
Kekeluargaan itu saling sapa saat berjumpa, saling permisi saat pergi. Sederhana, tapi banyak yang lupa atau pura-pura lupa. Liodra tak mau menjadi yang lupa. Bertemu baik-baik, berpisah baik-baik sepertinya tidak berlaku untuknya. Kalimat itu bukan untuk kejadian yang dialaminya bersama Devano.
Malam itu dia sudah memutuskan untuk tidak menemui Devano lagi. Semua sudah usai. Dia telah mencoba, nyatanya rasa tak kunjung berbeda. Meskipun sebagai kakak beradik, sebagian dirinya belum bisa menerima.
Keesokan harinya, saat hatinya mulai membaik, Liodra menemui Ryo. Jika awal semua diawali dengan niat licik, hubungan akan menjadi pelik.
"Ryo, aku ingin mengatakan sesuatu. Setelah ini terserah keputusanmu. Kemarin aku ingin menikah denganmu karena ingin lari dari sesuatu, dari sakit hati. Aku ... jujur saja belum bisa mencintaimu. Rasanya ini tidak adil buatmu. Jadi kupikir aku akan mundur saja. Pernikahan bukan permainan seperti yang sempat kupikirkan. Aku salah, tolong maafkan kebodohanku kemarin."
Liodra berterus terang tentang pikiran liarnya. Tentang sakit hatinya mencintai seseorang yang tak mungkin dimiliki. Cukup dia yang merasakan sakitnya mencintai.
"Apa yang kau takutkan dari pernikahan?" tanya Ryo dingin.
Hatinya telah melambung menyambut tantangan gadis yang dicintainya. Keterusterangan Liodra melegakan hatinya di satu sisi, tetapi terasa menyakitkan di sisi yang lain.
"Ketakutan terbesarku akan ada hati yang tumbang. Ryo, cukup hatiku yang patah. Aku tak perlu mengorbankan hatimu juga," jawab Liodra dengan suara parau.
"Aku sudah bilang padamu, jangan kuatirkan tentang aku. Mencintaimu tak akan melukaiku." Ryo menjawab dengan mantap.
"Masih ada waktu untuk mundur. Aku tidak mau diantara kita ada yang hancur." Liodra sedang mengeja perasaannya sendiri.
"Selalu ada kesempatan untuk menang, bagi yg mau belajar dari kegagalan," dengkus Ryo.
Ryo bergeming. Dirinya sudah puas bertualang, nyatanya nama Liodra tetap tak bisa dihilangkan. Wajah gadis itu yang selama ini menghiasi mimpinya. Dia berharap Liodra adalah pelabuhan terakhirnya.
"Aku memintamu dengan sungguh-sungguh untuk menjadi istriku. Bukan karena ingin, tapi butuh. Aku butuh kamu untuk menggenapiku. Liodra, kita menikah bukan untuk main-main. Sejak awal tak ada niatku untuk mempermainkan pernikahan kita."
Suara Ryo bergetar. Liodra merasakan kesungguhan dari laki-laki yang seperti baru belajar dikenalnya.
"Tentang masa lalu, jangan merasa terpuruk atau malu. Setiap masa sudah menjadi orbit semesta, tetapi kau tetap menjadi pusatnya." Ryo menambah keyakinan Liodra bahwa ini memang jalan Tuhan untuk mereka.
Liodra kini berada dalam kebimbangan. Tak mungkin memaksakan titik pada kata, yang dia sendiri inginkan koma.
"Aku akan memberikan jawaban secepatnya." Liodra membutuhkan waktu untuk berpikir sekali lagi. Pada saat seperti ini dia harus bicara kepada teman. Sashi dan Ela harus dimintai pendapat.
Keesokan harinya Liodra berangkat ke butik. Hatinya harus segera menentukan pilihan. Dadanya berdesir saat melihat butik dengan kondisi yang sangat berbeda. Pada petunjuk arah di depan basemen, Liodra Moda berubah nama menjadi Butik La Vista.
Jantungnya berdetak sangat kencang. Seorang lelaki berbadan tegap mencegatnya saat hendak masuk ke butik melalui pintu khusus.
"Maaf Anda tidak boleh masuk dari pintu ini."
__ADS_1
"Siapa kamu? Apa-apaan ini? Saya mau masuk ke butik, minggir!" teriak Liodra panik.
"Maaf, pintu ini khusus karyawan." Lelaki itu mencegatnya.
"Saya pemilik butik ini." Liodra mengambil ponselnya lalu menelepon Ela. Nomornya tidak aktif. Dengan terburu-buru Liodra berlari masuk lift. Dia akan masuk dari pintu depan butik.
Memasuki butik dari pintu depan membuat dirinya merinding. Liodra Moda sudah hilang. Sambil berlari panik Liodra masuk melalui pintu kaca yang tergeser otomatis. Seorang gadis menyapanya ramah.
"Selamat datang kakak, selamat berbelanja, ada yang bisa saya bantu?"
"Di mana Ela? Ini butik saya kenapa bisa berubah? Siapa yang memerintahkan untuk mengubah semua ini?" tanyanya dengan suara tinggi. Tidak ada seorang pun yang berani menjawab.
"Siapa yang berkuasa di sini? Mana bos kalian?" teriaknya lagi.
Semua karyawan saling memandang. Beberapa pengunjung menoleh mendengar teriakan Liodra.
"Ada yang bisa saya bantu?"
Mellyana sang pemilik butik baru keluar dari dalam ruangan.
"Anda bosnya di sini? Ini butik saya, bagaimana bisa Anda mengambil butik saya?" Liodra tidak bisa menguasai diri.
Liodra memperhatikan sekelilingnya. Melihat baju-baju yang tergantung rapi memenuhi ruangan. Matanya menatap satu persatu karyawan yang memandangnya dengan tatapan bingung.
Langkahnya terasa berat memasuki ruang manager yang sekarang berpindah tempat. Satu persatu otaknya mencerna tentang apa yang terjadi.
'Silakan duduk, Kakak, siapa namanya? Saya Mellyana."
"Dimana Ela dan Sashi?" tanya Liodra sambil berdiri di depan Mellyana.
"Silakan duduk dulu, Kak."
Liodra terduduk lemah di kursi. Mellyana menjelaskan dia sudah membeli butik itu dari Ela. Mellyana juga memperlihatkan dokumen yang didapatkan dari Ela.
Liodra memandangi satu persatu dokumen itu. Ada beberapa catatan yang melengkapi dokumen itu. Dia amati sekali lagi dan tak menemukan namanya. Penjualnya El Moda adalah Ela. Tak ada Liodra Moda, namanya telah lenyap.
Kalimat demi kalimat dari Mellyana sudah tak terdengar lagi di telinganya. Lututnya lemas, badannya gontai meninggalkan butik. Dia masih berpikir tak mungkin Ela dan Sashi mengkhianatinya. Liodra menyalakan mesin mobil dan segera memacunya ke rumah Ela.
Rumah bercat biru yang berada di ujung jalan itu terlihat lengang. Berkali-kali Liodra mengetuk pintu tak ada orang yang keluar.
__ADS_1
"Ela buka pintunya!" Tangannya menggedor-gedor pintu yang seakan menantangnya.
"Ela, apa salahku padamu? Kenapa kamu tega melakukan ini?" Liodra jatuh tersungkur di depan pintu. Entah berapa lama dia meratapi diri di sana. Dia nyaris putus asa saat seseorang mendekatinya.
"Mbak, pemilik rumah ini sudah pindah." Liodra melihat perempuan setengah baya sedang memandanginya iba.
"Ibu tahu dia pindah kemana?" Liodra menghapus air matanya.
"Maaf saya tidak tahu, Mbak. Saya penghuni di sebelah rumah ini. Tiga hari lalu mereka membawa barang-barang. Kasihan, ibunya sedang sakit. Neneknya juga sudah sakit-sakitan."
"Terimakasih, Bu."
Liodra bergegas memasuki mobilnya. Rumah Sashi adalah tujuan berikutnya.
Rasanya tidak bisa dipercaya jika Sashi juga ikut menusuknya dari belakang.
"Hai Kak Liodra, silakan masuk." Sasmita adik Sashi keluar dari pintu.
"Sashi ada?"
"Kak Sashi 'kan pergi ke Paris." Sasmita memandang keheranan.
"Ke Paris? Kapan berangkatnya? Kenapa dia tidak bilang aku. Ada apa ini?" Liodra benar-benar merasa dipermainkan.
"Kak Liodra baik-baik saja? Wajah kakak pucat. Sebentar saya ambilkan minum. Kakak duduk dulu. Kak Sashi pasti senang kalau tahu ke kakak ke sini."
Liodra merasakan kepalanya berputar, kemudian pandangannya berangsur gelap. Dia segera berpegangan pada dinding. Perlahan-lahan dia merayap menuju sofa.
"Kakak kenapa? Ya Tuhan kakak pucat sekali. Ini diminum dulu, Kak." Sasmita menyodorkan gelas berisi air putih.
Liodra yang lemah mengambil gelas itu lalu menghabiskan isinya. Dia tidak boleh lemah, dia tidak boleh sakit. Perlahan-lahan kesadarannya pulih. Liodra berusaha menangkap fakta yang beterbangan di kepalanya.
"Sasmita, boleh kakak minta nomor Sashi? Kakak sangat butuh bicara dengan dia."
"Boleh, Kak. Ini nomornya."
Liodra segera memencet nomor yang diberikan Sasmita.
"Hai Liodra! Akhirnya elu telepon juga! Ya Tuhan, gue hampir gila menunggu telepon dari elu!"
__ADS_1
"Sashi, ada apa ini? Beri gue penjelasan sekarang juga!"