BARA MASA LALU

BARA MASA LALU
Penangkapan Tak Diduga


__ADS_3

Marcela menunggu dengan cemas detik-detik transaksi jual beli rumah milik Baskoro. Berkali-kali ia meyakinkan ayahnya untuk mengkondisikan Baskoro, terutama sikapnya di depan notaris dan Surya. Marcela tak mau kecolongan lagi.


“Ayah, berbicaralah lebih keras kepada Si Tua Bangka itu. Jangan sampai dia membuat masalah saat bertemu dengan notaris dan Surya.” Marcela menegaskan kembali, supaya mereka lekas sampai tujuan.


“Jangan khawatir, Baskoro sudah tak punya taring lagi. Sebaiknya kamu minta orangmu yang mengawasi Raja dan Ratu di Jerman, kasih video terbaru mereka, biar dia semakin percaya dan tak berani macam-macam lagi,” jawab Asep dengan suara seraknya.


Asep mengenal Baskoro dari Nerwani. Istrinya memberitahu bahwa ia menyimpan dendam kepada Baskoro dan ibunya, karena telah mempermalukan dirinya. Perlahan-lahan Asep memasuki kehidupan majikannya itu, sejak ibu Baskoro masih hidup.


Dari bekerja menjadi tukang kebun, hingga kemudian dipercaya menjadi kurir, diutus mengatur upah pekerja, sampai Baskoro mempercayainya mengawasi perkebunan. Saat Baskoro menikah dengan Arumi, wanita pilihan ibunya, mereka sempat pindah ke Kalimantan, ke daerah asal Arumi. Asep yang selalu menjadi tangan kanan Baskoro.


Rupanya memang jodohnya bersama Arumi tidak panjang. Arumi lebih memilih menyusul Raja dan Ratu ke Jerman dan tinggal di sana, sementara Baskoro mengelola bisnisnya.


Kini hotelnya telah beranak pinak, mempunyai banyak cabang di hampir setiap kota. Namun perjalanan hidup Baskoro tak semulus perjalanan bisnisnya, karena sekarang justru nasibnya berada dalam cengkraman Cecep, sang asisten yang telah menyiapkan diri bertahun-tahun untuk merebut harta kekayaannya.


“Siap berangkat? Kita ketemu dengan Baskoro di kantor notaris yang sudah disharelock Cecep.” Surya memberi komando kepada Devano dan Zara, lalu mobil Pajero Sport hitam itu meluncur menuju kota Bandung.


Di kantor notaris, rupanya Baskoro dan Asep sudah menunggu. Notaris mempersilakan mereka masuk ke dalam ruangan. Proses penandatanganan tidak berlangsung lama.


“Saya akan segera melunasi pembayaran dengan cek, ini sudah saya siapkan. Harus Pak Baskoro yang mencairkan, tidak bisa diwakilkan.”


Baskoro menganggukkan kepalanya.


“Oya, kemarin saya mendapat info kalau perkebunan Pak Baskoro juga akan dijual? Boleh saya tahu akan dijual berapa?” tanya Surya kemudian.


“Perkebunan itu sekarang menjadi milik Cecep, jadi bisa langsung bertransaksi dengannya, Pak Surya.”

__ADS_1


“Wah kebetulan sekali, boleh kita bicara serius Pak Cecep?” tanya Surya dengan wajah berseri-seri.


“Maksud saya, kalau memang sepakat biar tidak usah bolak-balik, saya akan menunggu untuk transaksi, mari kita ke dalam ruangan notaris lagi.” Surya mengajak Cecep memasuki ruangan notaris. Keduanya mengobrol hingga Cecep menyebutkan angka penjualan yang cukup fantastis.


Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Devano untuk membawa pergi Baskoro tanpa sepengetahuan Asep. Diam-diam mereka segera menuju kantor polisi. Sebelumnya Surya juga sudah memberikan informasi kepada temannya yang bertugas di kepolisian Bandung. Saat mobil Devano keluar dari kantor notaris, para polisi yang telah bekerjasama dengan notaris segera masuk hendak menangkap Asep.


“Anda kami tangkap karena telah melakukan sesuatu yang melanggar hukum yakni penganiayaan,upaya pembunuhan dan perampasan harta Tuan Baskoro. Sebaiknya Anda ikut kami ke kantor polisi.”


“Ini fitnah!” teriak Asep, saat tangannya diborgol petugas. Ia tak menyangka bahwa rencana yang tinggal selangkah lagi itu akan berakhir gagal. Dengan senyum menyeringai, Asep berteriak-teriak di depan kantor notaris. Seseorang yang sedari tadi mengawasi dari kejauhan segera merekam kejadian itu.


Marcela yang sedang menunggu kabar dari Asep terlonjak kaget saat mendengar ponselnya berbunyi.


“Rencana kita tidak berjalan lancar, ayahmu tertangkap polisi.” Pria itu adalah orang kepercayaan Asep. Ranto yang selama ini menjadi bayangan Asep dalam melakukan aksinya, segera mengabarkan kepada Marcela.


“Mereka pasti mengira sudah menang. Oke, aku akan menjalankan plan B. Hubungi pengacara terbaik untuk mendampingi ayah.”


“Baskoro dibawa pergi Devano, sebelum polisi datang ke lokasi.” Marcela tersenyum sinis,” jadi Baskoro punya dewa penolong sekarang. Dia pasti belum tahu kalau Devano adalah anaknya.”


“Laporkan semua perkembangan di situ, jangan sampai ada yang terlewat. Suruh anak buahmu segera mengamankan barang bukti di rumah Baskoro, cepatlah bergerak!” bentak Marcela. Panggilan mereka pun segera berakhir.


Barang bukti yang dimaksud tentu saja obat-obatan berbahaya yang telah disuntikkan oleh Asep ke dalam tubuh Baskoro, juga berkas-berkas yang berpotensi dijadikan barnag bukti yang masih bisa diselamatkan.


Sesaat setelah tiba di kantor polisi, Baskoro merasakan nyeri yang luar biasa di perutnya. Dia memang memiliki riwayat gangguan lambung. Dengan banyaknya obat saraf yang disuntikkan Asep, membuat kondisi Baskoro semakin melemah.


Bruk!

__ADS_1


Akhirnya Baskoro jatuh pingsan sebelum sempat membuat laporan ke petugas.


“Sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit!” ujar seorang petugas yang segera memanggil ambulans.


Devano menyetir mobilnya, sementara Zara ikut naik ke dalam ambulans.


Baskoro segera mendapatkan pertolongan pertama. Devano mengabarkan kondisi Baskoro kepada Surya, yang segera menyusul ke rumah sakit juga.


Ratno yang menanam mata-matanya mengikuti mobil Devano akhirnya tahu bahwa Baskoro sekarang berada di rumah sakit. Laki-laki itu segera menghubungi Marcela.


“Baskoro sedang berada di rumah sakit sekarang. Aku sudah mengecek ke kantor polisi dan berpura-pura menjadi kerabatnya. Baskoro belum sempat membuat laporan polisi.”


“Bagus. Pantau terus, begitu mereka lengah, kamu bisa membungkam mulutnya supaya tidak menyulitkan kita. Kamu paham maksudku, bukan?” Marcela mendongakkan wajahnya. Sekarang satu-satunya kesempatan untuk menghabisi Baskoro adalah mengirim orang-orangnya ke rumah sakit tempat pria tua itu dirawat.


Ratno bergerak cepat, beberapa anak buahnya sudah merapat ke rumah sakit dan mencari tahu di mana ruangan tempat Baskoro dirawat.


Sementara itu Asep masih terus menyangkal perbuatannya di kantor polisi. Dia bersikukuh tidak tahu menahu kenapa sampai dirinya ditangkap petugas kepolisian.


“Jika saya tidak terbukti bersalah, saya akan menuntut kalian. Saya tidak melakukan apa-apa, sebentar lagi pengacara saya pasti akan datang.” Asep terus berteriak-teriak kepada petugas.


Tak lama kemudian memang pengacara yang disewa oleh Marcela datang dan segera mengurus kliennya itu.


“Atas dasar apa Bapak menahan Pak Cecep? Tidak ada laporan apa pun atas dirinya.” Pengacara melakukan apa yang seharusnya ia lakukan, membebaskan kliennya.


“Saat ini memang belum ada pengaduan secara resmi, karena Pak Baskoro mendadak sakit dan dibawa ke rumah sakit. Tetapi Anda tetap harus kami tahan, kecuali pengacara Anda menjamin Anda tidak akan melarikan diri.”

__ADS_1


Asep mendengkus kesal. Seharusnya dia tidak terpedaya oleh muslihat Surya tadi. Bagaimana bisa dia terlena dan meninggalkan Baskoro sendirian, hingga pri tua itu pasti meminta pertolongan seseorang. “Sial! Semua rencana yang sudah aku susun bisa gagal!” rutuknya dalam hati.


“Apa? Jadi Pak Baskoro dirawat di rumah sakit? Saya akan segera menemuinya, kasihan beliau sudah tidak punya siapa-siapa lagi kecuali saya. Ini cuma salah paham. Kami akan menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan dulu,” ujarnya kepada petugas. Yang terpenting adalah dirinya harus bisa menghubungi Marcela dan menyusun rencana baru.


__ADS_2