
Ternyata sebuah jawaban bukan soal waktu. Tugas waktu hanya berdetak, bukan sibuk menjawab pertanyaan. Liodra memantapkan hati berlabuh kepada Ryo Gibran Adiwinata meskipun cinta belum juga menyapa. Bukannya di dalam rukun pernikahan tak tertulis harus ada cinta? Kegagalan dan cobaan bertubi-tubi membangunkan sisi religius dalam dirinya. Kajian ustaz-ustaz ternama satu-persatu dia dengarkan.
Antara putus asa dan pasrah kepada takdir memang beda tipis. Liodra memilih yang kedua. Kata Ustaz, manusia tidak boleh berputus asa. Seseorang selalu dihadirkan pada hidupnya dengan alasan. Jika kini nama Ryo menggantikan Devano, Liodra tidak bisa menolak. Jodohnya sudah ditulis saat ruhnya ditiupkan ke jasad, Liodra bisa apa selain menerima.
Kabar pernikahan ini disambut dengan sukacita oleh dua keluarga, Dewanti dan Joni Adiwinata. Tak banyak menunda waktu, acara lamaran sudah usai digelar. Pernikahan akan dilakukan minggu ketiga. Semua orang bergerak cepat. Berkas pernikahan diurus segera, wedding organizer berbeda dihubungi lalu persiapan pun dimulai.
Liodra hanya punya Sashi tempatnya bercerita. Tentang pengkhianatan Ela, juga Ryo cinta barunya. Malam ini mereka asyik video call menumpahkan rindu sahabat yang terpisah jarak.
"Elu yakin menerima Ryo? Udah elu pikirin? Gue cuma kuatir Ryo jadi pelarian aja."
"Awalnya emang iya. Gue pengen menumpahkan semua ke dia, Sashi. Siapa suruh dia deketin gue saat kondisi hati gue lagi porak poranda. Namun gue segera sadar. Kejadian Ela yang ngambil butik bikin gue ngeri kalau mau jahatin orang."
"Tenang Liodra, gue udah minta genk gue buat ngelacak keberadaan Ela. Dia enggak mungkin ngilang gitu aja. Pasti ada jejak. Gue minta Bang Jimmy cari informasi."
"Bang Jimmy ketua preman Tanah Abang?"
"Yoi, sepupu gue itu bisa diandelin. Elu sabar aja dulu."
"Gue udah enggak tertarik ama urusan butik, Sashi. Gue cuma ingin tahu kenapa dia melakukan semua ini, setelah apa yang gue kasih ke dia."
"Itulah, gue juga enggak ngerti. Waktu nyokapnya dirawat di rumah sakit dua bulan, elu yang bayarin, elu yang fasilitasin. Tega amat dia bayar kebaikan sama kelakuan sampah begini."
"Udah gue males bahas dia. Kerjaan elu gimana?" tanya Liodra mengalihkan pembicaraan.
"Paris keren, pokoknya elu kudu minta ama Ryo buat honeymoon kesini. Wajib datang. Eh betewe, Devano tahu elu mau married?"
Liodra terdiam sesaat. Sebenarnya dia juga malas membahas Devano. Ela dan Devano adalah dua nama yang ingin dia hapus dari ingatan.
"Jujur gue ngelakuin ini supaya bisa segera ngelupain dia," jawabnya pelan. Sashi bisa mendengar suara yang berat dengan tarikan napas panjang.
"Liodra, elu berhak bahagia. Gue tahu elu bisa melakukan ini. Udah lupakan semua, Devano suka atau enggak, terima dia sebagai kakak. Pelan-pelan semua pasti baik-baik saja."
"Elu yakin gue bakal bisa sama Ryo?"
"Gue sih enggak yakin sama elu. Kalau sama Ryo, rasanya dia bakal bisa ngejaga elu, bahagian elu, Liodra. Asal elu juga mau berjuang." Sashi menguatkan sahabatnya.
"Sashi gue capek berharap pada seseorang untuk bahagiain gue. Gue cuma punya niat baik, hidup normal, benerin ibadah gue yang masih kacau balau ini."
__ADS_1
"Oh God, Liodra ... gue seneng banget dengernya. Masa ama Ryo yang handsome itu elu sama sekali enggak ada rasa?"
"Gue jatuhnya respect ama dia, Sashi. Semoga ini awal yang baik, elu do'ain gue, ya."
Mereka berbincang hingga tengah malam. Satu persatu kekecewaan yang terlanjur ditelan berubah menjadi harapan. Liodra terlelap dengan mimpi berada di bukit penuh bunga. Senyumnya kembali merekah setelah sekian lama terhempas.
Sashi tahu Liodra sedang berjuang dengan perasaannya sendiri. Sebagai sahabat yang mengerti situasi hati Liodra, Sashi sangat mendukung langkah Liodra untuk segera menikah.
Tangannya baru akan meletakkan ponsel di meja, saat ada direct message di Instagram.
[Sashi, kamu apa kabar? Sorry aku ganggu, apakah Liodra baik-baik saja?]
Devano Pramudya mengiriminya pesan.
[Nomor WA elu berapa Dev? Gue mau telepon. Penting!]
***
Devano menyetir mobilnya menuju showroom. Hari ini dia tidak keluar kantor. Beberapa jadwal kunjungan dia atur ulang. Kabar dari Sashi semalam tentang Liodra sangat meresahkan hatinya. Kabar tentang mantan pacarnya yang segera menikah memang tidak terlalu membuatnya terkejut. Namun, berita tentang Liodra Moda membuatnya tak habis pikir. Devano menarik napas panjang.
'Pada akhirnya kita menjadi terbiasa. Kamu terbiasa dengan kisah baru. Aku terbiasa berusaha mengikis kenangan tentangmu. Lalu tentang kisah baru, aku berharap seberuntung kamu.' Batinnya sedikit lega ketika mengetahui Liodra baik-baik saja.
Ah, seandainya saja dia ada di sana. Setidaknya hadir sebagai kakak. Liodra terlalu keras kepala dan memilih memutuskan kontak dengannya.
Sebuah panggilan masuk membuyarkan lamunannya. Dari Zara, gadis yang sekarang telah resmi menjadi pacarnya.
[Dev, aku gak bisa makan siang di tempat biasa, aku harus ke Bogor ikut papa. Ada rumah yang akan dijual. Lokasinya strategis, harganya juga terjangkau. Sepertinya papa tertarik untuk mengubahnya menjadi villa.]
Sejujurnya Devano ingin makan siang bersama Zara. Gadis itu yang selama ini membalut luka hatinya. Zara memang berbeda dengan Liodra. Zara yang dingin dan pendiam serupa dirinya, tetapi mampu menenangkan hatinya.
[Wah mendadak sekali. Aku hari ini stay di kantor. Kalau butuh aku temenin, aku siap.]
[Kamu aneh. Enggak keluar kok mau nemenin aku. Kamu kenapa, Dev? Kayak enggak semangat gitu?]
[Kalau kamu bolehin aku ikut, pasti aku semangat. Aku pengennya selalu sama kamu.]
[Ih, apaan, sih? Gombal banget. Tar dulu aku bilang Papa. Kalau dibolehin kita ketemu di tengah biar enggak kelamaan]
__ADS_1
[Pasti dibolehin. Oke kutunggu, ya, lemes 'nih kalau enggak ada kamu.]
Zara terbahak mendengar gombalan kekasihnya. Semakin hari dia semakin yakin Devano pria yang akan menjadi tambatan hatinya yang terakhir. Setelah ngobrol sesaat dengan papanya, Zara kembali mengirimkan pesan.
[Dev, ternyata Papa banyak urusan, jadi buru-buru. Kamu ikutnya ntar aja kalau villa itu udah selesai direnovasi]
[Yah, hari ini pasti aku bakal boring banget enggak ketemu kamu. Oke, have a nice day. Take care, Darl. Love you]
[Hang out aja ama temen kantor. Love you more]
Devano membaca pesan Zara dengan hati resah. Semakin lama dia semakin takut kehilangan Zara. Mungkin sekarang waktunya move on. Jika Liodra sudah tenang dan merencanakan pernikahan dengan seseorang, bukankah dia juga berhak membangun hidupnya kembali?
Matahari terus meninggi. Devano menyelesaikan pekerjaan dengan menghubungi customer via telepon.
Beberapa laporan sudah dia kerjakan.
Senja merangkak turun. Devano tersenyum mengingat moment ulang tahun Zara di mana dia menyiapkan kejutan sebuah mobil baru. Mobil merah, warna kesayangan Zara.
Dengan gaun putih tanpa lengan, Zara terlihat sangat cantik. Make up tipis-tipis di wajahnya membuat kecantikan alaminya justru tampak menonjol.
Zara mempunyai tulang pipi tinggi, juga bibir yang menawan. Bibir tebal simetris yang jika sudutnya terangkat membuat satu pipi kirinya mengukir pahat yang disebut lesung pipi. Alisnya hitam tebal alami, kontras dengan pipinya yang putih. Pembawaan Zara yang kalem sangat sesuai dengan Devano yang aslinya juga pendiam.
"Kamu ... kamu yang menyiapkan semua ini? Sejak kapan kamu dan papa bersekongkol?"
"Selamat ulang tahun, Zara. Selamat mendewasa, selamat menjadi orang yang diberkahi dan dicintai. Semoga semesta terus memantulkan cantikmu."
Zara tak bisa berkata-kata. Devano memang tidak memakai jas rapi atau kemeja formal seperti tamu undangan lainnya. Dia memakai celana jeans biru tua, t'shirt putih berlogo merk mobil ternama dan sepatu kets putih.
Namun, pesona Devano mampu mengundang denyar halus di dadanya. Pemuda sederhana itu hanya sebentar menyalaminya, lalu menghilang di tengah kerumunan teman-teman yang juga ingin menyalaminya.
Suara getar pada ponsel membuyarkan lamunan Devano. Zara mengirimkan pesan. Setelah dibuka ternyata isinya sebuah foto.
[Bagus, kan?]
Devano terperanjat.
Foto rumah putih lantai dua dengan pagar tinggi yang dulu pernah dia kunjungi bersama Liodra saat mencari Baskoro.
__ADS_1