BATTLE ZERO WORLD

BATTLE ZERO WORLD
Apa Alasan Ku Mencari Kerajaan Lama ?


__ADS_3

Hari semakin gelap, bintang mulai bertebaran di langit yang gelap. Bintang yang menghias langit seolah hanya seperti kertas hitam yang di penuhi oleh warna gemerlap. Kaito terduduk di depan rumah nenek Salamah dan menatap keindahan malam itu. Pikiran Kaito terasa campur aduk mendengar semua cerita dari nenek Salamah dan Kakek Rasyid. Kaito hanya menatap langit yang telah menghitam dan disinari oleh lampu yang indah. Suasana desa pun semakin terasa sunyi di iringi dengan angin berhembus sepoi-sepoi.


"Kerajaan Lama, apakah itu benar adanya ?"


Kaito memegang kalung nya dan melihat dengan jelas kalung Milinium Item yang di kenakan nya. Kaito terus menatap kalung itu selama berjam-jam di depan rumah.


"Apakah ada cara menemukan Kerajaan Lama itu dengan kalung ini ?"


Kaito bergumam dan melihat bagian-bagian dari kalung yang dikenakan nya.


"Andai ada petunjuk, pasti aku bisa menemukan Kerajaan Lama itu"


Kaito pun tiduran di depan pintu rumah dan menatap langit. Tiba-tiba dari belakang datanglah kakek Rasyid menghampiri Kaito dengan membawa kotak.


"Apa yang sedang anda pikirkan tuan Kaito ?"


Kakek Rasyid duduk di samping Kaito.


"Tidak, aku hanya berfikir mengenai ucapan anda tadi soal Kerajaan Lama"


Kakek Rasyid membuka kotaknya dan mengambil sebuah tembakau dan kertas, kemudian dia menggulungnya menjadi seperti rokok dan menyalakannya. Kaito yang melihat itu membuatnya teringat dengan kebiasaan Almarhum kakeknya yang selalu membuat rokok sendiri dan menikmatinya.


"Kenapa tuan Kaito ? Apa anda mau mencoba rokok ini ?"


Kaito hanya terdiam dan menatap kakek Rasyid yang meletakkan kotaknya di tengah mereka.


"Boleh aku mencoba rokok itu ?"


Kakek Rasyid hanya tersenyum sambil menghisap rokoknya. Kaito pun mengambil tembakau dan kertas untuk membuat rokoknya.


"Jika anda membuatnya, saran saya gunakan kertas ganda biar bisa merata"


Kaito pun melakukan seperti yang kakek Rasyid katakan. Rokok pun jadi, Kaito mulai menyalakan rokoknya dan menghisapnya.


"Malam ini bintang begitu indah ya tuan Kaito ?"


Kaito hanya mengangguk menjawab perkataan kakek Rasyid. Kakek Rasyid menatap langit dan menangis bersama indahnya malam itu.


"Kenapa anda menangis ?"


Kaito merasa heran melihat kakek Rasyid menangis.


"Tidak, aku hanya mengenang masa bahagia ku dulu tuan, apa anda tidak merasa seperti menginat sesuatu yang indah saat melihat hal indah ?"


Kaito hanya diam dan menghisap rokoknya kemudian menatap langit. Kakek Rasyid hanya menatap kearah Kaito.


"Aku tidak memiliki kenangan indah, semua seperti hanya mimpi, kenangan indah, senang, sedih, kecewa semua seperti mimpi bagi ku"

__ADS_1


Kaito menunduk dan menghisap rokoknya. Kakek Rasyid berdiri dan berjalan menuju pintu untuk masuk kedalam rumah.


"Jika tuan merasa semua hanya mimpi, lebih baik tuan menikmati mimpi itu selama anda merasa nyaman"


Kakek Rasyid pun masuk kedalam rumah dan meninggalkan Kaito sendiri di depan rumah.


"Tentu itu yang akan selalu ku lakukan"


Kaito bergumam menjawab ucapan kakek Rasyid sambil menghisap rokoknya.


Malam semakin larut angin pun mulai berhembus kencang bersamaan suasana yang semakin sunyi. Desa yang saat pagi siang dan sore ramai bertebaran orang-orang itu berubah seperti kota mati yang sepi tanpa suara. Kaito menatap sekeliling dan mematikan rokoknya. Tanpa di sadari Kaito, di samping kotak yang di tinggal kakek Rasyid terdapat sebuah teh yang masih panas. Kaito pun menengok ke arah belakang dan melihat nenek Salamah berdiri di depan pintu sambil menghisap rokok.


"Sejak kapan anda di sana nenek Salamah ?"


Nenek Salamah hanya tersenyum dan menghisap rokoknya.


"Ya mungkin sudah ada 15 menit an saya di disini, minumlah teh anda tuan"


Kaito mengambil gelas teh dan meminumnya. Nenek Salamah menatap Kaito yang tengah meminum tehnya.


"Apa anda sedang memikirkan cerita saya tadi tuan Kaito ?"


Kaito berhenti minum dan menunduk menatap ke secangkir tehnya.


"Ya begitulah, namun aku masih tidak percaya dengan semua itu"


"Anda tidak perlu terlalu memikirkannya, Kerajaan Lama sudah hilang. Dan mungkin jika kita menemukannya, yang tersisa hanya puing-puing bangunan"


Kaito terdiam mendengar ucapan nenek Salamah.


"Bagi saya Kerajaan Lama hanya lah sebuah kampung halaman yang sudah hilang. Namun meski sudah hilang, kampung itu selalu ada di ingatan saya"


Kaito menatap nenek Salamah yang terlihat sedih mengingat tempat kelahirannya.


"Apa anda ingin sekali melihat Kerajaan Lama itu nenek Salamah ?"


Nenek Salamah hanya tersenyum dan berjalan masuk kedalam rumah. Angin berhembus dengan kencang bersamaan pintu rumah tertutup. Kaito terdiam di depan rumah sambil memegang cangkir minumnya.


"Kampung halaman ya ?"


sepintas Kaito mengingat kenangan masa kecilnya saat bersama kakek nenek nya di desa tempat kelahirannya. Kaito mengambil tembakau dan kertas yang ada di kotak dan mulai membuat rokok untuk dia hisap.


"Mungkin tak masalah untuk menemukan Kerjaan Lama itu untuk Kakek Rasyid dan Nenek Salamah"


Kaito tersenyum sambil menyalakan rokoknya. Angin semakin kencang dan Kaito menikmati suasana itu sambil menghisap rokoknya.


Ke esokan paginya matahari bersinar begitu hangat menyentuh tubuh Kaito yang tertidur di depan rumah dengan selimut kain. Kaito membuka matanya dan melihat kakek Rasyid sudah duduk manis sambil menikmati rokoknya.

__ADS_1


"Anda sudah bangun tuan Kaito ?"


Kaito berdiri dan berjalan mendekati kakek Rasyid.


"Ya begitulah, aku tak sadar kalau semalam tidur di depan rumah"


Kakek Rasyid tersenyum dan menghisap rokoknya.


"Ambil lah bakau dan kertas itu untuk membuat rokok tuan"


Kaito hanya diam dan menatap desa yang mulai bermunculan orang-orang.


"Desa ini terlihat ramai ya"


Kaito bergumam sambil mengambil bakau dan kertas lalu membuat rokok.


"Ya begitulah tuan, saat malam semua menghilang tanpa sisa dan paginya semua mulai keluar dari rumah untuk memulai kegiatan mereka"


Kaito menatap Kakek Rasyid yang terlihat tenang menjawab perkataannya.


"Aku sudah memikirkannya"


Kaito berkata sambil menyalakan rokoknya.


"Maukah kakek dan nenek ikut aku mencari Kerajaan Lama itu ?"


Nenek Salamah keluar dari rumah membawa teh dan menghampiri Kaito dan kakek Rasyid.


"Tentu saja kami akan ikut dengan anda tuan Kaito"


Nenek Salamah menjawab pertanyaan Kaito sambil meletakan 2 cangkir teh untuknya dan kakek Rasyid. Kakek Rasyid pun tersenyum dan berdiri.


"Kami akan ikut kemana pun tuan Kaito pergi"


Kaito terkejut mendengar ucapan kakek Rasyid. Kaito menghisap rokoknya dan menatap kearah kakek Rasyid.


"Saya merasa senang dengan keputusan kalian berdua"


Kaito terlihat tersenyum dan menikmati pagi itu. Lalu nenek Salamah mengeluarkan sebuah kertas kosong dari balik bajunya.


"Tuan Kaito, bisa kah anda arahkan ujung kalung tuan ke kertas ini ?"


"Tentu saja, memang apa kertas ini nenek Salamah ?"


Kaito mengarahkan ujung kalungnya ke kertas yang di sediakan nenek Salamah. Kakek Rasyid terlihat senang dan berjalan masuk ke rumah.


"Kertas ini akan menunjukan lokasi Kerajaan Lama yang kita cari tuan Kaito"

__ADS_1


Kaito terheran-heran dan menatap kertas kosong itu. Tiba-tiba dari ujung Milenium Atem memancarkan sinar dan kertas kosong menunjukan sebuah gambaran peta.


__ADS_2