapannya tidak digubris oleh petugas. Untunglah di saat yang tepat, pengacara suruhan Marcela masuk ke dalam ruangan.
"Sekarang Anda sudah tahu, Pak Polisi, kalau saya tidak bersalah," ucap Asep membela diri.
"Belum ... Ini karena Pak Baskoro yang membuat pengaduan sedang dalam kondisi sakit saja."
"Bagaimana pengacara? Apakah Anda menjamin klien Anda tidak akan kabur?" tanya petugas.
Pengacara mengangguk meyakinkan, "Justru kami akan mendatangi Pak Baskoro karena beliau sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Kami akan menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan."
Akhirnya Asep dibebaskan dengan jaminan pengacara sambil menunggu perkembangan.
***
Di rumah sakit, Zara dan Devano sedang menunggu dengan cemas dokter yang memeriksa Baskoro masih berada di dalam ruangan IGD.
"Tenanglah, Devano, jangan terlalu cemas. Sebentar lagi pasti dokter akan segera keluar."
"Aku tidak mengerti, Zara. Puluhan tahun aku menganggap bahwa ayahku orang lain bukan Baskoro. Nama itu yang tiba-tiba datang menjelang detik-detik aku mengucapkan ijab qobul. Baskoro sudah membuyarkan semuanya. Lalu, sekarang dia meminta tolong kepadaku dan aku lagi-lagi harus terlibat dengan urusannya. Bukankah ini sungguh tidak adil!"
Rasanya Devano putus asa. Hidup memang sering memberikan pelajaran tentang keadilan yang sangat subjektif.
"Mungkin hari ini kamu sedang berada di dalam posisi merasa takdir tidak berpihak kepadamu. Namun, percayalah, tidak ada yang sia-sia," ucap Zara, menenangkan Devano.
"Aku bingung harus bersikap bagaimana. Karena ini terlalu berat. Seharusnya aku membiarkannya saja, bukan?"
Lagi-lagi Zara menggeleng, "Justru kamu sekarang sedang menunjukkan siapa Devano yang sebenarnya. Jika memang Pak Baskoro bersalah telah meninggalkan ibumu, pasti akan ada hukuman yang didapatnya. Dan kita tidak tahu sudah berapa lama Cecep berbuat jahat kepada Pak Baskoro. Aku mohon Devano, sabarkan dulu hatimu."
Devano memejamkan matanya. Benar bahwa dia memang ingin bertemu dengan pria yang sudah membuat ibunya sengsara, tetapi justru mendapatkan kenyataan bahwa kehidupan Baskoro ternyata juga lebih mengenaskan.
"Ada apa?" tanya Zara saat melihat Devano menutup bibirnya dengan jari telunjuk. Devano mengamati sekitar. Dia melihat beberapa pria yang tampak mencurigakan.
"Diam dulu di sini! Aku akan memeriksa sekitar. Aku rasa Baskoro mempunyai banyak musuh yang menginginkan dia celaka."
"Kamu jangan menakutiku, Devano!" Zara ketakutan.
"Kamu di sini saja, Zara! Aku titip Baskoro sebentar, please!"
__ADS_1
"Jangan panggil dia seperti itu. Dia ayahmu, Devano!"
"Ya, oke. Oke, Pak Baskoro, aku menitipkan dia kepadamu untuk sementara. Aku akan melihat keadaan di sekitar sini."
Devano melihat beberapa orang yang mengamati ke dalam ruangan. kemudian orang itu bergegas pergi. Bukan hanya sekali, tapi beberapa kali. Itulah yang membuat Devano yakin bahwa posisi Baskoro tidak lagi aman.
Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, Devano kembali ke depan pintu ruangan IGD. Ternyata Surya sudah sampai di sana.
"Gimana, Om? Apakah Cecep sudah dibawa ke kantor polisi?"
"Sudah tadi, dijemput di rumah notaris dan dibawa ke kantor polisi. Tapi barusan Om dapat kabar kalau Cecep dibebaskan karena belum ada barang bukti yang cukup."
"Sial ... Kenapa polisi sangat terburu-buru!"
"Dia ditangani oleh pengacara terbaik. Aku juga tidak tahu, siapa dibalik semua ini. Kita hanya bisa berharap, Pak Baskoro segera siuman dan bisa memberikan keterangan kepada polisi jadi Cecep tidak akan bisa berkutik lagi. Sampai sekarang kita masih belum tahu apa yang terjadi, bukan?"
Zara dan Devano mengangguk. "Zara, sebaiknya kamu pergi ke hotel di dekat rumah sakit. Nanti Papa akan menyusul. Kabari saja kalau sudah dapat hotelnya!"
"Baik, Pa."
"Baiklah, kalau begitu biar Papa saja yang menunggu Pak Baskoro. Kasihan beliau tidak punya sanak saudara."
Tiba-tiba Devano menghentikan langkahnya. Dia sedang berpikir, apakah Liodra perlu diberitahu bahwa sekarang dia sudah bertemu dengan Ayah mereka.
Tapi segera Devano mengenyahkan perasaan itu, mengingat kondisi Liodra sekarang juga pasti sedang kalut karena Ryo masih belum ditemukan.
Setelah mengantarkan Zara ke hotel, Devano kembali ke rumah sakit lagi.
"Sebaiknya sekarang Om pulang saja ke hotel. Biar Devano yang berjaga di sini," ucap Devano.
Sesaat kemudian dokter keluar dari ruangan IGD. "Pasien masih kritis, belum sadar. Kami akan memeriksa kondisinya secara menyeluruh."
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Kami menemukan satu zat yang sangat berbahaya di dalam tubuhnya. Itulah yang membuat Pak Baskoro tidak sadarkan diri," ucap dokter.
Devano dan Surya berpandangan. "Mungkinkah ini ada hubungannya dengan Cecep. Seharusnya polisi tidak terburu-buru membebaskannya," keluh Surya.
__ADS_1
"Apakah dengan bukti ini kita bisa memberikannya kepada polisi?"
"Biar nanti Om saja yang bertanya kepada teman Om yang ada di kepolisian. Kali ini kita tidak boleh gegabah. Cecep bisa saja mengelak dan bilang tidak tahu menahu tentang zat berbahaya yang sekarang berada di dalam tubuh Baskoro."
"Baiklah kalau begitu sebaiknya Om langsung pulang ke hotel, biar aku yang berjaga di sini."
"Dari tadi Om dengar kamu bilang akan berjaga. Memangnya ada apa?"
"Sepertinya ada yang sedang mengintai kita, Om. Dari tadi Devano melihat beberapa orang mencurigakan berjalan di depan ruangan IGD."
Surya mengamati sekeliling. Dia bisa maklum kalau Cecep saja bisa dibebaskan, artinya ada orang lain yang sedang menjalankan rencana tertentu.
"Kalau begitu biar Om di sini saja menemani kamu."
"Tidak perlu khawatir, Om Surya kembali saja ke hotel. Biar Devano saja yang ada di sini." Akhirnya Surya mengalah dan kembali ke hotel.
***
Sementara itu Ranto sedari tadi gelisah karena masih belum mendapatkan informasi lengkap tentang Baskoro.
Dia menelepon Marcela," Sampai sekarang Baskoro masih ada di IGD. Sepertinya kondisinya sangat parah. Di luar ruangan ada Devano yang menunggu. Jadi apa yang harus aku lakukan?"
Marcela menerima laporan Ranto. "Tunggu saja di sana sampai Baskoro mendapatkan ruangan. Terlalu berbahaya jika menghabisinya di ruang IGD. Banyak orang di sana."
"Baiklah, aku mengerti. Berdoalah supaya Baskoro tidak bisa selamat, maka tugas kita akan jadi lebih ringan."
Marcela tersenyum. "Ayah sudah dibebaskan dari kantor polisi. Jadi sebaiknya kamu segera menemuinya di rumah Baskoro. Tapi tetap tempatkan orang-orangmu di rumah sakit untuk memantau si tua bangka."
Ranto mematuhi perintah Marcela. Dia menemui Asep di rumah Baskoro. Namun, saat hendak masuk ke dalam rumah, ternyata di halaman sudah ada banyak polisi.
"Marcela, celaka ternyata rumah Baskoro sudah dijaga banyak polisi. Sepertinya ayahmu tidak berada di rumah ini."
"Aku juga tidak bisa menghubunginya. Tapi kata pengacara dia ingin pulang ke rumah itu untuk mengamankan semuanya. Kamu paham kan maksudku?" desak Marcela.
Ranto menganggukkan kepalanya. "Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Aku akan menunggu sampai terhubung dengan Ayah. Kalau kamu mau, cobalah ke rumah satunya lagi. Siapa tahu Ayah berada di sana," ucap Marcela kemudian.
__ADS_1