
"Rumah itu yang akan dibeli papamu untuk dijadikan villa?" tanya Devano setelah menerima satu foto dari Zara. Dia tak sabar ingin segera mengetahui informasi lebih detil tentang rumah putih itu. Segera dihubunginya Zara lewat telepon.
"Iya, rencananya begitu." Suara Zara timbul tenggelam karena sedang dalam perjalanan.
"Kamu tahu siapa pemiliknya?" tanya Devano lagi.
"Ini papa sudah pegang copy sertifikatnya. Atas nama Baskoro Setyadi. Kenapa Dev?" Zara sedikit aneh mendengar pertanyaan kekasihnya.
Devano spontan memukul meja dengan kasar.
"Ehm, enggak, rumahnya keren. Sepertinya memang cocok untuk dijadikan villa. Bagus, deh, kalau sudah tahu pemiliknya. Jadi papa sudah ketemu pemiliknya langsung?" ujar Devano.
"Pemiliknya katanya sedang sakit. Kami bertemu orang kepercayaan Pak Baskoro. Namanya Pak Cecep. Dia sudah puluhan tahun bekerja untuk Pak Baskoro. Pak Cecep juga yang bertanggung jawab di beberapa perkebunan teh milik Pak Baskoro."
Zara tahu banyak karena papanya memang melibatkannya dalam rencana transaksi jual beli itu.
"Pak Baskoro tinggal di rumah itu?" Devano tak bisa menahan diri untuk tak bertanya
"Biasanya iya, tapi karena sedang sakit beliau sekarang sedang ada di Pangandaran. Sedang terapi semacam pengobatan alternatif gitu. Kenapa, Dev? Kamu sepertinya tertarik sekali dengan Pak Baskoro?" Lagi-lagi Zara mulai merasakan hal aneh. Tidak biasanya Devano bertanya sebanyak ini tentang pekerjaannya.
"Ah, bukan. Maksudnya, aku sudah sering bertransaksi dengan pihak kedua. Ternyata pihak pertama malah tidak tahu. Aku yakin papamu tidak akan gegabah, hanya saja lebih baik memang waspada dan berhati-hati jika transaksi bukan dengan pemiliknya langsung. Apalagi pemiliknya sedang sakit." Devano berusaha menjelaskan supaya Zara tidak curiga.
"Benar juga. Apalagi harganya di bawah pasaran. Wah, mesti hati-hati ini. Nanti aku kasih tahu papa masukan darimu ini, Dev." Akhirnya Zara paham yang dimaksud Devano.
"Kalau bisa papamu harus bertemu dengan Pak Baskoro dan tahu kondisinya," imbuh Devano.
"Oke, kamu gimana kabarnya hari ini? Jadi hang out sama teman-teman?" Zara mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Malas. Aku kangen kamu. Besok kita ketemu, ada hal penting yang mau aku sampaikan." Mau tak mau Devano harus jujur pada Zara.
"Duh jadi deg-degan, ada apaan, nih? Kayaknya serius," jawab Zara.
"Sampai ketemu besok, Sayang."
Devano mengakhiri obrolan meskipun Zara berteriak memanggil namanya.
Ternyata benar rumah itu milik Baskoro Setyadi. Mengapa saat Liodra bertanya kepada seorang wanita, pelayan rumah itu bilang bukan rumah Baskoro?
Sepertinya ada hal yang ingin ditutupi tentang Baskoro. Siapa orang yang ikut campur dalam urusan dia, Liodra dan Baskoro. Siapa pun dia pasti punya maksud tertentu? Otaknya diliputi tanda tanya besar.
__ADS_1
Saat dia dan Liodra bertanya kepada Ketua RT tentang pemilik rumah putih, yang keluar adalah istrinya dan bilang tidak tahu menahu tentang rumah itu.
Pelan-pelan Devano mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Wajahnya menengadah melihat langit-langit ruang kerjanya. Ada satu misteri yang harus dia pecahkan. Dia bangkit dari kursi lalu menyambar kunci mobil untuk bertemu seseorang. Sesaat kemudian mobil hitamnya sudah berpacu dengan kemacetan kota Metropolitan.
***
Kecemasan terbesar seorang laki-laki menjelang pernikahan adalah rasa takut akan gagal. Hal itu dirasakan Ryo Gibran. Pemuda itu tidak bisa berbuat banyak untuk memenangkan hati Liodra. Hatinya diliputi kecemasan. Waktu pernikahan tinggal tiga hari lagi.
Ada rasa gugup, takut, juga khawatir jika semua tak berjalan seperti yang dia inginkan. Ryo memutuskan melepas stress di sebuah club malam. Setelah pernikahan dia bertekad tidak akan mendatangi tempat ini lagi. Bersama Liodra, dirinya siap memulai dari awal.
Ryo tahu dia bukan orang baik. Pengalamannya dengan wanita bukan hal yang patut dibanggakan. Ryo pernah dicap meninggalkan tunangannya demi wanita lain. Wanita yang mencintainya dengan cinta yang penuh. Sayangnya wanita itu tak berumur panjang.
Leukimia mengambil hidupnya. Demi bisa memberikan harapan kepada wanita itu, Ryo harus kehilangan tunangannya.
Pemuda tajir itu sempat berpikir dia memang ditakdirkan hidup bersama Liodra. Dia datang pada saat yang tepat. Nyaris tanpa perjuangan. Bukankah sesuatu yang mudah didapatkan juga mudah hilang?
Memikirkan hal itu Ryo menjadi stress sendiri. Liodra tak memberinya kesempatan berbuat sesuatu sekarang. Bahkan seminggu ini Liodra menolak dihubungi karena ingin sendiri. Bagaimana jika Liodra berubah pikiran menjelang pernikahan?
Lelah bergelut dengan pikirannya sendiri Ryo sampai di diskotik tempatnya biasa berkumpul dengan teman-temannya.
"Hai Rose, mau nemenin gue minum? Mungkin ini malam terakhir gue datang ke sini. Gue mau married tiga hari lagi."
"Untuk calon pengantin. Pria sejati yang akan segera menjadi suami. Kamu keren. Butuh lebih dari sekadar keberanian untuk menjadi suami, Men."
Rio menerima minuman dari gadis berambut cokelat. "Apakah aku mengenalmu, Nona?" tanyanya seraya menerima gelas berisi minuman.
"Aku mendengar kau bicara dengan Rose barusan. Bolehkah aku menemanimu menghabiskan malam terakhir di sini?" tanya gadis yang terlihat seksi dengan hotpants biru dan tanktop pink yang menampakkan bahunya.
Ryo mengangkat gelasnya. Gadis berambut pirang mengangkat gelasnya menyambut gelas Ryo.
Ting!
Denting gelas beradu diikuti pandangan dari keduanya. Satu gelas tak pernah cukup jika bersama seorang wanita.
"Aku Emma, aku tuang lagi satu gelas whisky untukmu. Tenang saja, ini malam terakhir," bisiknya dengan pandangan nakal.
Ryo tersenyum melihat Emma yang terlihat sangat cantik. Entahlah mungkin perasaannya saja, karena sejatinya Liodra lebih cantik. Alkohol mulai merebut kesadarannya.
Suara musik menghentak, manusia-manusia dengan liukan tubuhnya semakin membuat Ryo pusing. Emma bertindak cepat. Dia membawa Ryo keluar dari Club. Tubuh sempoyongan Ryo dituntun memasuki mobil. Setengah tersadar Ryo menggeleng melihat mobil yang bukan miliknya. Emma mendorong tubuh Ryo ke kursi belakang, lalu menyetir mobil putih itu dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Di tengah perjalanan dia menelepon seseorang. Terdengar suara wanita di seberang telepon.
"Target sudah dikunci. Sekarang kami menuju lokasi." Emma melaporkan hasil pekerjaannya kepada perempuan di ujung telepon.
***
[Apakah kita percaya dengan do'a-do'a yang naik ke langit? Do'a yang merintih lirih dari hati yang sakit. Aku pernah ingin menjerit, tetapi kutahan meski dada terasa sesak menghimpit.]
Update ke Instagram.
[Percayakah kita kepada do'a-do'a yang naik ke sisi Tuhan? Do'a yang mengangkasa dari rasa yang tertahan. Aku ingin mengaduk gundah dan mengadukan, tetapi akhirnya memilih jalan yang elegan. Aku hanya diam. Diam-diam mendo'akan. Air mata sepertinya lebih dari cukup tertumpah selama ini. Kepada pengkhianatan aku terus mencari jawaban. Kepada pesan Tuhan atas gagalnya pernikahan, aku yakin ada hikmah terpendam.]
Update lagi status di Instagram.
Liodra menghabiskan hari-harinya di dalam kamar. Dia tak seantusias kemarin dalam persiapan pernikahannya kali ini. Tak terasa tinggal tiga hari lagi pernikahannya akan digelar. Satu dua kata hatinya terposting di Instagram, lalu gadis itu tersenyum.
Gadis sekarang lebih banyak pasrah dan berserah. Hidupnya terasa ringan setelah menyingkirkan dendam yang selama ini seperti api merah menyala di dadanya. Api yang terus membakar nuraninya. Kemarin dia sempat berpikir kejahatan Ela tidak akan termaafkan. Dia masih manusia, bukan malaikat yang begitu mudah menghapus rasa benci itu.
Semakin Liodra berusaha menyingkirkan sakit hatinya, semakin dia merasa tidak bahagia. Semua hal harus dia terima. Tak ada lagi jalan untuk kembali. Kehilangan demi kehilangan membuatnya tersadar sejatinya dirinya memang tak memiliki apa-apa. Ternyata bagian tersulit dari penerimaan takdir adalah membiasakan diri tak pernah memiliki.
Titik balik perjalanan hidupnya akan segera dimulai. Dia sudah meminta Ryo untuk tidak menghubunginya. Liodra ingin sendiri hingga hari pernikahan tiba. Merenung seperti malam ini, berdialog dengan dirinya sendiri.
Terdengar pintu kamarnya diketuk dari luar.
"Masuk," jawabnya pelan. Dewanti masuk dengan wajah cemas.
"Liodra, kapan kamu terakhir berkomunikasi dengan Ryo?" Dewanti sangat berhati-hati menanyakan keberadaan Ryo.
"Ryo masih chat seminggu lalu. Kenapa, Ma?" Liodra segera tahu ada yang tidak beres begitu melihat raut wajah serius mamanya.
"Sayang, kamu tenang. Mama dan Tante Tari sedang mencari tahu di mana keberadaan Ryo. Tadi malam Ryo tidak pulang dan tidak bisa dihubungi." Dewanti mencoba menenangkan Liodra, tetapi yang terdengar justru dia seperti sedang menenangkan dirinya sendiri.
"Maksudnya Rio menghilang?"
Hening.
Liodra terperenyak. Ia menggeleng kuat-kuat mengibaskan perasaannya, lalu memeluk dadanya yang sunyi.
__ADS_1