BATTLE ZERO WORLD

BATTLE ZERO WORLD
Dimana Ini ?


__ADS_3

Dalam kehidupan pasti terdapat beberapa jalan yang bisa kita pilih. Namun jalan mana yang kita anggap benar? Saat di depan kita terdapat 3 jalan, namakan jalan yang akan di pilih. Kejadian-kejadian yang tidak masuk akal yang sulit untuk di fikir dengan logika sering muncul tanpa kita sadari.


Suatu malam yang sangat mencekam di iringi dengan suara kilat yang menyambar bagaikan drum perang. Kabut menyelimuti kota dan di ikuti angin kencang.


Terlihat 2 kendaran melaju dengan cepat menyisiri jalanan kota yang mulai sepi. Angin yang kencang dan kabut yang mulai menebal memaksa kedua kendaraan itu untuk memperlambat lajunya dan menepi ke pinggir jalan. Bryan dan Kaito memutuskan turun dari kendaraannya, terlihat kedua orang itu merasakan hal yang ganjil.


"Wah tumben kota ini di selimuti kabut" ucap Bryan memandang sekeliling.


"Benar juga, tidak biasanya kota ini di selimuti kabut" Jawab Kaito menunjuk jalanan.


"Aku punya firasat buruk mengenai ini Bry" Kaito bersandar ke motornya sambil menatap Bryan.


"Apa maksud mu ?" Bryan bingung dan hanya duduk di atas tanah pinggir jalan.


Sebelum Kaito sempat menjawab, tiba-tiba mereka berdua di terpa oleh angin kencang yang menerpa tubuh mereka. Angin itu bertiup dengan sangat kencang dan membentuk tornado yang menerbangkan mereka ber2 menuju ke dunia lain.


"Panas, ini pasir ?" ucapnya dalam hati.


Kaito yang setengah sadar merasakan panas matahari yang menyayat tubuhnya dan pasir yang menumpuk menyelimuti tubuhnya. Saat dia tersadar, dirinya sudah berada di tengah gurun pasir.


"Kenapa aku bisa sampai disini ? Bukan kan aku tadi di pinggir jalan ? Kenapa tiba-tiba aku di gurun pasir" ucap Kaito menggenggam pasir dan menatap sekeliling.


"Benar juga, angin itu yang menghempaskan ku ke sini. Namun mana mungkin angin seperti itu bisa menghempaskan tubuh ku sampai ke gurun pasir ? Lalu apakah ini di Mesir ? Atau Arab ? Entahlah, sebaiknya aku berdiri dan berjalan mencari pertolongan" kata Kaito menatap sekeliling.


Kaito pun berdiri dan memandangi sekitarnya, dia merasa heran dan bingung arah mana yang akan dia lewati. Tanpa berfikir panjang Kaito pun berjalan menuju ke arah barat berharap mendapatkan bantuan. Sepanjang Kaito berjalan dia hanya melihat hamparan pasir yang luas. Tanpa minum dan hanya membawa sebungkus rokok, dia terus berjalan menuju ke arah barat.


Pandangannya seolah kosong dan perutnya mulai terasa lapar, namun langkahnya tidak sedikit pun terhenti. Semakin dia berjalan, semakin terasa panas pasir dan matahari menerpa tubuhnya. Dia berhenti sejenak dan memutuskan untuk beristirahat dan menyalakan sebatang rokok.


Dia menghisap rokoknya dan menatap ke langit dan berbicara dalam hati, "Apakah ini percuma? entah sudah berapa jauh aku berjalan namun belum sedikit pun ku temukan pemukiman atau sumber air. Dan juga aku terpisah dengan Bryan, dimana ini sebenarnya ?"


Terlihat dengan sangat jelas matanya mulai sayup dan mengantuk, fikiran nya mulai kacau dan perutnya mulai meronta meminta makanan.


"Ahh sial jika aku terus berbaring, aku hanya akan merasa lapar dan mati di gurun ini"


Kaito pun bangkit dan berdiri lagi dan melanjutkan langkah kakinya. Setapak demi setapak dia terus berjalan sampai rokok yang dia hisap mati. Dia terus menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong, dan tubuhnya pun mulai tidak kuat menahan beban panas yang luar biasa. Tubuhnya mulai tidak kuat untuk berdiri lagi, seolah semua tenaganya sudah mulai terkuras habis.


Kaito pun terjatuh dan tak mampu berdiri lagi karena tubuhnya yang mulai melemas. Dia menatap ke depan dan melihat ke sekeliling. Entah keberuntungan atau takdir yang berusaha menyelamatkan dia.


Kaito melihat sebuah dinding goa batu di sebelah kanannya. Ya bisa di perkirakan bahwa jaraknya dari goa itu cukuplah lumayan jauh. Namun karena tekadnya yang kuat meski tubuhnya lemah dia tetap berusaha berdiri dan berjalan menuju mulut goa itu. Di sepanjang jalan, Kaito terus menerus terjatuh karena kakinya yang sudah tak mampu menahan beban tubuhnya. Menyadari bahwa kakinya sudah tidak kuat untuk menopang dirinya untuk berdiri.


Kaito pun memaksakan tangannya untuk merangkak melewati pasir dan cuaca panas itu menuju mulut goa. Dia terus merangkak, yang ada di otaknya hanyalah ingin secepatnya sampai di goa mendapat tempat untuk beristirahat dari panas.


Waktu terus berjalan, begitu juga dengan Kaito yang merangkak mulai mendekati mulut goa. Tangannya mulai terlihat lemas, matanya mulai tidak kuat untuk terbuka. Panas yang luar biasa itu seolah menyiksa dia dengan perlahan. Tidak hanya panas, sesekali beberapa pasir masuk kedalam mulut Kaito saat merangkak. Kaito terus merangkak dan berusaha menghiraukan panas dan pasir yang terus menyiksanya, hingga akhirnya dia berhasil sampai di depan mulut goa.


"ah sial! aku sudah tak kuat lagi, apa ini akhir ku ! Sialan hehe" gumam Kaito seketika sebelum dia pingsan di depan mulut goa.


Sementara itu, Bryan terus terbang terbawa oleh angin dan menjatuhkannya ke sebuah padang rumput yang cukup lebat. Bryan berhasil selamat dari hempasan angin itu dan tubuhnya menggelinding sampai menabrak sebuah batu di tengah padang rumput.


Bryan yang pingsan karena benturan keras itu mulai perlahan demi perlahan membuka matanya. Saat dia membuka matanya lebar-lebar, Bryan merasa tida percaya dirinya terhempas sampai kesebuah tempat yang cukup luas.


"Ahhh sial sakit sekali rasanya " sambil berusaha untuk duduk


"Di..dimana ini ? Kenapa aku bisa sampai di tempat seperti ini ? Apakah aku sudah mati" ucap Bryan sambil mengamati sekelilingnya.


"Hei Kaito, kau dimana ?" Teriak Bryan berharap sahabatnya muncul.

__ADS_1


Bryan terus berteriak hingga suaranya hampir habis, namun sayang Kaito tidak muncul. Akhirnya dia tersadar bahwa angin tornado tadi menghempaskan ya ke tempat yang tidak dia ketahui.


"Cih apa Kaito terpental ketempat lain? Atau mungkin dia sudah mati ? Ahhh sial"


pikiran Bryan mulai kacau, dia tida tahu harus berbuat apa.


Bryan terus memandangi sekitarnya, dan dia hanya bisa pasrah menyadari dirinya sendirian. Saat dia sudah merasa bingung dan pasrah dengan keadaan. Tiba-tiba dia mendengar suara langkah kaki yang menggesek daun-daun rumput. Dia mulai merasa takut, dan jantungnya mulai berdenyut dengan sangat kencang. Langkah kaki itu semakin mendekat, dan terus mendekat menuju kearah Bryan.


Bryan yang merasa takut, mulai memberanikan diri untuk menengok kebelakang batu yang dia gunakan untuk sandaran. Perlahan perlahan dia mulai berusaha melihat kebalik batu, dan dengan jelas Bryan melihat seorang pria tua menggunakan jubah coklat. Si pria tua itu menatap ke arah Bryan, terlihat jelas wajah pria itu dengan janggut panjangnya, membawa sebuah tongkat emas dan mengenakan penutup kepala dari kain. Pria itu mulai mendekat ke arah Bryan, dia terus mendekat.


Bryan yang merasa takut mulai gemetar dan berusaha untuk berdiri, namun sangat di sayang kan tubuh Bryan membatu dan tidak dapat meninggalkan tempat itu.


Pria tua itu kini berdiri tepat di depan Bryan. Dengan tatapan waspada pria itu menatap Bryan, sementara Bryan ketakutan dan tidak bisa bergerak sedikit pun. Bryan hanya membisu dan mematung menatap pria tua itu. Terlihat jelas wajah pria tua itu terdapat sebuah luka gores pada pipi dan tato ukiran di wajah kanannya.


"Hei bocah" ucap pria tua itu.


"Apa kau takut ? Sampai aku bisa mendengar dengan jelas suara denyut jantungmu" sindir pria tua kepada Bryan.


Pria tua itu membuka pembicaraan untuk menurunkan ketegangan di antara mereka. Bryan yang ketakutan sedikit demi sedikit mulai berusaha mengendalikan ketakutannya.


Pria tua itu mengulurkan tangannya ke arah Bryan, "Bangunlah bocah".


Bryan pun meraih tangan pria tua itu, dan dia masih merasa sedikit gemetar melihat pria itu.


"Siapa nama mu bocah ?" ucap pria tua itu sambil mengawasi sekitar.


"Na..nama ku Bryan, s....siapa kau p...,pak tua ?" tanya Bryan dengan keadaan bergetar.


"Hahaha apakah kau benar-benar takut bocah ? Nama ku ada Sadi, aku keturunan penjaga makam kuno" kata Pria tua itu tertawa sambil memukul pundak Bryan.


Bryan merasa bingung mendengar jawaban dari Sadi, dia merasa heran dengan ucapan Sadi tentang penjaga makam.


"Jadi kau tidak tahu ya ?" Sadi menjawab dengan datar.


Bryan hanya menggelengkan kepala.


"Saya adalah keturunan keluarga penjaga makam kuno yang bertugas menjaga makam para raja terdahulu" kata Sadi sambil menatap Bryan.


"Ra.raja ? Ma..makam ?" Bryan terlihat begitu bingung mendengarnya.


"Hmm jadi kau tidak paham ya ?" kata Sadi merasa aneh.


"Aku paham namun ini membingungkan" Kata Bryan yang mulai merasa lebih baik.


Sadi yang merasakan gelagat aneh dari Bryan merasa aneh, Sadi pun mengambil air minum dan memberikan kepada Bryan.


"Minumlah air ini, sepertinya kau tidak berasal dari sini ya ?" kata Sadi dengan curiga.


Bryan hanya menganggukkan kepala dan mengambil air yang di berikan oleh Sadi. Sadi terus menatap Bryan, dan kemudian Sadi memalingkan pandangan dan menatap ke arah langit.


"Apakah kau bukan berasal dari dunia ini Bryan ?" Tanya Sadi merasa ingin tahu.


"Entah ?" kata Bryan bingung.


"Jadi begitu ya haha" Sadi tertawa menatap Bryan.

__ADS_1


"Ke...kenapa kau ketawa ?" Kata Bryan yang mulai gugup.


"Kau tau ? Tempat ini di sebut sebagai Padang Mutan" kata Sadi sambil menunjuk ke bangkai mutan.


"Padang mutan ?" tanya Bryan yang masih bingung.


"Ya, Padang mutan tempat para mutan berkeliaran mencari mangsa" jelas Sadi.


"Apa itu mutan ?" tanya Bryan ingin tahu.


"Mereka adalah makhluk genetika yang memiliki beberapa gabungan gen" jelas Sadi sambil sehelai mengambil daun rumput.


"Gabungan gen ?" Bryan mulai semakin makin bingung.


"Iya, mereka tidak kenal takut dan selalu membunuh secara brutal" kata Sadi.


"De,,,dengan kata lain mereka seperti hewan buas begitu ?" jawab Bryan yang mulai sedikit paham.


"Iya,, tapi betapa beruntungnya kau Bryan, kau beruntung karena para mutan tidak menyerang mu" kata Sadi sambil tersenyum.


"Hem iya juga sih" Bryan mulai sadar dengan hal aneh itu.


Sadi menatap Bryan, dia melihat sebuah aura yang berbeda dari Bryan. Ya aura berwarna hitam seolah menyelimuti tubuh Bryan. Sadi yang dapat melihat aura itu merasa cukup tertarik.


"Apa kelas mu Bryan ?" tanya Sadi.


"Kelas ? Aku tidak paham maksud mu Sadi ?" jawab Bryan bingung.


"Begitu ya" Sadi mulai merasa bingung dengan Bryan.


Sadi hanya termenung diam dan menatap Bryan. Bryan merasa bingung dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Sadi. Saat mereka sedang asyik berbicara.


"Roarrr" Suara aneh seolah menggema di Padang rumput itu.


"Suara apa itu Sadi ?" tanya Bryan.


"Sepertinya ada mutan yang mencium bau keberadaan kita" jawab Sadi merasa khawatir.


"A...apa ?" tanya Bryan mulai ketakutan.


"Ya dia mencium bau keberadaan kita, mungkin dia akan berjalan menuju kita dan memakan kita" kata Sadi menatap sekeliling dengan waspada.


"Kalau begitu sebaiknya kita lari Sadi" ucap Bryan mengambil ancang-ancang untuk lari.


"Kau tak mengerti ya" kata Sadi.


"Apa maksud mu ?" tanya Bryan bingung.


"Tak ada tempat untuk lari saat mutan sudah mencium bau keberadaan mu" kata Sadi dengan nada datar dan menakutkan.


"Maksud mu, kita tak bisa selamat ?" tanya Bryan yang mulai merasa terganggu.


"Iya begitulah, meski kita kabur, mutan itu akan terus mengejar kita karena bau kita sudah mereka tandai" jelas Sadi sambil menatap bangkai mutan yang sudah dia bunuh.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan Sadi ?" tanya Bryan bingung dan takut.

__ADS_1


"Hanya ada satu pilihan, yaitu melawan atau kita pasrah dan mati" Kata Sadi dengan ekspresi yang serius.


Mendengar jawaban Sadi, seolah membuat tubuh Bryan seperti membatu. Ya jika mereka berdua ingin hidup, hanya bertarung melawan mutan itu. Namun jika mereka tidak memiliki keberanian berarti kematian sudah menanti Bryan dan Sadi.


__ADS_2