
Apa yang terdengar lebih jahat selain meninggalkan sahabat pada titik terendah? Sashi menyadari kepergiannya membuat Liodra berpikir dia bukan sahabat yang baik. Namun salahkah bila dia pergi menjemput mimpi?
Sashi dan Liodra bersahabat sejak SMA, lalu mereka memutuskan bersama lagi dalam satu kampus. Sashi punya mimpi besar, menjadi designer kelas dunia. Ada tiga adiknya yang harus dibiayai sekolahnya. Ketika Liodra mengajaknya mendirikan Liodra Moda, meskipun sebenarnya setengah hati, Sashi menerima. Setengah hati karena bersama Riva, Sashi akan mengibarkan bendera Liodra.
Waktu bergulir, Liodra lebih beruntung karena orang tuanya mendukung. Pada perjalanannya Sashi menganggap segmen pasar Liodra Moda terlalu eksklusif. Dia hanya memproduksi gaun-gaun mahal yang harganya puluhan juta. Sedangkan Sashi ingin membuat baju yang harganya terjangkau.
Dia ingin orang-orang seperti adiknya juga bisa membeli gaun rancangannya. Ada ketidaksepakatan yang tak pernah sanggup dia katakan kepada Liodra. Tahun-tahun pertama adalah tahun perjuangan bagi siapa pun yang baru memulai bisnis. Sashi hanya menunggu waktu yang tepat untuk bicara.
Sepertinya tidak pernah ada waktu yang tepat, atau mungkin sebaliknya. Semua waktu adalah tepat jika tujuannya untuk mempermudah urusan. Liodra setuju Sashi turut bergabung bukan hanya sebagai pekerja. Mereka berpartner dengan pembagian saham yang disepakati. Usaha itu kini milik mereka berdua. Enam puluh persen Liodra, empat puluh persen milik Sashi.
Semenjak kedatangan Ela semua berubah. Bertiga mereka lebih terencana. Ela mempunyai kemampuan managerial yang mumpuni. Semua pekerjaan di tangannya menjadi beres.
Sashi sibuk merancang gaun, Liodra sibuk menangani promosi sambil sesekali ikut membuat rancangan jika dia ingin. Ela yang mengatur kelancaran semua urusan keuangan. Melihat Ela dengan keseriusan dan kemampuannya Liodra melepas sepuluh persen saham untuk Ela, begitu juga Sashi melepas sepuluh persen sahamnya untuk Ela. Kini Liodra Moda adalah milik mereka bertiga.
Sashi tak habis pikir, apa yang membuat Arnette menawarkan peluang padanya untuk bergabung dengan perusahaannya. Arnette hanya mengatakan jika dia bebas menjadi dirinya sendiri. Sashi bebas berekspresi untuk membuat gaun termurah hingga gaun paling mahal. Perusahaan Arnette lebih besar karena rumah busana itu peninggalan mamanya yang menetap Prancis.
Sashi tidak ingin dicap sebagai sahabat pengkhianat. Jika dia sudah menguasai pasar Paris, dirinya bisa dengan mudah berkolaborasi dengan Liodra.
Pertimbangan ini yang membuatnya bersemangat meninggalkan Liodra Moda. Sashi percaya Ela bisa menjembatani komunikasinya dengan Liodra. Dia teringat saat mereka baru saja lulus, Liodra membentangkan mimpinya.
"Sashi, elu pernah bayangin nanti para artis memakai gaun rancangan kita?" tanya Liodra saat itu.
"Oh, gue enggak suka artis. Maksudnya artis yang hanya rajin muncul di infotainment. Gue suka artis berkarakter. Artis dengan tiga huruf awal yang dibold."
"ART-is? Haha... Gue tahu maksud elu. Tunggu saja, nanti gaun rancangan kita akan masuk ke pasar artis dengan ART besar dalam tanda kutip seperti keinginanmu. Kita bikin Liodra Moda berkarakter."
__ADS_1
Sekarang keinginan Liodra sudah terwujud, pun dengan konsekuensi iming-iming popularitas seperti yang sekarang disandangnya. Populer sama dengan membuka diri menjadi sorotan publik. Pundi-pundi rupiah mereka terus terisi penuh, tetapi kehidupan pribadi Liodra juga seakan sah untuk mulai dikulik publik.
Tragedi pernikahan yang dibatalkan menjadi viral, membuat desaigner muda itu jatuh terkapar.
Sashi berpikir jika dirinya mengepakkan sayap ke Paris, akan lebih banyak peluang untuknya dan Liodra memajukan Liodra Moda.
Brand mereka kelak bisa berdampingan.
Sashi tersenyum sambil menyeret kopernya menuju gate 23 tempat pesawatnya akan segera take off. Biarlah sekarang Liodra membenci dirinya, ah mungkin terlalu berlebihan. Bukankah ada Ela yang bisa menjelaskan semuanya? Gadis itu melenggang mantap mengunjungi mimpinya.
***
Di manakah ada dunia tanpa suara? Dunia yang benar-benar hening ternyata tak pernah ada. Liodra memang berhasil bersembunyi dari dunia, tetapi dia tak bisa membungkam suara-suara di kepalanya. Menyendiri, alih-alih membuat hatinya tenang. Yang ada justru pertanyaan demi pertanyaan terus terekam tanpa jawaban.
Satu sudut hatinya dibaluri kerinduan kepada Devano. Rindu yang tak lagi sama, meski sejujurnya sama, bahkan lebih menggila. Entah bagaimana caranya mengubah cinta sepasang kekasih menjadi cinta seorang adik kepada kakaknya. Hanya orang gila yang bisa melakukannya dengan cepat. Liodra berkali-kali mencoba berdamai dengan perasaannya.
Kalimat itu dia ucapkan berulang-ulang sambil menggoreskan pensil untuk membuat sketsa. Liodra menuangkan suara-suara di kepalanya menjadi gambar-gambar sketsa gaun dengan beragam corak dan model.
Bersama Devano kemarin dia menjadi rumpang yang hampir rampung. Mungkin meniadakan kenangan adalah satu-satunya cara agar semua kembali baik-baik saja. Meski Liodra menyadari jatuh cinta kepada Devano adalah semanis-manisnya patah hati, tak perlu mendendam, dia dan Devano sama-sama lebam.
"Liodra buka pintunya. Mama mau bicara. Kamu sudah terlalu lama sendiri, buka pintunya!"
Dewanti menggedor pintu kamar Liodra dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang baki berisi makanan.
"Buka atau mama dobrak pintunya!" Kali ini teriakannya lebih kuat, tangannya terus menggedor-gedor pintu kayu jati. Tangan Dewanti terasa sakit tapi dia tak peduli. Liodra harus segera keluar menghadapi dunua, jika perlu dengan cara diseret.
__ADS_1
Upayanya berhasil, Liodra membuka pintu kamarnya. Dewanti segera menghambur ke pelukan Liodra, setelah meletakkan baki di meja, tetapi gadis itu menolaknya. Dia menepis tangan Dewanti, lalu beringsut naik ke atas kasur.
"Sayang, kamu enggak boleh seperti ini terus. Kamu gadis yang pintar, kamu punya karier dan pekerjaan. Kalau kamu butuh berlibur, kami semua siap menemani. Atau kamu mau libur sendiri, pergilah. Tolong jangan seperti ini. Kecewa itu wajar, sakit hati itu boleh, tapi jangan menjadi bodoh dengan terus mengurung diri."
Liodra hanya terdiam mendengarkan mamanya bicara panjang lebar. Dia harus mulai terbiasa menulikan telinga.
Saat dirinya siap keluar rumah, Liodra tahu akan menghadapi banyak pertanyaan, atau tatapan iba. Dia tak butuh itu. Hari ini dia harus belajar mulai tidak mendengarkan suara orang lain, terutama mamanya.
"Liodra! Kamu dengar Mama, kan? Ini mama bawakan makanan kesukaanmu. Sup jagung, ayam crispy, juga puding susu." Gadis itu hanya diam. Tatapan matanya lurus ke langit-langit kamar.
"Kalau mama sudah selesai bicara, sebaiknya segera keluar." Gadis itu memiringkan tubuhnya, membelakangi Dewanti yang mendengkus kesal.
"Kalau kamu bersikap begini terus, bukan hanya pernikahanmu yang gagal, tapi seluruh hidupmu akan hancur. Nanti malam Ryo akan datang. Kamu tahu, sejak awal mama sudah bilang bahwa Ryo adalah pria yang layak untuk kamu. Jika kamu tidak bisa melakukan ini untuk mama, lakukan ini untuk dirimu sendiri. Kamu berhak bahagia, Ryo akan menjadi suami kamu. Move On, Liodra!" Dewanti bangkit setelah menunggu beberapa saat. Dia keluar kamar Liodra dengan wajah kesal.
Liodra memejamkan matanya. Dia berhak bahagia, tetapi tunduk pada takdir adalah kewajiban. Bahagianya bersama Devano. Tanpa pria itu, dirinya tidak yakin bisa kembali melanjutkan langkah. Dunia tidak bisa dihadapi dengan berpura-pura.
Apa kabar Devano sekarang? Dia pasti sama dengannya. Hatinya pasti sama-sama nelangsa dipenuhi luka. Liodra ingin tahu bagaimana Devano melewati ini.
***
Devano butuh waktu menyendiri. Hanya tiga hari pemuda itu menghilang. Selanjutnya dia sudah kembali bekerja. Lebih cepat dihadapi sakitnya lebih cepat teratasi. Bekerja adalah pelariannya. Sesekali Devano mencoba menelepon Liodra, tetapi dia urungkan sebelum tersambung.
Pada satu kesempatan saat hatinya sudah baik-baik saja, Devano menghubungi Liodra. Ada banyak hal yang harus mereka bicarakan. Namun, ternyata ponsel Liodra tidak aktif.
Devano tahu Liodra juga butuh sendiri dulu. Liodra harus terbiasa bisa, seperti dirinya yang sedang berusaha, karena waktu tak menyembuhkan luka. Waktu hanya menyembunyikannya. Itulah mengapa luka mudah sembuh, mudah kambuh.
__ADS_1
"Kamu mau mengajari saya menyetir, atau mau terus melamun?" Suara gadis bermata sayu mengagetkan Devano.